Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 168


__ADS_3

kendaraan melaju dengan lebih kencang, beberapa kali Langit mendahului kendaraan lain membuat Zivannya seperti kehilangan jiwanya. "takut, yang" tawa Langit, Zivannya mengangguk pias. Langit mengusap punggung tangan istrinya menenangkan hatinya. "jika kita tidak bergegas akan semakin malam nanti" kata Langit, Zivannya mengangguk mengerti.


mereka memasuki gedung pusat kesatuan Langit, setelah melapor ke petugas jaga mereka segera masuk kedalam. "yang, kamu tunggu disini. jangan kemana-mana, aku akan kedalam dulu" kata Langit mendudukkan badan Zivannya disofa ruangan dan Langit mengetuk pintu ruangan yang berada disampingnya. "masuk" kata seseorang dari dalam, Langit kemudian membuka pintu setelah menatap Zivannya sesaat. Zivannya membuka ponsel suaminya untuk bermain game, beberapa kali main Zivannya selalu kalah dan merasa kesal sendiri.


"kenapa tingkat kesulitan game ini makin menjadi sih" hembus nafas Zivannya memulai kembali permainan yang membuatnya semakin penasaran.


"hallo" salam seseorang, Zivannya yang sedang berkonsentrasi memainkan game di ponsel suaminya segera mendongak terkejut dengan sapaan seseorang, ia segera berdiri tegak seperti seorang anak kecil yang ketahuan mengambil permen.


"saya minta maaf jika membuatmu terkejut" senyumnya ramah, Zivannya terdiam sesaat kemudian segera menganggukkan kepalanya.


"maafkan saya, karena terlalu serius bermain" tunduk kepala Zivannya sedikit kikuk mengetahui jika yang menyapanya adalah komandan tertinggi suaminya. ia tertawa pelan.


"tidak apa, apakah menunggu Langit, ia pasti minta ditemenin bukan" katanya kemudian, Zivannya tersenyum lebar mengangguk. "iya komandan" jawab Zivannya.


"anak itu, baru tau kalo punya istri sangat menyenangkan. dulu aja disuruh cepetan nyari pendamping bilangnya nanti, nanti aja" goda komandan, mereka tertawa bersama. "aku lihat dulu kedalam" senyum komandan. Zivannya mengangguk dengan sedikit menundukkan parasnya mempersilahkan komandan kesatuan Langit untuk masuk kedalam bersama ajudannya. Zivannya menghela nafasnya panjang menetralisir detakan jantungnya yang terkejut disapa oleh atasan tertinggi suaminya itu.


"untung tadi udah diajak ngebut saat naik motor, kalau nggak usah jatuh kebawah tadi saking groginya" pegang dada Zivannya.


tak berapa lama, Langit keluar dari dalam ruangan menoleh tersenyum mendapati istrinya yang sedang menunggunya dengan sabar. "lama tidak" kecup rambut Langit mendekat, Zivannya menggeleng menatap suaminya yang terlihat ceria. "aku mendapat ijin setelah dinas di luar nanti bisa cuti selama seminggu" senyum Langit. "seminggu lagi memang cuti resmi untuk perjalanan dinas ke luar" raih jemari Langit, Zivannya tersenyum beranjak dari duduknya mengikuti langkah Langit keluar dari gedung.


"rekeningmu semakin gendut, yang" tawa Langit memakaikan helmet istrinya.


"kenapa bisa, kan hanya gajimu aja kak" kata Zivannya memakai jaket denimnya tidak mengerti maksud perkataan Langit.


"hhmm lihat aja nanti, yang" senyum-senyum Langit, "ada apa" tatap Zivannya tidak mau naik motor sebelum Langit memberitahunya. "ada bonus buat perwira" senyum Langit mengusap pipi istrinya.


"sejak aku mengenalmu dan mulai mendekatimu, rejeki mu melalui ku semakin banyak, semoga nanti saat kita punya baby akan semakin berkah" senyum Langit lebar. Zivannya tersenyum mengamini permintaan dan doa Langit untuk kebahagian keluarga mereka.


