
selama hampir seminggu Zivannya tidak mendengar kabar dari Langit, kesibukan Langit yang memang menyita waktu tidak membuat Zivannya sedih atau kenapa-kenapa. kesibukannya membantu Matahari dan Mentari yang akan pindah tugas membuat keluarga Triastomo lebih sibuk dari biasanya. beberapa box berisi pakaian kedua kakaknya sudah tersusun dengan rapi digarasi untuk dibawa dengan ekspedisi. ''udah semua kak" seka peluh Zivannya yang membanjiri kening dan badannya.
Mentari mengangguk menghitung kembali semua box yang akan dibawa pergi. Zivannya memberi label untuk setiap box yang dipacking dari empat hari lalu. "kak" kata Zivannya menyerahkan list box yang akan dibawa kurir. Mentari menyeka peluhnya dan mengecek kembali bersama Zivannya "Ok dek" senyum Mentari menatap Zivannya. mbok dan Marni datang membawa minuman segar, bunda dan ayah ada keperluan diluar untuk mempersiapkan acara Zivannya tanpa sepengetahuannya dan Mentari punya kesempatan untuk membuat sibuk Zivannya tanpa banyak protes.
"makasih mbok" senyum Zivannya duduk sambil meraih minuman dingin yang dibawa mbok. "siapa itu kak" lihat Zivannya kearah mobil truk membawa peralatan pesta. Mentari menoleh dan mengangkat bahu. "mungkin bunda akan mengadakan syukuran kakak pindah tugas" pandang Mentari, mereka mendekat untuk melihat lebih jelas, Marni menghampiri mereka dan memberi arahan sesuai instruksi bunda. "kenapa kita nggak diberitahu kak" tatap Zivannya heran.
"mungkin bunda baru kepikiran atau kalo nggak liat kita dari empat hari ini fokus di pindahan jadi nggak tega buat ngganggu dek" kata Mentari, Zivannya mengangguk melihat pekerja yang segera memasang penghalau teriknya sinar matahari yang cantik. "bunda kemana" tanya Zivannya. "keluar sama bapak, non dek" jawab Marni segera pergi dari situ. Zivannya mengeryit heran melangkah masuk kedalam rumah untuk membersihkan dirinya yang sudah sangat lengket.
"dek" panggil Mentari, "apa kak" berhenti Zivannya. "kedepan bentar yuk, beli ice cream" cengir Mentari. "ini udah petang kak, kita belum mandi. lengket nih" pandang Zivannya. "sebentar doang, dek" rengek Mentari, Zivannya menghela nafasnya mengangguk. masuk ke garasi mengambil motor, "ayo kak" isyarat dagu Zivannya, mentari tersenyum naik dibelakang Zivannya. "udah bawa duit belum dek" tanya Mentari, "nggak kak" geleng Zivannya pelan, Mentari menepuk bahu Zivannya segera turun dan masuk rumah untuk mengambil uang. Zivannya tersenyum dan menjalankan motornya keluar dari kompleks menuju depan.
"makan disini aja dek, biar sambil cuci mata" kata Mentari, Zivannya memesan coklat panas ke kasir. nggak jadi ice cream dek" pandang Mentari meletakkan pesanannya di meja kasir. "kakak aja, pesen sosis jumbo kak" cengir Zivannya menatap Mentari, "hadewh... dah kayak Raka dan Riki aja, pajaknya banyak bener" pesan sosis Mentari. Zivannya tersenyum lebar, "makasih kak" kata Zivannya menuju meja didepan toko.
"ngapain disini" datang seseorang. Zivannya menoleh dan tersenyum melihat abangnya yang sudah pulang dinas. "cuci mata sama kakak" jawab Zivannya, Matahari segera duduk didepan Zivannya. "eh, yang. udah pulang" lihat Mentari meletakkan pesanannya di meja dan mencium punggung tangan suaminya. "udah, mau belok kerumah. liat adek duduk sendirian disini. aku kira ngapain ternyata sama kamu, yang" senyum Matahari.
