
"Yuda pamit pulang tadi, nanti malam katanya mau balik kesini" kata Mentari melihat Zivannya didepan pintu rumah, Zivannya mengangguk dan berlalu kedalam kamar membersihkan badannya yang tidak nyaman.
Zivannya mempunyai kebiasaan baru saat mandi, setelah kepergian Aga. tidak pernah melepas bajunya ketika badannya terkena air shower, entah sudah berapa banyak airmata yang ditumpahkannya sampai saat ini, entah sudah berapa kali dirinya selalu terpuruk seperti ini, hati dan jiwa yang kosong membuatnya kehilangan semangat, apa yang dulu dia perjuangkan pada akhirnya tidak dinikmatinya bersama orang-orang yang berarti baginya. tetesan peluh, keringat, darah dan airmata mamanya hingga dirinya seperti sekarang tidak ada disisinya, Aga yang selalu ada sekarang tidak lagi bisa menemaninya, Zivannya merasa sendiri dan sepi.
"dek" ketuk Valerie, Zivannya membuka pintunya lebar-lebar. "Yuda udah didepan" senyum Valerie. Zivannya mengangguk melangkahkan kakinya menuju keteras depan.
"nginep dimana da" duduk Zivannya disamping Yuda. "tuh didepan" isyarat dagu Yuda.
"hotel depan, seberang jalan" tanya Zivannya memastikan, Yuda mengangguk. "krucil pada kemana" tanya Yuda, "nonton kartun dan minum susu" senyum Zivannya melihat kedalam.
"mau kedalam nggak. diruang tengah pada ngumpul" tanya Zivannya, Yuda menggeleng.
"ada Langit nggak" tanya Yuda pelan, Zivannya mengerutkan keningnya. "nggak ada selain keluarga da" geleng Zivannya.
"mau keluar jalan-jalan Zi, dah lama kita tidak keluar malam" kata Yuda. Zivannya terdiam agak lama, "aku pamit dengan orang rumah dulu da" masuk Zivannya, Yuda tersenyum.
"bund, boleh keluar jalan sama Yuda" tanya Zivannya, bunda tersenyum dan mengangguk.
"jalan sepuasmu dek, udah dua bulan kamu mengurung diri dirumah" angguk bunda. Zivannya masuk mengganti pakaian rumahnya dengan jeans belel dan t-shirt, jaket dan sneakers.
"gitu aja dek" lihat mentari Zivannya melambaikan tangan melangkah keluar. "ayo da" isyarat dagu Zivannya, Yuda memberi tanda Ok dengan jarinya.
"kalian mau kemana" tanya Langit baru datang, Zivannya membuka pintu pagar.
"jalan, mau ikut" tanya Zivannya tanpa melihat Langit.
"tidak, aku hanya akan berpamitan dengan ayah dan bunda. malam ini aku harus balik ke Jakarta" geleng Langit, Zivannya mengangguk.
"selamat jalan dan hati-hati" kata Zivannya melangkahkan kakinya keluar pagar. "pasti" senyum Langit. Yuda menyalami Langit dan menyusul langkah Zivannya yang sudah terlebih dulu jalan.
langit menatap kepergian Zivannya dan Yuda, sangat tidak rela melihat mereka jalan berdua, tapi dia punya tanggung jawab yang lebih besar, ia beranjak masuk dan menemui keluarga Zivannya.
Yuda mengajak Zivannya dicafe tempat anak muda banyak menghabiskan malam. "besuk aku juga akan pulang Zi" minum kopi Yuda, Zivannya mengangguk.
"makasih da, kamu menyempatkan datang untuk melihatku" senyum Zivannya, Yuda tertawa. "kita kan memang teman baik kenapa harus sungkan" kata Yuda, Zivannya tersenyum lebar. "trus kapan kamu akan wisuda jadi aku bisa menyempatkan waktuku untuk kesana" kata Zivannya. Yuda tertawa, "harus lah Zi, aku selalu mengharap kamu datang saat aku wisuda nanti" jawab Yuda, Zivannya memakan cemilan yang baru saja diantar.
"apa kamu masih merasakan sakit dihati Zi" tanya Yuda, Zivannya tersenyum, "masih, teramat sangat malah..." angguk Zivannya.
"apa kamu akan terus bersama keluarga Aga" tanya Yuda.
__ADS_1
"mungkin da, mereka sudah menjadi keluargaku beberapa waktu kan. kamu tau aku tidak punya siapa-siapa lagi setelah kepergian mama. keluarga papaku, kamu tau sendiri kan bagaimana mereka memperlakukan mamaku dan aku" senyum Zivannya menatap Yuda. "apa kamu mau bersamaku Zi" tanya Yuda tiba-tiba. Zivannya tersenyum.
