Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 73


__ADS_3

"Ra, ajak Dimas pulang. kalian beristirahat dulu, lusa kalian baru kembali kesini. aku tidak apa-apa, aku tahu kalian sangat lelah. terimakasih sudah menjagaku sejauh ini" kata Zivannya memeluk Rara erat. "ada keluarga kak Aga dan keluarga papaku. aku akan baik-baik saja dim, terimakasih" pandang Zivannya. Dimas mengangguk dan berpamitan dengan keluarga besar Zivannya. "bund, Zi akan membersihkan diri dulu sebentar. nanti Zi balik kesini" pamit Zivannya, bunda mengangguk dan mengelus rambut Zivannya. "jangan lama-lama dek, bunda lebih baik melihatmu tidur diruang tengah sini bersama seperti biasanya daripada kamu dikamar sendirian" kata bunda, Zivannya mengangguk segera berlalu tanpa kata. didalam kamar mandi Zivannya menangis sesenggukan, badannya luruh kebawah dibawah guyuran shower air hangat yang membasahi badannya yang masih lengkap dengan pakaian. Zivannya memukul dadanya yang terasa sakit dan hampa, disaat seperti ini dirinya merasa ingin menyusul Aga agar bertemu dengan mereka yang meninggalkannya sendirian. Zivannya merasakan kesepian yang teramat sangat, tidak tahu harus bagaimana.


bunda membuka kamar Zivannya, melihat sekeliling yang masih terasa aroma Aga didalamnya, bunda memejamkan matanya sesaat untuk menenangkan batin dan jiwanya yang baru saja kehilangan salah satu putranya, bunda membuka walk closet anaknya, keberadaan Zivannya tidak tampak. bunda beranjak membuka pintu kamar mandi pelan, melihat Zivannya yang terduduk pilu dibawah guyuran air hangat shower, bunda segera mematikan kran dan melepas baju Zivannya. "dek, pake baju, kamu akan jatuh sakit dan membuat Aga merasa tidak tenang meninggalkanmu seperti ini. kita semua merasakan hal yang sama, merasa kehilangan dan sakit. tapi bukan begini jalan keluarnya. hidupmu sekarang harus lebih berarti untuk Aga. buat dia bangga denganmu, kasih sayang, cinta yang dia berikan tulus untukmu" angkat dagu bunda, Zivannya menangis terisak dan berteriak melepaskan semua beban di hati. ayah dan yang lain segera berhamburan kedalam kamar Aga dan Zivannya setelah mendengar teriakan Zhivannya yang pilu.


"bund" longok mentari kedalam kamar mandi. "ambilkan adek baju kak, minta mbok kesini buat bantu" kata bunda, mentari mengangguk dan segera melakukan yang bunda pinta, mereka segera keluar kamar. mbok datang dan segera menolong nyonya nya mengurus Zivannya yang berantakan. mentari mengeringkan rambut Zivannya, menatapnya melalui kaca besar yang ada didepan mereka. tatapan Zivannya kosong tanpa cahaya, mentari memijit pelan kepala Zivannya agar lebih nyaman.


"dek" sentuh mentari pelan dipundak Zivannya, Zivannya mengangkat dagunya sedikit memandang Mentari. "sudah selesai, ayo kita keluar untuk bersiap melakukan acara dihari pertama dek Aga" pandang Mentari, Zivannya mengangguk dan berdiri tanpa suara. Mentari berjalan dibelakang Zivannya, mereka duduk diantara keluarga dan tetangga yang sudah berdatangan untuk peringatan kepergian Aga dihari pertama.


Zivannya hanya duduk disamping mentari tanpa melihat sekelilingnya, tanpa tahu siapa saja yang ada diruangan itu. untuk saat ini mata dan hatinya sedang berada ditempat lain, memilih untuk kosong dan sepi. semua orang memaklumi keadaan Zivannya hari ini, kehilangan orang yang terdekat membuat seseorang kehilangan separuh jiwanya. Langit hanya bisa melihat Zivannya dari jauh, tanpa bisa menenangkan batin dan jiwanya. "sabar Lang, sabar.... perjuanganmu kayaknya akan lama mengingat hari ini pertama kali bertemu dan mengetahui semuanya tentangnya" gumam langit kepada dirinya sendiri, semua keluarga masih berkumpul setelah acara selesai.


