Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 43


__ADS_3

Zivannya tidur dikamar mamanya, menangis semalaman membuatnya lelah dan tidur dengan sendirinya, pagi menjelang Zivannya mengerjapkan matanya menyesuaikan ruangan yang tampak sudah terang benderang. menghembuskan nafasnya pelan menatap kamar mamanya.


"Miss U already mom" tutup mata Zivannya menghirup udara dalam ruangan yang masih terasa bau tubuh mamanya., Zivannya beranjak membuka jendela, melangkah keluar kamar dan mematikan semua lampu. membersihkan diri dan mengambil makanan apa yang ada di box pendingin.


suara pintu rumah diketuk seseorang, Zivannya beranjak sambil melihat jam dinding, waktu menunjukkan pukul 11 siang.


"siang Zi" senyum Yuda ceria, Zivannya menatap Yuda datar.


"ayo kita sarapan sekaligus makan siang" isyarat dagu Yuda mengajak Zivannya keluar.


"darimana kamu tau aku belum makan" tanya Zivannya heran. Yuda memperlihatkan chatnya dengan Aga. Zivannya menghela nafasnya panjang.


"aku ambil jaket dulu" balik badan Zivannya masuk. Yuda menanti diteras rumah sambil melihat-lihat sekeliling.


Zivannya meraih ponselnya dan menyalakannya, terdapat puluhan panggilan chat dari suaminya. Zivannya menghubungi Aga


"Zi" pandang Aga kesal, Zivannya menatap Aga sesaat. "tadi malam ketiduran dikamar mama by, ponsel aku baru recharge, ini juga baru bangun dan habis bersih-bersih badan. nggak berapa lama Yuda udah nongol aja didepan pintu" pandang Zivannya lemas.


"kamu nggak papa kan yang... sakit atau gimana" lihat Aga seksama.


"besuk lagi jangan bikin Yuda repot by, aku bisa jaga diri" geleng kepala Zivannya.


"aku kuatir yang, disana kamu sendirian. aku hubungi ponselmu tidak aktif" pandang Aga, Zivannya mengangguk.


"maaf by, aku benar-benar ketiduran hingga pagi menjelang siang. ini aku mau keluar makan dulu sama Yuda, mungkin didekat sini" jalan Zivannya keluar dari rumah.


"jangan membuatku kuatir lagi Zi" kata Aga, Zivannya mengangguk mendekati Yuda.


"kita makan sekarang yud" pandang Zivannya mengunci pintu 1pintu rumah.


"aku atau kamu" tanya Zivannya menatap Yuda sesaat, "aku" angguk Yuda melangkah keluar teras Zivannya mengangguk.


"pake kendaraan dia by, nggak mau kalo dibilang cowok nggak modal" senyum Zivannya menatap Aga.


"aku makan dulu by, nanti aku hubungi lagi" masuk mobil Zivannya.


"ok, see U yang" angguk Aga tersenyum, Zivannya tersenyum dan melambaikan tangannya dilayar ponsel.


"gembira banget yang udah punya suami" ledek Yuda, Zivannya tersenyum. memakai kacamata coklat gelapnya.


"karena keadaan yang mengharuskan kamu kan Zi" pandang Yuda, Zivannya mengangguk menatap keluar kaca.


"apa kamu bahagia Zi" tanya Yuda pelan menatap Zivannya, Zivannya mengangguk dan menggeleng bergantian.


"mau berbagi" tanya Yuda, Zivannya terdiam menghapus air matanya yang seketika turun, Yuda meraih tissue dan memberikannya kepada Zivannya. melakukan mobilnya lebih cepat untuk segera ketujuan.


"akhirnya kita bisa main disini lagi kan Zi" kata Yuda merentangkan tangannya lebar-lebar sambil menghirup udara bukit yang segar, mereka duduk dikursi taman menatap hamparan rumah yang terlihat kecil dari atas bukit. Yuda mengambil air mineral dari dalam mobil meletakkannya diantara mereka berdua.


"aku begitu menyedihkan yud, sibuk belajar tanpa peduli kepada ibuku sendiri, sampai tidak tau jika mama menderita begitu lama dan menyakitkan. anak macam apa aku ini" tangis Zivannya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Yuda menatap depan sambil menghembuskan nafasnya.


"itu semua takdir Zi, Tuhan tidak akan menguji hambanya melebihi kemampuannya" kata Yuda pelan, Zivannya sesenggukan.

