Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 111


__ADS_3

Zivannya menunggu Langit membersihkan dirinya diruang tengah sambil bermain game di ponsel Langit. Zivannya kesal saat game nya harus berhenti karena nyawanya tidak bisa selamat dan harus mengulang gamenya kembali. Zivannya bergumam tidak jelas karena beberapa kali nyawanya di game tidak bisa diselamatkan. Langit melihatnya senyam-senyum karena gerutuan Zivannya.


"senang banget kliatannya, yang. kalah terus" goda Langit. Zivannya bergumam tidak jelas sambil meneruskan permainannya. "siap-siap kewajiban petang Zi... "seru Langit dari kamar setelah mendengar panggilan kewajiban terdengar. Zivannya menghela nafasnya mematikan permainannya di ponsel Langit dan segera mengambil air suci untuk ikut Langit menuju tempat ibadah yang ada didekat rumah dinasnya. Zivannya memakai peralatan kewajibannya saat Langit sudah menunggu di depan pintu memakai alas kaki yang sudah disiapkan Langit. mereka bertemu dan bersama-sama dengan beberapa orang yang juga akan melaksanakan kewajiban petang mereka.


"mau makan dimana, yang" tanya Zivannya sebelum Langit menanyainya. "depan komplek aja, jalan" kata Langit Zivannya meletakkan peralatannya diruang tengah dan mengambil dompetnya, "ayo, nggak usah ganti. pake sarung aja. lebih tampan" kata Zivannya tanpa memberi jeda waktu bagi Langit yang akan masuk ke dalam rumah. Langit kembali keluar dan berjalan mengikuti langkah Zivannya yang sudah lebih dulu berjalan menuju depan.


Langit menunjuk kedai makan sederhana yang ada dipojok depan kompleks. "sering makan situ" toleh Zivannya, Langit mengangguk. "karena yang punya adalah dua orang yang sudah lanjut usia. tapi anak-anak nya tidak memperhatikannya" jawab Langit. Zivannya menghentikan langkahnya sesaat, menghela nafasnya berat dan berjalan cepat menuju kedai yang dikatakan Langit, langit tersenyum melihat Zivannya yang pasti akan merasa terenyuh mendengar alasannya tadi.


"malam nak, mau makan apa" tanya perempuan separuh baya penjaga kedai, Zivannya menunjuk makanan yang ada di etalase. beberapa orang juga sedang makan di kedai tersebut. Langit mengambil tempat duduk yang masih tersedia, menanti Zivannya yang sedang memesan makanan. Zivannya datang membawa piring berisi makanannya, "kita makan berdua kan" kata Zivannya, Langit tersenyum mengangguk menyuapi kekasihnya lebih dulu bergantian dengan dirinya.


Langit membahas beberapa hal dengan Zivannya selama makan, Zivannya dengan tenang mendengarkan penjelasan Langit mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan tugas dan kewajiban istri abdi negara.


"jangan lupa ada waktunya untuk mengabadikan moments memakai baju dinas" kata Langit, Zivannya mengangguk meminum jeruk panasnya. "aku bisa pinjam baju kak Mentari saat mengambil moments" jawab Zivannya.


"nggak mau buat sendiri" tanya Langit menatap Zhivannya yang menggeleng. "baju kak Mentari sebelas dua belas dengan ku kak, jika dia ganti yang baru. pasti ada baju dinasnya yang lama, masih bagus. tidak harus baru yang penting bersih dan rapi kan" pandang Zivannya, Langit mengangguk.


Zivannya membayar dengan uang lebih untuk makanan yang mereka pesan, Langit meraih jemari Zhivannya menyeberang menuju kompleks rumah dinas. di pos penjaga, Zivannya memberikan makanan yang mereka pesan tadi. penjaga berterimakasih kepada Langit yang berbagi.


"jadi kliatan tambah ganteng dong komandan" lirik Zivannya, Langit tertawa kecil menatap Zivannya. "jadi kliatan tambah muda dong. biar nggak disangka sugar daddymu" asal Langit berbicara. Zivannya tersenyum, "kan kamu memang sugar daddyku yang mencari duit untuk ku" kata Zivannya, Langit manggut-manggut.


"apapun yang terjadi, yang. jangan pernah meninggalkanku, kita bisa omongin baik-baik segala hal yang berkaitan dengan rumah tangga kita kelak" pandang Langit, Zivannya mengangguk.


"baik dan burukmu adalah baik dan burukku juga. senang dan sedihmu adalah senang dan sedihku juga" ingatkan Langit, Zivannya mengangguk.


"kita melangkah bersama, berjalan beriringan dan menuju tujuan yang sama" kata Langit. Zivannya mengangguk. "biasanya selalu berontak" selidik Langit menatap Zhivannya heran.

