
Zivannya tersenyum melihat pesan yang dikirim Aga setelah memutuskan panggilan.
"nggak nyangka malam pertamaku harus sendirian dan jauh darimu" chat Aga.
"mau bersama... temani malamku yang sendirian" jawab Zivannya, Aga mengirim emoticon menangis dan tertawa bersamaan.
"Zi... bolehkah aku memperlihatkan cincin pernikahan dimedia sosial, nanti akan terlihat dimedia mu" kata Aga.
"menurutku jangan dulu kak, kita masih harus menyelesaikan sidang pranikah dulu kan. takutnya nanti malah akan membuat masalah baru" chat Zivannya.
"hanya karena kesenangan sesaat saat nge-post dampaknya panjang banget" lanjut Zivannya, Aga mengirim emoticon ok.
"tidur Zi, ini udah jam 1 malam" chat Aga.
"iya suamiku... jaga diri baik-baik. jangan tergoda dengan cewek disebelah jangan lirik-lirik cewek lain juga" pesan chat Zivannya.
"siap istriku... 86... tidak akan, mendapatkanmu yang berlian tidak akan kubuang untuk batu sungai" jawab Aga mengirim emoticon hati. Zivannya tertawa kecil, menghampiri mamanya yang terlihat tenang. Zivannya tertidur disamping mama.
"Zi..."usap mama pelan, Zivannya bergerak pelan mengerjapkan matanya.
"hmmm... kenapa ma, mama mau apa..." tanya Zivannya duduk tegak.
"nggak, mama mau minum, kamu nggak sujud malam, ngaji gih. mama tenang kalo denger kamu ngaji" senyum mama Ranti. Zivannya mengangguk menatap ponselnya, jam 2.25 pagi. Zivannya segera mengambil botol air mineral, membantu mama untuk minum.
"apa yang mama rasakan saat ini" tanya Zivannya menggenggam tangan mama. mama tersenyum menatap mata Zivannya.
"Zi, maafkan mama yaa...jika selama ini tidak selalu ada disaat kamu butuh mama" senyum mama, Zivannya menatap mamanya.
"maafkan Zi juga yang sering membantah mama, sering membuat mama marah, kesel" senyum Zivannya menghapus air matanya yang mengalir deras tanpa suara, mama meminta Zivannya untuk memeluknya. Zivannya menangis sesenggukan dipelukan mamanya, mama Ranti berusaha menenangkan Zivannya yang terlihat terpukul psikisnya.
"Zi, sudah. tidak baik untuk mama jika kamu begini." ujar mama menatap Zivannya lekat.
"kita masih bisa bersama itu adalah mukjizat Tuhan, jangan mendahului takdir Tuhan Zi. mama merasa sehat-sehat aja, tidak merasa nyeri didada lagi" senyum mama, Zivannya segera menyeka airmatanya, ia tidak mau mamanya melihatnya seperti ini.
"mama sebenarnya mau pulang aja Zi, tapi pasti kamu dan dokter tidak mengijinkan" senyum mama.
"mama mau pulang" tanya Zivannya menatap mamanya, mama mengangguk, Zivannya tersenyum menatap mamanya.
"Zi akan coba bertanya pada dokter ma, apakah setelah selesai observasi mama diperbolehkan pulang. hasil CT scan kemarin belum keluar ma, Zi janji akan menanyakannya nanti" angguk Zivannya. mama tersenyum lebar merasa senang.
"akhir-akhir ini mama sering mengantuk Zi, mungkin karena tiduran aja ya, jadi ngerasa cepat ngantuk. coba kalo dirumah. bisa ngapain aja" kata mama Ranti, Zivannya mengangguk, "bener ma, kita bisa kewarung mbak Marni, beli pecel lele di ujung desa, ngajar anak-anak diteras rumah, keliling kota naik motor Bu guru" tawa Zivannya. mama tertawa lebar mendengar godaan Zivannya. mereka tertawa ngakak membahas hal-hal yang absurd, hingga Zivannya menunaikan kewajiban malam dan ngaji seperti yang diminta mamanya.
"Zi, mama ngantuk. tidur dulu ya.." kata mama, Zivannya mengangguk dan kembali melanjutkan melantunkan ayat-ayat kitab sucinya. sambil memegang tangan mamanya.
pagi hari
jam 8 lebih, Zivannya mengerjapkan matanya, sehabis kewajiban pagi tanpa sadar Zivannya memejamkan mata hingga tertidur. seorang perawat menatapnya tersenyum. Zivannya menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya, membuka mukena dan melipatnya.
"kakaknya udah pulang ya..." lihat sekeliling perawat tidak menemukan keberadaan orang yang dicarinya didalam ruangan.
"iya sus, tadi malam. sudah harus kembali bekerja" senyum Zivannya mengikat rambutnya model ekor kuda.
"ohhh... kemarin banyak yang datang kan" tanya perawat sambil mengganti kantong infus mama Zivannya.
"iya sus, saudara dari luar kota, kebetulan mampir kesini sambil menjenguk mama" angguk Zivannya meminum air mineral botol.
