Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 141


__ADS_3

mereka berhenti dirumah dengan pekarangan luas dengan penentangan yang terang benderang, sekeliling rumah tampak asri dan rapi, Zivannya keluar dari mobil dengan Langit yang menunggunya, meraih jemari kekasihnya menggenggamnya erat memastikan Zivannya dalam keadaan baik-baik saja, "are you okay later, yang" jalan Langit memastikan Zhivannya sedang dalam keadaan sadar, Zivannya mengangguk pelan memegang erat tangan Langit mencengkeram nya kuat. "tarik nafas panjang.... keluarkan.... tarik.... keluarkan...." hadap Langit menatap Zhivannya yang melakukan apa yang dimintanya. Zivannya menatap mata Langit, "aku disini menemanimu, aku tidak akan meninggalkan mu, aku tidak mau melihatmu terpuruk lagi.... ingat.... hanya aku.... aku..." tangkup pipi Langit.


Zivannya memejamkan matanya sesaat mengangguk mengerti, Baskara yang tidak jauh dari mereka berdua hanya bisa mengamati keduanya yang sedang saling menguatkan, "apa Zi ada semacam trauma, ndan" tanya Baskara pelan saat mereka melangkah bersama, "ya, dia pernah kehilangan orang yang mencintainya sebelum aku, saat bertugas" angguk Langit menatap Baskara. Baskara mengangguk dan menghela nafasnya panjang. "semoga Zi baik-baik saja" pandang Baskara melihat Zivannya yang seperti menekan traumanya dengan tenang.


pemuda itu membawa mereka bertiga untuk menemui keluarga Suprapto yang sedang menunggu. pemuda itu membisikkan sesuatu kepada kedua orang tua Suprapto yang berada disisi kanan rumah. mereka segera berdiri dan menyambut Langit Zivannya dan Baskara dengan hormat, Baskara menjadi penyambung lidah maksud dan kedatangan mereka mewakili kesatuan tempat Suprapto berada, tak lama tampak beberapa orang tergesa-gesa memberi hormat kepada Langit setelah mengetahui kedatangan Langit segera.


Zivannya menatap semua teman-teman Langit yang malam itu terlihat lelah, letih dan kesedihan yang teramat sangat mereka rasakan akibat kehilangan salah seorang teman baiknya selama ini bersama. Zivannya memejamkan mata menetralisir perasaan seperti ditusuk ribuan jarum dihatinya. mereka bersama-sama kedua orang tua Suprapto mengobrol dan membicarakan runutan acara untuk keperistirahatan Suprapto yang terakhir besuk pagi dengan Zivannya yang terlihat lebih pendiam kali ini, mereka juga tidak berusaha untuk bercanda dengan Zivannya seperti saat mereka bertemu seperti biasanya, mereka tahu Zivannya juga pasti merasa kesedihan yang teramat dalam saat mengetahui Suprapto gugur saat bertugas.


beberapa orang dari keluarga Suprapto yang saat itu berada disana juga melihat dengan diam kelakuan Langit yang terlihat melindungi Zhivannya dengan tetap saling menautkan jemari tanpa terlepas dan satu-satunya perempuan diantara para abdi negara lainnya. mereka tidak tahu kenapa Langit harus selalu berada didekat Zivannya, mereka juga tidak mengerti dalam diam Zivannya merasakan ketakutan yang teramat sangat. Zivannya sedang berusaha untuk memberi ruang bagi dirinya sendiri menghadapi kehilangan orang yang ada hubungannya dengannya dengan penuh kesadaran untuk bangkit.


Baskara menanyakan dimana mereka menaruh barang-barang dan beristirahat, Sapta menunjuk rumah yang berada disebelah rumah orang tua Suprapto yang terlihat bersih dan rapi, yang mereka pakai untuk menginap malam ini, karena tidak ada penginapan didekat sana dan waktu untuk mengantar kepergian Suprapto yang akan dilaksanakan sebentar lagi maka mereka bertiga memutuskan juga beristirahat dirumah yang abdi negara lain tunjukkan.