__ADS_1


"ketika aku sendiri membuatku menyesalinya, kenapa nggak dari awal mama ngomong mungkin akhirnya akan lain da" hapus airmata Zivannya.


"nggak ada jika Zi, jika kamu tau lebih awal maka kamu akan mengambil langkah untuk cuti kuliah dan menunggui mama tanpa melakukan apapun kan" senyum Yuda, Zivannya terdiam mengusap airmatanya.


"mama nggak memberitahumu karena tahu dirimu yang sebenarnya Zi. tidakkah kamu berpikir dari sudut pandang itu. sudut pandang mamamu dalam melihatmu, kamu orang yang kuat dan humble Zi. mama lebih mengerti kenapa kamu tidak diberitahu" kata Yuda, Zivannya menatap kedepan.


"kenapa harus Aga yang melindungimu kedepannya juga telah mamamu pikirkan sebelumnya" hembus nafas Yuda pelan. Zivannya tersenyum samar menatap langit yang terlihat biru dan indah.


"sakit yang kamu rasakan saat ini tidak sebanding dengan sakit yang mamamu rasakan selama ini Zi" kata Yuda, Zivannya tersentak. memang benar apa yang dikatakan Yuda, seberat apapun sakit yang Zivannya rasakan saat ini. mamanya lebih merasakan sakit. Zivannya menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi otak dengan oksigen.


"terlihat menyedihkan ya aku" tawa Zivannya, Yuda tersenyum. "ya.... sedikit. selebihnya jelek banget" goda Yuda, Zivannya tertawa lebar. "senang dong kamu punya teman yang jeleknya kebangetan" lirik Zivannya.


"yaa... begitulah, mau kujadikan status yang lain udah ditolak mentah-mentah dari awal. yaa... mau gimana lagi" angkat bahu Yuda tertawa. Zivannya tersenyum menggelengkan kepalanya.


"karena kamu adalah adik sekaligus kakak yang nggak pernah aku miliki Yuda" hembus nafas Zivannya menatap kedepan, Yuda terdiam menatap kedepan juga.


"jadi siapa gadis yang beruntung memilikimu sekarang" tanya Zivannya mengalihkan pembicaraan yang hening lama, Yuda tertawa lebar.


"masih mencari yang sepertimu Zi. gadis yang mampu membuatku tidak bisa berpaling" kata Yuda, Zivannya mengangguk.


"aku harap kamu dapat segera menemukannya dan mengenalkannya kepadaku" senyum Zivannya. Yuda mengangguk.


"tentu saja, jika aku menemukannya kamu orang pertama yang akan ku beritau, pasti" jawab Yuda Zivannya melingkarkan tangannya dibahu Yuda.


"beri semangat untuk diri kita sendiri da" tatap Zivannya.


"semangat....." teriak mereka berdua dengan kekuatan penuh, tertawa setelahnya mengingat kelakuan merek yang diluar kendali.


"jadi rindu gunung nih" lihat Zivannya kebawah.


"emang Aga ngebolehin kamu naik gunung lagi setelah menikah" berdiri Yuda, Zivannya angkat bahu nya. "kita coba jika besuk aku pulang" senyum Zivannya. Yuda tertawa, "kita lihat seberapa posesifnya Aga melihatmu jalan dengan pria lain. aku bertaruh saat ini dia juga akan was-was kamu bersamaku" jalan Yuda, Zivannya mengikuti langkahnya tertawa.


"pasti, aku bisa membayangkan bagaimana ekspresi nya saat ini. kesal, marah dan tidak berdaya seperti saat itu" angguk Zivannya memakai seat belt.


"waktu itu" ulang Yuda, Zivannya menatap Yuda sesaat. "lupakan. jangan tanya macam-macam" peringatkan Zivannya, Yuda tertawa mengangkat kedua tangannya tanda tidak akan bertanya.


"makasih banyak Yud tetap menganggap ku sebagai teman apapun keadaannya" senyum Zivannya menepuk bahu Yuda.


"yeah... teman dalam keadaan susah, jika senang kamu bersama yang lain" lambai tangan Yuda, Zivannya tertawa.


"Seriously Yuda, whenever you need an ear to hear, a shoulder to lean on. tell me and i'll be there" kata Zivannya, Yuda mengangguk mengerti.


"tentu Zi" senyum Yuda.