"yang, mau beli apa sebelum kita bertemu dengan teman-teman lama" tanya Langit, "tidak. langsung ketemu dengan yang lain aja kak, setelah itu kita pulang" geleng Zivannya. "apa mau ganti baju dulu. kita bisa beli di mall terdekat" tanya Langit.


"tidak, aku pake ini aja. apa kakak mau ganti dulu" tanya Zivannya. "tidak usah, karena aku tetap terlihat tampan pake apapun" senyum Langit. Zivannya memutar bola matanya jengah, Langit tertawa lebar melihat kelakuan istrinya.


"memang aku ganteng, jika tidak maka tidak akan mempunyai istri cantik sepertimu" toleh Langit, Zivannya tersenyum simpul. "aku mencintaimu Satria Langit" senyum Zivannya. "aku lebih mencintai mu Zivannya Fritscha Dewantara" ucap Langit. "pulang aja yuk, yang. aku ngerasa nggak kuat nih" toleh Langit cepat. Zivannya memukul punggung suaminya pelan.


"langsung ketempat acaranya ngumpul" kata Zivannya segera. Langit tertawa kecil menuruti permintaan Zivannya.

__ADS_1


"siap bu komandan" hormat Langit tertawa yang menular membuat Zivannya tertawa.


"Langit" seru seseorang, mereka segera menoleh melihat siapa yang memanggil. Bayu mendekat kearah mereka berdua.


"lama tidak terlihat" salam Bayu, Langit tersenyum membalas salam Bayu, "bukannya dirimu yang selalu menghilang" balas Langit.


Rani tersenyum memberi salam kepada Zivannya, "semakin cantik aja ibu komandan satu ini" kata Rani, "sama cantik dengan yang ngomong" senyum Zivannya membalas salam Rani, mereka berjalan beriringan menuju ketempat mereka bertemu dengan teman-teman yang lain. "bagaimana rasanya menjadi istri komandan Langit" senyum Rani, "banyak kejutan" senyum Zivannya, Rani tertawa renyah. "kapan akan menyusul, kami udah selangkah didepan" goda Zivannya, Rani tertawa lebar.


"jika dia bisa melabuhkan hati terhadap satu perempuan yaitu aku, maka aku akan bersedia. jika tidak maka masih ada laki-laki lain yang lebih menghargai ku" senyum Rani, Zivannya sedikit terkejut dengan perkataan Rani. perempuan yang beberapa kali ditemui saat menemani Langit bertemu dengan teman-temannya itu


"aku tau karena justru saat aku tidak mau tahu tentang dia secara tidak sengaja ditunjukkan Tuhan melalui jalannya" senyum Rani, Zivannya sedikit menghadap ke arah Rani untuk menjadi pendengar yang setia.


"jadi, aku hanya menunggu kejujuran nya dan tidak mengharapkan apa-apa lagi, cukup sampai disaat hati ini seperti ini saja aku memberi dia kepercayaan" senyum Rani, Zivannya diam mendengar.


"huft, jangan tanya seberapa banyak airmata yang keluar, jangan berpikir aku seperti malaikat yang bersayap putih menerima pengkhianatan yang tampak didepan wajahku" senyum Rani tertahan, Zivannya tersenyum.


"dia tidak tahu jika aku sudah mengetahui semuanya, maka itu menjadi nilai plus ku untuk lebih menjaga hati ku sendiri, mungkin dia merasa aku banyak kekurangan selama ini" ujar Rani pelan.


"kenapa kamu masih bertahan, pasti kamu akan menanyakan hal itu kepadaku bukan Zi" tatap Rani, Zivannya tersenyum menggeleng.


"terimakasih banyak atas pengertian mu, Zi. sungguh, aku benar-benar seperti nyaman berbicara tentang ini kepadamu" kata Rani, Zivannya mengangguk menepuk punggung tangan Rani pelan.


"aku pasti akan mendengarkan ceritamu, jika kamu membutuhkan teman untuk mendengarkan, kamu bisa menghubungi nomerku dan menulis apapun yang mau kamu bagi kepadaku" senyum Zivannya, Rani tersenyum mengangguk.


