Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 156


__ADS_3

"yang" datang Langit. Zivannya menoleh, "ikut keluar bentar" senyum Langit. Zivannya mengerutkan keningnya sesaat menatap suaminya "mau kemana" tanya Zivannya, Langit meraih jemari Zivannya dan menariknya untuk keluar rumah memakaikan helmet pada istrinya sedangkan bu Danti tertawa melihat Zivannya yang tidak mau keluar. "udah dong Lang, jangan dipaksa Zivannya kalo nggak mau" kata ibu dari teras rumah, "iya.... nggak tau nih bu kak Langit sukanya gini nih bilang dulu kek mau kemana jadi tau" kata Zivannya, Langit menatap istrinya lama Zivannya segera naik melihat suaminya yang udah dalam mode tidak mau dibantah. Zivannya melambaikan tangan pada ibu Langit yang tersenyum melihat mereka pergi. "kemana, yang" tanya Zivannya memeluk Langit, "tadi bilang nggak mau sekarang nanya kemana" toleh Langit. Zivannya mendengus kesal dan melepaskan pegangannya. "yanggg....." toleh Langit lagi. "pegangan nggak" kata Langit, Zivannya melingkarkan tangan kanannya menempel dipunggung Langit.


"beli ice cream" jawab Langit, Zivannya tertawa lebar mendengar ucapan suaminya, menepuk punggungnya pelan. "kenapa aku merasa kayak Riki aja sih dibeliin ice cream" kata Zivannya merasa lucu dengan adegan ini, "habis bosen dirumah, mau tidur kamu nggak bisa di kelonin karena ngobrol sama ibu-ibu di rumah, mau pergi sendiri nggak enak kalo nggak sama kamu sekarang, yang" kata Langit. Zivannya tertawa lebar mendengar keluhan suaminya. "sabar by..... bentar lagi juga udah kelar semua urusan saat awal menikah kan bahagiain ibu dan bunda judulnya" tawa Zivannya, Langit menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan istrinya.


"oh iya mumpung ingat minggu depan aku ke Jogja, Rara mau wisuda" kata Zivannya, "cepet banget sih waktunya... kapan, yang" tanya Langit terkejut. "kan udah mau satu bulan saat terakhir kita bertemu tapi entah tuh dia bisa datang nggak nanti ke sini siapa tahu dia akan ketemu jodohnya disini" kata Zivannya, "yaangggg....." seru Langit, Zivannya tersenyum. "kenapa, terkadang kita bertiga juga berpikir sejauh itu saat bersama dan dalam posisi santai nongkrong bareng. nggak menutup kemungkinan kita bertiga menemukan jodoh orang yang tidak sama dengan ekspektasi kita" jawab Zivannya.


"apa aku juga berkeinginan menikah dua kali dengan laki-laki yang berbeda" hembus nafas Zivannya, Langit meraih jemari tangan istrinya dan mengecupnya pelan "Rara juga seperti tidak yakin orang tuanya bisa menerima Dimas saat ini" cerita Zivannya "apa Dimas tahu" tanya Langit, Zivannya mengangguk. "orang tua Rara juga tahu jika aku menikah dua kali dan latar belakang keluarga ku sebelum aku menikah mereka memandang denan kesenangan duniawi, by" jawab Zivannya, Langit menghentikan motornya di supermarket terdekat, mereka berdua turun dan masuk untuk membeli ice cream. Langit meraih ice cream rasa kacang hijau dan coklat dari dalam box pendingin.


"yang, mau apa lagi" tanya Langit, Zivannya mengambil cemilan dan air mineral botol tanggung mereka menuju kasir dan duduk didepan. Langit membukakan pembungkus ice cream kacang hijau untuk istrinya yang segera menggigitnya pelan. "apa mereka memandang mu tidak sebanding dengan Rara" tanya Langit, Zivannya tersenyum mengangguk. "setelah kamu menikah" tanya Langit, "berubah banyak karena tahu aku bukan lagi gadis sederhana yang dulu" tawa Zivannya. Langit mengelus pipi istrinya, "aku tidak suka jika ada yang merendahkan mu begitu, yang" pandang langit menyesap ice cream istrinya. "justru aku sering merasa beruntung jika ada orang yang menganggap ku begitu kak, maka semakin banyak dosa aku yang hilang" jawab Zivannya, Langit tersenyum lebar.


