Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 20


__ADS_3

"tidak apa-apa nak Aga, saya paham bahwa anak muda sekarang penuh dengan rencana yang matang dan saya senang akhirnya Zivannya juga menemukan tambatan hatinya seperti sepupunya Aisya yang juga sudah bertunangan" senyum kakek menepuk bahu Aga pelan. Aga tersenyum mengangguk.


"terimakasih jika kakek dapat memaafkan dan memahami kami anak muda yang penuh dengan gejolak menggebu-gebu khas anak muda" senyum lebar Aga berkata tegas, kakek tertawa pelan dan mengangguk.


"ini nenek Zivannya, ini Hadi anak pertama kakek, sedangkan papa Zivannya anak kedua kakek, ini istrinya Sonia dan dua anaknya Aisya dan Fauzan serta Sony calon suami Aisya" perkenalkan kakek satu persatu. Aga sedikit menundukkan wajahnya tanda memberi hormat kepada semua keluarga Zivannya secara pribadi. ketika mereka sedang asyik mengobrol tiba-tiba seseorang memberi salam.


"hallo ndan" hormat seseorang ketika sudah dekat dengan Aga, mereka menoleh cepat ke arah suara.


"hai, Aris kan... darimana saja. lama tidak berjumpa" senyum Aga mengenali sosok pemuda yang berdiri disampingnya dan memberi salam.


"baik ndan, ternyata saya tidak salah mengenali orang. saya kira tadi orang lain, setelah saya lihat lagi ternyata memang komandan Bagaskara" salam Aris senang.


"ris, kamu kenal Aga tho" tanya nenek dengan tatapan menyelidik.


"iya Bu, siapa tidak kenal dengan keluarga komandan Bagaskara, Ayahnya jenderal Triastomo, kakak laki-lakinya adalah komandan angkatan udara yang baru ditugaskan dijawa timur dirgantara Triastomo sedangkan Abang iparnya adalah pasukan khusus dari angkatan laut Matahari Pranajaya yang baru kembali dari pasukan perdamaian sedangkan komandan Bagaskara adalah komandan polisi khusus" angguk Aris tersenyum.


nenek yang mendengarkan penjelasan Aris pun terlihat sedikit pucat, tidak menyangka keluarga calon suami Zivannya sangatlah terpandang.


"rumah orangtua saya dibelakang rumah keluarga ibu Ranti, Ndan. kebetulan saya menemani kedua orang tua menghadiri acara disini. katanya ada syukuran keluarga dan diminta untuk menyaksikan" lapor Aris. Aga tertawa kecil mendengar perkataan Aris.


"berarti kita nanti tetanggaan dong ris, jika sah jadi menantunya mama Ranti" kata Aga bercanda.


"siap ndan, merupakan suatu kehormatan jika bisa bertemu dengan komandan" angguk Aris tersenyum.


"mari bergabung bersama kami disini, atau mau mengambil makanan dulu" senyum Aga melihat Aris yang membawa gelas, Aris tertawa pelan.


"saya ke orang tua dulu ndan, selamat telah melangkah kejenjang yang lebih ndan. saya tunggu undangan kesatuannya" angguk Aris hormat kepada Aga. Aga tersenyum dan membalas hormat Aris.


"maaf, ketemu dengan teman lama waktu pelatihan, malah saya tidak tahu jika dia berasal dari daerah yang sama dengan Zivannya. tau gitu tanya dia aja ya biar lebih cepat jalurnya" tawa Aga yang membuat semua tersenyum.


"saya minta ijin kepada keluarga. biar saya yang nanti mengantar mama Ranti dan Zivannya untuk pulang kerumah, jika diperbolehkan" senyum Aga memandang om Hadi.


"tentu saja nak Aga, om mengerti" angguk om Hadi tersenyum.


"terimakasih om, sudah menjaga mama Ranti dan Zivannya. sekarang menjadi tugas dan tanggungjawab saya mengambil alih" angguk Aga tersenyum lebar. om Hadi mengangguk dan membalas senyuman Aga yang terasa mengintimidasinya.


