Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 33


__ADS_3

Zivannya keluar dari kamar untuk menunaikan kewajiban paginya, mama sudah menunggu didepan untuk bersama-sama menuju tempat ibadah. mama Zivannya menginginkan untuk beristirahat setelah selesai kewajiban, menonton TV bersama Zivannya, menjelang siang hari setelah membersihkan diri mereka keluar mencari sarapan pagi,


"mama mau soto depan sekolahmu Zi" kata mama, Zivannya berbalik dan meminum air mineral dalam gelas dengan cepat.


"kita kesana sekarang ma" angguk Zivannya membantu mamanya berdiri dan segera mengunci pintu saat mereka keluar dari rumah.


"mama nggak papa kan" tanya Zivannya menatap mamanya sebelum mobil meninggalkan rumah.


"tentu Zi, mama baik-baik saja, jangan kuatir" senyum mama Ranti, Zivannya tersenyum melajukan mobil dengan kecepatan sedang.


"jadi istri yang baik ya Zi, jadi ibu yang baik untuk cucu-cucu mama. beri mereka yang terbaik yang bisa kamu lakukan, kamu tahu dengan sendirinya apa yang harus kamu lakukan nanti" kata mama tiba-tiba. Zivannya menatap mamanya, "mama berkata begini karena kamu sudah menikah Zi, apapun yang terjadi harus kamu hadapi. seperti mama dulu yang juga memilih papamu, kita berdua menjalani dengan keyakinan bahwa semuanya atas kehendak Tuhan. kita hanya bisa menjalani semuanya dengan ikhlas, mama dan papa tidak bisa lagi untuk menengok kebelakang, berandai-andai jika... jika....dan jika...." ujar mama Zivannya.


"kita harus melangkah kedepan, kenangan ataupun masa lalu menjadikan kita kuat untuk terus melangkah kedepan apapun yang Tuhan beri, apapun yang Tuhan tunjukkan untuk kita jalani dengan niat beribadah" pandang mama, Zivannya mengangguk.


"jadi bahu untuk bersandar saat suamimu dan anak-anakmu membutuhkan penopang, jadi pendengar disaat mereka butuh seseorang untuk bercerita, jadilah mata untuk melihat dengan kebaikan, jadilah kaki untuk menuntun mereka kejalan yang Tuhan inginkan" senyum mama, Zivannya menitikkan airmata.


"ishhh... anak ini malah tambah cengeng setelah punya Aga, mama dulu juga belajar jadi orang tua Zi, nggak bisa instan menjadi orang tua. nggak ada sekolah untuk menjadi orangtua" kata mama tertawa.


"mama dan papa adalah orang tua yang terbaik dan terhebat yang Zivannya punya" senyum Zivannya mengusap airmatanya.


"makasih Zi, kamu dan adikmu juga anak-anak mama dan papa yang paling hebat dan terbaik yang Tuhan kasih ke mama" angguk mama.


"ngomong-ngomong Aga belum menghubungimu Zi, dari pagi tidak terdengar suaranya" kata mama Ranti.


"aisshh... baru selesai ngomong udah langsung connect" lihat Zivannya pada ponselnya yang terlihat Aga melakukan panggilan video.


mama tertawa dan menekan tombol terima.


"siang ma" senyum Aga setelah melihat layar ponselnya yang pertama kali dilihatnya adalah mama Ranti.


"pagi kak, dah dikantor" tanya Zivannya saat mama menaruhnya diatas dashboard, Aga mengangguk.


"nanti akan keluar agak lama karena ada pengintaian. dari beberapa hari yang lalu sudah menemani seseorang untuk dijemput" senyum Aga.


"mau kemana Zi, lihat Aga seksama, "sarapan soto didekat sekolah Zi dulu, mama ingin kesana" jawab Zivannya. Aga mengangguk mengerti.


"kak Aga keluar jam berapa nanti" tanya Zivannya menepi dipinggir jalan untuk parkir.


"rencananya menjelang sore, karena dia kembali kerumah setelah jam 4an, selama beberapa hari pengintaian" minum kopi Aga. Zivannya keluar mobil diikuti mama yang berjalan disampingnya. mama Zivannya menunjuk tempat duduk ditengah yang masih kosong.


"mang dua ya, jeruk panas dan teh panas" pesan Zivannya tersenyum.


"siap neng, sama mamanya" angguk mang soto tersenyum.


"iya, mama yang pingin soto, makanya kesini mang" jawab Zivannya, Aga keluar ruangan.


"Aga kalo gini nggak papa" tanya mama, Zivannya mengangguk.


"seringnya ma, kalo Zi tidur nanti kak Aga yang matiin. yang penting dia ngeliat Zi baik-baik aja" angguk Zivannya mengambil kerupuk. mang soto meletakkan pesanan Zivannya dimeja. Zivannya tersenyum dan mengucapkan makasih.


"ketemu Bima pas pulang juga Aga tau" tanya mama menambah sambal. Zivannya mengangguk.