__ADS_1


"karena kita akan melangkah ke hal yang lebih serius kak, bukannya main-main lagi. saat kita awal bertemu aku tidak mau melihat dan mendengarmu karena kamu bukan siapa-siapa ku tapi sekarang kita sudah melangkah sejauh ini dan mulai memasuki tahap yang lebih jauh... bagiku... lebih banyak mendengarkan dirimu adalah yang paling penting saat ini, karena kamu akan menjadi imamku" jawab Zivannya menatap langit yang bertabur bintang diatas sana.


Langit terdiam menatap lurus kedepan. "siap atau tidak, mau atau terpaksa bukan lagi menjadi halangan atau sandungan buatku melangkah bersamamu. lambat atau cepat kita pasti akan melalui ini semua, jadi aku harus meluruskan niat dan hati untuk kembali menjadi makmum seseorang" hembus nafas Zivannya. Langit mencengkeram jemari Zivannya sesaat.


Zivannya menoleh dan tersenyum mengerti kalo Langit memberinya kekuatan untuk menjadi lebih kuat lagi, Zivannya meminta Langit untuk membawanya seperti koala. Zivannya naik kepunggung Langit, Langit tertawa menahan pantat Zivannya yang berada dipunggungnya berjalan pelan menuju rumah dinas yang hanya beberapa meter lagi jaraknya.


"yang, akhir pekan ikut pulang ke rumah ibu. tadi ibu menghubungiku agar membawamu pulang ke rumah" kata Langit, Zivannya mengangguk menggigit kuping Langit pelan.


"berarti minggu depan kan" tanya Zivannya. Langit mengangguk, "habis itu berangkat ke Jogja ya... sekalian mau menemani Rara sidang akhir" kata Zivannya meminta ijin.


"sidangnya kapan" tanya Langit, Zivannya mempererat pelukannya dipunggung Langit. "hari selasa atau rabu kalo nggak salah" jawab Zivannya, Langit mengangguk. Zivannya tersenyum menyelusupkan wajahnya di ceruk leher Langit.


"romantis banget ndan" celutuk seseorang. mereka menoleh dan tersenyum melambaikan tangan dan masuk halaman rumah dinas. "buka pintunya, yang" kata Langit.


"turunin dulu, kak. kalo gini nggak bisa masukin kuncinya" kata Zivannya menepuk pundak Langit pelan yang segera menurunkan tubuh Zivannya untuk membuka kunci pintu. Zivannya mengucap salam dan masuk menuju ruang belakang untuk mengambil gelas mengisinya dengan air mineral, meneguknya hingga habis. Zivannya menyodorkan gelas berisi air mineral kepada Langit, menghabiskannya dalam sekejap.


Zivannya meraih ponselnya. "kita abadikan moments dulu kak" senyum Zivannya mengaktifkan kamera depannya. "tumben" kata Langit, Zivannya mengangguk. "sebelum aku berubah pikiran, nanti biar bisa buat kolase sebelum dan sesudah sidang pra nikah" jawab Zivannya. Langit memposisikan dirinya memeluk Zivannya. "ishhh... kak, sebelahan dulu" tepuk lengan Zivannya, Langit mendengus kesal menuruti keinginan kekasihnya. Zivannya tertawa tertahan melihat Langit yang mukanya masam.


"senyum kak, nanti diliat banyak orang. termasuk anak kita kelak" kata Zivannya memberi semangat. Langit seketika duduk dengan tegak dan menempelkan bahu mereka, Zivannya memberi aba-aba untuk memulai mengabadikan beberapa moments mereka berdua.


Zivannya berganti baju memakai jeans dan sweater, mereka bersiap untuk pulang menuju rumah keluarga Triastomo, rumah Zivannya sekarang. motor melaju meninggalkan kesatuan, Zhivannya beberapa kali meminta Langit untuk berhenti dan mengabadikan moments ditempat-tempat yang jarang orang melihatnya sebagai spot foto yang indah, Langit menuruti permintaan Zivannya untuk sedikit berpose saat Zivannya mengambil moments.


"kenapa kamu semakin pintar mengambil moments" kata Langit, Zivannya mengecek gambar mereka yang diambil tadi, "belajar dari teman naik gunung dan kak Mentari yang suka mengambil gambar untuk traveling" kata Zivannya pelan menatap ponselnya.


"kita jalan lagi kak" dongak Zivannya setelah selesai melihat moments yang diambil, Langit memakaikan helmet kekasihnya lagi. "laper lagi nggak, yang" tanya Langit melajukan motor kembali. "laper kak, makan nasi goreng aja yuk. kayaknya enak nih malem-malem gini" kata Zivannya, Langit mengangguk. mereka menemukan penjual nasi goreng yang masih mangkal di jam 12 malam. Zivannya dan Langit berhenti untuk makan disana, beberapa pemuda dan pemudi juga masih banyak yang keluar untuk menikmati malam, Zivannya memesan seporsi jumbo nasi goreng untuk mereka berdua, saat mereka tengah makan ada patroli abdi negara yang menyisir jalanan saat malam hari. banyak pemuda yang segera melarikan diri ketika melihat patroli karena tidak lengkap memakai perlengkapan motor dan bergerombol.

