
Zivannya dan Langit berpamitan pada Yuda dan Farhan sebelum mereka meninggalkan kota kelahiran Zivannya, "see U in Jakarta guys" lambai tangan Zivannya, Farhan mengangguk tersenyum. Zivannya melajukan mobil dengan kecepatan yang lumayan karena masih lengang. "yang..... aku aja ya..." pandang Langit, "ntar aja" geleng Zivannya melewati jalan yang menjadi kenangan indah di memory kepalanya ketika bersama dengan mama dan teman-temannya dulu. Zivannya menitikkan air mata mengingat flash back tentang semuanya. "terimakasih telah menjadi bagian dari hidupku the amazing place and moments" gumam Zivannya menghapus airmata.
"apa kamu menyesal" sentuh kepala Langit, "tidak, tidak dengan setiap kenangan indah terukir di dalamnya" senyum Zivannya menatap Langit.
tiba di Jakarta keadaan sudah malam, Zivannya meringkuk dengan nyenyak disamping Langit yang tersenyum melihat kekasihnya itu, mengelus pipinya pelan. Langit memasukkan mobil kedalam garasi. "sampai rumah dinas, yang. jam 11 malam" usap kepala Langit, Zivannya bergerak pelan, keluar dari mobil membuka pintu rumah dan menuju kamar Langit untuk merebahkan dirinya dengan posisi tengkurap. Langit tersenyum dan mengeluarkan tas jinjing Zivannya dan baju dinasnya meletakkan barang-barang di kamar dan segera membersihkan dirinya ke belakang.
"yang, bersihkan dirimu dulu. kita dari perjalanan jauh tadi" bisik Langit ditelinga Zivannya, "hmmmm..... dehem Zivannya meringkuk lebih dalam. "aku lepas pakaianmu dan kamu tidak akan memakai sehelai benangpun nanti" ancam Langit, "hmmm...." dehem Zivannya membuka matanya pelan, beranjak kebelakang untuk membersihkan badannya, Langit merapikan baju dinasnya kembali kederetan baju dinas lainnya yang sudah tersusun rapi. Zivannya mengikat rambutnya model bun memakai bathrobe nya, membuka lemari pakaian Langit dan mengambil t-shirt gede untuk tidur. "anak ini" geleng kepala Langit melihat kekasihnya yang selalu lupa kalo dirinya ganti baju.
"tidur kak" pandang Zivannya menaruh bathrobe dibelakang pintu kamar dan kembali merebahkan dirinya di busa tebal dan lebar Langit. meringkuk dengan nyenyak karena kelelahan, Langit menutupi tubuh Zivannya yang sudah sangat lelah. ia mematikan semua lampu ruangan yang tidak terpakai. beranjak tidur menemani Zivannya yang sudah lebih dulu terlelap.
pagi hari keadaan masih sunyi senyap, Langit mematikan alarm ponselnya yang berdering beberapa kali. ia segera bangkit dan membiarkan Zivannya untuk terus tidur seharian, ia segera berangkat ke kesatuan dan menerima berbagai laporan yang sudah sejak dua hari yang lalu tidak diperiksanya. hari ini rutinitas Langit berjalan seperti biasanya, Zivannya masih terlelap dan belum ada tanda-tanda kehidupan dirumah dinas Langit walau sudah siang. Zhivannya berada dikamar mandi membersihkan dirinya saat Langit pulang jam 4 sore.
"udah pulang kak" terkejut Zivannya mendapati Langit sudah berdiri didepan kamar mandi menantinya, Langit mengangguk mengusap rambut Zivannya yang basah karena air. Zivannya menuju kamar untuk berganti pakaian dan merapikan badannya dengan cepat agar Langit tidak membuatnya memakai pakaian lagi.