"posisinya seperti ini ma, Zi baru makan juga, kak Aga masih nyala, Bima datang. Zi rasa nggak mungkin kebetulan deh ma, masak tau-tau nongol aja didepan Zi" pandang Zivannya menduga-duga.


"bisa jadi kebetulan Zi, kan kamu bilang dia sering makan disini" jawab mama mematahkan dugaan Zivannya, mengangkat bahunya tanda tidak ingin tahu.


"jangan-jangan kayak kak Aga ma, melakukan pengintaian terlebih dahulu" kata Zivannya berandai-andai, mama memandang Zivannya kesal, membuat Zi tertawa lebar.


"tapi Zi malah belum bertemu dengan sita istrinya tuh ma" makan Zivannya.


"iya... ya Zi... mama juga nggak liat sita" angguk mama Ranti baru sadar.

__ADS_1


"apa dia dibuang keluar kota ma" tawa Zivannya, mama menepuk tangan Zivannya cepat.


"anak ini, kalo ngomong didepan umum jarang dipikirin dulu deh" pandang mama kesal, Zivannya nyengir lebar.


"bener tuh ma" sahut Aga yang sudah kembali keruangannya. Zivannya menoleh menatap Aga lama.


"kenapa... nanti naksir lho kalo lihat lama-lama, maaf aja aku udah punya istri jadi nggak mungkin tergoda" senyum-senyum Aga melihat tampang Zivannya yang terlihat datar.


"lho, kamu juga disini Zi" datang seseorang, mama dan Zivannya menoleh.


"Dewi, iya... aahh.... si ganteng lucu" senyum lebar Zivannya mengusap rambut anak Dewi yang imut.


"hallo Tante, apa kabarnya. saya Dewi temennya Zi sekolah dulu" salam Dewi. mama Ranti tersenyum.


"siganteng kenapa nggak sapa nenek nih" liat mama Ranti menoel pipi gembul anak Dewi. Zivannya tertawa lebar.


"bener kan ma, lucu banget kan. kemarin cerita sama mama kalo ketemu kamu ditoko kue. anaknya Dewi lucu, imut" kata Zivannya.


"aahhh..." senyum Dewi.


"duduk sini aja, makan bareng sambil cerita. kalian berdua aja" tanya mama Ranti, mendudukkan anak Dewi disampingnya.


"dengan suami saya Tante" tunjuk Dewi melambaikan tangan dan suaminya segera datang mendekat.


"hallo, salam kenal" salam suaminya Dewi. mama dan Zivannya tersenyum membalas salam suami Dewi.


"kita bareng aja nak, lebih rame lebih enak makannya" persilahkan mama Ranti. suami Dewi memandang Dewi meminta persetujuan, Dewi mengangguk dan duduk disamping Zivannya.


"dulu sekelas sama Zivannya saat sekolah" tanya mama Ranti.


"iya Tante, satu kelas saat kelas dua dan tiga. Zivannya anaknya asik, nggak nyangka dulu disapa duluan sama Zi Tante, disekolah siapa yang nggak kenal Zivannya dan Bima" angguk Dewi. Zivannya tersenyum. mang soto membawa pesanan soto dan minuman untuk Dewi dan suaminya.


"siganteng nggak makan" tanya mama Ranti.


"sama ya Zi" naik turunkan alis mama, Zivannya mengangguk karena dulu dia juga seperti itu jika ayahnya tidak sedang bertugas. selalu menempel dengan ayahnya seperti perangko.


"kamu sedang ada panggilan Zi" lihat Dewi tak sengaja. Zivannya mengangguk. "nggak papa, dia juga sedang kerja, saling komunikasi" geleng Zivannya. Dewi mengangguk.


"dulu jarang kerumah ya nak dewi" ingat-ingat mama. Dewi mengangguk, "iya te, hanya kalo ada kerjaan bareng sama Zivannya, itu pun jika Zivannya mengajak saya baru bisa satu kelompok" jawab Dewi.


"anaknya pemalu ma, kalo nggak dideketin nggak ada suaranya. kadang gurunya udah nentuin anggota kelompoknya jadi kadang nggak bisa sama Dewi. gurunya dah tau kalo Dewi mesti bareng aku" senyum Zivannya, mama tersenyum.


"sekarang malu-maluin" tawa Dewi, Zivannya tertawa pelan.


"nggak juga wi, kamu masih seperti dulu, anakmu comel banget gitu. kamu udah punya apa yang wanita inginkan kan, keluarga yang bahagia" senyum Zivannya menatap anak Dewi yang sedang makan disuapi suami Dewi.


"kapan-kapan mampir kerumah nak dewi, walo Zivannya nggak dirumah nggak papa, Tante sendirian sekarang" kata mama Zivannya.


"iya te, kalo ada waktu kami mampir, sering lewat depan rumah juga tapi karena sepi jadi nggak mampir" angguk Dewi, udah mau sebulan lho aku dirumah wi" kata Zivannya.


