Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 24


__ADS_3

Zivannya bergegas pulang kerumah, "kenapa ma" lihat Zivannya saat melihat mamanya meringis memegang dadanya, segera mengambil air mineral dalam gelas, memberikan pada mamanya untuk diminum.


"nggak tau nih Zi, kok tiba-tiba agak sakit" senyum mama Zivannya.


"kita ke klinik dekat sini aja gimana. pemeriksaan awal jika kenapa-kenapa kita kerumkit yang gede" kata Zivannya memijit punggung mamanya.


"nggak usah, paling karena kebanyakan makan, semenjak kamu pulang mama sering makan" kata mama Zivannya.


"tadi beli roti ma, ketemu temen sekolah sama anaknya. selepas sekolah dia menikah, anaknya lucu ma. Zi kasih cemilan yang beli tadi" cerita Zivannya.


"harusnya kamu setelah sekolah mama suruh nikah aja ya biar mama cepet dapet cucu" makan roti mama Zivannya.


"yaaa.... sama Bima dong, ketahuan brengsek sebelum menikah"kata Zivannya, mama tertawa pelan.


"setidaknya dia membuat anak orang hamil" angkat bahu mama, Zivannya tertawa ngakak, "iya ya ma, jadi udah ketahuan nggak mandul" toleh Zivannya kesal.


"kasian anak orang dong dihamili trus ditinggal" topang dagu Zivannya.


"makanya akhlak yang terpenting, percaya sama kuasa Tuhan maka jalan akan terbentang" kata mama melebarkan tangannya hingga mengenai Zivannya yang tertawa lebar bercanda dengan mamanya. mereka mengobrol lama.


2 Minggu


"ma, kita mau kemana hari ini" tanya Zivannya menyiapkan sarapan yang dibelinya diujung gang.


"kerumkit yuk Zi, mama mau kontrol kesehatan. sekarang jadwalnya mama check up" kata mama tersenyum, Zivannya mengangguk dan segera memakan sarapannya agar bisa berangkat pagi untuk mengantar mamanya.


"mama rutin check up dua Minggu sekali Zi, jadi mama udah biasa keluar masuk Rumkit itu" kata mama bersiap-siap.


"bentar lagi mama berhenti mengajar Zi, karena kesehatan mama yang sudah semakin menurun, bukan karena apa-apa. udah lebih dari 20 tahun mama mengajar jadi mama mau istirahat" jawab mama, Zivannya menghentikan sarapannya.


"mama mau nemenin Zi kuliah" tanya Zivannya, mama menggeleng.


"mama lebih suka menunggu kamu untuk pulang. mama tetap mengajar anak-anak kurang mampu dirumah" geleng mama Zivannya duduk dan sarapan.


"dengan membantu anak-anak belajar disini mama merasa tidak kesepian" kata mama Zivannya. Zivannya memeluk mamanya dari samping, "apa Zivannya nemenin mama aja. nggak usah kuliah dulu" tanya Zivannya.


mama Zivannya menepuk punggung tangan Zivannya kesal, "ishh anak ini, udah berusaha sejauh ini tinggal sebentar lagi, nggak usah lebay deh Zi" kata mama Ranti. Zivannya nyengir dan meneruskan sarapannya.


"Aga nggak kesini Zi" tanya mama, Zivannya menggeleng.


"nggak usah ma, 2 minggu suasananya tenang jika nggak ada kak Aga, lewat video call aja udah heboh" geleng Zivannya menghabiskan sisa sarapannya.


"kita mau berangkat sekarang ma" tanya Zivannya beranjak kebelakang menaruh piring dan gelas sehabis sarapan.


"Zi, ada yang mengetuk pintu tuh" kata mama menoleh, Zivannya berjalan menuju pintu. Aga tersenyum lebar menampakkan deretan gigi putihnya, Zivannya memutar bola matanya, barusan di omongin dengan mamanya, tau-tau orangnya udah nongol didepan pintu. kayak jaelangkung yang datang tiba-tiba.


"cari siapa kak" tanya Zivannya tanpa membuka pintunya lebar, Aga mengacak rambut Zivannya kesal, mendorong tubuh Zivannya pelan dan menahan tubuhnya secara bersamaan.

__ADS_1


"siapa Zi" keluar kamar mama, Aga mencium punggung tangan mama Zivannya dan segera kebelakang.


"anak itu kenapa Zi" tanya mama, Zivannya menggeleng tanda tidak tahu.


"ahh.. seger banget. tadi malam Aga berangkat, bawa kendaraan sendiri jadi lebih fleksibel mengatur waktu" kata Aga keluar dari kamar mandi. Zivannya menunjuk pakaian ganti yang sudah disiapkan Zivannya diatas ranjangnya.


