
Langit mengajak Zivannya ke bangunan ibadah yang ada di lingkungan rumah dinas, mereka berjalan tidak jauh dari rumah dinas Langit. beberapa pemuda tampak sedang bersiap-siap melaksanakan kewajiban sore juga. "mau keliling nggak, yang. liat semua rumah kesatuan. lama nanti kita disini" senyum Langit.
Zivannya tertawa pelan, "kita juga masih lama kak. jadi tenang aja" angguk Zivannya, "siapa bilang" toleh Langit, Zivannya menunjuk dirinya sendiri. Langit menatap Zivannya. "iya... iya.. setelah naik dan ayah datang, Zi urus persyaratannya" kata Zivannya menatap ke arah lain tidak mau melihat tatapan Langit yang membuatnya ngeri, "aku nggak suka dengan tatapan mu kak" gumam Zivannya, Langit menggenggam jemari Zivannya.
"karena aku tidak mau mengeluarkan kata-kata yang akan aku sesali jika terucap, dengan melihatku saja kamu sudah merasa. maka hal itu lebih baik, yang. aku hanya ingin yang terbaik untukmu karena kamu adalah tanggungjawab ku didunia dan diakhirat nanti. kamu dan anak-anak kita nanti. mengerti kan, yang" toleh Langit. "iya, kak mengerti" angguk Zivannya.
mereka berkeliling kompleks rumah dinas yang ditempati Langit mengendarai motor. "yang, mau kemana lagi" tanya Langit. "lihat mereka main bola aja kak" kata Zivannya melihat kearah mereka yang bermain bola.
"no, nanti kamu mengganggu mereka main jika kamu ditepi lapangan. aku nggak mau kejadian Raka terulang disini" kata Langit, Zivannya tersenyum lebar. "kenapa harus gitu sih, kak. kan kita datangnya berdua, mana berani mereka mengganggu ku. kalo sama Raka, karena aku dikira masih sendiri" kata Zivannya menatap Langit, Langit segera menepi untuk memperlihatkan Zivannya permainan bola yang sedang berlangsung.
Zivannya memperhatikan dengan serius permainan sepakbola, "kak. jika memulai proses persyaratan harus dari mana dulu, apa hampir sama dengan kepolisian" tanya Zivannya tiba-tiba, "sama, hanya kesatuannya yang berbeda, yang. tentu saja dengan statusmu yang baru juga" senyum Langit. Zivannya tersenyum mengangguk.
"kemarin kak Aga meminta tolong ayah temannya yang kebetulan tetanggaku untuk membantu mengurus kelengkapan legalitas syarat pengajuan sidang, jadi lumayan cepat. setelah itu baru ketingkat selanjutnya dan setelah beberapa sidang, akhir nya selesai" kata Zivannya.
"kurang lebih sama" angguk Langit. Zivannya terdiam, "kak Aga terkena sanksi karena lebih dulu menikah secara agama dan negara ditempatku tinggal kak, untuk memenuhi keinginan mama sebelum pergi selama-lamanya" senyum Zivannya mengenang masa itu kembali.
"aku juga tidak tahu jika saat itu harus menikah dengannya, tiba-tiba semuanya terjadi begitu saja, lamaran saat disuruh cepat-cepat pulang oleh mama, akad dirumah sakit, kepergian mama yang nggak lama setelah kak Aga menjadi imamku. kuliah yang mau KKN trus tugas akhir bersamaan dengan tugas kak Aga diperbatasan, kepergian kak Aga, wisuda kuliah, kerja, bertemu denganmu hingga akan menikah kembali" cerita Zivannya memandang mereka yang sedang bermain, Langit sesekali menoleh mendengarkan Zivannya dengan serius. "seperti sebuah rundown acara yang dihelat oleh Tuhan, menurutku. habis kejadian ini, terus kejadian itu berlanjut hingga tidak bisa lagi mengatur hati dan jiwa kembali" senyum Zivannya menatap langit yang berwarna biru cerah.
