Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 106


__ADS_3

Zivannya tertawa setelah Langit mengakhiri panggilannya. "apa dia marah" tanya Arka, Zivannya mengangguk. "kebiasaan menutup sebelum diberi penjelasan, setidaknya tenang setelah ini" kata Zivannya pelan, Arka tersenyum lebar. "dia tidak suka melihat ku dekat denganmu, tentu saja dia akan marah jika kamu dekat dengan laki-laki lain. apalagi jika laki-laki lain itu mempunyai perasaan padamu" kata Arka tegas, Zivannya tersenyum memakan rotinya hingga habis.


"aku lupa, dia akan memberi lebih olahraga ke yang lain di kesatuannya jika aku nggak segera pulang" tegak Zivannya teringat perjanjiannya dengan Langit. Arka tertawa lebar, "benar-benar mirip komandan Dirgantara" ceplos Arka sesaat kemudian menatap Zivannya cepat, mereka tertawa lebar bersama.


"aku antar ke bandara. kamu bisa memberi kabar ke kakakmu selama diperjalanan" pandang Arka.


"bentar, aku liat dulu jadwal keberangkatan kesana, aku tidak mau menunggu lama" jawab Zivannya mengecek lewat ponsel beberapa maskapai penerbangan dan memesan lewat online untuk jadwal penerbangan pulangnya.


"sekarang jam 2 lebih, kita masih bisa ke bandara" lihat waktu Zivannya di ponselnya. Arka mengangguk dan berjalan menuju motornya, "kita naik ini aja biar cepat. nggak jauh juga" kata Arka, Zivannya mengangguk mengerti meraih carrier nya segera menaiki motor Arka. mereka segera melaju meninggalkan rumah dinas Dirgantara. "hati-hati dijalan Zi, sampaikan salamku pada Langit" senyum Arka, Zivannya mengangguk tersenyum lebar melambaikan tangannya ke arah Arka setelah sampai di depan gerbang bandara.


Zivannya berlari kecil menuju kedalam untuk menukarkan tiket onlinenya dan menunggu jadwal keberangkatan ke Jakarta. Zivannya mengirim pesan kepada kedua kakaknya karena harus segera pulang dan menjelaskan alasannya, Valerie memberi balasan emoticon tertawa ngakak, karena kelakuan para lelaki Triastomo sebelas dua belas satu dengan lainnya, Dirgantara menerima alasan Zivannya yang menyelamatkan Matahari juga.


"hallo kak" salam Zivannya.


"kenapa" tanya Langit datar.


" aku pulang, jemput sekarang" kata Zivannya. terdengar Langit melangkah tergesa-gesa dan terantuk sudut meja.


"berangkat jam berapa" desis Langit merutuki kecerobohannya yang sangat senang mendengar kepulangan Zivannya hari ini dan dia bisa bersamanya lagi disini.


"bentar lagi berangkat, udah ada pengumuman. berangkat dulu" lihat pengumuman Zivannya bergegas berjalan ke gate penerbangan dan menutup panggilannya.


Langit segera bergegas berlari untuk mengambil motor dan melajukan motornya dengan kecepatan lumayan tinggi menuju bandara menjemput kekasihnya yang lebih dari seminggu berada di luar kota. Zivannya menaruh carriernya di bagasi dan berjalan di lorong menuju pesawat, setelah duduk di kursi penumpang Ia menatap keluar jendela pesawat yang akan membawanya pulang ke keluarga Triastomo seraya menghembuskan nafasnya panjang, keluarga besar suaminya yang telah pergi meninggalkannya selama-lamanya.


kepulangannya kali ini adalah awal dari langkahnya memulai perjalanan hidupnya yang baru dengan lelaki yang berbeda, ketakutan dan kecemasan seringkali menghantui pikiran nya jika hal itu kembali akan terulang lagi, resiko akan merasa kehilangan pasti ada dan kemungkinannya lebih besar daripada saat dirinya kehilangan Aga, memang takdir Tuhan yang membuat nya harus kehilangan orang yang dicintainya, tapi takdir tuhan juga yang membawanya untuk kembali bertemu dengan orang yang mencintainya. dua pemuda yang sama-sama mencintainya tanpa syarat, dua pria yang menaklukkan hatinya diwaktu yang berbeda, dua laki-laki yang mampu membuatnya menuruti kemauannya tanpa bisa dibantah lagi.


apapun yang terjadi nanti dirinya tidak bisa lagi mundur kebelakang, dirinya tidak bisa lagi melihat yang telah lalu. kesedihan, airmata dan kepedihan dimasa lalu harus ditutupnya rapat-rapat. harapan, kebahagiaan dan membangun keluarga yang baru menjadi hal yang harus ia lakukan dengan sepenuh hati. ada keluarga yang selalu mendukungnya untuk melanjutkan hidup, perjalanan hidupnya dengan Aga yang singkat menurut orang lain dan mendorongnya untuk memulai perjalanan hidup dengan Langit agar bisa terus melanjutkan hidupnya.

