
"udah Zi, jangan bebani mama dengan airmata yang memberatkan langkahnya, hanya doa yang dapat meringankan langkahnya bertemu dengan papa dan adikmu" tangkup pipi Aga, Zivannya mengangguk dan menyeka airmatanya dengan handuk wajah berulang kali.
mereka keluar kamar, Zivannya berlalu menuju kamar mandi untuk membasuh mukanya, Aga memilih menonton tv diruang tengah. "mereka belum datang kak" tanya Zivannya membawa gelas air putih, Aga menggeleng. Zivannya menyandarkan kepalanya di dinding, memejamkan matanya.
"terimakasih kak, kamu selalu menemaniku di saat aku berada di titik terendah" ujar Zivannya, Aga menoleh menatap Zivannya yang terlihat tenang saat menutup matanya dan berbicara.
"aku juga berterima kasih karena kamu mengijinkan ku untuk berada bersamamu" kata Aga.
"hmmm" gumam Zivannya.
"mama memintaku untuk menjual kedua motor kak" kata Zivannya.
"begitu lebih baik Zi, karena nanti tidak ada yang menggunakan, dirumah banyak kendaraan kan" kata Aga. Zivannya mengangguk.
"setelah 3 hari, Zi akan mengundang ibu-ibu tetangga yang banyak membantu Zivannya untuk mengambil barang-barang yang sekiranya mereka butuhkan. karena tidak mungkin Zi pake dalam waktu lama. jika lebih bermanfaat untuk orang lain, alangkah lebih baik" kata Zivannya.
"begitu lebih baik Zi, aku percaya padamu. lakukan yang menurutmu baik" genggam tangan Aga, Zivannya membuka mata sebentar dan kembali memejamkan matanya, aga meraih bantal dan menaruh kepala Zivannya diatas pangkuannya, Aga mengusap perut Zivannya.
"Zi, bisakah mengubah panggilanmu kepadaku" pandang Aga.
"kenapa" pandang Zivannya. Aga menggeleng, "kamu memanggil semua orang yang umurnya lebih tua darimu dengan sebutan itu" kata Aga tidak terima, Zivannya menghela nafas.
"trus kak Aga mau Zi panggil dengan sebutan apa" tanya Zivannya tidak mau berdebat, Aga mencium bibir Zivannya pelan.
"bagaimana dengan hubby, by.... " senyum Aga.
"baiklah" angguk Zivannya menghalau sinar lampu dengan punggung tangannya, Aga meraih bantal lagi dan menutupi wajah Zivannya.
"kamu adalah tulang rusukku, jadi aku akan menjagamu" usap perut Aga.
"besuk kita akan mengurus surat-surat yang berkaitan dengan kepergian mama, jadi kita akan meminta bantuan dari Ayah Aris kembali" kata Aga, "baik" jawab Zivannya.
"aku akan mengiklankan motor lewat dunia maya, atau nanti akan aku tanya ketetangga apa ada yang mau beli motor mama dan punyaku" kata Zivannya. "motormu kan masih diapartement Zi" jawab Aga.
"kan bisa dikirim lewat ekspedisi kak, jika kak Aga pulang kan bisa langsung kirim ke ekspedisi biar bisa langsung kesini" kata Zivannya. Aga terdiam sebentar, "bentar aku akan chat teman dikesatuan. apa bisa mengirim kesini" kata Aga menghubungi grup dikesatuannya. Zivannya bergerak kesamping kanan menghadap perut Aga.
"Zi" buka bantal Aga pelan. "hmmm" gumam Zivannya pelan. Dimas dan Rara pulang dari membeli mie rebus diujung kampung.
"tidur" tanya Rara pelan, Aga menggeleng, membuka bantal Zivannya.