"apa kamu merasa semuanya berakhir Zi" tanya Langit. "pasti kak, awalnya aku merasa semuanya berakhir untukku tidak ada yang harus aku lakukan didunia lagi saat itu. semua orang yang aku sayangi pergi meninggalkan ku seorang diri, apalagi kak Aga yang hanya hitungan bulan menemani hidupku. kita hanya tinggal bersama secara resmi hanya beberapa bulan saja kak" hembus nafas Zivannya.
"seperti mimpi menikah dengannya saat itu, aku juga belum bisa seutuhnya menjadi istri yang baik. perjalanan hidup kami berdua tidak semulus bayangan orang mengenai sebuah pernikahan. jauh, kesepian, sendiri karena jarak dan waktu" kata Zivannya pelan.
"apa kamu menyesali semua yang terjadi" tanya Langit, Zivannya tersenyum menggeleng pelan. "tidak, kak. aku lebih banyak bersyukur dan memahami hikmah disetiap kejadian yang kualami, aku tidak akan menjadi lebih kuat seperti sekarang jika aku tidak mengalami moments yang terjadi padaku" jawab Zivannya. "ketika aku merasa sakit yang teramat sangat, aku berjalan ke arah mereka yang lebih kehilangan dariku. aku masih diberi kesempatan untuk bisa memiliki kasih sayang orang-orang yang menyayangiku hingga sekarang. tapi ketika aku melihat anak-anak yang ditinggalkan orang tuanya sedari kecil membuatku lebih banyak bersyukur dan membuatku lebih tegar lagi" kata Zivannya menatap Langit.
"seperti diriku yang tidak diharapkan kedua orangtuaku sendiri bukan, dan dibesarkan oleh ibu yang luar biasa" kata Langit mengangguk pelan.
__ADS_1
"aku tidak menyangka jika calon suamiku adalah orang yang mampu menyimpan rahasia yang tersembunyi jauh didalam hatinya" kata Zivannya. "semua hanya wayang yang mempunyai lakon sendiri-sendiri, yang. kita hanya harus menjalani dengan rasa syukur dan berdoa untuk yang terbaik. rasa pahit, masam, sakit hati, kedengkian, kesengsaraan atau hal-hal negatif akan selalu terjadi disekitar kita, hanya kita sendiri yang merubah semuanya menjadi lebih baik atau lebih buruk" kata Langit, Zivannya mengangguk.
"apa sekarang kamu masih merasa semuanya berakhir, yang" tanya Langit. "tidak, aku mempunyai keluarga baru yang benar-benar menyayangiku seperti aku anak mereka sendiri, aku mempunyai dua orang sahabat baik yang selalu ada disaat aku terpuruk atau senang dan aku mempunyai laki-laki hebat yang mau memperjuangkan ku serta menemani ku hingga ujung waktu" senyum Zivannya menatap Langit yang juga tersenyum melihat nya.
"pulang, yang. aku ingin memakanmu segera" raih jemari Langit membawa Zivannya pergi dari situ dan segera melajukan motornya kembali ke rumah dinasnya. "ndan" seru seseorang ketika mereka sampai dihalaman rumah. mereka menoleh setelah memarkir motor disamping rumah dinas.
"kenapa di" senyum Langit. Didi segera mendekat dan memberitahu sesuatu kepada Langit, Zivannya masuk kedalam rumah dan menuju dapur untuk mengambil air minum. "udah pergi kak" tanya Zivannya. "sudah, hanya memberitahu nanti malam ada acara barbeque di tempat nya bersama dengan teman-teman yang lain" kata Langit. "kakak tidak membawa apapun kesana nanti" tanya Zivannya menatap Langit, "aku sudah memberinya uang untuk menambah membeli bahan barbeque an nanti, yang" minum Langit dari gelas yang dipegang Zivannya. meletakkannya diatas meja.