Langit memakaikan Hoodie untuk Zivannya saat bersandar didinding seraya memejamkan mata sesaat. Zivannya terlihat lebih banyak diam dan selalu merapatkan tubuhnya dengan tubuh Langit, "jahe hangat mu habis, yang. minum kopi hitam ini" sodor Langit di mulut Zivannya, ia menyesapnya pelan. tidak ada yang bersuara karena mereka mencoba mengistirahatkan tubuh yang sudah sangat lelah selama perjalanan dan kesedihan yang mereka rasakan hingga membuat mereka larut dalam diam.


"yang, mandi disebelah sana" isyarat dagu Langit melihat beberapa perempuan yang meminta Zivannya agar mengikutinya. Zivannya menoleh dan mengangguk mengikuti langkah Langit yang tidak melepaskan tautan jemarinya sambil menenteng tas jinjing Zivannya, para perempuan yang melihat mereka selalu tersenyum melihat keromantisan yang diperlihatkan Langit dan Zivannya, Zivannya segera membersihkan dirinya dengan ditunggui oleh langit didepan pintu kamar mandi. setelah Zivannya selesai, Langit yang bergantian untuk membersihkan dirinya dengan ditunggu oleh Zivannya, beberapa orang sedang berbisik-bisik membicarakan Langit dan Zivannya, Zivannya tersenyum tipis melihat mereka yang sedang membicarakannya. apa yang mereka lihat tidak seperti apa yang dirasakan oleh Langit dan Zivannya, apa yang mereka pandang tidak seperti apa yang Zivannya dan Langit coba untuk hadapi. ponsel Zivannya berdering pelan, "hallo dek" lihat bunda, setelah Zivannya menerima panggilan video dari ponsel ayahnya, ia hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa suara.


"Langit dimana dek" pandang ayah lekat dilayar ponselnya menyadari perubahan sikap Zivannya yang sedang tidak baik-baik saja. "mandi, gantian dengan Zi, ini baru nunggu didepan kamar mandi milik saudaranya kak Suprapto, yah..." jawab Zivannya akhirnya, bunda menghela nafasnya panjang setelah mendengar suara Zivannya.

__ADS_1


"yang kuat dek" pandang ayah, Zivannya mengangguk. Langit keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang lebih segar. "pagi bund, Jenderal" salam Langit setelah mengetahui siapa yang menghubungi Zivannya pagi-pagi sekali. Langit meraih jemari Zivannya dan membawanya keluar dari rumah saudara Suprapto dengan tetap berhubungan dengan orangtua Zivannya dan membawa perlengkapannya.


"Zi, sedikit diam bund, tapi tidak menunjukkan hal-hal yang kita khawatirkan sebelumnya" jawab Langit mengerti kekhawatiran bunda dan ayah Zivannya.


"jagain adek ya... Lang, bunda tahu kamu pasti bisa menemaninya dengan baik saat ini" pandang bunda tersenyum melihat Zivannya yang terlihat lebih tenang saat menghadapi situasi seperti ini.


"maafin Zi, bund. belum bisa menyusul kesana" pandang Zivannya berkata tiba-tiba. "aahhh.... dek, jangan dipikirkan tentang hal ini, yang penting kamu baik-baik saja. kapan pun kita bisa kesini lagi diwaktu lainnya, ini kan diluar perkiraan kita malah bunda dan kak Mentari bersyukur kamu masih dirumah kemarin sehingga bisa mewakili kita untuk menjalin persaudaraan dengan keluarga Suprapto disana" geleng bunda melihat Zivannya yang mengangguk beberapa kali tanda mengerti.


"jaga kesehatan dek, kamu harus tahu batas limit badanmu dalam keadaan begini, lagian kemarin kamu masih demam karena kecapekan" ingatkan bunda. Zivannya kembali menganggukkan kepalanya.


"yang, aku akan memakai seragam dinasku dulu, kamu menunggu diluar atau mau masuk kedalam bersamaku" tangkup pipi Langit menatap Zhivannya lekat, "aku disini aja nanti gantian" geleng Zivannya. Langit mengangguk dan bergegas membereskan segala urusannya untuk kembali menemani Zivannya. Baskara mendekati Zivannya yang sedang sendiri berada disamping pintu kamar menunggu Langit.


