Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 120


__ADS_3

Zivannya menatap bintang yang bertaburan di langit biru, awan terlihat putih walau bulan tidak sempurna terlihat, merentangkan tangannya keatas ingin meraih bintang yang paling terang, laut terlihat tenang berkilauan akibat terkena pancaran sinar rembulan yang terlihat malu-malu menampakkan sinarnya. Zivannya menatap Langit yang berkoordinasi dengan yang lain saat mengerjakan sesuatu.


Zivannya meminum coklat panasnya sambil bertopang dagu menatap kekasihnya yang terlihat berbeda saat sedang bertugas. punggung yang tegap, rambut yang rapi cepak, kulit yang lebih gelap darinya, paras yang khas laki-laki Indonesia. secara tidak sadar Zivannya mengarahkan kamera ponselnya mengambil moments saat Langit sedang berkoordinasi dengan anggotanya. "ketika menemani saat sedang dinas, terasa berbeda" tulis caption Zivannya saat mengunggah moments Langit dari belakang bersama teman-temannya di media sosialnya.


waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam saat Langit menyudahi pekerjaannya. Zivannya sedang bermain game di ponsel Langit dan tidak sadar jika mereka sudah selesai, Langit menyentuh tengkuk Zivannya yang segera berjenggit kaget. "ishhh" gumam Zivannya melihat Langit dengan cepat. "tidur. besuk kita harus bangun pagi-pagi untuk mengecek apa yang menjadi kendala saat hari lebih terang" jawab Langit, Zivannya mengerutkan kening menyerahkan ponsel Langit kembali ke yang punya. "aku nggak ngerti maksudnya kak. kita cari hotel gitu dekat sini" tanya Zivannya tidak bisa memikirkan sesuatu. "tidak, kita tidur disini malam ini. ada kabin untuk kita tidur, tempatnya bersih. kamu akan suka" kata Langit tersenyum.


Zivannya tertawa kecil "kamu bercanda kan kak, nggak lucu tau nggak" kata Zivannya beranjak dari tempatnya mengikuti Langit yang berjalan lebih dulu. Langit membuka kabin, Zivannya masuk dan melihat ruang tidur yang berbeda. Langit melepas sneakers, mendudukkan Zivannya dan melepas topi dan sneakers nya, memberi alas kaki rumah. "ayo, yang. kita nikmati malam diatas kapal lebih dulu mumpung kamu disini" naik turunkan alis Langit, Zivannya tertawa mengangguk mengikuti langkah Langit kembali. "mau kemana ndan" tanya seseorang. ke geladak mumpung punya gacoan" jawab Langit sambil lalu, pemuda itu tertawa mendengar Langit. "ikutan ndan" serunya mengikuti dari belakang. Langit melambaikan tangan nya pertanda terserah. "pada kemana" papasan seseorang. "mau ngobrol" katanya, mereka kembali mengikuti langkah Langit.


"lha kenapa kalian pada ngikut" pandang Langit, mereka saling menunjuk satu sama lain. Zivannya tertawa renyah. "ayo ah, kita duduk sambil menatap langit beneran. nggak hanya komandan Langit kalian aja yang dipandang" isyarat tangan Zivannya untuk mempersilahkan mereka duduk dimana aja yang penting nyaman. Langit menghela nafasnya panjang menatap kru kapal yang cengar-cengir. "ishhh.... kalian ini mengganggu saja" gerutu Langit duduk, Zivannya tertawa lebar. "asik rame-rame, kak. kayak di gunung. bedanya nggak ada api unggun dan dingin yang menusuk tulang" tepuk bahu Zivannya. Langit mendengus pelan. "minuman penghangat tubuh" letak koki didepan mereka. mereka mulai mengambil satu persatu minuman.


"kopi hitam" pandang Langit. Zivannya tersenyum menyodorkan coklat panas untuk Langit. Langit segera meminumnya. "makasih, yang. kita begini kalo ngumpul" senyum Langit.