"Zivannya, mie rebusnya udah datang, tadi antri banyak jadi lama deh pulamgnya" duduk Rara sambil menuang mie dimangkuk. Zivannya duduk dan mengambil sendok yang sudah dibawa Dimas. Zi, tadi bapak yang jual mie rebus nitip belasungkawa buat mama Ranti, tadi pagi kesini, tapi nggak ketemu karena masih mandi" pandang Rara, Zivannya mengangguk menyeruput kuah mie yang menggugah selera.
__ADS_1
"besuk pagi mereka akan mengambil motor diparkiran apartementku. aku sudah menghubungi penjaga keamanan agar mereka dengan mudah membawanya nanti" kata Aga meletakkan ponselnya.
"motor siapa" kerut kening Rara, Aga memberi isyarat dagu kearah Zivannya.
"mau dibawa kesini... buat apa, nanti Zivannya kuliah naik apa" pandang Rara, Dimas menyentil kening Rara.
"kamu lupa dia sekarang pemilik kendaraan lebih dari satu, limited edition pula. lupa..." pandang Dimas, Rara manyun. Zivannya memandang Dimas horor, Dimas nyengir memberi tanda damai dengan dua jarinya.
"jangan bilang ke teman yang lain jika Zi udah menikah sebelum selesai kuliahnya" ingatkan Dimas pada Rara yang mengangguk.
Aga melihat Zivannya meletakkan kembali sendoknya setelah tiga suapan kuah. Aga mengambil mangkuk mie dan menyuapi Zivannya.
"makan... kalo nggak makan. aku kurung dikamar" pandang Aga ketika Zivannya menggelengkan kepalanya menolak suapan Aga, Zivannya membuka mulutnya untuk menelan mie rebus.
"dua hari ini, kita akan membereskan rumah, barang-barang yang Zivannya inginkan untuk diberikan kepada orang lain akan kita letakkan dibagian depan rumah agar dapat dengan mudah mengambilnya" kata Aga, mereka bertiga mengangguk.
"jadi, kita akan sangat sibuk tiga hari ini, jika kita pulang untuk kuliah, luangkan waktu untuk hangout saat libur" kata Dimas. Rara mengangguk mantap, Zivannya hanya diam. Rara menekan kedua pipi Zivannya dan menarik wajah Zivannya keatas bawah.
"Zivannya juga setuju" cengir Rara, Aga mengelus kedua pipi Zivannya dan mencium kedua pipinya. Rara memutar bola matanya jengah, Dimas mencuri ciuman pipi dari Rara.
"biar samaan Ra, nggak usah ngiri, nganan aja sama aku" kata Dimas menghindari pukulan Rara yang kesal karena Dimas mencuri ciuman darinya, Zivannya yang melihatnya menghela nafas panjang. "aku nggak tau gimana kemarin kalo nggak ada dua orang baik itu" gumam Zivannya.
"hmmm" suapi Aga, Zivannya menelan mie dengan susah payah.
"manggil aku apa" senyum Aga, Zivannya nyengir.
"maaf, belum terbiasa kak... by.." ralat Zivannya cepat, Aga menyentil kening Zivannya, "ishhh..." usap Zivannya kesal.
pagi hari
selesai kewajiban pagi, Zivannya mematikan lampu ruang tengah dan menuju kamarnya, merebahkan dirinya ditempat tidur yang selalu menemani kembali sebulan ini, Zivannya memeluk gulingnya erat, tersenyum penuh kelegaan. tiba-tiba tangan kekar memeluknya dari belakang, Zivannya tersentak kaget dan menjerit pelan, "it's me" kecup Aga ditengkuk Zivannya, Zivannya menekan dadanya kuat.
"aku cari-cari ternyata disini" usap dagu Aga di rambut Zivannya.
"hmmm, kangen dengan ranjang dan bantalku" pejam mata Zivannya menghela nafas panjang. "mereka masih tidur by" tanya Zivannya, aga mengecupi rambut Zivannya.
"seperti bayi, tidak bergerak sama sekali saat dibangunkan untuk kewajiban pagi" ucap Aga mengelus perut Zivannya.