__ADS_1


Langit dan Zivannya melihat mereka yang pergi tunggang langgang sambil makan, mereka yang sedang makan pun tak luput diperiksa oleh abdi negara yang sedang berpatroli malam, termasuk Langit dan Zivannya yang turut diperiksa dan mengeluarkan identitas mereka masing-masing. Langit menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan kepadanya sambil tersenyum, mereka tertawa bersama dan saling berjabat tangan. Langit kembali melanjutkan makannya bersama Zivannya.


"boleh makan lagi atau ikut mereka" tanya Zivannya menatap Langit, "makan, yang. mereka hanya patroli bukannya menangkap orang-orang yang nggak berbuat salah" jawab Langit menyuapi Zivannya, "udah kenyang" kata Zivannya. Langit mengangguk dan segera menghabiskan nasi goreng yang tinggal sedikit, untungnya, Zivannya telah makan nasi gorengnya lumayan saat abdi negara melakukan patroli kalau tidak bisa dipastikan Langit akan memaksa Zivannya menghabiskan makanannya. Zivannya segera membayar nasi goreng setelah Langit menghabiskannya. "kenapa buru-buru sih, yang. nasinya belum turun" kata Langit saat Zivannya menariknya ke motor. "pulang kak. aku nggak mau lama-lama di jalan" kata Zivannya, Langit menatap Zivannya sesaat dan tersenyum.


"tadi sih nyuruh aku bawa kamu ke penghulu untuk segera dihalalin" asal ngomong Langit, Zivannya menepuk pundak Langit keras, "nggak lucu, kak. aku benar-benar ketakutan kalo harus berurusan dengan mereka" kata Zivannya merenggangkan tubuhnya agar tidak menempel dengan punggung Langit. "yang, naik motor yang bener, jangan terlalu jauh nanti oleng motornya" ingatkan Langit.


"naik ojol aja nggak sampai segitunya kak, abang ojolnya santai aja" kata Zivannya. "Zivannya Fritscha Dewantara" seru Langit, Zivannya seketika menuruti Langit. "jika kamu bersamaku harus pulang dengan selamat" kata Langit menoleh, Zivannya mengangguk tanpa bisa membantah lagi. tiba di rumah, Langit memarkir motornya digarasi dan segera mengikuti Zivannya melalui pintu samping. Langit segera membersihkan dirinya untuk tidur di ruang tengah, Zivannya masuk ke kamarnya mengambil alas tidur untuk Langit. "malam kak" salam Zivannya mencium bibir Langit sekilas. Langit mencium kening Zivannya.


pagi hari


bunda membangunkan Langit yang tertidur dengan nyenyak. "dek, bangun. ayo kewajiban pagi sama ayah dan bunda" kata bunda menggoyang bahu Langit pelan. Langit membuka matanya, melihat bunda. "jam berapa bund" tanya Langit membuka cover bed yang membungkus tubuhnya. "jam 5.10, kewajiban dulu. nanti tidur lagi" usap kepala bunda, Langit mengangguk dan duduk kemudian membersihkan dirinya untuk menyusul kedua orang tua Aga melaksanakan kewajiban pagi. Zivannya masih meringkuk dengan nyenyak di ranjang empuknya saat bunda membuka pintu kamarnya.


"udah bund, tepat waktu" tarik cover bed Zivannya melihat sosok wanita yang masih terlihat cantik diusia yang tidak lagi muda. bunda tersenyum dan menutup pintu kembali.


Langit kembali meringkuk diruang tengah setelah melaksanakan kewajiban paginya. "mereka pulang jam berapa" tanya ayah menatap bunda, "jam 12 yah, makan nasi goreng dulu. ketemu patroli malam langsung ketakutan ngajak pulang buru-buru" jawab Langit dari balik cover bed nya. ayah tertawa pelan mendengar penjelasan Langit dan mengajak bunda untuk berjalan pagi disekitar kompleks. rumah kembali hening, setelah ayah dan bunda pergi untuk menghirup udara pagi, Zivannya dan Langit masih meringkuk ditempat masing-masing hingga pukul 7 pagi. mbok membangunkan Langit yang belum bangun juga.


"den Langit" tepuk mbok di cover bed Langit, "hmmmm" kata Langit pelan.


"sudah jam 7, den. mau berangkat dinas tidak" tanya mbok pelan, Langit segera membuka matanya lebar dan duduk dengan tenang. "iya, mbok makasih" angguk Langit. "non dek juga belum bangun" jawab mbok. Langit menganggukkan kepalanya.


hai...hai..hai... all readers terus dukung karyaku ya...


luv....luv...luv U all sekebon pisang goreng. terimakasih banyak atas dukungannya selama ini.


terimakasih banyak semuanya.

__ADS_1


stay healthy all....


__ADS_2