"makan ini Zi, kamu akan merasa lebih baik" sodorkan permen kopi Baskara, Zivannya mengangguk dan memasukkan ke mulutnya, "apa kamu merasa lebih baik pagi ini" tanya Baskara pelan, Zivannya menghirup udara dengan pelan dan menganggukkan kepalanya. "sedikit pusing dan jantung berdetak kencang tapi sudah jauh lebih baik daripada kemarin" angguk Zivannya menatap Baskara. "aku mengerti, jangan sungkan untuk meminta bantuan atau mengatakan sesuatu kepadaku Zi, aku akan berusaha semampuku" senyum Baskara. Zivannya menyunggingkan senyum disudut bibirnya mengangguk. "kamu tahu Zi, terkadang kita lebih melihat dengan mata tidak disertai hati untuk melihat baik dan buruknya sesuatu terkadang kita juga merasakan dengan hati tapi tidak menggunakan akal pikiran untuk menimbang agar tidak berat sebelah" pandang Baskara. Zivannya tersenyum mengangguk mengerti maksud Baskara.


"kamu apakan istriku, Bas" buka pintu Langit saat melihat Baskara sedang berada didekat Zivannya, Baskara menatap Langit datar, Zivannya menepuk bahu Langit pelan. "dikasih permen kopi kak" perlihatkan lidah Zivannya yang sedang mengulum permen. "aishh... Zi. nggak usah memancingku untuk menelan permen dari mulutmu secara langsung" pandang Langit, Zivannya memutar bola matanya jengah masuk kedalam kamar untuk mengganti pakaiannya, "makasih Bas, dia sudah mulai normal kembali" senyum Langit menatap Baskara. "kamu yang malah bikin aku nggak normal ndan" gerutu Baskara. Langit mengendikkan bahunya tidak peduli. "makanya cari partner jangan main solo terus, nyari yang bisa megangin" jawab Langit datar. Baskara tertawa pelan. "kena deh aku" garuk-garuk kepala Baskara yang tidak gatal setelah dibalas Langit.


"Bas, teman-teman udah siap belum" tanya Langit memastikan semuanya. "mereka bergantian pada mandi dan mulai bersiap-siap ndan" isyarat dagu Baskara yang juga sedang merapikan pakaian dinasnya. Langit mengangguk menunggu Zivannya didepan pintu. "pak, ini minuman dan makanan kecilnya" datang beberapa perempuan muda yang membawakan sarapan untuk mereka, "terimakasih, tidak usah repot-repot seharusnya" angguk Mahesa, "tidak, sudah seharusnya kami menjamu tamu" senyumnya. Mahesa mengangguk dan kembali ke rutinitasnya memakai seragam dinas, "yang" ketuk Langit, Zivannya membuka pintu kamar pelan sudah berpakaian rapi dan terlihat lebih cantik. "aku mau mengambil sepatu, apa kamu mau ikut" tatap Langit, Zivannya mengangguk dan menyerahkan tas jinjing kecil ke Langit.

__ADS_1


"ada minuman yang diantar, ada kopi hitam" isyarat tangan Langit, Zivannya mengikuti arah pandangan Langit, "aku ingin air putih" geleng Zivannya. Langit meraih tas jinjing kecil didalam kamar, meraih jemari Zivannya dan melangkah keluar. "kak, jam berapa upacaranya, tanya Zivannya menatap Langit, "sekitar jam 10. ini baru jam 7 pagi" kata Langit. "kita belum melaksanakan kewajiban untuk Suprapto, yang" berhenti Zivannya, "setelah meletakkan tas kita akan melaksanakan kewajiban, yang" pandang Langit. Zivannya mengangguk meneruskan langkah menuju mobil, membuka lock. Zivannya meraih alat untuk melaksanakan kewajiban dan menyerahkan penutup kepala Langit, mereka segera kembali menuju rumah Suprapto yang sudah mulai penuh berdatangan orang-orang untuk memberi penghormatan terakhir kepadanya, mereka berdua segera mengambil air suci untuk melaksanakan kewajiban terakhir untuk Suprapto.