"udah sarapan ga" tanya mama sebelum Aga masuk kekamar Zivannya berganti pakaian.


"belum ma, langsung kesini" geleng Aga menutup pintu, mama menatap Zivannya yang segera kedapur untuk membuatkan teh panas dan nasi uduk yang dibelinya diujung gang tadi.


Aga keluar dari kamar dengan tampilan yang lebih segar, Zivannya menunjuk sarapan yang diletakkan dimeja makan, Aga segera menghampiri, meminum teh panas dan segera menyantap sarapannya tanpa banyak kata.


"hari ini mau nemenin mama check up dirumkit yang biasa mama kunjungi, Zi nanti mau nanya kenapa mama sering nyeri didada, kalo bisa mama biar dirontgen dadanya" kata Zivannya, Aga mengangguk pelan sambil mengunyah makanannya.


"kakak mau istirahat dulu dirumah atau ikut kita" tanya Zivannya menatap Aga.


"ikut" jawab Aga cepat.


"kemarin kenapa nggak balas chatku" tanya Aga pelan, Zivannya mengisyaratkan sudah tidur karena terlalu lelah. selama pulang Zivannya keliling kota dengan mamanya.


"kamu tidur jam berapa" tanya Aga, Zivannya menggeleng. "nggak liat jam kak, mata udah ngantuk nggak bisa dibuka" jawab Zivannya.


"kenapa kalo disini kamu cepat tidur" kerut Aga heran, karena jika kuliah Zivannya sering tidur larut malam mengerjakan tugas ato pulang kerja.


"ada mama, ranjang Zi sejak dulu, makan teratur, makan enak, apa-apa tinggal minta, hening, tenang dan damai" pejam mata Zivannya membayangkan semuanya dengan tersenyum. Aga mengetuk kening Zivannya dengan sendok. Zivannya membuka matanya manyun. Aga menjulurkan tangannya untuk menangkap bibir Zivannya yang segera menghindar dengan menjauh dari Aga. Zivannya duduk disebelah mama yang sedang melihat-lihat beberapa moments kemarin mereka ambil saat bepergian yang disimpan diponsel Zivannya.


"nanti kita foto distudio yuk Zi, bertiga dengan Aga" pandang mama.


"berarti kita nanti nyari baju dulu kan Zi, warna biru aja. lebih kelihatan ceria" usul mama semangat, Zivannya mengangguk.


Aga menghampiri Zivannya dan mama Ranti, "lihat apa" dekat Aga, Zivannya menoleh dan tanpa sengaja mengecup pipi Aga yang menjorok ke arahnya.


"ishh... "pukul bahu Zivannya pelan, segera beranjak untuk membereskan peralatan makan Aga, Aga senyam-senyum melihat Zivannya.


"mama pingin kita nanti foto bersama, tapi kata Zivannya pake baju serasi dulu biar eye catching" senyum mama Ranti memperlihatkan beberapa moments yang diambil Zivannya.


"abis dari rumah sakit kita kebutik ma, biasanya lebih banyak varian modelnya" datang Zivannya.


"kita berangkat sekarang aja ma, biar nggak kesiangan antri banyak" kata Zivannya membantu mamanya untuk berdiri dari tempat duduknya. janji


"mama sudah mendaftar via ponsel Zi, jadi kita sudah mendapat no. antriannya" jawab mama Zivannya memegang lengan tangan atas Aga yang segera melingkarkan lengannya untuk menopang tubuh mama Ranti, Zivannya membuka pintu rumah lebar, membuka alarm mobil Aga, membuka pintu mobil lebar agar mama dapat dengan mudah duduk di kursi penumpang, Aga memasang seat belt mama Ranti dengan cepat.


"kak, biar aku yang mengemudi, temani mama dibelakang biar cepat sampai Rumkit" buka pintu Zivannya. Aga mengangguk dan segera duduk disebelah mama Zivannya.


"kamu bisa mengemudi Zi" tanya mama Ranti pelan, Zivannya mengangguk dan segera melajukan mobil sedikit cepat menuju rumah sakit.


butuh waktu yang agak lama karena ada kecelakaan yang menutup jalan sehingga harus berputar arah. tiba dirumah sakit Zivannya menurunkan mama dan Aga didepan pintu masuk, sedangkan dirinya mencari tempat parkir yang tidak terlalu jauh. Zivannya bergegas memarkirkan mobil Aga dan setengah berlari menuju pintu tempat dirinya menurunkan kedua penumpangnya tadi.

__ADS_1


"mama baru ditangani oleh dokter" kata Aga yang melihat Zivannya berlari kearahnya, mereka berjalan menuju ruang periksa.


