
makanan yang mereka pesan sudah tiba, dengan tenang mereka memakan semua makanan di atas meja tanpa ada yang berbicara, setelah selesai makan Zivannya membayar makanan yang mereka pesan, memberi isyarat ke Yuda untuk pamit, Yuda mengangguk mengerti.
"kita mau beli apa lagi" tanya Zivannya, memundurkan mobil dan berjalan meninggalkan rumah makan tersebut.
"itu kak mentari kan" lihat Zivannya segera menepikan mobil.
"kenapa kak" keluar Aga menemui mentari kakaknya yang terlihat sendirian di meja depan cafe.
"nunggu bang matahari bertemu dengan temannya" kata mentari, Aga mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat yang nyaman untuk anak muda menghabiskan waktu bersama dengan teman-teman, dia melihat matahari sedang mengobrol dengan seseorang.
Aga memberi isyarat untuk Zivannya dan yang lain turun. Zivannya, Dimas dan Rara berjalan menuju tempat Aga dan mentari duduk dan mengobrol.
"pesen apa dek" sodor Mentari melihat mereka.
"abis selesai makan dimsum kak, kekenyangan ... nanti kalo laper Zi pesan" geleng Zivannya, mentari tersenyum.
"udah lama bang matahari ngobrolnya kak" tanya Rara. mentari mengangguk, "sekitar sejam" jawab mentari.
"mau ikut pulang kerumah Zivannya, biar bang matahari kelabakan" senyum Aga usil, mentari menggeleng,
"aku lagi bucin sama dia, lama nggak ketemu" geleng Mentari, Aga menghela nafas panjang.
"bang" duduk Aga dikursi kosong dekat dengan matahari dan temannya.
"hei, ini adik iparku Aga, ini temenku sekolah dulu" kenalkan Matahari, Aga mengangguk dan menyalami teman matahari.
"sama siapa" tanya matahari Aga memberi isyarat dengan dagunya menunjuk tempat duduk mentari.
"aku tidak sengaja ketemu temanku, kami ngobrol sebentar" senyum Matahari, Aga mengangguk. tak lama teman matahari pamit, mereka berdua segera bergabung dengan mentari dan yang lain.
"tadi aku menawari kak mentari untuk kerumah Zi, biar abang nyariin" kata Aga. "trus" senyum matahari, "kakak nggak mau karena lagi bucin katanya, lama nggak ketemu" pandang Aga, matahari memeluk mentari dan memberinya ciuman kening.
"aku tau kamu juga bucin" tawa matahari, mentari memutar bola matanya jengah, Zivannya menarik topinya sehingga menutupi sebagian wajahnya, bersandar dibahu kursi yang dia duduki. Aga melihat tingkah Zivannya yang ingin istirahat, "kak, aku pulang dulu. kalian nikmati waktu untuk berdua. Zi butuh istirahat" pandang Aga, mentari mengangguk. Aga mengangkat tubuh Zivannya kedalam mobil. "kak, aku bisa jalan sendiri" ujar Zivannya.
"hmmm... kamu memanggilku apa" ulang Aga, Zivannya terdiam. mobil melaju dengan kecepatan sedang.
setiba dirumah, Zivannya segera tidur dikamar, tubuhnya tiba-tiba merasa seperti tidak mempunyai tulang. Aga selalu mengecek keadaan Zivannya yang terlihat tidak baik-baik saja.
"apa dia salah makan Ra" tanya Aga, Rara menggeleng.
"lebih tepatnya badannya tidak kuat lagi kak, dia tiga hari tidak cukup makan dan istirahat. sebelumnya dia juga tidak dalam kondisi yang sehat karena menjaga mama dirumah sakit sendirian, selalu bepergian sehari-hari bersama mamanya disaat dia berada dirumah" pandang Rara.
"jika nanti dia tidak bisa bangun. biarkan saja, kita yang akan mengatur semuanya. apakah kalian bisa menolongku" tanya Aga. "tentu saja pak komandan, semuanya tidak terlalu sulit." senyum Rara.
"emang kamu bisa Ra" tanya Dimas, Rara memandang Dimas kesal.
"ya elah dim... tinggal bikin minuman doang apa susahnya sih. makanannya udah pesen juga...." kata Rara menonton siaran TV, Dimas tersenyum.
"siip Ra, nanti aku bantuin" kata dimas memberi tanda Ok.
menjelang petang Zivannya terbangun, melihat keluar kamar, semua sudah rapi dan tinggal menunggu acaranya nanti, Zivannya bergegas membersihkan dirinya dan melaksanakan kewajibannya.
__ADS_1
"kek, nek" salam hormat Zivannya kepada semua keluarganya yang lebih tua.
"udah bangun Zi" senyum bunda, "maafkan Zi bund" angguk Zivannya.
bunda menggeleng, "tidak apa. kamu memang perlu istirahat sebentar. ada kami disini" senyum bunda mengelus kepala Zivannya.
acara untuk menghormati kepergian mama Zivannya berjalan dengan sebagai mana mestinya, banyak orang yang datang mendoakan. Zivannya duduk meluruskan kakinya yang terasa berat untuk melangkah.
