
Langit bergerak pelan melepaskan tangannya dari tubuh Zivannya yang tidak terbungkus sehelai benang pun dan menghadap sisi yang lain, Zivannya mengerjapkan matanya meraih ponsel disamping ranjang, "hallo" serak Zivannya tanpa melihat id caller diponselnya
"kita mau pulang dek, apa masih lama" tawa ayah, Zivannya segera membuka matanya lebar.
"pulang, aahhh.... iya.... yah.... Zi lupa" ingat Zivannya. ayah tertawa lebar.
"tidak usah buru-buru, masih ada 3 jam lagi kita baru akan keluar nanti" kata ayah.
"hhhmmmm...." dehem Zivannya menutup ponselnya sesaat kemudian.
"kak.... kak ..." panggil Zivannya pelan, "hmmm..... angkat kepala Langit melihat istrinya, "keluarga nanti menunggu dibawah, mereka mau pada pulang hari ini" duduk Zivannya hingga cover melorot memperlihatkan bagian atas tubuh nya, Langit terbuka matanya lebar-lebar melihat keadaan istrinya sekarang, segera duduk meraih bahu istrinya agar merapat, "ayo, kak. nggak enak ditungguin sama semuanya" tertarik Zivannya, Langit mengecup ubun-ubun rambut Zivannya, "kamu membangunkan sesuatu, yang" kata Langit meraih tangan istrinya ketempat sensitif nya, Zivannya membelalakkan matanya dan memukul bahu suaminya keras.
"bisa-bisanya sih kak keadaan kayak gini juga, udah... ah.... aku mau mandi, ditungguin yang lainnya di bawah" kesal Zivannya melihat Langit, segera turun dari ranjang menuju bathroom, Langit menggaruk kepalanya yang tidak gatal menyusul istrinya yang sedang membersihkan dirinya, "kak" kaget Zivannya saat Langit memeluk tubuhnya dari belakang di bawah guyuran shower air hangat, Langit merapatkan tubuhnya ketubuh istrinya, "hmmm...." ciumi pipi Langit. Zivannya menahan tubuhnya dengan kedua tangannya di dinding saat Langit memberikan sensasi kepadanya, Langit mematikan guyuran air shower dan memulai serangan paginya, Zivannya menjerit pelan saat Langit melakukan penyatuan dalam posisi berdiri mereka saat ini, Langit menahan tubuh istrinya agar tidak lemas berdiri dan segera membawanya keluar menuju ranjang tanpa saling melepaskan diri. direbahkannya tubuh Zivannya ditepi ranjang, Langit dengan cepat melakukan pertempurannya kembali. ia menggeram pelan merasakan sensasi duniawi bersamaan dengan Zivannya yang terlihat lemas, Langit menahan berat beban tubuhnya bertumpu dengan kedua tangannya yang berada disamping Zivannya.
"bagaimana, yang" usap Langit dibenda kenyal kesukaannya, Zivannya menatap Langit lemas. "apa kamu ingin lagi" senyum Langit menaik turunkan alis matanya menatap wajah Zivannya yang kemarin sudah sah menjadi istrinya. Zivannya menggeleng pelan. "badanku remuk kak, aku susah jalan nanti" pinta Zivannya tidak kuat. Langit tertawa pelan melepaskan dirinya dari tubuh istrinya dan terlentang disampingnya. "aaahh.... rasanya benar-benar luar biasa, yang.... benar-benar membuatku seperti lepas kendali, nyesel aku nggak dari dulu segera menikahi mu" toleh Langit, Zivannya meraih alas tidur dan menutupi bagian depan tubuhnya yang tidak memakai apapun, Langit tersenyum mengusap pipi istrinya.
"terimakasih, yang... kamu menjaga dirimu untukku" senyumnya, Zivannya tersenyum tipis. "aku ingin mandi, kak. biarkan aku mandi sampai selesai" pandang Zivannya menatap Langit yang tertawa lebar.
"kenapa, apa kamu tidak mandi dengan benar atau apa mau aku yang mandiin" senyum smirk Langit, Zivannya menggeleng cepat. "kamu tau apa yang aku maksud bukan" hela nafas Zivannya berat. Langit memeluk tubuh istrinya, kembali memainkan benda kenyal candunya setelah membuang jauh alas tidur yang dipakai istrinya untuk menutup bagian depan tubuhnya.
