Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 93


__ADS_3

mereka tiba ditepi pantai menjelang pagi, Langit dan Zivannya melaksanakan kewajiban paginya di gazebo kecil yang ada disana, Langit melantunkan doa, Zivannya mengamini, mencium kening Zivannya. mereka duduk di kap mobil, menatap matahari yang akan segera muncul. Langit mengambil Hoodie untuk dipakai Zivannya. "nginep dimana kak" tanya Zivannya, "aku barusan datang petang tadi, minjem mobil teman untuk menemui mu" jawab Langit.


"tau dari mana aku ada disana tadi malam. perasaan kita nggak pernah chat" kata Zivannya menatap Langit, "aku sadap" senyum Langit. Zivannya menoleh, "jadi kemanapun aku pergi kamu tau dengan pasti" tanya Zivannya, Langit manggut-manggut.


"dengan siapa aja tau" tanya Zivannya, Langit mengangguk. Zivannya menghela nafasnya panjang menatap kearah ufuk timur.


"makasih kak, kamu nggak benar-benar meninggalkanku selama ini" kata Zivannya, Langit menoleh. "jika terjadi apa-apa denganku maka kamu pasti akan menemukan ku kan" senyum Zivannya, Langit menatap kedepan.


"aku egois kan, yang" tanya Langit.


"banget" angguk Zivannya.


"aku pemaksa kan" tanya Langit.


"banget" angguk Zivannya.


"aku pingin menang sendiri kan" tanya Langit.


"banget" angguk Zivannya.


"aku terlalu posesif kan" tanya Langit.


"banget" angguk Zivannya


"makanya kamu sayang aku kan" senyum Langit.


"banget" angguk Zivannya menoleh menatap Langit yang tertawa lebar.


"ishhh" manyun Zivannya, Langit meraih jemari Zivannya.


"kesal tau, yang. liat kamu sama sekali nggak memberiku kabar selama 4 bulan lebih" kata langit.


"tambah kesal lagi sering pergi dengan Arka dan chat an sama dia" Hela nafas Langit.


"setiap cowok yang dekat denganmu pingin aku buang jauh-jauh, agar jangan mendekati gadisku" kata Langit.


"waahhh..... matahari mulai muncul" seru Zivannya antusias, langit menoleh dan mengusap kepala Zivannya lembut.


"aku mencintaimu Zivannya Fritscha, ibu dari anak-anakku" senyum Langit, Zivannya menoleh tersenyum "aku mencintaimu satria Langit" jawab Zivannya, Langit tersenyum dan mengecup tangan Zivannya lembut.

__ADS_1


"pingin melumatmu kalo begini, yang. tapi nggak enak diluar begini" kata Langit. Zivannya tidak menggubris dan menikmati suasana pagi yang penuh dengan udara segar, merentangkan tangannya lebar dan berteriak kencang. Langit tertawa bertepuk tangan.


"kamu memang unik, yang. itu kenapa aku tidak bisa berpaling darimu, bang Matahari selalu memberi kabar tentangmu padaku, dia tidak tahu jika aku juga tau persis keadaanmu" kata Langit.


"abang juga nggak bosan-bosannya ngasih info tentang komandannya" dengus Zivannya, Langit tersenyum. "padahal aku menjadi atasannya belum lama lho, yang. baru dua bulan, pada saat Aga pergi waktu itu" kata Langit. "oh ya" toleh Zivannya, Langit mengangguk.


"aku mencintaimu sayang" senyum Langit menatap Zivannya. Zivannya berdehem. "aku aja nanti yang bawa pulang mobilnya kak" kata Zivannya. Langit menggeleng. "kalo hanya tidak tidur masih kuat, yang. jika tidak bertemu denganmu itu yang bikin aku tidak kuat" pandang Langit.


Zhivannya tersenyum, "aku juga, terkadang ingin menghubungi mu menanyakan kabarmu, apa kamu baik-baik saja disana" jawab Zivannya, Langit menoleh cepat "lalu kenapa kamu tidak chat aku" usap kepala Langit, "karena aku tau kamu marah kepadaku saat terakhir kali kita bertemu. perkataanku tidak pantas diucapkan saat itu. aku minta maaf" pandang Zivannya. Langit tersenyum. "saat itu aku memang marah, tapi aku berpikir kenapa kamu sangat menolakku dan mengatakan hal itu, jika karena bukan trauma masa lalu pasti kamu tidak akan begitu" kata Langit, Zivannya terdiam lama.


"pulang kak, matahari sudah terlihat jelas. aku mau tidur" turun Zivannya. Langit turun dari bagian depan mesin mobil. mereka masuk. mobil melaju dengan kecepatan tinggi, karena jalanan masih sepi.


"langsung kerumah, yang. nggak beli sarapan" tanya Langit.


"kakak lapar" toleh Zivannya. "banget" angguk Langit.