__ADS_1


Ia tahu, disudut hati kedua orang tuanya saat ini, sebenarnya tidak mau anaknya tergantikan oleh orang lain. namun mereka adalah kedua orangtua yang berhati besar dan bijak yang mampu melihat sesuatu dengan mengayomi anak-anaknya. bagaimanapun getirnya kehilangan anak, tidak membuat kedua orang tua Aga melarangnya memiliki kehidupan yang bisa membuatnya bahagia. Zivannya menatap para penumpang yang beranjak dari tempat duduknya untuk keluar dari pesawat. dia memilih untuk melakukannya terakhir karena dia tidak terburu-buru, memberi kesempatan yang lain untuk lebih dulu turun menyelesaikan segala hal yang menjadi urusannya sore itu.


Zivannya berjalan pelan keluar paling akhir sembari memakai kembali topinya, melangkah menuju bagasi untuk mengambil ransel gunungnya. Langit menatap setiap pergerakan Zivannya yang pelan dari kejauhan, dilihatnya Zivannya mengangkat carriernya dan berjalan pelan keluar dari pintu kaca kedatangan. Langit berdiri dengan gagah dengan seragam dinasnya saat Zivannya mencari dirinya diantara banyak orang, melambaikan tangannya dan mendekat kearahnya. "pulang kak" kata Zivannya mencium punggung tangan Langit yang mengusap bahunya sambil tersenyum, menautkan jemarinya dan melangkah pelan bersama meninggalkan hiruk pikuk bandara, "kakak pake motor ini" tanya Zivannya memandang motor dinas Langit. "langsung kesini tadi" garuk-garuk tengkuk Langit. Zivannya mengangguk mengambil helmetnya dan memakainya. Langit naik keatas motor disusul Zivannya dibelakangnya yang membawa carriernya.


"kerumah dinas dulu, aku akan kembali ke kesatuan sebentar" kata Langit. Zivannya memberi isyarat dengan jemarinya tanda Ok.


Langit melihat wajah Zivannya dari kaca spion motor, Zivannya menutup visornya agar tidak silau. Langit tersenyum dibalik visornya menatap tingkah Zivannya. Langit meraih jemari Zivannya agar melingkarkan tangannya di pinggangnya, Zivannya memeluk Langit dari belakang. sesampai di rumah dinas Langit, Zivannya turun dan mengambil kunci dari bawah pot tanaman yang biasa diletakkan Langit, sedangkan Langit bergegas kembali ke kesatuannya. Zivannya menaruh ransel gunungnya dan mengeluarkan pakaian yang sudah bersih dari dalam ransel. bergegas untuk membersihkan dirinya.


Zivannya melihat ponselnya dan berselancar di dunia Maya melihat beberapa moments yang dibagikan teman-temannya dan media sosial milik Langit.


Zivannya mengerutkan keningnya, sesaat setelah melihat postingan Sita teman Langit yang mengunggah foto kebersamaan mereka yang mengadakan pertemuan kemarin. Zivannya melihat media sosial Sita, ia membuka mulutnya sedikit melihat banyaknya moments kebersamaan Langit dan Sita yang diunggah di media sosialnya, dilihatnya sekali lagi moments yang Sita bagikan kemudian melihat media sosial Langit yang juga mengunggah moments pertemuan dengan teman-temannya. tidak hanya dengan Sita, tapi dengan teman-temannya yang lain. "ada dendam apa nama Sita di kehidupan seorang Zivannya Fritscha" gumam Zivannya menggigit kuku ibu jarinya tidak habis pikir.


"hallo yah" salam Zivannya melihat panggilan diponselnya.


"dimana dek, masih di Malang kah atau sudah sampai di tempat kak Dirgantara" tanya ayah. Zivannya tertawa.


ayah tertawa lebar, "benar-benar layak jadi bagian keluarga Triastomo kalo begitu. abang mu sebentar lagi akan dipindahkan dan naik pangkat, jadi tidak lagi menjadi bawahan dari Langit, ketiga anak laki-laki ku akan menjadi pemimpin di kesatuannya masing-masing" kata ayah bangga, Zivannya tersenyum mengangguk melihat raut wajah ayah yang sumringah. "jadi kamu dirumah dinas Langit" tanya ayah, Zivannya mengangguk lesu.


"ditinggal ke kesatuan nya setelah menjemput dibandara tadi, sampai sekarang belum pulang" jawab Zivannya.


"nanti setelah dia pulang pasti akan mengantarmu" kata ayah, Zivannya mengangguk. Zivannya tertidur setelah mematikan panggilan video dengan ayahnya.


Langit membuka pintu rumah pelan, melihat Zivannya yang sedang tertidur dengan ponsel yang ada di tangannya, ia mengambil ponsel Zivannya dengan hati-hati agar Zivannya tidak terganggu. Langit membuka ponsel Zivannya, melihat catatan panggilan yang baru-baru ini berhubungan dengan Zivannya, tersenyum lebar ketika melihat panggilan terakhir berasal dari ayah Triastomo, melihat akun sosial yang diperhatikan Zivannya, Langit mengerutkan alisnya melihat Zivannya membuka media sosial Sita temannya dan melihat apa yang dilihat Zivannya tadi, terdiam sejenak memandang media sosial Sita dan memandang wajah Zivannya.


ia mengabadikan moments Zivannya sedang tertidur dengan lelap dengan anak rambut yang menutupi wajahnya sehingga terlihat samar. Langit melihat moments tersebut sebelum diunggahnya ke media sosial miliknya.