__ADS_1
"hubby" seru Zivannya, Langit tertawa lebar berjalan kebathroom dalam keadaan yang polos, "mandi bareng, yang. nggak ada penolakan" seru Langit dari dalam, Zivannya segera berjalan pelan menuju bathroom menyusul suaminya, "aku berendam dulu kak" isi air Zivannya agar tubuhnya tidak terasa remuk dan lebih rileks. Langit diam-diam ikut masuk kedalam bathtub saat istirnya memejamkan matanya menikmati kehangatan air berendamnya, Zivannya membuka matanya memandang Langit yang tersenyum lebar. "aku hanya membantumu menggosok, yang" senyum Langit. Zivannya menenggelamkan kepalanya mendengar ucapan Langit yang sepertinya tidak bisa dipercaya jika sudah menyangkut hal itu. Langit segera meraih tubuh istrinya agar tampak dipermukaan.
"jangan berbuat begitu, yang. kamu bukan dalam masa pelatihan dan harus menenggelamkan diri di air dalam waktu yang cukup lama" pandang Langit, Zivannya menepis tangan Langit. "biarkan aku mandi kak, nggak enak sama yang lain" kata Zivannya pelan, Langit mengangguk dan mengusap punggung Zivannya yang terlihat bersih, mulus dan tertutup oleh busa sabun, Langit menggerakkan tangannya ke bagian depan tubuh istrinya, mengusap dengan lembut benda kenyal kesukaannya, "aahhh...." erang Zivannya pelan, Langit menciumi leher Zivannya sambil menggerakkan tangannya kebagian-bagian sensitif istrinya agar istrinya merasa nyaman, Zivannya mencengkeram sisi bathtub menahan sensasi Langit yang memabukkan. "yang...."desah Langit melihat reaksi Zivannya, Zivannya membalikkan tubuhnya menghadap Langit melingkarkan kedua tangannya ke bahu suaminya. Langit membiarkan Zivannya bergerak diatasnya, hingga akhirnya mereka sama-sama berteriak merasakan kenikmatan duniawi kembali. Zivannya ambruk kedalam pelukan Langit. "apa kamu puas, yang" senyum Langit mengusap rambut Zivannya yang basah. "jika kamu tidak berhenti, maka kita tidak akan bertemu lama" pandang Zivannya mengancam Langit, "jangan, aku akan berhenti" angguk Langit segera. mereka segera membersihkan diri dan menemui keluarga mereka dibawah.
"akhirnya, pengantin barunya datang juga" lihat Dirgantara saat melihat Langit dan Zivannya mendekat.
"kelaperan dek" sodor minuman bunda, Zivannya mengangguk dan segera meminum teh panas manis. "makan ini, yang" sodor Langit, Zivannya segera melahapnya dengan cepat. "berapa ronde" senyum Matahari, Langit tersenyum lebar "kayaknya terpaksa untuk selesai karena adek mengancam untuk tidak memberi jatah lagi jika diteruskan" angguk Mentari, Langit hanya tersenyum mendengar ledekan Mentari.
"nyeselkan Lang, tidak dari kemarin-kemarin menikah dengan adek" tawa Dirgantara melihat raut muka Langit, Langit menganggukkan kepalanya pelan. mereka bertiga tertawa lebar, "ishhh.... pagi-pagi mengganggu tamu yang lain" tepuk bahu bunda di ketiga putra nya. "kapan lagi bund, mengerjai si bungsu" celutuk Dirgantara. "kasihan noh yang jomblo" ledek Matahari, Farhan nyengir. "masih lama bang, dengerin aja dulu" jawab Farhan. mereka tertawa lebar. Langit mengurusi makanan Zivannya yang terlihat sangat kelaparan akibat ulah nya. "dek, minum ini" sodor Valerie, Zivannya menoleh dan meminum segera, "onty sakit" pegang pipi Riki, Zivannya tersenyum lebar menggelengkan kepalanya "onty hanya lapar karena semalam nungguin adek dan kakak pulang, eehhh.... saat pulang udah tidur aja digendong om Dimas dan om Farhan" elus kepala Zivannya.
"maafin Riki onty, besuk kalo nunggu lagi Riki janji nggak akan ketiduran" angguk Riki. "tidak apa-apa, dek. kan udah larut malam. yang penting onty udah liat adek dan kakak pulang" angguk Zivannya memeluk Riki, Langit segera melepaskan Riki dari pelukan Zivannya. "kenapa sih kak" pandang Zivannya, "kamu belepotan saus, kasihan Riki kalau terkena noda" hapus saus Langit dibaju Zivannya. "gombal" seru Mentari melihat trik Langit, Matahari menahan tawanya melihat tingkah Langit. "dia nggak mau kamu disentuh laki-laki lain" bisik Mentari. Zivannya menatap Langit segera yang menyunggingkan senyum di bibirnya.