Zivannya menyesap coklat panasnya dan segera menggigit sosis jumbo yang dibeli Mentari. "beli lagi, yang" ambil sosis Matahari dan segera menggigitnya. "beliin sana" kata Mentari menyodorkan uang sisa membayar tadi. "capek packing box tadi ama adek" Rajuk Mentari, Matahari menghela nafasnya dan menyodorkan sosis kemulut istrinya. Mentari tersenyum lebar menggigit sosis sambil melihat Matahari yang berjalan masuk ke dalam toko.
"berangkat kapan kak" tanya Zivannya mengunyah sosisnya. "tiga hari lagi dek, mau ikut kagak" pandang Mentari. "mau banget kak, banget.... banget...." angguk-angguk Zivannya, Mentari mengangguk. "ngomong ama Langit dulu berarti" kata Mentari, "berat kak, pasti kebanyakan alasan" kata Zivannya lesu. "siapa tau kalo dengan alasan ayah dan bunda kamu boleh ikut" kata Mentari, Zivannya menegakkan duduknya tersenyum. "aahh iya... sampai lupa, kan ada alasan itu ya, nggak mungkin di larang" sumringah Zivannya, Mentari tersenyum.
"ngapain kalian senyum-senyum" datang Matahari membawa tiga sosis jumbo. "banyak amat, bang" pandang Zivannya. "kan kita bertiga, siapa tau ada yang mau nambah" kata Matahari, Zivannya tertawa kecil. "aku, bang. karena kelaparan" angkat tangan Zivannya. "kamu mah makan banyak tapi nggak ada dagingnya" pandang Mentari, Zivannya tersenyum mengangguk mengunyah dengan cepat sosisnya yang tinggal sedikit. Matahari tersenyum melihat tingkah Zivannya seperti anak kecil. "Langit ada menghubungimu tidak" tanya Matahari, "nggak, bang. lagi sibuk katanya. terakhir ketemu pas sidang kemarin dia memang bilang akan sibuk jadi nggak bisa sering-sering menghubungiku dulu" geleng Zivannya, Matahari mengangguk.
"dia baik-baik aja kan, bang. ponselnya sering tidak aktif" makan Zivannya, "baik, aku juga jarang ngobrol, jarang melihatnya" jawab Matahari, Zivannya mengangguk mengerti. "nggak usah sedih dek, nanti kita hangout bertiga" senyum-senyum Mentari, "cus" tawa Zivannya bersemangat. Matahari hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua perempuan itu. "emang aku mau ikut" tanya Matahari menatap mereka. "waahhh... lebih asyik nih dek, kita jalan berdua aja berarti" kata Mentari lebih bersemangat.
"terusin, yang" pandang Matahari menatap istrinya nyengir menggaruk keningnya yang tidak gatal. "kan tadi ayang bilang nggak ikut. jadi cuman tinggal kita berdua aja, lebih asyik kan" naik turunkan alis mata Mentari. Zivannya tertawa ditahan melihat ekspresi Matahari yang tidak suka. "ayah ngikut nggak ya kira-kira" kata Zivannya mencoba mengalihkan perhatian keduanya. "nggak mungkin, ayah pasti kecapekan soalnya besuk kan ada acara" kata Mentari keceplosan. "oh.... iya ya... acara syukuran nya abang pindah tugas kan. biar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan disana nantinya" ingat Zivannya, Mentari mengangguk cepat menatap Matahari yang diam saja.
__ADS_1
"ayo, ah cepetan makannya kita bisa keluar cepat nanti" kata Mentari, Zivannya menghabiskan sosis keduanya dengan cepat. "pelan-pelan aja, nggak usah buru-buru, kalo bisa nggak usah keluar. tidur aja" pandang Matahari, Zivannya menepuk-nepuk dadanya karena tersedak. "kebiasaan" pukul-pukul Mentari dipunggung Zivannya. "makasih kak" angguk Zivannya segera meminum coklatnya hingga habis. "aku pulang sendiri nih" naik motor Zivannya. "kita di belakangmu dek" pandang Matahari memakai helmetnya.