"udah semuanya kak" pandang Zivannya ketika Aisya melintas.
"udah, para tetangga juga udah dibagiin makanannya, gelasnya udah selesai dicuci sama kita bertiga, alas duduk dan sampah mereka berlima yang mengurusnya" senyum Aisya.
"besuk terakhir acara kan Zi" tanya Aisya. Zivannya mengangguk.
"mau kamu apakan rumah ini Zi" tanya Aisya pelan, Zivannya terdiam,
"belum tahu kak, mungkin dikosongin sementara waktu, barang-barang yang nggak mungkin dipake lama setelah acara ini selesai akan Zi bagikan ketetangga lain yang bener-bener butuh, Zi juga mau jual motor mama dan punya Zi. kemarin mama minta motornya dijual aja trus beli satu baru buat Zi kuliah aja. mama sudah nggak perlu. tahun depan kan mama pensiun" jawab Zivannya.
"nanti aku tanya ketetangga sekitar rumah kalo ada yang mau beli motor" kata Aisya mengangguk, "makasih kak" angguk Zivannya.
"kakak, rencana kapan mau acara pernikahan, jangan lupa kabari Zi, biar Zi bisa pulang" kata Zivannya.
"tentu, kamu harus datang. satu-satunya keluarga dari papa hanya kamu aja sekarang Zi" angguk Aisya, Zivannya mengangguk pelan.
"nenek dan kakek berarti tinggal disini dulu sementara menunggu pestamu kak" tanya Zivannya, Aisya mengangguk.
"mungkin sekitar dua bulan lagi acara pernikahannya Zi, kita masih meminta tanggal baik yang semua orang bisa hadir. nanti aku kirim undangan via chat ya" kata Aisya. "siap kak" senyum Zivannya. obrolan mereka berlangsung cukup lama, Rara bergabung dan ikut mengobrol. rumah kembali sepi di jam 10 malam, mereka sedang berbaring didepan TV ruang tengah.
pagi hari
rumah Zivannya sudah tampak kehidupan, mereka bangun pagi membersihkan rumah, hari ini mereka akan pergi keperistirahatan terakhir keluarga Zivannya, hari terakhir acara mengirimkan doa kepada mama Zivannya, Zivannya terlihat khusyuk memanjatkan doa dipusara kedua orangtuanya dan adiknya. menghela nafasnya berat saat melangkahkan kaki keluar dari area pemakaman, Aga menggenggam jemari Zivannya memberi kekuatan, mereka berjalan beriringan menuju mobil.
"kita cari sarapan dulu, soto aja" kata Zivannya mengemudikan mobil Rara dengan pelan. Zivannya memarkirkan mobil dibawah pohon rindang, anak-anak sekolah terlihat mulai belajar "asiknya sekolah" senyum Rara berhenti memperhatikan seberang jalan dimana Zivannya dulu bersekolah. Zivannya memasukkan tangannya kesaku celana dan mengangguk membenarkan ucapan Rara.
"tanpa beban dan banyak kenangan dengan seragam putih abu-abu kebanggaan" hirup udara Rara, Zivannya memandang lurus kedepan.
"kalian ngapain, jadi makan nggak nih" kata Dimas memalingkan wajah kebelakang memandang dua gadis itu berhenti memperhatikan segerombolan anak sekolah yang sedang berolahraga dilapangan depan sekolah. Rara dan Zivannya menatap Dimas kesal karena membuyarkan khayalan mereka. mereka berjalan beriringan menuju kedai soto langganan Zivannya.
"mang 4 ya, jeruk hangat dua, teh panas 3" pesan Zivannya sebelum masuk.
"baik neng, mamang turut berduka atas kepergian mama neng Zivannya. semoga neng tabah dan ikhlas" kata mang soto. "terimakasih mang, maaf kalo mama saya banyak salah" angguk Zivannya, "sama-sama neng" angguk mang soto. Zivannya segera duduk didepan Aga disamping Rara, "setelah dari rumah sakit mama minta mampir kesini" kata Zivannya melihat sekeliling. mang soto datang membawa pesanan Zivannya.
"makasih mang, ini suami Zi, Aga dan ini dua teman kuliah Zi" senyum Zivannya memperkenalkan mereka bertiga. mang soto tersenyum mengangguk, Aga mengangguk.
"kalo nongkrong disini Zi" lihat Aga, Zivannya menggeleng. "nggak juga by, seringnya dikantin belakang sekolah, anak laki-laki yang keseringan nongkrong dipohon tempat kita parkir tadi, kesinipun jika dengan Bima" jawab Zivannya.
"berarti termasuk tempat kenangan nih" tanya Aga, Zivannya mengangguk.