"ini juga kita bersama kan, itu yang paling penting bagiku. terimakasih sudah menemaniku dan menjadi teman yang tidak memandangku dengan sebelah mata sejak dulu" genggam tangan Zivannya, Yuda tersenyum dan menggenggam tangan Zivannya erat.
"apa karena kita berbeda Zi" tanya Yuda, Zivannya tersenyum.
"tentu saja, kita berbeda. kamu laki-laki dan aku perempuan. kamu masih kuliah dan aku barusan lulus hari ini" canda Zivannya. Yuda terkekeh mendengar jawaban Zivannya.
"kamu janda dan aku perjaka" kata Yuda, Zivannya mengangguk tersenyum. "itu fakta yang tidak terbantahkan kan" pandang Zivannya
"kamu dekil aku tampan kan" lanjut Yuda. Zivannya tertawa lebar.
"untuk ukuran laki-laki yaa.... kamu memang tergolong laki-laki tampan" angguk Zivannya, "tapi...." pandang Yuda, Zivannya
tersenyum. "tidak ada tapinya, da. kamu memang lelaki yang tampan, banyak gadis yang memilihmu. tetapkan satu dan mulailah menjalin hubungan yang serius. aku akan selalu menjadi teman yang tak tampak bagimu" geleng Zivannya.
"aissshhh.... padahal aku sudah nemu lho Zi, sayang nya kemarin dia sudah bersama seseorang dan sekarang dia sendiri" kata Yuda. Zivannya tersenyum, "jadi, jika dia tidak menyukaimu cari lagi yang lain. tinggalkan gadis itu, jangan buang waktu hanya gara-gara seorang gadis yang tidak berharga" sesap kopi Zivannya. Yuda tertawa "begitu mudahnya kah Zi" tanya Yuda. Zivannya menggeleng "tidak mudah, ketika ada perasaan didalamnya" kata Zivannya.
"apa kamu belum melepaskan Aga" tanya Yuda pelan. Zivannya mengangguk dan menggeleng bersamaan.
"masih ada sakit yang sangat, tapi aku sudah merelakannya karena dia kembali kepada yang punya" senyum Zivannya getir.
"malam ini kamu banyak tersenyum Zi, apa karena jalan dengan Langit tadi" tanya Yuda. Zivannya tertawa kecil, "padahal dia hanya menungguku menangis dijalan dan tertidur dimobil walau sampai rumah, bunda nyuruh agar aku tidak diganggu karena jarang bisa tidur nyenyak" kata Zivannya menghembuskan nafas.
"aku akan selalu menyayangimu sebagai Yuda yang selalu menemani langkah hidupku dari dulu hingga nanti. teman sejati tidak akan tergantikan" kata Zivannya merentangkan tangannya lebar. Yuda tertawa, "merasa lebih baik Zi" tanya Yuda. "tentu, terkadang berbicara lebih mengurai sakit dihati" angguk Zivannya. pesanan makanan mereka datang.
"Bima tau kak Aga tidak ada Zi" kata Yuda, Zhivannya manggut-manggut sambil mengunyah makanannya. "terimakasih, jika bertemu dengannya sampaikan permintaan maaf ku dan kak Aga" pandang Zivannya, Yuda mengangguk.
"apa kamu ingin kembali padanya Zi" tanya Yuda iseng, Zivannya tersedak segera meminum air mineralnya. "ya elah yud, bodoh banget dong aku kalo kembali bersamanya, udah sekolah lama, pake mikir saat ngerjain soal ato tugas, kasihan mama kalo anaknya kembali mengulang kebodohan yang sama" sarkas Zivannya, Yuda tertawa terbahak-bahak.
"kalo dia mengejarmu lagi gimana" tanya Yuda, Zivannya mengangkat bahunya tidak peduli
"dua minggu lagi, aku berencana pulang kerumah mama yud, kita bertemu lagi nanti" kata Zivannya, Yuda memberi tanda Ok dan tersenyum. "sampai berapa lama kamu mau sendiri Zi, masih banyak yang mau lho dengan janda sepertimu" goda Yuda, Zivannya tertawa lebar, "begitukah... aku tidak bisa melihat laki-laki melebihi Aga untuk sekarang dan nanti" kata Zivannya. "termasuk Regan dan Langit" selidik Yuda, "siapapun, aku tidak peduli" geleng Zivannya sarkas. Yuda terdiam dan melanjutkan makannya. ponsel Zivannya berdering.
"hallo" salam Zivannya.
"dimana Zi" tanya Langit dingin, Zivannya mengerutkan keningnya dan melihat layarnya sesaat.