"abis kewajiban petang, kita kesana, yang" kata Langit masuk kamar. Zivannya bermain game diponselnya. "kak, aku pulang aja ya, kakak kesana sendirian" kata Zivannya, "kenapa" kerut Langit duduk disamping Zivannya. "aku merasa nggak enak jika semuanya laki-laki" kata Zivannya, Langit tersenyum meraih kepala Zivannya dan mengusapnya. "tidak, ada pasangan mereka dan istri mereka juga. kita nggak hanya sendirian nanti, makanya kamu harus melihatnya dulu" kata Langit.
"kenapa aku merasa bebanku berat banget ya kak" lesu Zivannya. Langit tertawa memeluk tubuh Zivannya, "belum perang aja udah nyerah duluan. kamu aja naik gunung tau medannya berat tapi tetap aja naik" kecup rambut Langit. "iya... iya.... "hembus nafas Zivannya berat. Langit mencium bibir Zivannya lembut, "ada aku kan. aku tidak akan membiarkanmu sendirian" usap bibir Langit. "hmmmm...." jauh badan Zivannya. "isshhh.. kenapa, yang" tahan Langit. "nanti ujungnya badanku merah semua kak" nggak enak kalo kelihatan pas nanti ngumpul bareng, lagian yang kemarin belum hilang semuanya" kata Zivannya menatap Langit. "makanya aku hilangin yang kemarin dengan yang baru" kata Langit tersenyum. "nggak mau, kalo nekat aku pulang nih" kata Zivannya, Langit mengangkat tubuh Zivannya dan masuk kedalam kamar, merebahkannya diatas ranjang. "kenapa kamu selalu membuatku menginginkan lebih sih, yang. kamu membuatku selalu ingin pulang cepat jika kamu disini" tatap Langit sayu. "besuk aku ijin keluar kota dulu kak" kata Zivannya. Langit bergulir kesamping tubuh Zivannya.
"hmmm.... aku ijinkan. besuk aku antar ke stasiun kereta dan pulangnya aku jemput ke surabaya" kata Langit. "siap ndan" senyum Zivannya. "berapa hari kamu naik Zi" tanya Langit.
"agak lama, kak karena kali ini lebih banyak orang yang ikut mendaki ke Semeru" kata Zivannya.
"dengan siapa saja" tanya Langit pelan. "anak-anak yang biasa ikut, dari kampus lain, Jakarta juga ada, Jawa Timur sendiri pun juga ada yang ikut" kata Zivannya. Langit menatap Zivannya lama, "hati-hati selama mendaki Zi, aku ingin kamu pulang dengan selamat, akan aku jemput kesana nanti di base awal kamu naik" kata Langit tersenyum.
"atas ijin Tuhan kak, terimakasih sudah memberiku ijin. dengan itu langkahku menjadi ringan" angguk Zivannya. "kapan rencana naiknya" tanya Langit.
"rencananya selepas kewajiban Jum'at kak. makanya kamis siang aku berangkat, sampai sana dini hari. setelah itu ketemu dengan yang lain di base awal pendakian" jawab Zivannya. "jika kemarin aku masih di kampus. aku langsung berangkat bersama yang lain dan tidak harus terpisah" kata Zivannya. "naik pesawat aja ya, yang. hemat tenagamu untuk mendaki. jika kamu terlalu lama dikereta, badanmu akan kurang fit untuk naik, pendakian ke Semeru butuh tenaga yang ekstra" kata Langit. Zivannya tersenyum lebar, "apakah kamu mengkhawatirkan aku kak" goda Zivannya. Langit tertawa pelan. "aku lebih mengkhawatirkan kondisi badanmu setelah mendaki karena Semeru memiliki ketinggian diatas 2000" kata Langit.