"kurang lebih, sekolah juga disini, jalan sama Bima juga seringnya disini, ketahuan jalan sama sita sahabatku saat sekolah juga disini, Bima dipukuli habis-habisan sama Yuda juga disini, makan terakhir sama mama juga disini, sekarang sama kamu juga disini" angguk Zivannya menyendok kuah sotonya,
"Yuda menghajar Bima nya disini" tanya Dimas tidak percaya, Zivannya mengangguk. "nggak tau tuh anak dapat kabar darimana kalo aku dan Bima sudah tidak bersama lagi, tau-tau pulang sekolah anak-anak baru pada keluar sekolah, Yuda datang sendirian melihat Bima yang keluar bersama sita langsung dipukuli tanpa banyak bicara" kata Zivannya.
__ADS_1
"dari Fauzan mungkin" kata Rara, Zivannya menggeleng, "aku sudah lama tidak melihat Fauzan, karena kelas tiga sudah sangat padat materi belajarnya, waktu luang ku tidak banyak untuk bersantai main. aku berpikir mama banting tulang mencari uang untuk aku, jadi aku hanya ingin menjadi anak yang berbakti" geleng Zivannya.
"kenapa orang tuaku nggak berpikir begitu ya Zi, mereka sibuk dengan urusannya masing-masing" kata Rara.
"kamu mirip dengan Yuda lho Ra, makanya Yuda lebih sering ngobrol dengan mama jika kerumah. apa mau aku kenalkan lebih dekat dengan dia" tanya Zivannya, Rara dan Dimas menoleh.
"kamu berhenti jadi pendukung setiaku Zi" pandang Dimas. Zivannya tersenyum menggeleng, "bukan begitu dim, siapa tau jika kalian berjalan masing-masing berjauhan akan lebih merindukan satu sama lain atau jodoh kalian masih ada diluar sana" kata Zivannya, Rara berpikir sebentar.
"bisa juga Zi, nanti coba aku kenalan dengan Yuda lebih dekat" angguk Rara, Dimas memandang Rara dengan tatapan kesal, Zivannya tersenyum lebar.
"kan, gitu aja kamu udah kesal. gimana aku waktu kamu didekati cewek-cewek lain yang sengaja nempel" pandang Rara.
"nggak sengaja Ra, mereka yang suka nempel-nempel..." pandang Dimas.
"lha kamunya diem aja" kata Rara. Dimas terdiam, menoleh kearah Zivannya.
"kalian mau nikah kapan" tanya Zivannya santai. Rara menoleh cepat, "apaan sih Zi kenapa mikirnya sampai kesitu" kata Rara manyun.
"lebih baik diselesaikan diranjang aja daripada berantem terus nggak ada ujungnya" jawab Zivannya santai Aga dan Dimas tersedak mendengar jawaban Zivannya yang terbuka.
"ishh... situ emang udah buka segel, masih ting-ting juga" pandang Rara, Zivannya nyengir.
"kalian ini kalo ngomong ujungnya pasti gitu, nggak malu apa diliat banyak orang" pandang Dimas.
"bener juga lho Zi, mungkin dengan begitu nggak jadi marahan kan, karena aktifitas fisik yang menguras energi" kata Rara berpikir. Aga dan Dimas menyentil kening Zivannya dan Rara bersamaan. "kebiasaan kalo ngomong nggak liat tempat, kalo berdua aja dideketin ketakutan" pandang Dimas, Rara manyun mengusap keningnya. mereka makan dengan saling menatap kesal.
"makan yang bener, jangan ngobrol lagi" pandang Aga, Zivannya tersenyum masam.
"Zi, kemarin anak-anak menyampaikan turut berduka, kamu ngga ngecek ponselmu, aku lupa bilang" toleh Rara, Zivannya mengangguk. Zivannya pamit ke mang soto setelah menyelesaikan sarapannya, mereka mampir membeli cemilan untuk dirumah.
"untuk hari ini udah pesan makanannya Zi" tanya Aga, "udah. sama seperti kemarin, ditetangga juga biar lebih dekat dan jika ada apa-apa bisa segera datang membantu" jawab Zivannya, Aga mengangguk.
"Senin pagi aku harus pulang dulu Zi, kamu tidak apa-apa bersama mereka" tanya Aga, Zivannya mengangguk. "nggak papa kak, biasanya juga bertiga" angguk Zivannya, Aga mengacak rambut Zivannya.
"kamu manggil aku apa" pandang Aga, Zivannya tersadar dan tersenyum.
sampai dirumah sudah ada orang ekspedisi yang mengantar motor Zivannya, Zivannya mengucapkan terimakasih dan membuka lapisan pelindung motor.
"bensinnya abis" lihat Zivannya. "biasanya memang dikosongin berjaga-jaga agar tidak terjadi apa-apa selama dijalan" kata Aga, Zivannya melihat sekeliling, " didalam gang ada yang jual bensin eceran, aku beli dulu" kata Zivannya mencari kunci motor mamanya didalam.
"ikut dong Zi" kata Rara mengekor Zivannya.
hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..
selamat menikmati cerita kedua kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.
ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...
dukung yaaa... karya kedua ku.
love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..
__ADS_1
thanks a lot pisang sekebon...😘