ayah dan bunda sedang berbincang mengenai Zhivannya kepada keluarga papanya. bunda meminta agar kakek dan nenek Zivannya membiarkan Zivannya untuk terus bersama mereka, bagaimanapun Zivannya adalah anak mereka juga setelah menikah dengan Aga, mereka yang akan mengurus Zivannya setelah kepergian Aga. mengenai kehidupan Zivannya nantinya mau bagaimana, ayah dan bunda akan mendukung semua keputusan yang diambil putri mereka nantinya. kakek dan nenek mengerti dan memahami, mereka tidak bisa memaksa Zhivannya mengenai hal itu, karena mereka juga merasa memperlakukan Zivannya tidak baik dimasa lalu. kalau mereka memaksa agar Zivannya bersama mereka sepertinya tidak baik untuk kondisi Zivannya saat ini. kepergian mamanya dan kepergian Aga dalam waktu yang tidak terlalu jauh membuat Zivannya lebih memilih sendirian, ayah dan bunda akan memperhatikan Zivannya sepenuhnya.


Yuda yang juga ikut mendengarkan menghela nafasnya berat, merasa kesempatannya untuk bertemu Zivannya akan semakin sedikit. pasti Zivannya akan dibawa ke Jakarta ketempat tinggal kedua orang tua Aga nantinya, ditambah lagi dengan dua kakak lelaki Aga yang pasti akan lebih protektif terhadap Zivannya, Yuda mengusap wajahnya merasa resah.

__ADS_1


"sebulan lagi Zivannya akan wisuda, sebenarnya kemarin Zivberbincang dengan Langit ditaman belakang, sedangkan yang lain masihannya selesai sidang tugas akhir nya, ka№$mi dataeng kesini menemaninya untuk sidang ,,tapi ternyata menerima kabar tentang DW s wa# dari sini#a PP, mr kawan yang berada disana. jadi perasaan Zivannya campur aduk menjadi satu dihari yang sama" kata Ayah. mereka menatap Zivannya yang hanya memejamkan matanya dengan airmata yang turun perlahan.


pagi hari rumah terlihat sepi, Zivannya tertidur setelah melaksanakan kewajiban paginya, diruang tengah bersama-sama dengan anggota keluarganya yang lain, bunda tidak mengijinkannya untuk tidur sendirian dulu, ayah dan bunda berbincang dengan Langit di taman belakang, sedangkan yang lain masih tidur dengan pulas. mbok membawa kopi hitam untuk tuannya dan teh tawar untuk nyonyanya. Langit lebih memilih coklat hangat untuk mengawali harinya, mbok mengangguk dan bergegas membuatkan. ayah mengobrol dan menanyakan banyak hal kepada Langit yang baru dikenal matahari kemarin, bunda lebih banyak diam mendengarkan sambil menyesap teh panas manisnya sambil melihat dari pintu lebar kaca anak-anaknya yang tidur bersama.


keluarga om Hadi, nenek dan kakek dari pihak papanya akan pulang siang ini, mereka berpamitan.


"hati-hati dijalan om, kek, nek. terimakasih sudah menyempatkan untuk kesini, maaf Zi dan kak Aga banyak salah" salam Zivannya memeluk mereka, nenek mengelus pipi Zivannya.


"yang sabar ya Zi, banyak istighfar dan selalu sabar" pesan nenek, Zivannya menganggukkan kepalanya. Farhan dan Aisya memeluk Zivannya bergantian.


Langit memandang Zivannya lebih sering namun gadis itu tidak pernah melihat sekalipun kearahnya walau tanpa sengaja, membuatnya merasa tidak nyaman. sepertinya memang akan butuh waktu panjang untuk menaklukkan hatinya, apalagi baru saja ditinggal pergi selama-lamanya oleh suaminya saat bertugas. Langit juga seorang abdi negara hingga rasa kuatir mendominasi perasaannya saat ini, ketakutan akan penolakan dan trauma Zivannya jika nanti dia mendekatinya.


3 hari peringatan kepergian Aga berjalan dengan baik dan lancar, semua orang telah kembali ke pekerjaan mereka masing-masing. selama dua minggu Zivannya ditemani oleh bunda dan ayah yang selalu berada dirumah, mereka akan kembali ke Jakarta terlebih dahulu dan balik saat wisuda Zivannya akan tiba nanti. Zivannya mengerti, ada Rara dan Dimas yang selalu menemaninya.