"apa kamu bahagia sekarang" tanya Langit Zivannya tersenyum "tentu saja sangat bahagia, kenapa aku harus tidak bahagia jika mempunyai suami yang membuatku merasa menjadi perempuan yang sempurna" senyum Zivannya, Langit tergelak menyodorkan ice cream coklat nya pada Zivannya. "aku juga merasa tenang setelah mengucapkan janji untuk menjadikanmu istriku dan menjagamu seumur hidupmu" kata Langit, Zivannya mengangguk menghabiskan ice cream dengan cepat. "lho mas Langit disini" tanya Santi, Langit menoleh dan melihatnya sebentar.


"iya, ngadem" tunjuk ice cream Langit, Santi mengangguk. "selamat mas, mbak... semoga samawa" salam Santi, "makasih dek" salam Langit, Zivannya tersenyum mengangguk, "dengan siapa" tanya Langit. "teman mas" perlihatkan Santi, Langit tersenyum menyalami pemuda itu. "kalau begitu aku kedalam dulu mas" pamit Santi. Langit mengangguk mempersilahkan, "yang.... ponselmu berdering tuh" lihat Langit. Zivannya melihat ponselnya dan menekan panggilan video dari Rara.


"nggak usah manyun gitu Ra, nggak kliatan parasnya karena ketutup mulut semua" kata Zivannya. Rara menaikkan layar ponselnya ke atas agar terlihat wajahnya yang sedang kesal.

__ADS_1


"aku turun Surabaya nanti dijemput Arka" pandang Rara, Zivannya menganggukkan kepalanya tanda paham.


"dan Dimas tidak bisa datang saat wisuda Zi, karena dia bersama gadis lain" kata Rara pelan. Zivannya tersedak mendengar ucapan sahabatnya itu, Langit segera membuka botol air mineral dan Zivannya meminumnya dengan cepat. "aku benar-benar tidak menyangka Zi" pandang Rara, Zivannya menatap layar ponselnya dengan seksama.


"aku melihatnya sendiri saat tiba-tiba menemuinya di sana" usap airmata Rara, Zivannya mengangguk. "aku sedang ada di bandara sekarang. nunggu penerbangan yang ketiga, sengaja datang agak pagian biar sekalian ngadem" sesenggukan Rara, Zivannya menghela nafasnya panjang.


"Dimas belum menghubungi mu Zi" tanya Rara, Zivannya menggelengkan kepalanya, Rara mengambil tissue dan menyeka airmata yang terus turun, segera memakai kacamata hitam nya.


"segera kesini Ra aku menunggumu" tatap Zivannya, Rara menganggukkan kepalanya pelan.


"bisa jalan sendiri kan atau harus pake kursi plastik punya tukang mie ayam itu" senyum Zivannya, Rara tertawa sambil menghapus airmatanya. "iya, ya.... aku jadi kangen dengan makanan itu besuk kalo kita ketemu di Jogja makan bersama" kata Rara, Zivannya mengangguk. Langit terlihat dilayar ponsel Zivannya.


"he.... em.... barusan ada pengagumnya menyapa" angguk Zivannya, Langit mencium rambut istrinya sesaat Rara berdecak kesal melihat pemandangan romantis didepannya.


"nggak ngaruh ndan, aku masih bisa berdiri dengan tegak di kedua kakiku. bagaimanapun Dimas juga adalah teman baikku dulu sama seperti Zi hanya saja kita tidak berjodoh" hembus nafas Rara, Zivannya mengangguk. "pingin memelukmu Zi" tawa Rara garing. Langit segera memeluk tubuh istrinya dan digoyangkan kekanan dan kekiri Rara tertawa ngakak melihat kedua orang diujung sana sedang menghiburnya.

__ADS_1


"penerbangan ku akan berangkat Zi, sampai ketemu disana" kata Rara, Zivannya mengangguk dan segera mematikan ponselnya, Zivannya menghela nafasnya panjang. Langit mengusap kepala istrinya lembut, "baru aja kita omongin udah kejadian aja" pandang Langit, Zivannya mengangguk pelan. "karena Dimas ditolak menjadi suami Rara oleh kedua orang tuanya" kata Zivannya, Langit memandang Zivannya lekat. "aku ngobrol dengan Dimas empat hari yang lalu" jawab Zivannya, Langit membuka mulutnya sedikit, Zivannya memasukkan makanan ringan ke mulut suaminya yang segera mengunyahnya.


