Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 42


__ADS_3

Zivannya menghempaskan tubuhnya ketempat duduk peron, Aga tersenyum dan duduk disamping Zivannya. mengelus kepala Zivannya pelan. "ponselmu yang" serah Aga, Zivannya memandang Aga lama. "aku otak Atik sebentar. jika kamu ada apa-apa akan langsung terhubung keponselku" senyum Aga, Zivannya memasukkannya kedalam saku.


"jangan terlalu sering keluar malam. tubuhmu terlalu kecil, besarin dikit" kata Aga.


"ini juga udah gede by, udah lebih lima kilo dari kemarin sebelum pulang" pandang Zivannya.


"masa sih.... perasaan masih sama aja kalo aku pegang" tanya Aga, Zivannya membelalakkan matanya tahu arah pembicaraan Aga berujung kemana.


"serius sayang, kamu kayaknya turun beratnya. aku ngangkat kamu itu ringan banget. kemarin pas disuruh bunda push up tubuhmu nggak terasa berat, cenderung ringan. aisshh.... kamu aja yang pikirannya kesana melulu, kan... jadi nggak rela ninggalin kamu lama-lama kan yang... ahhh...." pandang Aga kesal. Zivannya menutup mukanya malu mendengar perkataan Aga.


"by, kalo ngomong liat tempat kenapa sih. nggak enak sama sebelah" bisik Zivannya, Aga tertawa pelan.


"nggak papa kan pak, bapak pasti maklum kalo kita pengantin baru, ya kan pak.." senyum Aga. bapak itu tertawa pelan dan mengangguk.


Zivannya menundukkan mukanya tanpa mau meladeni Aga.


"pulang nanti kita harus ke dinas lho yang, jangan lama-lama pulangnya" pandang Aga, Zivannya mengangguk.


"ikutan pulang Dimas dan Rara ya besuk" kata Aga, Zivannya menoleh.


"sebisa mungkin by, jika udah selesai mengurus segala sesuatunya pasti aku pulang" angguk Zivannya.


"hatiku tertinggal denganmu lho Zi" kata Aga, Zivannya tersenyum.


"nanti nggak bisa bekerja dengan benar dong tubuhmu kalo hatimu tertinggal di sini" ujar Zivannya.


"ya... begitulah. karena aku membawa hatimu jadi kamu juga harus baik-baik menjaga hatiku" angguk Aga mengusap rambut Zivannya.


"jangan lama-lama pulangnya" tatap Aga sayu. Zivannya mengangguk.


"jangan lupa ambil berkas sebelum pulang" ingatkan Aga, Zivannya mengangguk.


"jangan lupa selalu kabari" kata Aga, Zivannya mengangguk lagi.


"by, aku kok jarang ya liat kamu pake seragam dinas" toleh Zivannya, Aga tersenyum, "besuk saat sidang aku akan berpakaian lengkap" angguk Aga.


"trus aku pake pakaian yang kayak apa" tanya Zivannya.


"sopan, kamu tinggal make aja besuk. nggak cuman sekali sidangnya. jadi udah disiapin bunda dan kak Mentari" jawab Aga, Zivannya membuka mulutnya sedikit karena tak percaya. "segitunya sih kak, kenapa aku jadi deg-degan ya" kata Zivannya. Aga menoleh, "kamu panggil suamimu apa" tanya Aga cepat, Zivannya nyengir. "hubby" ralat Zivannya membuat simbol peace dengan kedua jarinya.


"ishhh... bikin aku pingin nyium tuh mulut" geram Aga, Zivannya menjulurkan lidahnya pelan. Aga mengusap rahangnya menatap Zivannya.


"yang, aku udah dipanggil" dengar Aga ketika terdengar pemberitahuan, Zivannya memandang Aga. "udah datang" berdiri Zivannya, Aga mengangguk. Zivannya mencium tangan Aga yang dibalas dengan kecupan diwajah Zivannya berulangkali. "tiketnya udah disiapin belum" tanya Zivannya.