"komandan-komandan yang bucin akut" kata Rara. "emang keliatan Ra" tanya Matahari, Rara memutar bola matanya jengah, "ishhh.... orang mana yang tidak bisa melihat jika kalian bertiga posesif akut" jawab Rara cepat. Matahari tertawa memeluk tubuh istrinya dan mengecup pipinya pelan.
"padahal garang banget" tawa Dirgantara, Langit hanya senyum-senyum mendengar godaan kedua kakak iparnya. "udah ada pawangnya jadi lain ya" lihat Dimas.
"bentar lagi kamu juga akan merasakannya, jadi sabar" senyum Dirgantara menepuk bahu Dimas.
"aahh.... iya.... tiga bulan lagi, kita akan liburan bareng ke Lombok. siapa yang mempunyai waktu luang silahkan merapat kesana. nanti kapan tanggal pastinya akan diberitahu" ucap ayah saat semuanya sudah tenang saat makan.
__ADS_1
"lho, kenapa bunda nggak tau yah" toleh bunda, "tadi malam kalah taruhan dengan mereka bertiga bund, saat main tebak-tebakan postingan Zivannya di media sosialnya" senyum ayah. "trus, mereka bisa cuti" tanya bunda. "harus... makanya jauh-jauh hari kita prepare nya" angguk ayah. "Dimas atau Farhan jika bisa harus ikut, semuanya jika bisa harus ikut. karena waktunya masih agak lama untuk memikirkannya" pandang ayah, mereka mengangguk mengerti.
Zivannya menyuapi Langit dengan makanan yang ada. karena dia ingin mencoba semuanya. "nanti aku penerbangan siang dek. habis ini aku langsung pulang" tatap Mentari. "kakak nggak disini dulu" buka mata Zivannya lebar. "kasihan abang sendirian disana, kita juga baru seminggu kan disana" senyum Mentari, Zivannya mengangguk. "terimakasih banyak sudah datang kesini kak" senyum Zivannya. "tentu, sebagai kakak aku harus melihatmu bahagia" tepuk punggung tangan Mentari, Zivannya tersenyum menganggukkan kepalanya. "nanti kita antar sehabis ini, biar yang lain pulang duluan untuk beristirahat" kata Langit. Matahari mengangguk.
"ibu juga akan pulang hari ini untuk mengurus keperluan besuk ngunduh mantu, jadi ibu sekalian ijin untuk pamit juga nanti" pandang ibu Danti. "jam berapa bu pulangnya" tanya Langit, "siang juga, Lang. jika terlalu sore pasti sampai rumah malam" senyum ibu Danti. Langit mengangguk. "berarti nanti sekalian ngantar ibu dan bang Matahari" angguk Langit. selesai sarapan mereka saling berpamitan, keluarga papa Zivannya akan menginap dua hari kedepan dirumah keluarga Triastomo, Dirgantara hanya sampai besuk akan pulang ke Surabaya. Langit dan Zivannya mengantar ibu ke stasiun kereta karena lebih dekat jaraknya dari rumah dan kebandara mengantar Matahari dan Mentari untuk pulang ketempat tugasnya yang baru.
"makasih banyak kak, bang. kita ketemu sebentar lagi" senyum Zivannya memeluk Mentari erat. "hmmm..... jaga diri dek, kita akan sering bertemu saat tugas nanti" senyum Mentari. Zivannya tersenyum mengangguk. "hati-hati dijalan bang" salam Langit. Matahari tersenyum mengangguk menepuk bahu Langit pelan. "titip adekku ya Lang" salam Matahari. "siap bang" angguk Langit mantap. "kita pulang kerumah dinas dulu, yang" senyum Langit merengkuh bahu Zivannya dan mengecupnya pelan. "kenapa" tanya Zivannya. "aku harus ke kesatuan sebentar" jawab Langit. "aku antar aja. nanti pulangnya naik motor kerumah bunda" jauh Zivannya. "yang" toleh Langit lembut, Zivannya berjalan lebih dulu. Langit tersenyum ditahan melihat tingkah istrinya, ia segera melangkah lebih cepat menyusul istrinya itu.
