
"duduk disini sebentar, jangan kemana-mana" pandang Langit meletakkan tas ranselnya dan koper Zivannya, Zivannya menahan tangan Langit tiba-tiba.
"mau kemana" tanya Zivannya. "mau kewajiban dulu, yang. ini sudah waktunya" kata Langit tersenyum. "ikut" pandang Zivannya, Langit mengangguk dan menarik koper dan ranselnya kembali. Zivannya berdiri melihat sekeliling untuk mencari tempat menunaikan kewajiban siangnya, Langit menggenggam jemari Zivannya dan menunjuk dengan dagunya tempat ibadah. Zivannya mengangguk dan mengikuti langkah Langit yang lebar. mereka segera melaksanakan kewajiban. Langit menyodorkan tangannya, Zivannya mencium telapak tangan Langit. Langit melafalkan doa dan mencium kening Zivannya pelan.
"tumben nggak pake sneakers" tanya Langit melihat sepatu Zivannya, "kak mentari nggak ngebolehin, ini sepatu aku biasa naik gunung kak, nyaman aja" kata Zivannya selesai membuat simpul tali sepatu. Langit mengelus pipi Zivannya. "ini masih jam 1an yang, mau makan dulu nggak" jalan Langit, Zivannya menoleh menatap Langit, Langit tersenyum dan meraih jemari Zivannya.
"roti aja kak, sambil nunggu" kata Zivannya melihat merchant roti ternama. Langit berjalan menuju kesana, membukakan pintu untuk Zivannya "mari kak. silahkan, mau pilih yang mana" sapa penjaga. "mau apa, yang" kata Langit melihat beberapa piece roti, Zivannya menunjuk beberapa roti kecil. para penjaga yang melihat sikap lembut Langit kepada Zivannya tersenyum malu-malu melihat mereka berdua. "ada lagi yang mau dibeli, sekalian" tanya penjaga yang melayani mereka, Langit menoleh menatap Zivannya yang menggeleng. "udah itu aja mbak" senyum Zivannya. "mau minuman coklat panasnya sekalian" tawarnya, Langit mengangguk. Zivannya memesan satu dan air mineral. Langit menyerahkan dompetnya kepada Zivannya. "ada kak" kata Zivannya, Langit menggeleng. Zivannya menerimanya dan membayar pesanan mereka, saat membuka dompet Langit ia menatap gambar dirinya yang sedang wisuda didalam dompet. diambil secara diam-diam saat sedang tersenyum tanpa sadar. Zivannya menghela nafasnya panjang, mengambil pesanan mereka, tersenyum mengucapkan terimakasih.
"kak, boleh ngambil gambar dengan kakak tentara nya nggak" tanya salah satu penjaga setelah selesai melayani Zivannya. Zivannya menunjuk Langit yang berada diluar. mereka menganggukkan kepala. Zivannya tersenyum dan mengangguk melangkah keluar untuk menemui langit yang berada diluar. Langit menunggu diluar melakukan panggilan dengan ponselnya, melihat kearah Zhivannya yang mendekatinya. Zivannya menunggu hingga Langit selesai melakukan panggilan diponselnya. "kenapa" tutup ponsel Langit, Zivannya menunjuk para penjaga yang ada didalam ingin mengambil gambar bersama Langit yang segera membulatkan matanya tidak percaya, Zivannya tertawa pelan dan mendorong Langit untuk masuk. "yang" kata Langit keberatan. Zivannya membuka pintu dan meminta Langit untuk masuk kembali. Langit tersenyum menatap mereka dan melakukan pengambilan moments bersama mereka, ia menatap Zivannya berjalan menuju ruang tunggu yang dekat dengan keberangkatan mereka nanti dan mengikuti perlahan.
Zivannya meletakkan coklat panas disampingnya, Langit duduk disampingnya, Zivannya menyodorkan coklat panas, ia segera mengambilnya dan meminumnya pelan. seorang anak kecil berjalan tertatih mendekati mereka, menatap Langit dengan bola matanya yang lucu, Langit meraih tangannya yang mungil, anak kecil itu mengusap pakaian dinas yang dikenakan Langit. Langit tersenyum dan mengangkatnya untuk duduk dipangkuannya, Zhivannya tersenyum mengusap pipinya yang gembul, menyodorkan roti dengan warna toping yang menarik dimatanya. bocah itu mengambil roti dan mengusap baju Langit, setelah agak lama dia merengek turun. Langit segera menurunkan bocah itu yang segera berlari lucu menuju kedua orangtuanya yang berada diseberang mereka, Zivannya melambaikan tangannya tersenyum lebar melihat ekspresi lucu bocah kecil itu. Langit menyodorkan coklat panasnya kemulut Zivannya agar Zivannya meminumnya.