"kenal komandan dimana mbak" tanya seseorang tiba-tiba, "namanya Mahesa" kata Langit. "Zivannya, biasa dipanggil Zi. kenal di Jogja saat melepas kepergian seseorang" jawab Zivannya cepat menatap Langit. "berarti komandan nikung dong" celutuk seseorang. "Sapta" jawab Langit. "tidak, karena dia datang setelah kepergiannya" geleng Zivannya. "apa begitu cepat melupakan seseorang itu" tanya Baskara. "tidak, butuh perjuangan yang tidak sebentar, bukan begitu kak" toleh Zivannya tersenyum, Langit tersenyum mengangguk.

__ADS_1


"siapa yang suka duluan" tanya seseorang. "Suprapto" kata Langit, "siapa kak" tanya balik Zhivannya menatap Langit. "aku... dengan penuh perjuangan, puas kau Suprapto" pandang Langit datar. mereka tertawa lebar. "padahal ndan Langit orangnya terkenal datar, lurus, lempeng. dikirain banyak orang masih lama dapet calonnya" celutuk Mahesa. "karena itu dia tertarik padaku, nggak neko-neko. nggak seperti kalian yang banyak gaya, nengok sana nengok sini" lipat tangan Langit didada. "lha dalam rangka mencari yang terbaik kan, Ndan. harus memilih" kata Sapta membela diri.


"yang benar tuh wanita yang memilih pria siapa yang mau memberinya segalanya" kata Mahesa, Zivannya tersenyum. "kekayaan bisa dicari bersama. tapi jika tidak ada rasa nyaman dan percaya satu sama lain apakah bisa terus sejalan" tanya Zivannya menatap Mahesa sesaat.


"perempuan juga tidak mau kalo hidup menderita bukan" kata Baskara. "tentu, ayah mana yang akan rela jika anak gadisnya diajak untuk hidup susah. jika ayahnya saja bisa memberikan kehidupan yang jauh lebih baik daripada hidup dengan laki-laki itu kenapa harus hidup dengan susah. bayangin aja jika kalian punya anak perempuan, apakah mau dan rela melepas anak kalian pergi dari kecil diberikan apapun oleh kalian, ayahnya. tapi setelah dewasa dibawa oleh laki-laki yang asing dan diajak hidup susah. apa kalian rela" tanya Zivannya melihat mereka, mereka terdiam.


"apa dengan hidup didalam sangkar emas, perempuan akan tidak terbang. justru semakin kuat keinginannya untuk melepaskan diri dari sangkar itu" jawab Zivannya lugas. "menyayangi seseorang maka dia juga harus siap ditinggalkan" senyum Zivannya pedih, Langit menatap Zivannya lekat. "seseorang tidak akan benar-benar mengerti arti kata mencintai jika tidak merasakan kehilangan begitu, bu komandan" tanya Mahesa lagi. Zivannya menggeleng. "kehilangan ego sebagai seorang laki-laki yang memilih dan memiliki seorang perempuan yang mau diajak hidup bersama. perempuan juga kehilangan kebebasannya untuk mengurus hidupnya seperti sebelum menikah, mengurus anak-anak nya, suaminya, orang tua suaminya, orang tuanya sendiri. masalah dengan para tetangga maupun sekitarnya. beban perempuan tidak sedikit, kehilangan sebagian besar waktunya untuk mengurus orang lain juga bukan perkara mudah" senyum Zivannya.


"kebaikan dan kelembutan seorang pria dibutuhkan perempuan saat dia melakukan semuanya. begitupun dengan laki-laki bukan, kebaikan dan kelembutan perempuan juga dibutuhkan laki-laki" jawab Zivannya. "kewarasan seorang perempuan akan sangat tergantung laki-laki yang menjaganya" kata Zivannya panjang. "aahhh.... kenapa jadi kayak psikiater yang menjelaskan kepada pasiennya gini" gumam Zivannya mengetuk keningnya pelan. Langit menahan tahan Zivannya. "mereka memang pasien mu, yang. karena butuh pencerahan" kata Langit, mereka mendengus pelan mendengar perkataan Langit. Zivannya tertawa lebar, "kayaknya mereka lebih jago kalo ketemu perempuan kak, dari pada kamu" naik turunkan alis Zivannya, Langit tersenyum menatap kekasihnya. "jago banget, sampai sering gonta-ganti kekasih, tapi hasilnya ditinggalkan juga" jawab Langit melirik rekan-rekannya.