"kenapa memangnya" tanya Zivannya tidak mengerti.
__ADS_1
"bunda jatuh sakit, sekarang dirumah sakit" kata Langit. Zivannya terkejut dan menghentikan makannya.
"dimana kak" tanya Zivannya cepat.
"aku share lokasi nya sekarang" kata Langit. Zivannya melihat chat dari Langit.
"kenapa Zi" tanya Yuda, Zivannya memandang Yuda.
"bunda dirumah sakit sekarang" gegas Zivannya. Yuda terkejut dan segera meraih tangan Zivannya, Zivannya menoleh, "aku nggak papa, yud. udah pesen ojek online untuk kerumah sakit. kamu urus dulu disini, nanti aku share lokasinya" angguk Zivannya. Yuda mengangguk. Zivannya bergegas keluar cafe dan menaiki ojek yang sudah dipesannya.
Langit menunggu Zivannya didepan klinik, Zivannya bergegas berlari menuju Langit.
"bunda gimana by, apa baik-baik aja" kata Zivannya menatap dan memegang bahu Langit dengan nafas memburu, Langit tersenyum mendengar panggilan Zivannya.
Langit menggenggam erat jemari Zivannya dan membawanya masuk keruangan bunda yang berada disisi kanan.
"kenapa bunda" kata Zivannya menatap Langit. "kecapekan ngurus anaknya yang menyusahkan karena merasa dirinya yang paling menderita, lupa kalo ada ibu yang melahirkan juga merasakan hati yang sakitnya tidak terkira" sarkas Langit. Zivannya berhenti dan membeku seketika, perkataan Langit menampar hatinya telak, sedikit terhuyung Zivannya menekan dadanya, Langit memeluk Zivannya erat. "buat dirimu kembali Zi, bunda membutuhkanmu" bisik Langit. Zivannya mengangguk patuh, Langit mencium pipi Zivannya lembut tanpa Zivannya sadari, Langit membuka pintu kamar pasien bunda. Zivannya bergerak mendekat.
"bunda baik-baik aja dek, hanya butuh istirahat" toleh mentari menatap Zivannya, Zivannya merasa lemas dan luruh seketika kebawah melihat bunda yang tertidur di bed pasien dengan jarum kecil menusuk tangannya dan oksigen dihidung. Langit melesat maju mengangkat tubuh Zivannya kesofa.
"masih bisa bertahan Zi" tekan kepala Langit dititik tertentu, Zivannya mengangguk. "aku baik-baik aja kak. makasih" tahan tangan Zivannya agar Langit tidak menyentuh tubuhnya lebih lama lagi. "biar Zi yang jaga bund-bund kak, kakak pulang aja. diantar kak Langit. aku yang bermalam disini" kata Zivannya melepas sneakers meletakkannya disamping sofa panjang. Langit mengeluarkan sandal dari dalam tas ransel nya meletakkannya didepan Zivannya. Zivannya segera memakainya dan masuk kedalam kamar mandi.
"aku akan pulang dulu ndan, malam ini Zi yang akan menjaga bunda, besuk pagi kita akan kesini. biasanya hingga malam bunda dan Zivannya ngobrol berdua" kata mentari, Langit mengangguk.
"aku akan menemani Zi" kata Langit cepat
"kamu harus balik kan" tanya Mentari.
"penerbangan pagi masih ada kak" kata Langit.
"baiklah, terserah padamu. memang kalo sudah cinta susah jauhnya" senyum Mentari, Langit tertawa dan memberi tanda Ok dengan jarinya.
Zivannya keluar dari kamar mandi, "kak mentari mana kak" tanya Zivannya melihat ruangan, Langit menoleh. "pulang, dia juga butuh istirahat. Ayah kesini besuk pagi, tadi juga ada disini, diminta kak mentari pulang agar pagi kesini" jawab langit, Zivannya mengangguk dan melihat bunda yang masih tidur, ini tengah malam Zi, biarkan bunda tidur" kata Langit menyandarkan kepalanya di lengan Sofa, Zivannya mengangguk dan duduk berjarak dengan Langit. "nggak ganti celana Zi" tanya Langit memandang Zivannya.
"besuk aja kak, sekalian pulang dan kembali kesini" kata Zivannya menggeleng, langit mengeluarkan celana jogernya dan menyerahkannya pada Zivannya.
"pake ini aja, tidak nyaman kalo tidur dengan celana seperti itu" kata Langit, Zivannya menggeleng dan meletakkannya ditengah mereka.
hai...hai....hai... all readers terimakasih atas dukungannya dan like nya kepada karyaku ini.
__ADS_1
terus dukung yaa biar selalu update cepat..
luv.... luv....luv.... U all readers. terimakasih...