Zivannya melajukan motornya pelan menyeberang ke arah kompleks perumahan, sampai rumah langsung memarkirkan motor ke garasi, "wow... mewah banget kak" lihat Zivannya sekilas masuk kedalam rumah cepat, Matahari menatap istrinya sesaat sambil melihat dekorasi yang sedang dikerjakan. "jadi inget saat kita berjanji dulu, yang" peluk Matahari, "he eem... nggak terasa sudah tiga tahun lebih" tatap Mentari sendu. Matahari mengecupi rambut istrinya "tapi kita nggak ketemu selama dua tahun lebih yang, jadi serasa masih pengantin baru aja kan" goda Matahari, Mentari tersenyum lebar mengecup pipi suaminya lembut. "let's see malam nanti, yang" bisik Mentari manja menjauh dari Matahari untuk masuk kerumah, "aaahhhh.... yang.... sekarang aja. jadi kepingin kan... ayo... ready sampai malam nih" senyum Matahari mengerti maksud istrinya. "yang...." seru Matahari, Mentari melambaikan tangannya untuk bersabar.
Zivannya membersihkan dirinya lebih lama, untungnya dua hari kemarin Mentari mengajaknya untuk spa sebelum dirinya berangkat nanti. disela-sela packing mereka sering hangout berdua menghabiskan waktu agar tidak bosan dirumah. Zivannya merebahkan tubuh dan melihat ponselnya "ya kak" lihat layar Zivannya ketika tidak sengaja melihat caller id yang memanggilnya.
"baru ngapain, yang" senyum Langit terlihat letih.
"are U ok kak, terlihat capek banget" tanya Zivannya melihat paras Langit.
"hmmm... sedikit karena ada pelatihan di dinas jadi harus bekerja lebih keras" senyum Langit, Zivannya tersenyum.
"kamu belum menjawab pertanyaan ku, yang... baru ngapain" tanya Langit ulang. "tidur" jawab Zivannya pendek.
"sama siapa, ini baru jam berapa" kerut Langit. "sendiri. mau sama siapa, abis bantuin kak Mentari packing barang dari empat hari yang lalu. ini hari terakhir dia packing baru selesai udah dikirim lewat ekspedisi. katanya mau ngajak keluar, tapi kayaknya badanku ngajak tidur aja" pejam mata Zivannya. "tidur aja, yang. nggak usah keluar biar terlihat cantik" senyum Langit, Zivannya menggeleng. "percuma cantik-cantik kalo lagi ngobrol sama laki-laki lain udah segitu posesifnya, gimana kalo aku main mata dengan laki-laki lain" pandang Zivannya. Langit memandang Zivannya lekat. "itu berarti aku hanya ingin kamu melihatku" jawab Langit. "aku sudah melihatmu kak, setiap saat aku melihatmu" kata Zivannya membuka matanya lebar, Langit tertawa lebar. "luv U more baby" lihat Langit. Zivannya memejamkan matanya.
"kalian mau kemana" tanya ayah berhenti ketika melihat anak-anaknya sedang bersiap-siap. Zivannya meminum air putih nya. "tidak boleh pulang lebih dari jam 1" kata bunda berhenti melihat mereka sebelum masuk ke kamar, Matahari tersenyum memberi tanda Ok dengan jemarinya. "ayah ikut yaa..." pandang ayah menyuruh mereka menunggu sebentar, "baik, jenderal" angguk Matahari mengangguk. "kelamaan yah, ini udah jam 8" lihat jam Mentari. "tunggu bentar kak" senyum ayah masuk ke dalam kamar. "kalian mau kemana" tanya Langit, Matahari melongokkan kepalanya ke arah ponsel Zivannya. "mau tau aja" goda Matahari, "bang" panggil Langit. "belum tau Lang, ikutan mereka berdua. orang yang punya rencana mereka, aku nggak ngebolehin mereka sendiri" geleng Matahari menatap Langit. Langit mendengus kecil.