"udah disaku kemeja" angguk Aga memeluk Zivannya. "hati-hati dijalan by, kabari jika sudah sampai" peluk Zivannya, Aga mengangguk.


"jangan bepergian kalo tidak perlu. kabari aku setiap saat" elus kepala Aga, Zivannya mengangguk dan melambaikan tangan kearah Aga yang menjauh darinya menuju kedalam peron dan naik kereta. Zivannya melangkahkan kaki menjauh dari stasiun kereta, menuju parkiran untuk mengambil mobilnya. Zivannya membeli sarapan buat mereka bertiga. tiba dirumah mobil terparkir didepan rumah.


"kapan berangkatnya zi" datang Dimas dari kamar mandi.


"keretanya berangkat jam 7 tadi dim, aku mampir beli sarapan buat kita bertiga. jadi agak telat pulangnya" ambil piring Zivannya.


"Rara belum bangun juga, anak ini kalo bangun pagi kenapa susah sih" tepuk pantat Zivannya pelan, Rara menggeliat memandang mereka berdua, jam berapa sekarang" tanya Rara memejamkan matanya kembali.

__ADS_1


"jam 8.45 Ra, kita jalan yuk" kata Zivannya memakan sarapannya.


"Zi, kamu sarapan apa sih. kenapa jadi semuanya dikasih aku" pandang Dimas gemas.


"hanya separuh dim, kamu kan baru masa pertumbuhan, jadi kalo makan harus banyak. nggak boleh nolak rejeki kata mama" senyum Zivannya, Rara tertawa.


"jangan biarin Zivannya beli makan. dia nggak berani bilang porsinya sedikit" kata Rara bangun.


"cuci muka dulu gih sana, baru ikut sarapan. kalo ada audisi cari mantu idaman. kamu ditolak mentah-mentah Ra, mana ada gadis perawan bangun siang" kunyah Zivannya, Rara menjulurkan lidahnya menuju kamar mandi.


"kemana kita hari ini" duduk Rara, Zivannya menoleh dan memperlihatkan layar ponselnya, Rara dan Dimas melihatnya.


"aku mau dirumah aja" tulis Zivannya, Rara dan Dimas menatap Zivannya kesal.


"kalian berdua keliling kemana-mana naik sepeda motor aja, lebih romantis dan yang pasti lebih asik" senyum Zivannya menatap mereka berdua. "tapi kenapa kamu nggak ikut Zi, kan nggak asik" kata Rara, Zivannya tertawa.


"justru kalo ada aku malah jadi nggak asik. nggak enak jadi obat nyamuk melulu kalo jalan bertiga. dikira orang aku sahabat yang tidak rela dimadu" lambai tangan Zivannya, Rara menpeuk bahu Zivannya pelan.


"baiklah, hari ini aku pingin jalan-jalan ketempat yang asik. biarkan angin laut membisikkan kata-kata indah ditelingaku" pejam mata Rara membayangkan suasana pantai yang menyejukkan. Zivannya tertawa kecil.


"kapan berangkat kalo kamunya belum mandi dan siap-siap. bangun lebih pagi dikit Ra, kalo kuliah pagi susah banguninnya" pandang Zivannya.


"ingat lho Ra, Zi sekarang nggak bisa sembarangan nginep di rumahmu lagi, dia udah punya suami" pandang Dimas. Rara terhenyak, sadar jika sekarang Zivannya sudah berkeluarga. mereka saling berpandangan dan berpelukan.


"iya... ya ... aku lupa jika kamu udah punya pak komandan" kata Rara, Zivannya mengangguk.


"terkadang aku juga lupa jika punya suami Ra, sebenarnya tadi aku sempat berpikir untuk menginap ditempatmu dulu, karena kemarin kak Aga udah mindahin barang kost aku. bingung mau tidur dimana saat pulang" angguk Zivannya, Rara memukul bahu Zivannya pelan.