" my sleeping beauty, abis naik Semeru, masih tetap cantik di mata dan hatiku" beri caption Langit tersenyum menatap Zivannya yang terlihat tidak terganggu kemudian beranjak membersihkan dirinya dan menunaikan kewajiban petangnya sebelum membangunkan Zivannya.

__ADS_1


"yang, sudah telat melakukan kewajiban petang" tepuk pipi Langit. Zivannya bergerak pelan. "jam" tanya Zivannya tanpa merubah posisi tidurnya.


"sudah jam 6.25" jawab Langit mengusap kepala Zivannya. Zivannya menepis tangan Langit, bergerak bangun dan mengambil air suci untuk melaksanakan kewajiban petangnya. Langit hanya melihat Zivannya melakukan semuanya sendiri.


"kenapa" tanya Langit menatap Zhivannya tersenyum, Zivannya menggeleng dan mengikat rambutnya model ekor kuda.


"apa kamu kesal melihat Sita yang memposting moments saat bersama dengan teman-teman kemarin" perlihatkan Langit, Zivannya mengerutkan keningnya menatap Langit.


"kakak melihat ponselku" tanya Zivannya menatap Langit yang mengangguk. Zivannya mengusap kepala Langit mengecup ubun-ubun kepalanya. "pulang kak, ayah menanti" kata Zivannya, Langit menggeleng.


"kita selesaikan ini dulu, yang" kata Langit meraih pinggang Zivannya untuk merapatkan tubuhnya. "aku tidak mengambil moments berdua dengannya, kamu udah lihat di media sosialku jika aku melakukan itu bersama dengan yang lain kan. jikapun aku ingin melakukannya, itu bukan dengannya. hanya denganmu, aku mau melakukannya" kata Langit memperlihatkan ponselnya.


"ini yang aku unggah tadi di media sosialku, lihatkan... siapa perempuan yang benar-benar ada di hati dan pikiranku" tunjukkan Langit, Zivannya memperhatikan dengan cepat, "itu kayak aku kan, dengan baju yang sama" kata Zivannya menatap Langit lekat, Langit menganggukkan kepalanya cepat, mengusap punggung Zivannya. "katakan padaku agar aku mengerti, jadi aku bisa menjelaskannya kepadamu. aku tidak ingin kamu berpikir yang tidak-tidak dan memendamnya sendiri, yang ada malah aku semakin tidak tahu apa yang ada dipikiran mu dan kamu semakin berpikir yang tidak-tidak mengenai diriku dan memendamnya kemudian menghilang lagi" pandang Langit, Zivannya terdiam.


"yang dia unggah hanya memperlihatkan sesuatu yang tak terjadi, jadi biarkan saja asalkan kamu mempercayaiku maka aku tidak akan berbuat yang tidak perlu" kata Langit, Zivannya mengangkat bahunya tidak mau berpikir yang memberatkan hatinya.


"yang.... kamu kan ngerti, saat acara kemarin apa aku dekat dengannya, kamu kan tau aku mengobrol dengan teman laki-laki. jika memang aku menyukainya, kenapa aku harus mati-matian berusaha mendapatkanmu, aku tidak akan membuang berlian demi seonggok batu kali" kata Langit. Zivannya menjauhkan dirinya dari Langit. "masih marah" tanya Langit menahan tubuh Zivannya agar tidak menjauh.


"pulang" pandang Zivannya menatap Langit kesal. Langit tersenyum menatap balik wajah Zivannya yang terlihat memerah saking kesalnya.


"kamu tau, yang. aku senang melihatmu seperti ini, melihatmu merasa marah dan cemburu ketika ada perempuan lain yang mencoba mendekatiku. itu membuatku semakin yakin bahwa kamu memang benar-benar telah menerimaku dan mencintaiku" usap pipi Langit. Zivannya menepis tangan Langit yang seenaknya.


Langit meraih tangan Zivannya yang menjauhkan tangannya, mengecupnya pelan. "ayo kita pulang, aku tidak akan membuatmu tambah lelah, walau saat ini aku sangat ingin menelanmu bulat-bulat, karena besuk kamu juga harus segera mempersiapkan surat-surat legalitas yang diperlukan untuk keperluan sidang pra nikah" pandang Langit, Zivannya beranjak dari duduknya. Langit mengikuti langkah Zivannya yang berjalan ke luar rumah.


hai....hai...hai.... all readers terus dukung karyaku ya, terimakasih banyak atas dukungannya.


luv...luv...luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak atas dukungannya selama ini.

__ADS_1


stay healthy all....


__ADS_2