"nggak sekolah dik" tanya perawat, Zivannya tersenyum menggeleng.
__ADS_1
"saya sudah kuliah semester 4 sus, ini baru liburan semester" jawab Zivannya, perawat itu sedikit kaget dan meminta maaf karena mengira masih sekolah.
"tidak apa-apa sus, sering seperti itu, karena kurus jadi banyak yang salah mengira" lambai tangan Zivannya tidak masalah, Zivannya segera bertanya perkembangan kesehatan mamanya, dan kapan dokter akan visit mamanya, segera membersihkan dirinya setelah perawat menyelesaikan pekerjaannya.
tak lama dokter datang dan memeriksa mama Zivannya, memberi tahu beberapa hal yang Zivannya tanyakan mengenai penyakit mamanya, keinginan mama yang ingin segera pulang karena merasa sehat, hasil CT scan mama dan beberapa hal lainnya. dengan cekatan dokter menjawab pertanyaan Zivannya satu persatu, hingga Zivannya mengerti dan paham.
"terimakasih banyak dok, atas pengertian dan perhatiannya" angguk Zivannya setengah menunduk berterimakasih. dokter tersenyum mengangguk, setelah itu keluar dari ruangan inap pasien.
"hallo" salam Zivannya.
"mamamu sakit apa Zi" tanya Rara. Zivannya melambaikan tangan kepada Dimas yang setia berada disamping Rara.
"masih setia aja Dim" tawa Zivannya menaik turunkan alisnya. Dimas dan Rara tertawa ngakak melihat tingkah Zivannya.
"mama kecapekan Ra, main kesini aja sama Dimas, ditanyain lho" kata Zivannya berbaring disofa panjang.
"mama mana" tanya Rara, Zivannya beranjak dari tiduran menghampiri mamanya.
"menjelang subuh mama tidur, tengah malam kita begadang. kayak kita kalo aku nginep di tempatmu. biasalah" senyum Zivannya merapikan selimut mamanya.
"sekarang kebanyakan tidur, sering mengantuk katanya. karena hanya tiduran aja kerjaannya" kata Zivannya.
"cepet sembuh mama Zivannya, selalu sehat dan ceria kembali" kata Rara, Zivannya mengamini doa Rara sambil tersenyum.
"besuk Kamis aku berangkat dengan Dimas ya Zi... jangan kemana-mana" ingatkan Rara, Zivannya mengangguk.
"kemarin kita kekampus Zi, belum ada hal yang harus diurus. kemarin aku sudah nanya bagian kurikulum, masih dua Minggu lagi baru ngurus semuanya" kata Rara, Zivannya mengangguk tersenyum.
"gimana kabar pak komandan Zi" goda Rara menaik turunkan alis. Zivannya nyengir mendengar pertanyaan Rara. raut muka Zivannya berkerut melihat layar ponselnya.
"what... masa" panik Rara, Dimas mencekal tangan Rara agar tenang, Aga menatap layar ponselnya lama setelah tersambung dengan Zivannya dan kemudian tersenyum.
"ada Rara dan Dimas, apa kabar" sapa Aga sambil membaca beberapa kertas.
"sampai jam berapa kak, udah dinas aja" lihat Zivannya sambil memakan roti sobek yang tersisa semalam. Aga melihat Zivannya sesaat.
"tadi jam 5, langsung kekantor aja, daripada bolak-balik. dijemput teman. kamu belum sarapan, ini udah jam berapa" tanya Aga.
"belum, nanti aja kak" geleng Zivannya mengunyah rotinya pelan.
"ehemmmmm.... kayaknya ada yang hilang di bagian ini" dehem Rara, Zivannya tertawa kecil.
"3 hari ini kak Aga menemaniku dan membawa mama kerumah sakit" kata Zivannya. Rara membelalakkan matanya tak percaya.
"apa.... cerita detail Zi, jangan ada yang terlewat" serius Rara duduk dengan benar.
Aga hanya mengulas senyum sedangkan Dimas dan Zivannya tertawa lebar.
Zivannya memperlihatkan jari manis kirinya setelah keadaan tenang. Rara dan Dimas terbelalak melihat layar ponselnya.
"Zivannya...." teriak Rara seru, Zivannya menjauhkan diri dari ponselnya, tidak tahan dengan teriakan Rara.
"kalo kamu nggak tenang, nggak akan ada penjelasan. dengarkan baik-baik baru aku jelaskan" tunjuk Zivannya dilayar kaca, Dimas mengangguk menahan tubuh Rara agar tenang dan mendengarkan penjelasan Zivannya.
"pak komandan juga dengarkan, biar nggak salah paham sama Zivannya jika dia memilih pria lain" kata Rara, Dimas menutup mulut Rara agar diam dulu mendengarkan penjelasan Zivannya. Aga tertawa pelan dan mengangguk.
"mamaku ternyata sakit lumayan parah Ra, aku tidak diberi tahu sebelumnya. mama memintaku pulang tiba-tiba, aku sudah ceritakan saat itu... kalo mama memintaku pulang tanpa memberitahu apa-apa" hembus nafas panjang Zivannya, Rara menganggukkan kepalanya kuat-kuat.