Zivannya membuat coklat panas untuk Langit, membuka bungkusan makanan yang dibeli Langit, duduk menunggu Langit menyelesaikan kewajibannya. "udah siap semua rupanya" senyum Langit duduk menyesap coklat panasnya, Zivannya meletakkan ponselnya dan mendekati Langit untuk makan bersama. "jam berapa bangun, yang" suapi Langit, "sekitar jam 3 lebih" jawab Zivannya pelan, "nanti kita akan mengendarai mobil sendiri-sendiri pulang ke rumah Triastomo" makan Langit, Zivannya mengangguk. mungkin besuk terakhir kita bertemu sebelum dua atau tiga hari kita latihan pora" pandang Langit, Zivannya mengangguk. "apa kamu nggak akan merindukanku, yang" pandang Langit, Zivannya tersenyum menggeleng. "dua minggu itu waktu yang sebentar kak, kita akan tinggal bersama selamanya. jadi.... bersabarlah..." sentuh dada Zivannya, Langit menyentuh tangan Zivannya.
__ADS_1
"bolehkah aku juga meletakkan tanganku di dadamu" senyum smirk Langit, Zivannya tertawa lebar menggelengkan kepalanya melihat Langit yang mesum. Langit tertawa memeluk Zivannya erat. "aku benar-benar akan kangen dengan mu Zi" bisik Langit, Zivannya mengelus punggung Langit. "jangan macam-macam saat kita berjauhan kak, akan banyak godaan dan emosi yang akan membuat kita lupa diri" pandang Zivannya, Langit tersenyum mengangguk. "kenapa aku bisa mencintai seorang gadis yang keras kepala sepertimu ya, yang" tangkup pipi Langit.
Zivannya tertawa "karena kamu adalah laki-laki yang lebih banyak menggunakan akal pikiran dari pada perasaan, jadi membutuhkan perempuan yang memiliki kepala yang keras agar kamu mengerti ada hati yang harus kamu jaga sekarang" jawab Zivannya, Langit tertawa dan mengecup bibir Zivannya pelan. "terimakasih sudah menyadarkan laki-laki yang keras kepala ini untuk lebih memahami hati perempuan, yang" pandang Langit. "terimakasih kak, telah menerima perempuan yang keras kepala ini menjadi bagian terpenting dalam perjalanan hidupmu" senyum Zivannya. Langit tertawa mengecupi bibir Zivannya beberapa kali, mereka kembali makan hingga makanannya habis.
Zivannya mengendarai mobilnya sendiri dan Langit melajukan mobil yang lebih besar, mereka beriringan meninggalkan rumah dinas Langit menuju kediaman Triastomo. "jangan terlalu kencang, yang" ingatkan Langit melihat kendaraan Zivannya yang melaju lebih kencang darinya. "got it kak" jawab Zivannya menatap layar ponselnya mengangguk. mobil memasuki garasi rumah, "yang" panggil Langit, Zivannya menoleh dan mendekat. Langit meraih pinggang Zivannya agar merapat padanya. "kabari aku jika kamu ingin pergi kemana-mana, sehingga aku tidak kuatir saat kita berjauhan nanti" pandang Langit, Zivannya mengangguk tersenyum. "jika tidak ada keperluan mendesak sebaiknya tidak usah keluar" tautkan kening Langit. "hmmm...." jawab Zivannya melingkarkan tangannya di leher Langit, "apa kamu ingin mengurungku selama kita tidak bisa bertemu" hembus nafas Zivannya, "jika bisa" senyum Langit.
"maka aku akan terbang menjauh" tawa Zivannya, "akan aku patahkan sayap mu" jawab Langit pelan. "maka aku akan menggunakan kedua kakiku" tawa Zivannya. "akan aku ikat kedua kakimu" jawab Langit, Zivannya mengerucutkan bibirnya "maka aku akan menggunakan pesonaku untuk membuatmu terlena" pandang Zivannya, Langit tertawa tergelak menganggukkan kepalanya. "please, use your charm to mesmerize me" naik turunkan alis mata Langit menatap lekat Zivannya.
Zivannya mencium lembut bibir Langit yang terlihat menantinya untuk mengambil inisiatif, Langit menahan tengkuk kekasihnya memperdalam tautan keduanya. "bernafas, sayangku. kamu selalu lupa bernafas jika kita sedang melakukannya" usap bibir Langit, Zivannya menghirup oksigen di sekitarnya. "hmmm.... " dehem Zivannya menutup mulutnya dengan punggung tangannya. Langit mengangkat tubuh Zivannya "jangan pernah berhenti menyayangiku, yang. kita akan selalu support satu sama lain" tatap Langit, Zivannya tersenyum mengangguk mengusap rambut cepak Langit. "till end" tatap Zivannya, Langit mengangguk mendongak menatap kekasihnya. mereka tersenyum saling berpelukan menguatkan perasaan mereka masing-masing. Langit memeluk Zivannya dalam dekapannya, ia segera terlelap mengikuti kekasihnya yang sudah terlebih dahulu tidur.