"nanti dipinggir jalan banyak yang jual makanan. kita turun disitu dulu sarapan" kata Zivannya, Langit mengangguk. mobil berjalan agak pelan untuk mencari sarapan. "ada yang jual sarapan kak" lihat Zivannya.


Langit menepikan mobilnya. mereka keluar dan duduk dikursi pinggir jalan. Zivannya memesan dua macam masakan untuk mereka berdua. Langit menerima pesanan makanan yang dipesan Zivannya tadi. "kamu pesan bubur, yang" tanya Langit memakan makanannya. Zivannya mengangguk. "aku nggak begitu lapar kak, bubur bisa masuk ke perutku" jawab Zivannya.


Langit memakan makanannya dengan cepat. Zivannya menikmati makanannya sambil melihat lalu lalang orang yang sudah mulai aktifitasnya. "kak minggu depan aku akan naik" pandang Zivannya.


"kita lihat apakah kamu bisa naik ato tidak, kita akan mengurus semua suratnya mulai besuk, aku tidak mau menunda apapun lagi. karena kamu sudah pindah kependudukan di Jakarta jadi prosesnya menjadi lebih dekat" jawab Zivannya. Langit meminum air mineral kemasan setelah selesai makan.


"itu caraku beristirahat kak" makan Zhivannya. "kita liat aja" kata Langit. Zhivannya menghabiskan makanannya. Langit memberikan air mineralnya. Zivannya meminumnya dengan cepat.


"udah kak, mau apalagi" tanya Zivannya. Langit menggeleng, Zivannya membayar makanan yang mereka makan tadi kemudian melanjutkan perjalanan pulang.


Zivannya membuka pintu pagar, Langit memasukkan mobilnya kedalam garasi. Zivannya menutup pagar, membuka pintu rumah. Langit membawa tas ranselnya kedalam rumah. "mau mandi kak" tanya Zivannya melepas Hoodienya. "tidak, aku akan tidur sebentar" letak tas ransel Langit diruang tengah, Zhivannya mengambilkan Langit alas tidur. Langit membersihkan badannya sebelum merebahkan badannya diruang tengah sambil menonton TV. Zivannya masuk kedalam kamar untuk mengganti pakaiannya.


"mau kemana, yang" tanya Langit. "mau kedepan bentar" jawab Zivannya. "mau ngapain" tanya Langit. "ngunci pintu pagar" kata Zivannya. Langit mengangguk. Zivannya mengunci pintu pagar. Zivannya merebahkan tubuhnya disamping Langit. "tidur kak, nanti aku bangunin" senyum Zivannya memejamkan matanya. Langit menarik tubuh Zivannya agar lebih dekat dengannya. "tidur yang nyenyak Zi" kecup tengkuk leher Langit. "hmmm" dehem Zivannya meringkuk. Langit melingkarkan tangannya diperut Zivannya. "kak, aku hanya ingin tidur tenang" kata Zivannya. "hmmm.... ini aku juga udah tenang, yang" senyum Langit mengusap perut Zivannya.


"aroma yang kurindukan" cium rambut Langit. "kak" kata Zivannya merasa terganggu. "apa, kamu janji akan memanggilku selain dengan sebutan kak, bang dan mas" ingatkan Langit. Zivannya melepaskan tangan kekar Langit dari perutnya. "biasakan tubuhmu untuk menerima sentuhan dariku, yang" bisik Langit menelusupkan tangannya. "kak" kata Zivannya berbalik. Langit meraih tengkuk leher Zivannya mencium bibir kekasihnya lembut. "nafas, yang" usap bibir Langit, Zivannya menutup mulut Langit dan menjauhkan diri nya sedikit. "udah kak, kita tidur" pandang Zivannya memeluk Langit dan menelusupkan wajahnya di dada Langit. Langit tersenyum merengkuh tubuh Zivannya dalam dekapannya, mereka segera tertidur.


Zivannya mengerjapkan matanya, melihat jam yang menunjukkan pukul 2 siang. Langit tidak melepaskan tubuh Zivannya, Zivannya mengangkat tangan Langit diatas perutnya. "jangan coba-coba, yang" peringatkan Langit. "aku mau mandi dan kewajiban siang, yang" kata Zivannya pelan. Langit mengerjapkan matanya dan melihat jam "udah siang rupanya" hembus nafas Langit. Zivannya duduk dan mengikat rambutnya model bun. "aku mandi dulu" kata Zivannya. "mau mandi bareng nggak" tanya Langit, Zivannya memukul dada Langit lumayan keras. "aduh, yang" kesakitan Langit. "mandi kak, nanti kita telat" anjak Zivannya masuk kedalam kamar, mengunci pintunya. Zivannya mengguyur tubuhnya dengan air dingin yang segar, mengganti pakaiannya dan melaksanakan kewajiban siangnya yang sudah sangat terlambat. Langit mengetuk kamar Zivannya menanyakan mau bersamanya tidak menunaikan kewajiban siangnya. Zivannya keluar dari kamar saat Langit masih menunaikan kewajibannya. Zivannya minum air mineral dan mengambil ponselnya untuk mengecek pesan.