__ADS_1
"ternyata keluarga kak Aga melamarku, tanpa aku tau sama sekali. hanya aku yang tidak tahu, kak Aga menemui mamaku saat kita tidak berkomunikasi sama sekali setelah kejadian dikantin kedokteran waktu itu" kata Zivannya, Rara menutup mulutnya dengan kedua tangannya terkejut.
"hingga tiga hari ini mama dirawat dirumah sakit karena tidak bisa lagi menahan nyeri didada yang penuh dengan cairan yang menyumbat paru-paru nya. mama sama sekali nggak pernah cerita mengenai hal ini, nggak mau melihatku sakit. itu alasannya" senyum Zivannya pilu, Rara terlihat sedih mendengar ucapan Zivannya.
"hingga kemarin siang mama menginginkan aku dan kak Aga menikah dirumah sakit dihadapan mama yang sedang terbaring, membuat hati mama bahagia dan lebih tenang" kata Zivannya. Rara membelalakkan matanya tidak percaya dengan pendengarannya.
"kami belum sidang pranikah untuk kedinasan. jadi nggak usah posting apapun mengenai hal ini, aku tidak ingin ada hal-hal yang memberatkan dikemudian hari" cerita Zivannya menyeka airmatanya.
Rara memeluk Dimas dan menangis mendengar ungkapan perasaan Zivannya.
"bagaimana mama Ranti Zi" tanya Dimas mengusap punggung Rara, Zivannya menghela nafasnya panjang.
"kata dokter baik, mama juga ingin pulang" senyum paksa Zivannya.
"apa kamu baik-baik saja Zi, jika kamu mau kita bisa kesana besuk" kata Rara, Zivannya menggeleng.
"aku memang tidak baik-baik saja saat ini tapi aku masih bisa bersama mama sudah merupakan kenangan indah bagiku, kalian bisa kesini hari kamis. aku selalu disini dengan mama, terimakasih Ra kamu selalu menanyakan kabar dan memberiku kabar" senyum Zivannya.
"tunggu.... tunggu dulu... ada yang hilang deh dibagian ini..." kerut Rara berpikir lama.
"kapan pak komandan tahu detail semua tentang Zivannya" kata Rara penasaran. Aga tersenyum lebar menatap Zivannya.
"tuh dari kekasihmu yang paling setia" isyarat dagu Aga, Dimas nyengir. Rara menatap Dimas tajam.
"kak Aga serius Ra, nyatanya mereka menikah disaat yang tepat, mama Zi sakit serius. jika saat itu kak Aga tidak ada mama Zivannya masih kepikiran tentang Zivannya" bela diri Dimas saat Rara akan menghabisinya, Rara seketika berhenti dan memandang Zivannya.
"apa kamu bahagia Zi" tatap Rara, Zivannya tersenyum mengangguk dan menggeleng.
"aku tidak tahu harus merasakan apa, bahagia saat mamaku menderita atau menderita saat membuat mamaku bahagia" usap air mata Zivannya, Rara memeluk Dimas sambil terus menatap Zivannya.
"aku merasa apa yang kau rasakan Zi" angguk Rara menahan tangis.
"aku tau jika kamu tidak mudah untuk melaluinya saat ini, aku tau kamu juga tidak mudah menceritakan semuanya kepada kita berdua dan aku tahu pasti kamu akan melakukan yang terbaik" kata Rara mengusap airmatanya, Zivannya mengangguk.
"yang pasti aku merasa lega karena kak Aga yang menjadi imamku sekarang" kata Zivannya.
"duh ... banyak yang patah hati nih denger kamu nikah" kata Rara keceplosan, Dimas segera menutup mulut Rara cepat. Aga dan Zivannya tertawa mendengarnya.
"kalo ngomong itu dipikir dulu kenapa sih Ra, kapan Zivannya menaruh hati pada mereka. apa kamu pernah liat dia mau jalan dengan cowok" tanya Dimas, Rara menggeleng dan menunjuk Dimas spontan.
"ya... elah Ra, karena dia tau aku menyukaimu makanya dia selalu membantuku untuk mendekatimu. tapi kamu marah hanya karena ada adik kelas yang ngobrol lama dan lebih dekat denganku" pandang Dimas. Rara membelalakkan matanya menatap Dimas, "itu kamu tau, trus kenapa emangnya" kata Rara berlalu dari layar ponselnya.
"kenapa kamu nggak bilang aku Ra, itu hanya percakapan biasa. kamu hanya mengambil kesimpulan dari sudut pandang mu, bukan dari sudut pandang ku" ikuti Dimas.
Zivannya menghela nafasnya, "bertengkar lagi kan ujungnya dua anak itu, tapi baguslah kali ini mereka sudah membuka hatinya" usap wajah Zivannya terlihat lelah.
hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..
selamat menikmati cerita kedua kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.
ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...
dukung yaaa... karya kedua ku.
love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..
thanks a lot pisang sekebon...😘
__ADS_1