"kamu kenapa nggak bilang" tanya Langit. "aku baru dapat periode dan jadwal kita yang sedang padat" kata Zivannya menatap suaminya "jika acara nya nanti selesai sebenarnya akan mengobrol dengan mereka dulu baru akan memberi laporan kepadamu" kata Zivannya Langit menopang dagunya menatap istrinya yang semakin cantik saja. "aku tidak akan menjudge apapun tentang mereka, hanya duduk bareng dan saling mengobrol karena itu yang mereka butuhkan saat ini hanya jadi pendengar disaat telinga dibutuhkan. seperti mereka saat aku membutuhkan keheningan mereka menjadi patung yang sangat handal" senyum Zivannya mengingat kembali masa kepergian Aga dan mamanya.


"aku semakin merasa kamu memang pilihan yang Tuhan berikan padaku, yang" kata Langit, Zivannya mengusap pipi Langit tersenyum. "aku juga sama, by. karena hanya dengan dirimu aku merasa nyaman saat semuanya serasa cenderung gelap bagiku" tatap Zivannya memberi ciuman jarak jauh. Langit mendesah pelan. "masih lama nggak periodenya" tanya Langit resah, Zivannya menggeleng "mungkin tiga empat hari lagi" jawab Zivannya. Langit meminum air mineral. "lama banget, besuk bisa nggak selesai nya" tatap Langit kesal. Zivannya tergelak dan beranjak dari duduknya kala banyak yang memperhatikan tingkah mereka.


"apa kita seperti orang yang berbeda, di manapun saat keluar maka akan ada orang yang memperhatikan dengan lebih intens" pandang Zivannya berkata pelan, Langit meraih jemari istrinya melangkah menuju kendaraan yang terparkir tidak jauh dari mereka duduk. "karena suamimu terlalu tampan" senyum Langit memakaikan helmet istrinya, Zivannya memutar bola matanya jengah.


"aku mencintaimu to the moon and back Satria Langit Dewantara" tatap Zivannya lekat, Langit tersenyum mengangguk. "too" jawab Langit. motor melaju dengan pelan, "dengan siapa Rara akan melabuhkan hati" kata Langit. "tidak tahu, tapi aku berharap orang yang bersamanya telah aku kenal dengan baik jadi tidak lagi menyesuaikan dengan orang tersebut" jawab Zivannya. "misalnya" tanya Langit. "Farhan, Yuda, Arka atau om Baskara" jawab Zivannya cepat. "yaanggg....." seru Langit tidak terima.


"kenapa.... apa mereka mempunyai rasa kepadaku sebelumnya dan takut aku akan merusak kehidupan mereka" tepuk bahu Zivannya, "justru karena rasa itu yang membuatku takut kamu akan dibawa mereka" jawab Langit, Zivannya tertawa garing. "jangan bercanda kak, aku bukan perempuan yang tidak punya harga diri" desis Zivannya. "bukan begitu aku takut aja jika mereka menaruh harapan padamu lagi" dengus Langit. "aaaiisshhh..... udah ah malah ngelantur kemana-mana obrolan kita" hapus udara Zivannya menyudahi obrolan. "maafkan aku, yang" kata Langit pada akhirnya, "maafkan aku juga kak. kita adu argumen yang tidak penting hanya berandai-andai tapi membuat kita bertengkar" peluk Zivannya erat, Langit mengusap punggung tangan istrinya yang melingkar dengan sempurna diperutnya.


motor memasuki halaman rumah Langit yang telah ramai dengan tamu, Zivannya dan Langit memberi salam kepada para tamu yang mereka jumpai. Zivannya duduk disamping menemani ibu Danti menerima tamu.


hai.... hai.... hai.... all readers terimakasih telah berkunjung ke karyaku ini. terimakasih atas dukungannya terhadap karyaku.

__ADS_1


luv..... luv..... luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semua


stay healthy all


__ADS_2