"hallo bund" salam Zivannya


"iya baru bangun dari tadi pagi. tadi malam sama Rara nonton konser musik sampai dinihari" jawab Zivannya.

__ADS_1


"iya, ketemu disana. orangnya baru menunaikan kewajibannya. iya pulang kerumah" angguk Zivannya.


"katanya petang kemarin baru sampai, ketempat temannya" jawab Zivannya.


"nggak, iya. ati-ati disana bund, salam buat Ayah" kata Zivannya menutup sambungan.


"aishhh.... kenapa udah sampai aja beritanya kemana-mana" gumam Zivannya pelan. "aku semalam memberitahu mereka semua" jawab Langit duduk diruang tamu menemani Zivannya. Zivannya mendongak menghela nafasnya panjang.


"beritahu aku dulu ketika terjadi sesuatu kak. jika aku udah siap maka lakukan" pandang Zivannya, Langit mengangguk. "maaf, yang. kedepannya akan aku katakan apapun sebelum melakukan apapun" kata Langit. Zivannya menghembuskan nafasnya.


"hallo kak, bang" salam Zivannya. Langit melambaikan tangannya.


"weeiiiis..... selamat dek... " tawa mentari. "Zivannya mengangguk tersenyum. "makasih kak" kata Zivannya. "kenapa" tanya Mentari, Zivannya menggeleng. "selamat dek" datang Matahari dari belakang memeluk istrinya. Zivannya tersenyum, "semoga bawa kabar baik saat pulang kak" kata Zivannya. "semoga, Abang selalu pergi-pergi" angguk mentari. "emang kakak selalu dirumah juga" senyum Zivannya.


"sama kalian berdua" pandang matahari, Langit mengangguk.


"selamat ndan, selamat datang dikeluarga Triastomo" seru matahari. Langit tertawa melihat tingkah kedua kakak Zivannya.


"jangan ngadain acara apapun sebelum kita pulang. seminggu lagi baru kita pulang" kata Mentari. Zivannya mengangguk.


"udah masuk ke kewajiban sore, yang" kata Langit, Zivannya mengangguk. "ketempat ibadah aja kak" kata Zivannya, "oke" angguk Langit mengambil alas sujud dan membuka pintu. mereka bersama menuju tempat ibadah.


"yang, lapar" kata Langit masuk kedalam rumah. "mau send aja kerumah atau keluar" tanya Zivannya. "keluar aja" senyum Langit, Zivannya mengangguk. "aku ganti baju dulu" kata Zivannya. "jangan cantik-cantik" peringatkan Langit. "apanya" balik badan Zivannya kesal, Langit mendekat.


"aku bilang jangan cantik-cantik kalo pake baju dan dandan" usap pipi Langit. "dandan darimana, pake baju yang gimana kak" hembus nafas Zivannya. Langit mencium lembut bibir Zivannya yang setengah terbuka, bergerak maju agar Zivannya bersandar didinding belakangnya. "nafas, yang" satukan kening Langit. Zivannya menghirup udara bebas dengan cepat. Langit meraih tengkuk Zivannya dan mendekatkan bibirnya kembali, Zivannya melingkarkan lengannya keleher Langit agar tidak lemas. "hmmm" senyum Langit melihat Zivannya yang memerah. "mau duduk, yang" goda Langit, Zivannya menghembuskan nafas banyak-banyak.


"kita cari makan kak" pandang Zhivannya menghapus Saliva mereka dari bibirnya. "ini juga udah makan, yang" senyum Langit. Zivannya menjauhkan tubuh Langit dari nya. Langit menahan tangan Zivannya.


"aishh, udah kak. katanya lapar" pandang Zivannya. "tapi, laparku lain, yang. nanti aja makannya" peluk Langit. Zivannya menghela nafasnya, membiarkan Langit memeluknya erat.


"kalo gini meluknya aku bisa mati kehabisan nafas kak" kata Zivannya pelan, Langit mengurai pelukannya melihat Zivannya. "kamu nggak papa kan, yang" tangkup pipi Langit.


"nggak baik-baik aja kalo gini kak, kaki ku lemas" geleng Zivannya, Langit tergelak mengangkat tubuh Zivannya dan membawanya keruang tengah.


"ngapain kesini, aku akan ganti baju kan" pandang Zivannya. "nanti aku gantiin, tenang aja" senyum Langit menatap Zhivannya intens.


hai....hai....hai.... all readers. terimakasih atas dukungannya selama ini. terimakasih banyak...


luv....luv....luv.... U all readers sekebon pisang goreng, dukung terus karya ku ini.

__ADS_1


stay healthy all....


terimakasih all readers...


__ADS_2