Zivannya tiba dibandara menggunakan taksi online dengan membawa tas ransel yang setia menemaninya, melakukan tahapan prosedur keberangkatan sebelumnya, Zivannya mengirim chat Langit jika dirinya akan segera berangkat dan memberitahu bundanya jika dirinya sudah akan berangkat. segera mematikan ponselnya dan beranjak dari tempatnya untuk menuju pesawat yang sudah menantinya. ia lebih banyak tidur dan melihat keluar dimana langit terlihat cerah berseri.
Zivannya mengambil tas ranselnya dan menapaki keluar gate kedatangan, seseorang melambaikan tangannya melihat kedatangannya, Zivannya tersenyum melihat Rara yang menjemputnya bersama dengan seorang pemuda gagah yang dia tahu pasti seorang abdi negara yang diminta untuk menjemputnya. "akhirnya, datang juga Zi" peluk Rara erat. "pasti, walo telat" senyum Zivannya mengurai pelukannya, "Zivannya" senyum Zivannya mengulurkan tangannya kepada pemuda yang menemani Rara. "Freddy" salamnya. Zivannya menganggukkan kepalanya. "kenapa bukan Dimas" jalan Zivannya kearah pintu keluar. "hari biasa bu, dia hanya pekerja bukan pemilik perusahaan" jawab Rara sarkas, Zivannya tertawa pelan mendengar jawaban Rara. Freddy berjalan didepan mereka, mereka berbincang-bincang mengenai hal-hal yang terjadi selama mereka tidak bertemu, Zivannya melihat jalan yang mereka lalui. "berapa lama kamu disini Ra" tanya Zivannya. "bareng kalian aja pulangnya" kata Rara. "great" angguk-angguk Zivannya mengeluarkan jemarinya dari dalam mobil.
"wish could fly" gumam Zivannya, Freddy melirik Zivannya dari reflektor mirror. "jangan kuatir, ntar ayah dan abang yang akan membawamu berkeliling" senyum Rara, Zivannya tertawa kecil. "tentu" angguknya pelan. "tumben sendirian" goda Rara, "hahahaha.... ya, akhirnya" angguk Zivannya tertawa. "tumben ponselmu senyap tidak ada panggilan" lirik Rara, Zivannya tersenyum "karena aku matikan sebelum berangkat kesini, semoga bisa aku matikan dalam seminggu lebih" jawab Zivannya. Rara tergelak melihat sahabatnya. "semoga, aku doakan kamu berhasil" senyum smirk Rara, Zivannya tertawa bersama Rara. "maaf, kak. kebiasaan kalo berdua suka nggak liat-liat kalo ada yang terganggu dengan ketidak normalan kita" senyum Zivannya, Freddy menganggukkan kepalanya mengerti.
__ADS_1
"yah, bund" salam Zivannya mencium punggung tangan kedua orangtua sambungnya. "akhirnya dek, datang juga. bagaimana keadaanmu" pandang bunda mengusap pipi Zivannya. "baik bund, Zi ada kak Langit yang menjaga" jawab Zivannya tiduran diruang tengah. "aku mau tidur bentar bund, badanku sedikit demam" kata Zivannya, bunda segera meminta Marni mengambil alas tidur dan cover bed untuk Zivannya tidur. mereka mengobrol sembari menemani Zivannya yang tidur dengan nyenyak. malam hari mereka akan makan malam, namun Zivannya masih tidur dengan tenang. "biarkan saja dia, kalo dia lapar pasti akan makan" lihat bunda, mereka mengangguk dan segera makan.