"beneran Ra, kalo Dimas nggak ngomong. aku tidak ingat punya kak Aga, rasanya hanya punya kekasih aja bukan suami. efek masih perawan tingting kali ya... bener punya suami tapi kagak disentuh" cengir Zivannya, mereka tertawa ngakak mendengar obrolan mereka yang absurd.


"kasihan pak komandan belum belah duren" kata Dimas.


"he em... ditambah LDR an nih sekarang" tawa Rara nggak kuat.


"bentar lagi juga aku tinggal KKN, duh lengkap tuh penderitaan menahan beban" geleng-geleng kepala Zivannya membayangkan Aga yang uring-uringan, mereka tertawa lebar.


"aduh.... jika kak Aga disini pasti hanya senyum-senyum saja mendengar kegilaan istrinya" tawa Dimas kecil melihat dua gadis didepannya yang selalu gokil.


"pasrah sudah ketika tau istrinya nggak ada jaim-jaimnya" tawa Rara.


"aku juga pasrah lho Ra liat kamu sering marah-marah nggak jelas gara-gara cemburu. padahal aku nggak tau apa masalahnya" kata Dimas.


"itulah lelaki, kalo apa-apa harus dengan logika, terkadang mengabaikan perasaan menganggap hal itu sepele. tapi begitu wanitanya nyepelein marah juga... senang dong kalo ada yang cemburu, itu tandanya aku perhatian padamu" pandang Rara. Zivannya terdiam memakan makanannya.


"berarti kita jadian nih ya, jangan dekat-dekat dengan cowok lain lho Ra" sumringah Dimas, Rara memukul paha Dimas pelan.


"ihhh.... kamu ya dim, seenaknya ngatur nggak boleh deket-deket sama cowok, lha kamu aja boleh deket sama cewek. apaan... egois amat.." pandang Rara, Dimas yang ingin membalas perkataan Rara mengurungkan niatnya ketika dilihatnya Rara memandangnya lekat.


"selama kalian bisa menjaga satu sama lain sih aku rasa bisa jalan kok, saling pengertian aja" jawab Zivannya menengahi, Rara mengangguk.


"nggak nyangka ibu komandan sudah pandai menasehati, kemarin-kemarin kemana Bu, sampai harus pergi jauh menghindar agar nggak ketemu pak komandan dan porak-poranda hatinya jika bertemu" lirik Rara, Zivannya tertawa lebar mendengar jawaban Rara.


"he eh... baru sadar kalo aku juga nggak rasional. hati susah banget diatur sih Ra, terkadang Tuhan memberi jawaban disaat kita tidak sangka-sangka" kata Zivannya pelan.

__ADS_1


"jika dilogika, harusnya kamu lebih berpeluang bersama Yuda kan... udah kenal mama lama, udah sering kerumah, udah tau gimana kamu dari dulu. tapi nyatanya Aga yang berani untuk melamarmu" kata Rara, Zivannya mengangguk pelan.


"sebagus apapun rencana kita kedepannya, Tuhan lebih bagus lagi merencanakan jalan hidup kita" kata Dimas.


"jadi, dim. aku tidak akan berharap dan terlalu jauh kedepan merencanakan apa yang terjadi diantara kita, jalani aja yang sekarang. aku berharap jodohku memang dirimu, tapi jika tidak berjodoh sesakit apapun dan sebenci apapun kita bertiga, kita masih bisa berteman kan" pandang Rara, Dimas memalingkan wajahnya menatap Rara.


"kamu mau meninggalkanku Ra, kita baru mulai nih" lemas Dimas, Rara dan Zivannya saling berpandangan dan menghela nafas bersamaan.


"gini nih Dimas, kalo lagi serius suka bercanda" kesal Rara, Dimas bengong.


"serius aku tuh Ra" jawab Dimas, Zivannya menoyor baju Dimas dengan bantal Rara.


"nggak gitu juga dim, maksud Rara. kita nggak tau apa kalian tetap bersama apa nggak, jika nanti kalian tidak berjodoh, maka jangan putus persaudaraan. dah gitu aja lebih simpel jelasinnya" pandang Zivannya.