"terkadang mereka begitu, hanya kewajibanmu mengingatkan mereka, dilakukan atau tidak itu sudah urusannya dengan Tuhan sendiri. terkadang aku menyesal apa aku kurang keras untuk membawa mereka kembali ke jalur Nya dan pada akhirnya aku menyerahkan kembali kepada mereka" hembus nafas Zivannya.
"hmmmm.... aku merindukan tubuhmu Zi" bisik Aga ditelinga Zivannya, mengusap dua benda kenyal Zivannya yang terbungkus underwear bra.
__ADS_1
"jangan, aku belum siap" kata Zivannya lirih. aga tersenyum mengecup tengkuk Zivannya yang jenjang, putih mulus.
"aku tau, aku tidak akan memintanya beberapa hari kedepan, aku hanya meminta kompensasi dalam bentuk lain" bisik Aga menggigit telinga Zivannya lembut.
Zivannya berdehem pelan. Aga tertawa pelan melihat reaksi Zivannya yang menyetujuinya.
"jika mereka masuk gimana by" desah Zivannya, Aga menghentikan usapannya.
"aku sudah menguncinya, aku tidak akan membiarkan orang untuk melihat tubuhmu" jawab Aga membuka t-shirtnya dan Zivannya. Aga memeluk hangat tubuh Zivannya. memberi kecupan ditengkuk Zivannya, Aga mengusap pelan perut Zivannya, naik keatas meremas benda kenyal candunya, Zivannya mendesah pelan menahan tangan Aga agar berhenti.
"stop, aku takut tidak bisa menahannya kak..." geleng Zivannya setengah sadar.
"hmmmm.... aku akan menghukum mu karena salah memanggilku lagi" desah Aga ditelinga Zivannya kemudian mengigitnya pelan. "by.... jangan.... by.... lepaskan aku" erang Zivannya pelan, menjauhkan wajah Aga dari wajahnya. Aga meraih kedua tangan Zi dan menahannya diatas kepala Zivannya. mereka saling berpandangan penuh dengan kilatan hasrat yang terpendam, Aga mencium sekilas bibir Zivannya dan melihat reaksi Zivannya yang nafasnya sudah tidak teratur lagi. Aga melepas pegangan tangannya menahan badannya dengan kedua tangannya menatap Zivannya dengan penuh sayang. Zivannya membuka matanya menatap Aga yang hanya memandangnya dengan kabut gairah yang terlihat jelas. Zivannya menghela nafasnya panjang meraih wajah Aga dan mencium lembut bibirnya, lama kelamaan menjadi semakin menuntut untuk meminta lebih, Aga menahan tengkuk Zivannya agar tidak melepaskan pagutannya. Zivannya menghirup udara setelah beberapa saat Aga menahannya. ciuman Aga semakin turun menuju leher dan disekitar benda kenyal candunya, Aga memberikan banyak tanda cinta disekitarnya, hingga Zivannya hanya bisa meremas kuat rambut Aga dan menggigit bibir bawahnya menahan sensasi yang membakarnya. Aga menghentikan aktifitasnya sesaat dan menempelkan tubuhnya diatas tubuh Zivannya, "Zi..." erang Aga menggesekkan tubuhnya diatas tubuh Zivannya dan pada akhirnya menggeram panjang karena hasrat duniawinya tersampaikan.
"aaahhhh....." desis Aga diceruk leher Zivannya sesaat dan terdiam lama diatas tubuh Zivannya. "aisshhh...." guling tubuh Aga disamping Zivannya dengan nafas memburu, menatap Zivannya yang memandangnya dengan tatapan yang sulit untuk Aga tebak. "aku sudah bilang jika aku merindukan tubuhmu. aku sampai tidak tahu lagi berapa banyak benih yang aku sia-siakan beberapa hari kemarin" tutup mata Aga mengatur nafasnya, Zivannya membenarkan bra dan t-shirt nya kembali. mencium bibir Aga sebelum dirinya turun dari ranjangnya mengambil pakaian ganti untuk Aga mandi. "Zi.... jangan memancingku" desis Aga menatap kesamping. Zivannya mengikat rambutnya menjadi ekor kuda. membuka lemari dan mengambil pakaian untuk Aga dan meletakkannya disamping Aga, membantu Aga memakai t-shirt yang dilemparkannya sembarangan. "mandi yang bersih sayangku" tangkup kedua pipi Zivannya mencium lembut bibir Aga, Aga melingkarkan tangannya dipinggang Zivannya. "kamu berani menggodaku hmmm..." dongak Aga sedikit kesal, Zivannya mengangguk dan tersenyum tanpa dosa kepada Aga.