"masuk yang, banyak serigala yang menunggumu" raih jemari Langit beranjak dari duduknya. mereka tertawa lebar mendengar candaan Langit. "nggak berani ndan, udah ada trademark nya" seru Mahesa. Langit berhenti seketika "emang kelihatan ya.... yang. kan aku buatnya didalam, kenapa mereka bisa tau kamu ada trademarknya" seru Langit sengaja mengeraskan suaranya agar teman-temannya mendengar dengan jelas seketika suara tawa dan cemoohan membahana diatas kapal yang tenang. mereka merasa tertohok dengan ucapan Langit barusan, Langit tertawa senang melihat mereka seperti cacing kepanasan.


"rasain tuh, kalo punya cewek sering pamer sih. begitu aku bilang gitu udah kelojotan aja" cengir Langit, mereka tertawa terbahak-bahak mendengar Langit. Zivannya malu mendengar candaan Langit dan teman-temannya bergegas masuk mendahului Langit, Langit tertawa lebar mengikuti Zivannya.

__ADS_1


"belok kanan, yang" kata Langit, Zivannya mengikuti arahan Langit. "kanan" kata Langit, Zivannya berbelok ke kanan. "pintu kedua" jawab Langit. Zivannya membuka pintu kedua dari tiga pintu yang ada. "malu kak" kata Zivannya, Langit tersenyum memeluk Zivannya erat. "mereka nggak akan kenapa-kenapa, yang. biasa saling meledek tapi tidak dimasukin hati" pandang Zivannya. "ishh... aku lho yang malu. cewek sendiri" kerucut bibir Zivannya. Langit tertawa. "kalo banyak cewek disini malah jadinya party, yang" kata Langit melepas pelukannya dan berbaring diranjang, Zivannya memandang Langit. "kak, aku tidur dimana" tanya Zivannya, Langit menatap kekasihnya lama. "disampingku yang, bentar lagi mau pagi. kita tidur seperti biasanya" kata Langit tersenyum. Zivannya menghela nafasnya panjang. berbaring disamping Langit, memejamkan matanya yang sudah sangat berat. Langit memeluk tubuh kekasihnya mengecup rambut belakangnya, "tidur kak" kata Zivannya. "aku sedang tidur ini" kata Langit menyusupkan tangannya kedalam t-shirt Zivannya dan menangkupkan tangannya dibenda kenyal candunya. Zivannya terdiam dan tak lama terlelap saking lelahnya. Langit menengok Zivannya dan tersenyum lebar melihat Zivannya yang sudah terlelap kemudian ikut tertidur dengan nyenyak.


pagi-pagi sekali, suasana sudah kembali berisik. Langit membangunkan Zivannya untuk melaksanakan kewajiban paginya. mereka segera keluar untuk menunaikan kewajibannya beberapa orang tampak sudah bersiap untuk melaksanakan kewajiban bergantian dengan yang lain. Langit memimpin kelompok pertama, Zivannya mengikuti Langit, setelah selesai Zivannya mencium punggung tangan Langit yang sudah melantunkan doa dan mengecup keningnya sesaat. "buatin coklat, yang" pandang Langit keluar dari tempat ibadah. Zivannya mengangguk dan mengikuti langkah Langit menuju pantry. Zivannya segera membuatkan segelas coklat panas untuk Langit. "aku akan membantu pekerjaan yang kemarin, yang. kamu bisa kemana aja didalam kapal atau mau keliling sekitar sini" tanya Langit. "kira-kira berapa lama kak" topang dagu Zivannya, "bisa seharian, setengah hari atau beberapa jam aja" kata Langit. Zivannya tersenyum, "baiklah. siapa yang akan menemaniku jalan-jalan" semangat Zivannya. Sapta, Mahesa, Baskara dan Suprapto menaikkan jari telunjuk mereka keatas saat melintas didekat mereka. Langit menatap mereka tajam, "kalian mau ikut jalan dan meninggalkanku mengurus hal ini sendiri begitu" tanya Langit, mereka buru-buru menghindar dari situ. "aku yang akan menemanimu Zi" datang seseorang, Zivannya menoleh dan tertawa lebar melihat bang Matahari yang sedang tersenyum melihatnya.