"kakak kenal Zivannya dimana" tanya Fauzan menatap Aga.


"area kampus, ketika kami melakukan pengejaran terhadap tersangka mahasiswa yang lari menuju kampus. Zivannya sedang perjalanan pulang dari kampus, tidak sengaja tertabrak beberapa anggota kami, satu bulan yang lalu" senyum Aga.


"satu bulan, dan kamu merasa cocok dengan Zivannya" tanya Tante Sonia tidak percaya, aga mengangguk mantap.


"kenapa tidak tante, sebentar atau lama tidak menjamin orang akan bersatu bukan, hanya dia yang membuat hati saya bergetar" angguk Aga tertawa.


"jika ditanya berapa banyak wanita yang mendekati, banyak tapi nggak ada yang seperti Zi memperlakukan saya. dia gadis yang sopan, baik dan tidak sembarang laki-laki menyentuhnya. sekalipun itu Bima laki-laki yang menyakiti hatinya sebelum saya mengenal Zivannya. bagi saya tidak sulit untuk melacak perjalanan hidup Zivannya Fritscha dengan kemampuan yang saya miliki, bagaimana kehidupannya, siapa keluarganya, dengan siapa dia berhubungan. saya bisa mencari tahu lebih banyak. makanya ayah saya langsung memberi restu ketika melihat Zivannya pertama kali saya pertemukan dengan keluarga saya kemarin sebelum Zivannya disuruh pulang mama Ranti" senyum Aga memandang setiap mata keluarga papa Zivannya.


"kami bukan orang yang memandang harta sebagai tolak ukur dalam menjalin hubungan. tapi bagaimana memahami makna tentang bibit, bebet dan bobot seseorang. harta bisa dicari tapi kepribadian orang tidak akan bisa dibeli" senyum Aga tenang.


keluarga papa Zivannya hanya terdiam mendengar perkataan Aga yang tepat menusuk hati mereka karena selama ini berbuat tidak adil pada Zivannya dan mamanya.


Aga menggenggam jemari Zivannya dan mama Ranti. "kita icipi dulu makanan yang sudah tersedia, aku sudah laper karena sedikit tegang menunggu kamu datang" kata Aga.


"mari kakek dan nenek, semuanya. kita makan terlebih dahulu" senyum Aga berlalu dari hadapan keluarga papa Zivannya.


mama tersenyum senang setelah agak jauh dari keluarga. "kamu memang ok ga, nggak sia-sia jadi menantu mama" kata mama lirih, Aga tertawa lebar mendengar ucapan mama Zivannya.


"terimakasih ma, tidak sia-sia Aga ngobrol dengan mama panjang lebar" hi five Aga yang disambut mama. Zivannya menggelengkan kepalanya yang terasa berat.


"duduk sini dek" lambai Valerie. Zivannya menghampiri Raka yang duduk disebelah mamanya.


"makan apa kak" tanya Zivannya sedikit membungkuk. Raka memperlihatkan ice cream yang dipegangnya.


"enak nggak kak" goda Zivannya dengan puppy eyesnya. Raka mengangguk dan memberikan suapan satu sendok kecil kemulut Zivannya. Zivannya tertawa dan segera melahapnya.


"hmmm.... enak banget kak" rasa Zivannya dilmulutnya. Raka tersenyum.


"deg-degan nggak dek" tanya Valerie menggoda Zivannya.

__ADS_1


"banget kak, bener-bener nggak nyangka. kak val udah tau" tanya Zivannya. Valerie mengangguk.


"tentu, kita semua tahu. makanya waktu itu kita berkumpul untuk membahas acara ini tanpa sepengetahuanmu" tawa Valerie.


"ishhh... berarti hanya Zi yang merasa dikadali" gumam Zivannya pelan.


"apa itu dikadali aunty" pandang Raka tidak tahu. Zivannya hanya melongo, Valerie tertawa lebar.