"aku aja kak, yang mengemudikan" pandang Zivannya, Langit menyerahkan kunci. Zivannya segera melajukan mobilnya ikut menyibak kemacetan. "jam segini benar-benar sibuk" hembus nafas Zivannya menyalakan musik, Langit hanya memperhatikan kelakuan istrinya. "mau beli motor klasik" tanya Langit, Zivannya menoleh dan tersenyum. "tidak kak, dirumah bunda ada tiga motor. motormu dan motor dinas, itu terlalu banyak" geleng Zivannya, Langit mengusap kepala Zivannya. "baiklah, aku nurut padamu" senyum Langit, "kapan berangkat ke wisuda Rara" tatap Langit, 1 bulanan lagi kak. mungkin 2-3 hari disana, berangkat sore, paginya dia wisuda lusanya pulang" jawab Zivannya, "nggak bisa satu hari aja, yang" tanya Langit. "bisa kak, tapi kemungkinan aku langsung jatuh sakit" angguk Zivannya, Langit mengusap rahangnya yang mengeras. "berarti aku libur selama itu" tanya Langit gusar, Zivannya mengerutkan keningnya sesaat. "lha kakak kan nggak bisa lama-lama cuti, ini hari senin lho kak. dua hari kemarin kakak udah ngurus pernikahan. ini aja mau ke kesatuan. kenapa libur saat aku ke tempat Rara" pandang Zivannya melajukan mobilnya lebih cepat karena jalanan sudah mulai lengang.
"bukan libur itu yang aku maksud, yang" hembus nafas Langit berat. Zivannya menoleh sesaat "astaga naga.... kak.... issshhh.... kenapa pikirannya kesitu mulu sih.... iiihhh..... by....." kata Zivannya akhirnya mengerti, Langit mendesah panjang. "itu kalo aku dapat tamu bulanan kan sama aja kak, nggak bisa juga. berarti aku tambah lama pulangnya karena harus tidur terus sepanjang hari" senyum Zivannya, Langit menutup wajahnya dengan satu tangan membayangkan Zivannya yang tidak bisa disentuhnya. "dan itu nggak hanya satu hari lho by, seminggu" tawa Zivannya senang. Langit menggigit bibir bawahnya semakin frustasi. Zivannya tergelak melihat suaminya yang tambah nggak bisa jauh darinya. "aku ikut deh nanti jika bisa" kata Langit. "bukan hari libur, by... biasanya dihari Rabu atau kamis" jawab Zivannya, Langit menatap Zivannya lekat. "beneran kak.... biasanya diambil di hari biasa agar tidak mengganggu jadwal civitas akademika yang lain" jawab Zivannya, Langit menghela nafasnya dan melipat kedua tangannya di dada.
Zivannya memasuki pos penjagaan di kesatuan segera menurunkan kaca mobil samping Langit agar diberi akses masuk, penjaga segera memberi salam kepada Langit saat tahu itu atasan mereka. "masuk dulu, yang. aku hanya sebentar" keluar Langit, Zivannya menghela nafas mengikuti keinginan suaminya, Zivannya berjalan disisi Langit yang memakai seragam sipil terlihat berbeda.
Baskara segera menghampiri Langit saat tahu Langit berjalan memasuki ruangannya. "siang ndan" salam Baskara menyerahkan beberapa berkas yang akan dilihat Langit, Zivannya tersenyum melambaikan tangan saat Baskara tersenyum menyapanya. "bas" panggil Langit, "ya, ndan" tegak Baskara di posisinya. "apakah besuk ada jadwal yang harus aku lakukan" tanya Langit, "ada ndan" buka jadwal Baskara di lembaran kertas yang sudah disiapkannya. Langit menghela nafas meraih kertas itu. "yang, lihat jadwalku" pandang Langit, Zivannya menatap sesaat dan beranjak mendekati Langit, melihat dengan seksama acara yang harus mereka hadiri dari pagi hingga sore. Zivannya melebarkan matanya melihat jadwal itu. Langit tersenyum menatap Zivannya, "berapa hari kak" pandang Zivannya, "untuk besuk hanya itu jadwalnya, mungkin besuk siang akan menyusul jadwal untuk besuknya, bu" angguk Baskara.
Zivannya tertawa kecil mendengar panggilan Baskara, memandang suaminya. "baiklah, kita akan memulainya besuk, adakah yang akan membantuku nanti" tanya Zivannya menatap Baskara. "ada bu, staf perempuan yang akan saya perkenalkan jika komandan mengijinkan" angguk Baskara hormat. Langit mengangguk, Baskara segera keluar dari ruangan Langit. Langit meraih pinggang Zivannya dan mendudukkan diatas nya duduk. mencium bibir istrinya dengan lembut. "aku akan menemanimu besuk" usap bibir Langit, Zivannya memukul dada Langit pelan. "nggak liat-liat tempat. kalo ketahuan yang lain gimana" tanya Zivannya memerah wajahnya, "ya nggak gimana-gimana" senyum Langit.
hai..... hai.... hai.... all readers terimakasih telah berkunjung ke karyaku. terimakasih banyak atas dukungannya selama ini.
__ADS_1
luv.... luv.... luv U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.
stay healthy all.