"aku nggak bisa berandai-andai kalo hal itu terjadi secara otomatis pasti akan menjauh dari kalian. tentu saja hal itu wajar dilakukan jika itu terjadi. bagi laki-laki tidak mudah melihat wanita yang dicintainya berada dipelukan laki-laki lain" kata Dimas.


"sama dim, perempuan juga tidak akan sanggup untuk melihat laki-laki yang dicintainya miliki wanita lain. that's life, terkadang kita tahu baiknya saat semuanya sudah berakhir. disaat semuanya sudah lebih berpikir jernih" jawab Zivannya.


"seperti dirimu saat ini kan Zi, like rollercoaster" sentuh bahu Rara pelan, Zivannya menoleh dan tersenyum.


"yeah... just like me now... " angguk Zivannya pelan.


"bertemu tidak sengaja, kenal sebelumnya juga enggak, jadi siapa-siapa aja bukan tapi udah nggak mau ketemu lagi, berusaha menghindar, mama sakit dan malah aku berjodoh dengannya, mama meninggal and.... here Iam... "senyum Zivannya.


"hidup harus terus berjalan kan Zi, apapun itu seperti yang selalu kamu bilang jika aku merasa terpuruk. kamu diberi Tuhan kejadian-kejadian yang seperti ini untuk membuatmu kuat bukan. jadi bisa lebih tinggi lagi derajat kemanusiaan mu melalui segalanya" elus bahu Rara, Zivannya mengangguk dan tersenyum.


"makasih Ra, kamu menemaniku saat ini, aku benar-benar beruntung memiliki sahabat sepertimu" kata Zivannya, Rara mengangguk dan memeluk Zivannya erat.


"udah, mandi dulu sana dan segera kita jalan-jalannya. keburu tambah siang nanti" kata Dimas, mereka tersenyum lebar.


"Zi, beneran kamu nggak ikut pulang sama kita" tanya Dimas memandang Zivannya nggak tega.


"bener dim, nggak papa. kan kuliah masih Minggu depan. aku masih harus menunggu surat-surat yang besuk baru bisa diambil" angguk Zivannya, Rara memandang Zivannya lekat.


"tapi kan bisa diambil Fauzan atau om Hadi dan dikirim kesana kan Zi" kata Rara, Zivannya menggeleng.


"it's oke Ra, aku masih bisa mengatasinya sendiri. nanti aku nginep dirumah om Hadi, Sabtu aku mungkin sudah pulang kesana. aku kabari nanti... "senyum Zivannya.


"tapi aku nggak tega meninggalkanmu dirumah sendirian Zi" kata Rara, Zivannya tertawa kecil.


"kan biasa naik gunung juga, perasaan itu dialam terbuka lebih banyak apa-apa nya. ini dirumah sendiri lho Ra, mau kayak apa kejadiannya.. udah ah. kalian berangkat aja" kata Zivannya mendorong tubuh Rara masuk dalam mobil.


"kayak mau nglepas anak gadis aja" geleng kepala Zivannya, Rara tersenyum lebar melambaikan tangan saat mobilnya bergerak meninggalkan halaman rumah Zivannya, Zivannya melambaikan tangan melepas kepergian Rara dan Dimas. memandang rumah mungil yang ditinggalkan orangtuanya kepadanya. banyak kenangan yang tersimpan didalam setiap sudut rumah, kebahagiaan, airmata, kepedihan, kesakitan, tangisan dan derai tawa. rumah ini selalu membuat Zivannya merasa rindu untuk selalu pulang, merasa nyaman. Zivannya menghapus airmatanya dan kembali masuk kerumah tempatnya untuk pulang.


siang hari Zivannya tertidur pulas, hanya keheningan dan suara binatang yang terdengar saling bersahutan saat malam hari.


hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..


selamat menikmati cerita kedua kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat. ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...


dukung yaaa... karya kedua ku. love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..


thanks a lot pisang sekebon...😘

__ADS_1


__ADS_2