"tentu kak, aku tahu dengan pasti, karena ini pendakian ku yang kedua, tentu aku lebih mempersiapkan mental dan fisikku, terimakasih atas perhatiannya aku sangat menghargainya" angguk Zivannya.
"aahhh... begitu rupanya. aku lega jika kamu sudah mempersiapkan segalanya" kata Langit, Zivannya tersenyum.
__ADS_1
"jadi naik pesawat aja ya, kamis pagi berangkat dengan penerbangan pagi. ketemu temanmu disana untuk menuju titik kumpul" peluk Langit. "baiklah kak" angguk Zivannya. Langit mengecup rambut Zivannya berulangkali.
"aku akan merindukanmu, yang" hirup aroma tubuh Langit. "aku juga kak, ini adalah pendakian ku yang terakhir dalam 4 bulan ini, karena setelah ini akan mengurus prosedur untuk menikah" kata Zivannya pelan.
langit tertawa mendengar ucapan Zivannya, "tentu, akan aku tunggu kabar baik darimu, yang. setelah selesai mengurus kita akan menghadapi sidang bersama-sama" kata Langit.
mereka bersiap untuk melaksanakan kewajiban petang dan akan berkumpul bersama teman yang lain.
"udah datang komandan" salam seseorang, Langit tersenyum. "aku membawa seseorang yang istimewa untukku" perkenalkan Langit.
"hai semua, namaku Zivannya. salam kenal" senyum Zivannya malu. Langit tertawa mengelus kepala Zivannya. "dia adalah calon istriku. mohon bimbingannya untuk mengajari dia bagaimana menjadi istri abdi negara" kata Langit. mereka tertawa senang memberi selamat kepada Langit dan Zivannya.
beberapa anak kecil tampak berlarian kesana kemari mengambil beberapa makanan.
Zivannya sesekali menangkap mereka dan bercanda, mengabadikan moments saat berkumpul dengan tetangga di rumah dinas Langit, berbincang banyak hal dengan istri atau pasangan teman-teman kesatuan Langit.
"kak, pulang. ini sudah jam 10 malam" ingatkan Zivannya, Langit menoleh mengangguk. "aku lupa waktu, besuk kamu harus berangkat ke Surabaya untuk mendaki kan" angguk Langit. "wooo ... istri komandan ternyata bukan cewek melow" puji seseorang. Langit tertawa, "saking badasnya empat bulan ini rajin naik setiap bulannya" senyum tipis Langit. "pantesan kita setiap pagi olahraga" celutuk seseorang. mereka tertawa ngakak mendengar celutukannya.
"maaf kak, maaf membuat kalian harus olahraga setiap pagi" kata Zivannya menangkupkan kedua tangan didepan dadanya, Langit menatap tajam ke anak buahnya. "tidak, kami malah senang karena menyehatkan tubuh" kata seseorang itu.
Zivannya tertawa mendengar perkataan teman langit. "aku tau kak, jangan terlalu khawatir besuk akan kena hukum lagi atau nggak oleh kak Langit. nanti akan aku rayu biar meleleh" senyum Zivannya, mereka tertawa lebar. "terimakasih Zi, kami akan mengandalkan mu kalo begitu untuk menjinakkan komandan Langit" angguk salah satu dari mereka. Zivannya tersenyum mengangguk.
"kita pulang dulu, tunggu esok hari gimana nasib kalian" kata Langit, Zivannya menepuk pelan bahu Langit yang tersenyum melihat Zivannya. "kami pulang dulu kak, makasih banyak atas makanannya, kita akan kumpul lagi kapan-kapan" pamit Zivannya. mereka tertawa dan melambaikan tangan melepas kepergian Langit dan Zivannya.
hai...hai....hai... all readers, terus dukung karyaku agar selalu menemani kalian beraktifitas.
__ADS_1
luv...luv...luv... U all readers sekebon pisang goreng, terimakasih banyak atas dukungannya selama ini.
terimakasih banyak semuanya.... stay healthy everyone