"Raka cenderung kepo Zi, jadi jika penjelasannya tidak memuaskannya akan selalu dikejar" kata Valerie, Zivannya menghembuskan nafas panjang. "baiklah" angguknya.


"aunty tidak diberitahu sebelumnya tentang sesuatu" jawab Zivannya pelan. Raka mengangguk dan melanjutkan melahap ice creamnya lagi.


"kak mentari mana kak" toleh Zivannya. Valerie menunjuk sebuah sudut dimana matahari dan mentari sedang melakukan beberapa pose. Zivannya menoleh mengikuti jari Valerie.


"ya ampun. nggak ada wibawanya sama sekali kak matahari kalo sudah ketemu kak mentari" geleng kepala Zivannya.


"laki-laki dikeluarga Triastomo pada bucin sama wanitanya" senyum Valerie.


"adiknya Raka mana kak" tanya Zivannya. "sedang mengejar bunga yang indah tuh sama papanya" kata Valerie.


"kakak tinggal dimana" tanya Zivannya. "dihotel ini juga, kita datang kemarin, rencananya seminggu kami disini sekalian liburan" senyum Valerie.


"memang kak Aga juga libur" tanya Zivannya.


"nggak, besuk siang aku pulang, nanti akhir pekan akan kesini lagi, ikut liburan" kata Aga tiba-tiba muncul.


"ish, sukanya ngagetin" pandang Zivannya kesal.


"hari ini kamu harus menemaniku menikmati suasana disini. nggak ada penolakan" kata Aga pelan saat melihat Zivannya keberatan.


"nggak tidur dong kak, padahal habis ini pingin tidur dengan tenang" kata Zivannya pelan. Aga menggelengkan kepalanya.


"terserah kakak deh, Zi ngikut aja kata Zivannya mengalah.


"habis ini bersih-bersih diri dikamar hotel yang sudah kami book untuk mama dan dirimu. biar yang lain pulang kerumah masing-masing. apalagi sikutu kupret Aisya yang memperlakukanmu tidak baik" geram Aga,


ponsel Zivannya berdering, panggilan video chat. "hallo Ra" lambai tangan Zivannya tersenyum menatap layar ponselnya.


"Zivannya" teriak Rara kalap. Zivannya segera menjauhkan ponselnya kesamping.


"anak ini, kebiasaan teriak-teriak" hembus nafas Zivannya.


"kenapa nggak bilang kalo mau pulang. eehhh.... tunggu dulu... kamu cantik banget, dandan juga, pake kebaya" lihat Rara lebih jelas. Zivannya mengangguk manyun.


"ada acara dirumah, harus tampil cantik. diminta mama pulang. aku hubungi nggak diangkat. udah aku chat" lapor Zivannya, Rara tertawa.


"udah selesai acaranya" tanya Rara penasaran, Zivannya menggeleng.


"kapan kamu pulang" tanya Rara.


"pingin disini dulu sebelum masuk kuliah satu hari" kata Zivannya.


"lama amat Zi, kangen tau" manyun Rara.


"kan ada Dimas yang selalu setia jika dihubungi. kasihan dia Ra" pandang Zivannya. Rara manyun.


"nggak kesini Ra" tanya Aga, Zivannya mengarahkan layar kesamping. Rara membelalakkan matanya terkejut "komandan" seru Rara tak percaya.


"ngapain ada pak komandan Zi" kata Rara heran.


"kebetulan lewat Ra, nggak usah kepo deh" pandang Zivannya jengah. Rara tak menggubris Zivannya.


"komandan kenapa bisa disitu, ke acaranya Zivannya" kata Rara penasaran. Zivannya menyerahkan ponselnya ke Aga.


"karena acaranya sama, kebetulan. ada anak buah yang rumahnya satu daerah sama Zivannya" kata Aga.


"oh... kirain komandan nglamar Zivannya, gerak cepat gitu. takut Zivannya digondol cowok lain" goda Zivannya.

__ADS_1


"kalo Zivannya mau, nikah sekarang ayo aja" senyum Aga, Rara tertawa ngakak.