"ibu, saya sarankan untuk rawat inap saja, kita harus kembali melihat kondisi paru-paru ibu yang semakin banyak air" periksa dokter. Zivannya menghentikan langkahnya ketika mendengar perkataan dokter yang sedang memeriksa mamanya.


"bagaimana kalo besuk saja saya rawat inap ya dok, saya janji dengan anak saya nanti mau mengabadikan moment distudio" senyum mama Ranti, dokter terdiam sejenak.


"boleh, tapi nanti saya rujuk keruang Rontgen dulu untuk melihat kondisi paru-paru ibu. baru saya bisa menentukan apa ibu harus rawat inap sekarang atau besuk" senyum dokter menjawab mama Zivannya.


"makasih Dok atas pengertiannya" turun mama Ranti dari tempat tidur pasien.


"obatnya sudah tidak bisa lagi menekan rasa nyerinya, karena ibu sekarang sering merasakan nyeri yang teramat sangat" pandang dokter, mama Zivannya tersenyum. Zivannya segera merubah mimik mukanya menjadi ceria.


"bagaimana pemeriksaannya ma, maaf agak lama baru sampai, parkirnya agak jauh" senyum Zivannya duduk disamping mamanya.


"ini anak saya satu-satunya dok, baru libur semester. jadi pulang menemani saya" senyum mama Zivannya memperkenalkan mereka berdua.


"hallo dok, terimakasih telah menjaga mama saya, bagaimana kondisinya dok. mama seminggu ini sering merasakan nyeri didadanya" tanya Zivannya. dokter menatap mama Zivannya sesaat.


"sebenarnya mama mu kurang istirahat, jadi jika istirahatnya cukup dan meminum obatnya rutin maka nyeri akan berkurang" jawab dokter, Zivannya terdiam mendengar penjelasan dokter yang berbeda dengan yang tadi didengarkannya, mungkin karena mama meminta dokter untuk tidak memberitahu mengenai penyakit mamanya, dia segera mengangguk pelan.


"setelah ini keruang rontgen sebentar untuk difoto dadanya, apakah ada sesuatu ato tidak" senyum dokter. Zivannya mengangguk kembali.


"saya kasih rujukannya, silahkan ke ruang Rontgen dulu" serah rujukan dokter, Zivannya menerimanya dan membantu mamanya untuk beranjak dari ruang periksa.


Aga segera menyambut tubuh mama Ranti, "kita ke ruang rontgen sekarang kak" kata Zivannya mendudukkan mama dikursi roda yang dipinjam dari rumah sakit, Aga mendorong mama Ranti menuju tempat yang ditunjukkan Zivannya, Zivannya menemani mama selama melakukan pemeriksaan, dengan cekatan Zivannya melepas dan memakaikan baju mama Ranti karena harus menggunakan baju khusus sebelum dirontgen.


Aga mengulurkan minuman kedalam pangkuan mama yang meminumnya pelan. Zivannya meneguk setengah air mineral yang disodorkan Aga, mereka menunggu hasil Rontgen sebelum kembali keruang pemeriksaan dokter. Zivannya menggenggam tangan mamanya dan mengusap punggung tangan yang melakukan banyak hal kepadanya.


"mama mau ngemil nggak" tanya Zivannya menatap mata mamanya yang menggeleng pelan.


"habis ini kita nyari baju buat foto, jadi mama harus terus semangat" pandang Zivannya, mama tersenyum menepuk-nepuk tangan Zivannya yang menggenggamnya erat. petugas memberi tahu bahwa hasil rontgen mama Ranti telah keluar. Aga beranjak mengambilnya dan mereka kembali keruang pemeriksaan. Zivannya berdiri disamping mamanya, berbicara tentang banyak hal dengan mamanya, hal yang selalu dilakukannya selama tiga minggu ini dirumah dengan mamanya.


"hasilnya sudah keluar" tanya dokter menerima amplop coklat besar hasil Rontgen. dokter menyalakan lampu dan melihat toraks dada mama Zivannya.


"besuk ibu bisa rawat inapnya, sekarang ibu bisa mengabadikan moment dulu dengan anak ibu" senyum dokter menatap mama Ranti dan Zivannya.


"kenapa harus dirawat dok, tanya Zivannya heran menatap dokter.


"kita harus observasi lebih lanjut, apakah nyerinya dari jantung, atau bagian lainnya" jawab dokter cepat.


hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..


selamat menikmati cerita kedua kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.


ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...


dukung yaaa... karya kedua ku.

__ADS_1


love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..


thanks a lot pisang sekebon...😘


__ADS_2