"semoga setelah ini, kita masih bisa menjadi teman baik" kata Rani, Zivannya mengangguk.


"yang" panggil Langit mendekat, Zivannya menoleh menatap Langit.


"apa aku mengganggu obrolan kalian" kerut Langit menatap istrinya.


"sedikit" senyum Zivannya, Rani tersenyum lebar.


"tidak, kami hanya menunggu waktu sambil mengobrol" geleng Rani, Zivannya tersenyum.


"ada apa by" topang dagu Zivannya di lengan kursi.

__ADS_1


"makan, aku sudah lapar" senyum Langit meraih bahu istrinya untuk segera bangkit dari duduknya.


"aku nggak bisa makan sendiri jika ada kamu" kata Langit, Zivannya mengikuti langkah suaminya.


Rani bersikap biasa saja saat melihat keakraban Bayu dan Sita, Zivannya melihat sekilas interaksi yang terjadi diantara mereka bertiga.


"makan ini yang banyak, yang" suapi Langit, Zivannya segera membuka mulutnya menerima suapan dari suaminya.


"tidak usah berlagak menjadi detektif, yang. aku mau kamu biasa aja, lihatlah Rani bersikap tenang" kata Langit menatap Zivannya lekat.


"bagaimana kamu tahu" kerut kening Zivannya heran.


"aku bisa melihat paras istriku sebagai pendengar yang baik" senyum Langit mengusap pipi Zivannya. "sebegitu terlihat di paras ku" tanya Zivannya menyentuh wajahnya, Langit mengangguk mengunyah makanan pelan.


"hanya aku yang paling memahami perubahan ekspresi dan tubuhmu ketika ada sesuatu" ucap Langit pelan, Zivannya tertawa pelan melihat kemampuan Langit yang diperlihatkan kepadanya.


"tentu saja, by. karena hanya kamu yang melihat seluruhnya" angguk Zivannya pelan, Langit menatap istrinya lekat.


"tuh kan, kamu menggodaku lagi, bikin aku kayak cacing kepanasan. aku tenang kamu yang mancing-mancing, ntar giliran aku yang banyak maunya kamu malah jauh dariku" cemberut Langit, Zivannya tersenyum menepuk kaki bagian atas Langit. hingga mereka tertawa bersama.


"makanya kita saling melengkapi kekurangan kita, yang" naik turunkan alis mata Zivannya menggoda, Langit mengusap kaki bagian atas istrinya.


"jangan lama-lama disini nya, aku benar-benar nggak kuat ini, yang" tatap Langit lekat.


Zivannya tersedak mendengar ucapan Langit, "kebiasaan kalo ngomong nggak disaring ini mulutnya" tepuk pipi Zivannya, Langit tertawa pelan mencium pipi istrinya sekilas. Sita yang melihat mereka dengan tatapan yang tidak bisa dipahami.


Langit mengobrol dengan teman-temannya beberapa saat kemudian hingga satu persatu mulai mengundurkan diri karena hari telah larut, Langit menghampiri istrinya yang juga berbincang-bincang dengan perempuan lain pasangan masing-masing temannya. mereka berpamitan kepada yang lain.


"udah jam 10, yang" lihat waktu Langit, Zivannya memakai jaket denimnya dan segera naik setelah Langit selesai memakaikan helmetnya. Langit melajukan motor dengan kecepatan sedang.


"sepertinya ini terakhir kali Rani menemani Bayu" kata Zivannya, Langit mengangguk. "Rara sepertinya menyukai Yuda, tapi om Baskara meminta perhatian lebih" kata Zivannya, Langit mengangguk.


"jangan ikut campur, yang. biarkan mereka sendiri yang menyelesaikan urusan hati. takutnya niat baik mu membantu malah akan membuat mereka merasa tidak enak padamu. cukup dengar apa yang mereka katakan, itu saja" kata Langit. "baik" jawab Zivannya.


hai.... hai.... hai.... all readers terimakasih memberi dukungan selama ini terhadap karyaku ini.

__ADS_1


luv.... luv..... luv.... U all sekebon pisang goreng


__ADS_2