seminggu telah berlalu, mereka sedang berada dibandara untuk pulang hari ini menuju Jakarta, ketemu bentar lagi kak. semoga aku bisa kemari lagi" peluk Zivannya erat, Mentari mengangguk tersenyum. "see U dek, dengan Langit nanti" kata Matahari, Zivannya mengangguk melambaikan tangan kepada kedua saudara yang tidak ada hubungan darah dengan nya itu. Zivannya melangkahkan kaki menuju tempat pemberangkatan bersama Rara, ayah dan bundanya. seorang pemuda bertubuh tegap menghampiri mereka, menyerahkan sesuatu untuk Zivannya. "makasih kak, tapi saya tidak bisa menerimanya karena saya akan menikah minggu depan" senyum Zivannya menatap paras pemuda itu sesaat menyerahkan kembali pemberiannya dan menundukkan kepalanya sedikit lebih dalam sebagai permohonan maafnya yang tulus. pemuda itu mengangguk menatap kepergian Zivannya dengan perasaan campur aduk. Zivannya kembali berjalan dengan sahabatnya dalam kesunyian.
sekembalinya ke Jakarta, bunda dan Zivannya disibukkan dengan persiapan pernikahannya dengan Langit, bunda menyerahkan ponselnya kepada Zivannya. "hallo" salam Zivannya mengerutkan keningnya mengambil ponsel bunda. "kamu ada dimana" tanya Langit menahan emosinya. "apa mau latihan pora" tanya Zivannya, "jangan kemana-mana. aku jemput segera" kata Langit. "aku baru ada digedung kak, dengan bunda" jawab Zivannya pelan, "bagus, aku sudah hampir sampai. tunggu aku disana" kata Langit cepat menutup panggilannya. Zivannya menyerahkan ponsel bunda kembali, "mau latihan dulu bund" hembus nafas Zivannya, bunda tertawa mengelus punggung Zivannya lembut. "tinggal sehari dek, semangat" pandang bunda, Zivannya mengangguk tersenyum.
setengah jam kemudian Langit datang bersama beberapa rekannya untuk berlatih digedung tempat pernikahan dilangsungkan. Langit menatap Zivannya yang tengah duduk dipojokkan menanti bunda dan ayahnya sedang mengobrol dengan staff EO yang menjelaskan semua runutan untuk acara besuk. ia bergegas menghampiri Zivannya yang tidak mengetahui jika dirinya sudah sampai. "yang" bisik Langit pelan, Zivannya terlonjak kaget mendengar suara laki-laki yang begitu dekat ditelinganya, Langit menahan tubuh Zivannya yang hampir terjatuh saking kagetnya.
"jangan membuat jantungku seperti ini lagi" pegang dada Zivannya menetralisir detakan jantungnya yang membuatnya lemas, Langit mengangguk menatap Zivannya lekat sudah lebih dari dua minggu ia tidak berjumpa dan mendengar suara kekasihnya itu membuatnya kangen untuk saat ini. Langit meraih jemari Zivannya menuju kearah teman-temannya yang sedang berlatih sedangkan bunda melihat mereka melakukan latihan untuk acara besuk ditemani staff EO dari kejauhan, Langit selalu menggenggam erat jemari kekasihnya selama mereka bertemu saat itu, Zivannya dengan serius mendengarkan dan mengikuti arahan yang diberikan, sesekali ia melihat Langit untuk meminta bantuan agar semuanya cepat selesai dan ia dapat segera pulang untuk berisitirahat.
"aku pulang dulu kak, badanku terasa hangat" pandang Zivannya, Langit menyentuh kening Zivannya. "kamu terlihat lelah, yang. besuk adalah acara sakralnya" usap kepala Langit, ia mengangguk lemah. "aku sangat tegang untuk acara besuk, jadi tidak istirahat dengan cukup" jawab Zivannya. Langit memeluk tubuh Zivannya erat, mengecup keningnya beberapa kali. "tidurlah setelah ini, acara besuk pagi hari kamu sudah pasti akan bangun lebih awal" kata Langit, Zivannya mengangguk berjalan menjauh darinya. "yang" tahan Langit, Zivannya menoleh. "kamu terlihat cantik dengan gaun" senyum Langit, Zivannya tersenyum mengangguk melangkah pergi meninggalkan Langit dan teman-temannya untuk pulang bersama ayah dan bundanya.
hai.... hai.... hai.... all readers terimakasih telah berkunjung ke karyaku. terimakasih banyak atas dukungannya.
luv.... luv... luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak atas semua nya.
__ADS_1
stay healthy all