"iket Zivannya di pohon mangga depan rumah aja biar nggak kemana-mana" kata Langit datar. "udah ada peneduh sinar matahari yang dipasang tadi sore, jadi nggak ada ruang kosong. kalo berani ngomong sendiri aja sama orangnya" serahkan Matahari ke Zivannya. "apa" pandang Zivannya, Langit tersenyum menggeleng. "ati-ati, yang. jangan sampai kenapa-kenapa" tatap Langit. "iya" angguk Zivannya keluar rumah start engine motor yang mau dibawanya. "dek, kamu sama ayah lho" ingatkan Mentari, "berarti pake motor kak Aga" toleh Zivannya. Mentari mengangguk, Zivannya mematikan mesin motor dan beralih ke motor klasik.
Langit melihat Zivannya yang segera menyalakan kembali mesin motor, mengecek semua bagian motor, mengeluarkannya dari garasi, menaruh ponselnya ditempat ponsel diantara stang motor. ayah keluar dengan gagah. "dibolehin bunda, yah" senyum Matahari memakaikan Mentari helmetnya. ayah memberi isyarat dengan jemarinya. "asal adek yang bawa katanya" kata ayah. Zivannya tertawa lebar menyerahkan helmet ayah, memakai helmetnya sendiri dan mulai menaiki motor klasik yang dulu biasa dipakai berdua dengan Aga. ayah naik dibelakang Zivannya, Matahari memberi tanda siap dengan jemarinya untuk Zivannya memulai riding malamnya.
"tetap terhubung kak, aku jalan dulu" buka visor helmet Zivannya, Langit memberi tanda Ok menuruti Zivannya. "lumayan, yah" seru Zhivannya, ayah mengangguk. mereka melalui jalan yang tidak banyak kendaraan melaju, 2 jam mereka melajukan motor melewati daerah yang semakin jauh dari rumah. "minum dulu dek, istirahat bentar. pantat ayah ingin berdiri" tepuk ayah menunjuk sebuah tempat nongkrong anak muda, Zivannya mengangguk dan menuju kedai yang banyak terdapat motor yang juga sedang menepi.
__ADS_1
Zivannya meraih ponselnya dan melihat Langit yang sedang menantinya, Zivannya melambaikan tangan dan duduk disamping ayahnya.
"pesen apa dek" perlihatkan menu ayah, "black coffe" lihat sekilas menu Zivannya. "double" angguk ayah. Mentari memesan minuman yang lain untuk Matahari dan dirinya. "lha, Langit dari tadi ngikutin kita" lihat ayah, Zivannya mengangguk, "malam, jenderal" senyum Langit. "ishh... anak ini" pandang ayah tak percaya. "kak, udahan dulu, ada panggilan dari bunda" lihat Zivannya. "ati-ati, yang" angguk Langit mematikan sambungan ponselnya.
"ya, bund" lihat Zivannya.
"kakak pulang" lihat Dirgantara.
"ngapain pulang" lihat ayah, Dirgantara nyengir.
"kalo tau gitu tadi janjian riding, yah" kata dirgantara.
"siapa suruh pulang malam" kata ayah.
"siap, yah. masih ada urusan tadi" senyum Dirgantara.
"kita pulang dua jam an lagi kira-kira" kata ayah.
"kita baru aja minum kopi, kak. istirahat bentar nanti langsung pulang" kata Zivannya.
"Ok" matikan sambungan Dirgantara. Zivannya tersenyum lebar melihat keluarganya ngumpul malam ini, sambil menyeruput kopi dan melihat sekitarnya membuat Zivannya merasa damai, mereka ngobrol hingga habis kopi dan beberapa makanan ringan, beranjak pulang untuk kembali berkumpul dengan Dirgantara yang lama tidak mereka temui.
hai.... hai.... hai..... all readers, terima kasih telah berkunjung ke karyaku. terimakasih banyak atas dukungannya.
__ADS_1
luv...luv....luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.
stay healthy all