"lucu banget" toleh Zivannya, Langit mengangguk. Zivannya segera meminum coklat panas Langit. "kayaknya delay deh kak" hembus nafas Zivannya. "kayaknya iya" pandang Langit melihat pengumuman yang ada tidak jauh diatas mereka. Zivannya menghembuskan nafas dan sedikit menurunkan badannya untuk menyandarkan kepalanya kebelakang. "duduk yang bener Zi" pandang Langit.
"udah kak, duduk bener nih, capek mau nyandar" kata Zivannya. Langit meraih kepala Zivannya dan menaruhnya dibahunya. "kebiasaan" kata Langit, Zivannya berdehem memejamkan matanya, "kamu tidur jam berapa Zi" tanya Langit, "jam 2" jawab Zivannya datar. "lha kenapa malem banget" senyum Langit, "diajak begadang seseorang" jawab Zivannya kesal. Langit meraih jemari Zivannya dan mengecupnya pelan. "kan bisa kamu matiin ponselmu jadi nggak begadang" kata Langit. "Ok" jawab Zivannya cepat. "selain aku yang menghubungimu tengah malam, jangan diangkat" kata Langit. Zivannya menghela nafasnya berat mengangkat kepalanya dan menjauh dari Langit. Langit tertawa menarik tubuh Zivannya agar mendekat dan bersandar kembali kepadanya. "jangan dimatiin ponselnya, agar aku bisa melihatmu dan mendengar suaramu" kata Langit. "hmmmm" gumam Zivannya.
"mana ponselmu, yang" tanya Langit. Zivannya menyerahkannya kepada Langit yang segera mengecek beberapa aplikasi. Langit melihat media sosial Zhivannya dan melihat circle Zivannya, mengabadikan moments saat ini bersama, mengganti wallpaper dengan moments mereka berdua. Zivannya tertidur beberapa saat. "masih lama" kucek mata Zivannya. "kamu tidur baru 40 menit" lihat ponsel Langit, Zivannya memijit kepalanya, "kenapa" toleh Langit memegang kepala Zivannya, aku sedikit pusing kak" kata Zivannya. Langit segera menyentuh leher Zivannya dan memijatnya pelan agar lebih nyaman. Zivannya memejamkan matanya. "udah enakan kak" angguk Zivannya, Langit langsung melepaskan tangannya.
__ADS_1
"kak, kalo mau ke kesatuan nggak papa. Zi sendiri aja, biasanya juga sendiri" kata Zivannya. "kenapa memangnya, nggak boleh" toleh Langit. "nggak" geleng Zivannya, Langit menyentil kening Zivannya pelan. "ishhh...kebiasaan, kalo nggak ngacak-ngacak rambut pasti dahi yang kena sasaran" kerucut mulut Zivannya. "jika yang lain takut kamu marah, ngamuk trus ngilang" pandang Langit menatap bawah tubuh Zivannya, Zivannya memukul bahu Langit pelan tahu arah pandangan Langit, "tumben hari ini bandara sedikit sepi" lihat Zivannya kesekeliling. "hari Kamis kan, besuk siang mungkin udah tambah ramai, weekend" jawab Langit. "kak dompetmu, lupa ngembaliin" raih kantong belakang Zivannya. Langit menggeleng. "bawa aja dulu" geleng Langit, Zivannya menaruh kembali kedalam kantong belakang Jeansnya. ponsel Zivannya berdering.
"hallo da" salam Zivannya, Langit berdehem pelan mendengar nama Yuda dipanggil oleh Zivannya. Zivannya tersenyum menepuk-nepuk punggung tangan Langit yang tersenyum lebar melihat perlakuan Zivannya.
"belum, masih dibandara. harusnya berangkat jam 2 siang. tertunda, nunggu lah bro. katanya sih satu jam. ini udah jam 2.45" lihat jam Zivannya.
"nggak, ketemu Dimas nanti sama yang lain disana. udah book penginapan juga, ke perusahaannya sabtu pagi. hanya absen sebentar trus dikasih penjelasan, Senin paginya berangkat ketempat pembangunan" angguk Zivannya menjawab detail.
"he em, Ok, see U in three months " senyum Zivannya.
"janjian ketemu kalo udah pulang" tanya Langit, Zivannya menggeleng. "hanya saling menjaga" kata Zhivannya. Langit memutar bola matanya jengah. Zhivannya mendengar gerombolan anak muda yang akan berangkat bersama-sama, saking serunya mereka ngobrol dan bercanda. Langit menutup kedua telinga Zhivannya. seorang dari mereka menoleh dan mengamati keduanya. gadis itu segera mendekat, "kak Langit kan, kenapa disini" kerutnya heran. Langit mengerutkan dahinya sesaat merasa tidak mengenal gadis itu.