"kok rumah sepi aja" kerut Dewi sesaat.


"mama kemarin kecapekan jadi harus dirawat dirumkit semingguan" angguk Zivannya. Dewi manggut-manggut.


"Zi" panggil Aga, Zivannya menoleh nyengir.


"aku mau keluar dulu. nanti aku kabari kalo sudah selesai" senyum Aga.


"tentu, hati-hati, stay safe kak" angguk Zivannya. Aga memberi isyarat Ok dan mematikan panggilan video.


"sudah ada pengganti Bima nih" goda Dewi. Zivannya tersenyum, "sama teman-teman masih sering ngumpul nggak wi" tanya Zivannya menghabiskan makannya.

__ADS_1


"masih, yang masih disini aja. terkadang hanya berpapasan atau nggak sengaja ketemu kayak kita gini" angguk Dewi.


Zivannya menerima panggilan diponselnya.


"kamu dimana sekarang Ra" tanya Zivannya menatap mamanya.


"tunggu disitu aja, bentar lagi aku samperin" jawab Zivannya.


"iya, Deket dari tempat aku sama mama sekarang. siap... " kata Zivannya mematikan sambungan panggilan Rara.


"Rara dan Dimas sudah sampai didepan stasiun kereta ma, kita kesana bentar" kata Zivannya, mama mengangguk.


"maaf ya Wi, aku duluan. jadi nggak enak nih. temenku datang dari luar kota, mau kerumah" pandang Zivannya merasa nggak enak hati.


Dewi melambaikan tangannya tidak masalah, "nggak papa Zi, kayak sama siapa aja sih. kan kita bisa ketemu lain waktu" kata Dewi mengerti. Zivannya tersenyum dan mengangguk.


"ganteng, Tante pulang dulu ya. ketemu lain kali" lambai tangan Zivannya tersenyum kepada suami dan anaknya Dewi.


"nenek ikut Tante ya, sehat-sehat ya ganteng jangan lupa main ketempat nenek kapan-kapan" towel pipi mama Ranti memberi uang untuk membeli mainan.


Dewi mengucapkan terimakasih atas pemberian mama Ranti kepada anaknya. Zivannya sedang berbincang sebentar dengan mang soto sambil menunggu mama yang berpamitan dengan Dewi dan keluarganya.


"makasih ya mang, titip Zivannya kalo mampir kesini" senyum mama, "iya Bu. makasih sudah mau mampir kesini, neng Zivannya anaknya selalu baik Bu" kata mang soto.


"terimakasih mang" tawa mama Ranti berjalan disisi Zivannya.


"sudah dibayar semuanya Zi" tanya mama Ranti, "sudah ma, mereka tinggal pulang aja" angguk Zivannya mengerti.


"Dimas sama Rara masih sering berdebat Zi" tanya mama setelah mobil melaju meninggalkan tempat makan soto. Zivannya tertawa lebar mengangguk.


"kebiasaan mereka ma, Ujung-ujungnya pasti bertengkar tapi balik baik lagi nanti" jawab Zivannya. tidak lama mereka sudah sampai didepan stasiun kereta, Zivannya parkir didepan mobil Rara dan Dimas.


"gile bener, istri komandan mah beda" goda Rara melihat Zivannya keluar dari mobilnya. Zivannya tersenyum lebar memeluk Rara erat.


"kangen tau nggak Zi, lama banget pulangnya" sungut Rara menepuk bahu Zivannya pelan, Dimas hi-five ria dengan Zivannya.


"bau-bau belum mandi nih" endus Zivannya.


"ya iyalah, berangkat subuh tau nggak" tawa Rara, Zivannya tertawa ngakak.


"yuk ah kerumah, kayak anak ilang aja dipinggir jalan kayak gini" ajak Zivannya.


"aku ikut kamu aja. biar ngrasain mobil berkelas komandan. Dimas biar sendiri" kata Rara menjauh menuju mobil Zivannya. Dimas menghela nafas panjang, Zivannya menepuk-nepuk bahu Dimas memaklumi, bergegas menyusul Rara sambil tertawa mengejek Dimas.


"tante" salam Rara masuk kedalam kursi penumpang belakang, mama Zivannya tersenyum dan mengelus rambut Rara.


"sehatkan nak Rara" tanya mama Ranti, Rara mengangguk tersenyum.


"Dimas sendirian dimobil" tanya mama, Zivannya mengangguk. mama hanya geleng-geleng kepala.


"anak-anak ini udah pada gede masih aja selengekan" senyum mama Ranti.


"kita beli makan dulu nggak Zi, mereka pasti kelaperan. kata mama, "nanti aja ma. biar mereka istirahat, kan ada telur dan mie dirumah tinggal masak aja sebentar" kata Zivannya. Rara tertawa membenarkan.


hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..


selamat menikmati cerita kedua kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.


ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...


dukung yaaa... karya kedua ku.

__ADS_1


love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..


thanks a lot pisang sekebon...😘


__ADS_2