__ADS_1


sebulan lebih sejak kepergian Aga, Zivannya tidak pernah keluar dari rumah jika tidak ada keperluan yang mendesak, acara peringatan kepergian Aga juga sudah dilakukan dan berjalan dengan lancar tanpa hambatan. semua keluarga dapat kembali berkumpul karena dilakukan saat akhir pekan, dirgantara dan matahari juga bisa datang, walau tidak lama. namun sehari itu mereka dapat berkumpul, membicarakan banyak hal bersama-sama dan mengatur jadwal kembali saat ada acara peringatan Aga.


tiba waktunya acara wisuda Zivannya yang akan dilakukan esok hari. "dek, kakak nanti sore baru akan sampai kesitu" kata Valerie dalam panggilan videonya, Zivannya mengangguk, Raka sudah terlihat heboh dengan persiapan untuk mengunjungi Zivannya membuat bunda tertawa melihat tingkah Raka yang lucu.


"hallo gantengnya onty Mentari" longok mentari dibelakang Zivannya dan bunda, Raka menatap mereka bertiga yang bersama-sama. "ma, onty Zi dan onty mentari sama Uti udah disana ma. kita berangkat sekarang aja" rengek Raka, mereka tersenyum melihat Raka.


"iya kak, ini mama baru nyiapin pakaian kakak dan adek kan. nanti kalo disana nggak bawa baju ganti kakak mau nggak pake baju" elus kepala Valerie, Raka menggeleng.


"nggak usah bawa baju banyak kak, disini udah banyak" perlihatkan tumpukan baju bunda dibelakang mereka. Valerie tersenyum melihatnya. "oke bund, bawa tas kecil aja berarti" angguk Valerie mengerti kebiasaan bundanya untuk selalu memberikan baju kepada cucu-cucunya sehingga dia tidak terlalu repot untuk membawa banyak barang.


"kak dirgantara dan bang Matahari fix nggak bisa ikut ya" tanya Zivannya, Valerie mengangguk. "nggak papa, mereka kan baru aja kemari. besuk kita ketemu lagi dirumah Jakarta" kata bunda tersenyum.


Zivannya terlihat menawan hari ini dengan balutan kebaya pilihan bunda untuk wisuda hari ini. Raka dan Riki terlihat tampan dan lucu mengenakan batik yang sama dengan kakungnya. bunda dan kedua anak gadisnya yang lain mengenakan baju warna yang sama dengan model yang berbeda. "kak, nanti kalo ikut Uti sama Kakung didalam, duduk tenang ya ato mau nunggu diluar sama mama dan onty" tanya bunda, Raka manggut-manggut. Zivannya mencium pipi tembem Raka. "ishhh onty nih, kena merah-merah nih pipi Raka" kesal Raka mengusap pipinya sambil memandang Zivannya yang malah tersenyum lebar meraih jemari tangan Raka, mentari meraih jemari Raka yang satunya, kemudian mereka mengangkat tubuh Raka keatas membuat Raka tergelak senang, Riki tertawa senang melihat kakaknya terbang. mobil mewah besar berhenti didepan rumah, ayah segera keluar untuk membuka pintu pagar. "bunda. kita berangkat sekarang, Zi harus tiba terlebih dahulu didalam gedung, nanti kita tidak dapat parkir dekat gedung, pasti sudah banyak yang datang" kata ayah. "iya-iya, kita baru jalan ini" dekati bunda, Langit berdiri dengan gagah disamping pintu mobil menanti kedatangan para wanita yang terlihat cantik dihari spesial ini, Zivannya tertegun sesaat melihat Langit yang tersenyum melihatnya keluar dari dalam rumah, kedua kakak lelakimu yang memintanya untuk menggantikan mereka di hari ini, ayah mengijinkannya karena kebetulan dia disini juga" senyum ayah mengerti pertanyaan yang ada dikepala Zivannya mengenai keberadaan langit. Zivannya mengangguk dan masuk mengikuti langkah keluarganya. Zivannya duduk dibelakang Langit yang mengemudikan mobilnya. langit menatap sekilas Zivannya dari kaca mirror depan, Zivannya sibuk menggoda Riki yang berada dipangkuan bunda. Riki tertawa lebar, Raka menoleh kebelakang, "adik jangan berisik, pagi-pagi ini" kata Raka, Valerie tertawa pelan. "anak itu, meniru saat papanya bersiap pagi-pagi, Riki selalu ingin ikut" kata Valerie, bunda mengelus rambut Riki. "kritingnya Uti, kan sayang papa. jadi kalo kemana-mana pingin ikut" pandang bunda, Riki manggut-manggut.

__ADS_1


hai....hai....hai.... all readers, terus dukung karyaku ini agar terus update. terima kasih semuanya...


luv...luv....luv U all. terimakasih atas dukungannya selama ini...


__ADS_2