Langit menatap Zivannya yang terlihat selalu menatap tubuh Suprapto yang sudah terbungkus kain putih yang tidak dijahit, meneteskan air mata tanpa suara. Baskara menghampiri Langit seusai menunaikan kewajibannya, Zivannya segera melipat alat kewajibannya. apapun yang dilakukan Zivannya selalu diperhatikan orang-orang yang ada disekitarnya tanpa ia sadari, ia segera menuju mobil yang terparkir agak jauh dari rumah Suprapto. Zivannya masuk dan mengunci pintu, menyalakan musik untuk menangis sendirian selama beberapa saat, Langit mencari sosok kekasihnya yang sejak tadi tidak terlihat, dirinya sedikit disibukkan dengan acara penghormatan untuk Suprapto. rekan-rekannya sudah siap dari tadi dengan formasi yang sudah lengkap.


Langit menuju mobil, melihat Zivannya yang sedang memakai sneakers hitamnya, melihat mata Zivannya yang sudah agak membengkak. "udah nangisnya" usap-usap pipi Langit Zivannya mengangguk mengambil kacamata hitam yang ada didalam kotak. Langit segera memakai sepatu dinasnya untuk secara resmi menghadiri penghormatan terakhir Suprapto. Langit meraih jemari Zivannya dan dengan gagah menuju rumah Suprapto kembali. acara demi acara mereka lalui dengan tertib, Zivannya selalu berdiri disamping Langit dengan tangan yang selalu bertautan.


Baskara sesekali menanyakan apa yang dibutuhkan oleh mereka berdua, Zivannya hanya meminta permen kopi yang sama seperti tadi pagi. Baskara memberikan beberapa permen itu, tiba saatnya mereka melaksanakan kewajiban untuk membawa Suprapto menuju keperistirahatan terakhir nya, Langit memimpin teman-temannya, Zivannya menunggu dengan tenang disisi yang tidak mengganggu orang lain. beberapa perempuan melihat Langit yang tampak gagah dan tampan dengan seragam yang melekat sempurna ditubuhnya, Zivannya tidak peduli dengan tatapan memuja perempuan yang selalu melihat Langit, upacara kemiliteran sudah selesai dilakukan. Langit memberi isyarat Zivannya untuk mendekat kearahnya, Zivannya menggeleng merasa tidak enak dengan yang lain, Langit tersenyum mengangguk membuat beberapa orang menjadi salah tingkah dan merasa Langit memberi isyarat kepada mereka. Zivannya sedikit tersenyum dibalik kacamata coklat gelapnya menatap beberapa gadis yang terlihat ceria dan malu-malu mengartikan sikap Langit.


Langit segera menghampiri Zivannya yang duduk disamping kanan tempatnya berdiri, Langit kembali menautkan jemarinya membawa Zivannya kedekat teman-teman yang sedang menunggunya sembari menanti prosesi Suprapto. beberapa gadis melihat perlakuan Langit yang sangat spesial kepada Zivannya sedikit merasa sakit hati dan cemburu. Langit terlihat mengobrol dengan rekan-rekan nya, "kita akan ikut sampai akhir, yang" pandang Langit, Zivannya mengangguk meminum air mineral yang disodorkan Langit.


Zivannya menerima panggilan dari kakaknya Dirgantara, memperlihatkannya kepada Langit agar dia saja yang menjawab panggilan Dirgantara. Langit segera melakukannya, berbicara sebentar dengan Dirgantara sebelum menutupnya. "kak Dirgantara menanyakan apakah kamu baik-baik saja" pandang Langit, Zivannya mengangguk. Langit mengusap rambut Zivannya pelan melihat Zivannya yang tenang. beberapa penata tua ditempat tinggal Suprapto memberikan ucapan selamat tinggal untuk penghormatan terakhir Suprapto, sesekali Langit membisikkan kalimat ditelinga Zivannya yang segera menganggukkan kepalanya mengerti, mereka bergerak menuju tempat peristirahatan terakhir Suprapto tepat di jam 10.15 pagi waktu setempat, keluarga dan kerabat mengantarkan kepergian Suprapto untuk menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Langit berjalan bersama Zivannya yang berada dibarisan kiri belakang keluarga Suprapto.


hai... hai.... hai..... all readers, terimakasih banyak telah berkunjung ke karyaku. terimakasih atas dukungannya terhadap karyaku.


luv..... luv... luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.


stay healthy all

__ADS_1


__ADS_2