"apa aku terlihat menggoda" senyum smirk Zivannya, Aga mengangguk pelan. Zivannya tersenyum lebar mencium bibir Aga dengan lebih intens.
Aga mendesah pelan, Zivannya segera menghentikan aktifitasnya memandang Aga sesaat dan menjauh, "ziii.... " pandang Aga kesal. Zivannya menggeleng dan memandang Aga. "mandi kak, kamu sudah basah" lambai tangan Zivannya keluar kamar. "kamu memanggilku apa" seru Aga, Zivannya melongokkan kepalanya kembali dipintu kamarnya. "hubby.... mandi" kata Zivannya tegas. Aga tertawa pelan melihat kelakuan Zivannya yang menggemaskan karena membuatnya tegang lagi dengan keadaan yang basah begini. Aga segera keluar kamar, melihat Zivannya menuju pintu rumah, Aga terus berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Zivannya membuka lebar pintu rumahnya merentangkan kedua tangannya untuk menghirup udara pagi yang menyegarkan, melakukan beberapa gerakan untuk membuat badannya tidak kaku. Zivannya mulai menyapu halaman agar terlihat bersih dan rapi.
Zivannya menyapa para tetangga yang kebetulan melintas didepan rumah. Aga keluar menemani Zivannya yang selesai membersihkan depan rumah. "sudah Zi" tanya Aga mendekat. Zivannya menoleh dan mengangguk melihat Aga sudah segar dan terlihat tambah mempesona.
"baru tau kalo suamimu tampan" kerling mata Aga, Zivannya menatap Aga datar. "terkadang aku lupa kak... eh by.... jika kehadiran dan sosok kalian bertiga menjadi perhatian dipemakaman mama kemarin" tatap Zivannya.
"haaa.... siapa" kerut Aga tidak berpikir panjang.
"kak dirgantara, bang matahari dan dirimu Bagaskara Triastomo" pandang Zivannya, Aga berkerut tidak mengerti. Zivannya menghela nafas menyadari suaminya memang terlalu memanjakan dirinya. "by.... kamu nggak ngerasa kalo kalian bertiga dengan pakaian biasa seperti ini udah membuat gadis-gadis terpesona... jika sendiri aja udah membuat banyak wanita berpikir yang tidak-tidak, apalagi kalian bertiga berkumpul disatu tempat dengan badan dan tampang idaman perempuan" kata Zivannya.
"ishhh.... aku nggak bayangin kemarin pada ngliat kalian gimana" jalan Zivannya masuk kedalam rumah.
"justru aku lho yang malah kesal ngliat beberapa temanmu memandangmu begitu intens, seperti ingin menunjukkan bahwa kamu harusnya bersama mereka, dan bisa memelukmu menghapus kesedihanmu" dengus Aga mengikuti Zivannya, Zivannya membuatkan minuman kopi hitam untuk Aga, meletakkan didepan Aga yang sedang mengecek ponsel pintarnya.
"Zi, kamu belum menyentuh ponselmu dari kemarin ya" pandang Aga menyeruput kopinya, Zivannya menggeleng. "aku belum butuh ponsel sekarang" geleng Zivannya, Aga mengangguk.
hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..
selamat menikmati cerita kedua kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.
ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...
dukung yaaa... karya kedua ku.
__ADS_1
love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..
thanks a lot pisang sekebon...😘