"aahhh... siap bang. kenapa nggak bilang kalo juga datang" tanya Zivannya mencium punggung tangan Matahari. "noh si Mahesa kampret yang nyuruh kesini, katanya ada berita besar kalo komandan Langit bawa calonnya, biar cepat selesai kerjaannya aku juga harus kesini" duduk Matahari, Mahesa membuatkan kopi hitam untuk Matahari. "kenapa kalian saling kenal, bang. sebelumnya selamat atas pengangkatannya bang, nggak sia-sia beberapa bulan kena latihan fisik dari komandan Langit" senyum lebar Mahesa. "aisshh.... keseringan jalan sama cewek nggak jelas sih, dia adek istriku" minum kopi Matahari. "serius bang, kenapa dulu nggak dikenalkan kepadaku sih bang, kenapa bisa komandan duluan. "isshhh... abang kenapa nggak kenalin kita semua dulu" kaget Mahesa, Langit mendengus pelan. "pertanyaanmu itu lho, banyak banget. hadepin dulu noh ayahnya dan kakak laki-laki nya. baru dapetin anaknya" pandang Matahari, Zivannya tersenyum tertahan. Mahesa nyengir "boleh ditikung nggak ndan" goda Mahesa, Langit menatap Mahesa lama. Mahesa tertawa lebar, "saingannya banyak lho" kata Matahari, Mahesa menatap Zivannya. "jelas lah bang, orang Zi aja imut gitu" celutuk Mahesa. "hmmmm.... rayuannya mulai lagi nih anak" pandang Langit, Zivannya tersenyum lebar "pingin digombalin dong" kata Zivannya, Matahari dan Mahesa tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Langit.


"kamu tau alasan kita selalu olahraga" tanya Matahari, Mahesa menggeleng. Baskara mendekat dan ikut bergabung. "karena nggak ketemu dia berbulan-bulan dan nggak dikasih kabar" minum kopi Matahari, Mahesa membulatkan matanya mendengar jawaban Matahari. "waahh... waahhh.... ndan, biar kita disiplin lebih, badan terjaga kesehatannya" lirik Mahesa. "lha benarkan, biar fisik kita selalu fit" pandang Langit. "iya sih ndan, tapi nggak setiap hari juga kali ndan" kata Mahesa melirik Langit. "kan kalian juga jadi tambah banyak penggemarnya ketika latihan selalu didatangi cewek-cewek minta kenalan" kata Matahari. "tapi kan yang paling banyak kalian berdua penggemarnya, udah tau punya pasangan. tapi ikut tebar pesona aja" kata Mahesa. matahari dan Langit tersedak mendengar perkataan Mahesa, "anak ini latihan fisiknya masih kurang banyak nih" pandang Langit, Matahari mengangguk mengiyakan.


"makasih loh kak Mahesa, kita juga udah tau kalo mereka begitu" senyum Zivannya, "aishh... Mahesa mulutnya lemes" pandang Langit, Mahesa nyengir. "tapi kita tipe setia hanya satu wanita, biarpun banyak yang memuja" senyum Matahari, Zivannya tertawa mengangguk. "kalo gitu, aku siap-siap dulu terus kita jalan, bang" pandang Zivannya, "nanti agak siangan, yang. aku ikut" pandang Langit. "lha kenapa malah pada pergi main sih, kan masih ada kendala" kata Baskara.


"kita selesain secepatnya habis itu kita jalan, om" kata Zivannya. mereka tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Zivannya, Baskara menghela nafasnya berat "umurku baru 32, Zi" pandang Baskara menopang dagunya. "beda 10 tahun berarti om, Zi tahun ini 22" jawab Zivannya nyengir tersenyum. Langit tertawa lepas mengelus rambut Zivannya, "kalo begitu om, mari kita kerja" senyum Langit menggoda Baskara. Baskara menyesap kopinya mengangguk. "baiklah keponakan, mari kita bekerja mencari uang untuk tantemu" kata Baskara beranjak dari duduknya. mereka tertawa lepas bersama, Zivannya menatap bingung kearah mereka berempat yang meninggalkannya begitu saja, memang kenapa kalo dia memanggil Baskara dengan panggilan itu, Zivannya menyesap coklat Langit tidak paham.


hai....hai....hai.... all readers terimakasih selalu mendukung karyaku. terimakasih banyak semuanya

__ADS_1


luv.... luv.... luv... U all readers sekebon pisang goreng. stay healthy all


__ADS_2