"so... mari kita makan. aku lapar, apa yang ingin kamu makan Zi" kata Yuda mengusap perutnya.


Zivannya berlagak memikirkan sesuatu dengan mengetukkan jari telunjuknya di kening.


"hmmmm.... mari kita lihat daftar menu diotak, bagaimana kalo bakso dulu. kita hangout trus makan hotpot dan terakhir nanti makan mie rebus. hmmmm..... membayangkannya saja aku sudah ngiler banget nih, dengan kuah pedas dan panas" semangat Zivannya mengepulkan kedua tangannya antusias. Yuda tertawa ngakak.


"badanmu tuh kecil lho Zi, tapi makanmu banyak banget gitu, aku tekor dong nanti" goda Yuda. Zivannya menepuk-nepuk tas kecilnya.

__ADS_1


"tenang, boss meninggalkan kartu unlimited nya dan mama mewariskan semuanya padaku" senyum Zivannya menaik turunkan alisnya menatap Yuda. mereka tertawa lebar bersama.


"senang melihatmu seperti ini Zi, senang kita bisa tertawa bersama seperti ini walau kita berbeda, senang memandang langit bersamamu" pandang Yuda. Zivannya melakukan hi five dengan Yuda.


"dengan senang hati da, always" senyum Zivannya.


"baksonya disini aja, enak kok. udah laper nih" tepi Yuda dipinggir jalan. Zivannya keluar dan memesan bakso dua mangkuk. duduk dikursi bakso memandang jalanan yang sedikit lengang.


"ah iya.... sekarang kan hari Jumat ya, pantesan agak sepi pada kewajiban Jum'at kan" sadar Zivannya menatap Yuda.


"ahh... iya, maafkan aku karena lupa mengingatnya. hari ku adalah Minggu pagi" angguk Yuda, Zivannya tertawa.


"tentu yud, aku tidak akan memaksamu untuk itu" kata Zivannya, Yuda tertawa.


"kapan kamu akan kembali" tanya Yuda menerima mangkuk bakso yang diberikan penjual bakso.


"Minggu depan, aku ingin menikmati dirumah lebih lama" makan bakso Zivannya yang berkuah pedas.


mereka ngobrol begitu lama hingga 1 jam lamanya, Yuda mengantar Zivannya untuk kewajiban siangnya terlebih dahulu, kemudian mereka pergi ke mall terdekat untuk bermain permainan dan melihat-lihat.


"Yuda, aku kewajiban petang dulu, baru nanti kita ketemuan dengan yang lain" pandang Zivannya menunjuk tempat ibadah yang ada di mall tersebut, Yuda memberi isyarat dengan jarinya tanda Ok. menerima tas kecil Zivannya yang dititipkan kepadanya.


"sepertinya ada menghubungimu tadi, pasti Aga. bergetar soalnya" serahkan Yuda, Zivannya menerima tasnya dan membuka ponselnya.


"Yap, it's my husband" senyum Zivannya menghubungi Aga balik.


"dimana" tatap Aga ketika terhubung. Zivannya memperlihatkan area mall.


"habis kewajiban petang. masih diluar sama Yuda. mau ketemu sama anak-anak yang lain, sekalian keluar. jadi habiskan waktu saja" senyum Zivannya, Aga menatap Zivannya lama.


"pulang yang, besuk pagi" rengek Aga, Zivannya tertawa dan mengangguk.


"tentu by, hari ini bapaknya kak Aris belum selesai mengurus surat-surat legalitas nya" kata Zivannya berjalan mengikuti Yuda, Zivannya memegang ujung kemeja hitam Yuda agar tidak ketinggalan.


"biar ekspedisi yang mengurusnya" kata Aga kekeh, Zivannya mengangguk. "baik by" jawab Zivannya.


Yuda memegang lengan Zivannya saat harus antri dibox ajaib yang membawanya turun ke lower ground. "nanti aku hubungi lagi by, ada di box sekarang" kata Zivannya, Aga mengangguk dan mematikan panggilan chatnya.


"sebegitunya" senyum Yuda.


"nanti juga kamu akan merasakannya, tunggu tanggal mainnya" angguk Zivannya, Yuda tersenyum dan mengangguk paham.


hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..


selamat menikmati cerita kedua kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat. ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...


dukung yaaa... karya kedua ku.


love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..


thanks a lot pisang sekebon...😘

__ADS_1


__ADS_2