"aku Sinta, kemarin datang pas diacara kesatuan, bersama teman-teman" senyum Sinta. Langit mengangguk ingat. "oh hai, apa kabar" kata Langit datar. "mau kemana kak, kok ada disini" tanya Sinta duduk disamping Langit, Zivannya melepaskan kedua tangan Langit dari kedua telinganya. "ada keperluan penting. kamu mau kemana" tanya Langit menatap Zivannya. Santi mengerutkan keningnya sesaat, "aku akan berlibur bersama teman-teman kampus, kami akan ke Bali" jawab Santi, Langit manggut-manggut dan terdiam.
"kenapa kemarin kak Langit tidak tampak diakhir acara" kata Santi. "ahh... aku bertemu dengan istri ku, karena enam bulan kami tidak saling bertemu" kata Langit tersenyum menatap Zivannya. Zivannya tersedak dan segera meminum air mineral. "kakak sudah punya istri" kata Santi terkejut. Langit mengangguk. "kenapa yang lainnya bilang kak Langit belum mempunyai pasangan, mereka juga tidak pernah melihat gadis yang bersama kak Langit sebelumnya" kata Santi. "aku tidak suka membicarakan kehjdupan pribadiku pada orang yang tidak aku kenal" jawab Langit tegas. Santi menatap Langit tidak percaya, dia melirik Zivannya yang berada disamping Langit yang hanya diam dan memainkan ponselnya, tanpa mau mencampuri urusan mereka berdua. terdengar pengumuman pesawatnya sudah siap. "ahhh.. itu pesawatku kak. akhirnya..." Hela nafas Zivannya merasa tidak enak mengganggu mereka dan setelah bosan menunggu. Zhivannya segera beranjak dari duduknya. "kak berangkat dulu. terimakasih sudah mengantarkan" senyum Zhivannya meraih koper kecilnya dan melangkah meninggalkan mereka berdua, Langit meraih jemari Zivannya, "maaf, kami harus berangkat. lain waktu kita ngobrol lagi" berdiri Langit dan menunduk sopan. Santi hanya memandang kepergian mereka berdua. Langit merengkuh bahu Zivannya agar merapat kepadanya, mengambil alih koper Zivannya ketangannya.
"jika ada gadis lain yang mendekatiku, jangan coba-coba lari menjauh, yang" pandang Langit. Zivannya nyengir menjauhkan wajah Langit darinya. "barisan para mantan dan pemuja sudah unjuk gigi nih. cukup hanya melihat dan tersenyum aja. kagak ikutan" geleng Zivannya. Langit mengacak rambut Zivannya. "Langit" kesal Zivannya menjauh dan berlari . Langit tersenyum, berjalan lebih cepat mengejar Zivannya. memberikan koper Zivannya ke petugas dan tetap memakai ranselnya, menunjukkan tiket dan masuk kedalam lorong menuju pesawat menyusul Zivannya.
__ADS_1
"eh... kak. kenapa masuk juga" kaget Zivannya. Langit menunjukkan tiket pesawat yang sama dengan Zivannya. Zivannya mendengus pelan, "kenapa nggak bilang" pandang Zivannya.
"jika aku bilang, maka kamu akan mencari seribu alasan untuk menghindar dariku dan itu akan membuatku tambah tersiksa. jadi mending senyap daripada banyak omong" masuk pesawat Langit dan menempati tempat duduknya. Zivannya mengikuti langkah Langit yang lebih dulu masuk.
"kenapa bisa bersebelahan juga" pandang Zivannya melewati Langit dan duduk didekat jendela. Langit memasangkan safety belt Zivannya.
"tau gitu aku bawa banyak barang" pejam mata Zivannya.
"yang, kenapa hari ini kamu tidur terus" kata Langit. "aku mau dapat periode bulanan kak, jika itu terjadi aku akan sering tidur dan dihari pertama tidak bisa bangun. it's just heal the body untuk alarm tubuhku agar berhenti melakukan seluruh aktivitas" kata Zivannya pelan. "apa kamu selalu kesakitan saat itu terjadi" usap perut Langit. "kurang lebih. itu wajar bagi perempuan menurutku, ada yang lebih ekstrim sampai kesakitan yang teramat sangat" pejam mata Zivannya tertidur. Langit melihat Zivannya yang telah lelap. dua jam lebih perjalanan, Zivannya bangun setelah Langit membangunkannya sesaat akan mendarat. Langit mengulurkan air mineral, segera Zivannya habiskan.
"dimana penginapan kalian" tanya Langit keluar dari bandara. Zivannya menyebutkan nama. Langit masuk kedalam taksi dan meminta pengemudi untuk membawa mereka ke penginapan xx.
hai....hai....hai.... all readers, dukung terus karyaku, biar selalu update...
terimakasih sebelumnya.
luv....luv...luv... U all readers sejati... terimakasih banyak atas dukungannya.
__ADS_1