"gas aja komandan. biar Zivannya nggak lirik sana lirik sini" goda Rara.


"kalo berani nggak papa, mau pilih pistol dikanan ato pedang dikiri" lirik Aga, Zivannya tersenyum kecil.


"kamu dimana Ra" tanya Zivannya. Rara memperlihatkan sebuah mall.


"sama siapa" tanya Zivannya.


"Dimas, baru ditoilet" senyum Rara. Zivannya membuat tanda Ok dengan jarinya.


"kapan-kapan aku kerumah mu ya Zi, ikut liburan juga. dianter Dimas" pandang Rara, Zivannya mengangguk.


"kapan pulang Zi" lambai tangan Dimas datang.


"kalo udah mau masuk aja Dim, pingin nemenin mama, lama nggak pulang" kata Zivannya tersenyum.


"Zi, kakek mau pamit" panggil mama. Zivannya mendongak.


"udahan dulu main kesini aja" lambai Zivannya menutup video chat.


"terimakasih kek, Nek. hati-hati dijalan" salam Zivannya dan Aga.


"terimakasih om, tante, kak Aisya, kak Sony, Fauzan" salam Zivannya.


"selamat ya Zi, semoga kedepannya semuanya lancar" kata om Hadi menyentuh bahu Zi pelan. Zivannya tersenyum.


"jika butuh om, hubungi ya" pamit om Hadi. Zivannya mengangguk.


"akhirnya acaranya selesai" tentang tangan Aga.


"kak, mau ganti baju, mama juga kliatan lelah. ini udah jam 2 siang juga" pandang Zivannya. mereka berjalan menuju kamar yang sudah di book sebelumnya.


mama dan Zivannya segera bergantian membersihkan diri dan menunaikan kewajiban siang yang tertunda.


"capek ma" toleh Zivannya sambil rebahan.


"nggak begitu Zi, mungkin karena terlalu bersemangat dan senang jadi tidak terasa. ada Raka sama adiknya jadi pingin punya cucu Zi" tawa mama Zivannya.


"aishhh.. malah mikir kesitu, masih lama ma, Zi belum selesai. belum ngebuat mama sama papa liat Zi pake toga. belum ngasih gaji pertama dari profesi sarjana juga" senyum Zivannya, mama tersenyum.


"mama udah kamu bahagiain gini udah seneng kok mama Zi, mama lega kamu ada yang mau dan jagain. mama kira kamu nggak ada yang mau" tawa mama, Zivannya ikutan tertawa.


"banyak ma yang suka, tapi Zi pikir mau nyelesain kuliah dulu, Zi nggak mau terpecah antara kuliah dan berkeluarga, mulus tuh sampai ketemu pak Aga yang nggak ada angin dan hujan main nglamar aja" manyun Zivannya. mama tersenyum menatap Zivannya.


"mama malah seneng tuh Aga serius denganmu tanpa banyak kata, dia juga datang diwaktu yang tepat saat mama membutuhkan seseorang untuk menjagamu" kata mama.


"kan ada mama, Zi juga bisa jaga diri ma diperantauan" kata Zivannya.


"mama nggak bisa liat kalo kamu jauh Zi, kalo ada Aga mama lebih tenang. kalo seorang pria mencintai wanita pasti dia akan dengan sendirinya melindungi Zi " kata mama. Zivannya terdiam.


"nggak selamanya mama menemani kan Zi, jika ada seseorang yang menjagamu mama lebih tenang" senyum mama Zivannya memeluk mamanya hingga tertidur.


mama Zivannya mengusap airmatanya melihat Zivannya disampingnya.


"maafkan mama Zi, mungkin waktu mama tidak lama lagi. mama berharap kamu hidup bahagia dan lebih baik dengan Aga" kata mama mengusap punggung Zivannya.


hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..


selamat menikmati cerita kedua kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.


ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...


dukung yaaa... karya kedua ku.


love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..

__ADS_1


thanks a lot pisang sekebon...😘


__ADS_2