Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 185


__ADS_3

Zivannya meletakkan semua perlengkapan yang Langit butuhkan di dalam mobil sebelum mereka berangkat, tak lupa sebotol kopi hitam yang dibuat Zivannya agar Langit dapat berdiri sempurna untuk beraktivitas. Langit menghirup lama aroma kopi hitam yang harum semerbak, ia menoleh dan tersenyum melihat suaminya yang sekarang melakukan kebiasaan yang berbeda. ia tidak akan memperhatikan perbedaan itu jika tadi malam mereka tidak melakukan tes kehamilan.


"yang" panggil Langit, Zivannya menoleh. "nanti siang mau periksa ke dokter" tanya Langit, Zivannya menggeleng. "jika siang aku hanya ingin tidur, kak" sahut Zivannya seraya mengemudikan mobil keluar dari garasi rumah dinas. Langit menghela nafasnya panjang menatap jalanan yang sudah sedikit padat merayap.


"kenapa Bas" sapa Langit setelah menekan tombol terima di layar ponselnya.


"dimana ndan, saya didepan rumah sekarang" tanya Baskara, Zivannya segera menepi untuk menunggu Baskara menemukan keberadaan mereka saat ini. "kita baru keluar dari penjaga kak, segera kesini aja, kita tunggu disini" sahut Zivannya cepat, Langit menatap Zivannya mengelus perutnya.


"baik, Zi" tutup Baskara cepat. ia keluar dari dalam mobil dinas saat sudah berada didepan mobil mereka berdua, Zivannya keluar dari belakang kemudi mobil. "kak, kita mau balik kerumah. jika bisa tanyakan mbak Indira sama kak Leni soal kegiatanku mulai sekarang jauh-jauh hari sudah beritahu kepadaku agar aku dapat bersiap" senyum Zivannya menyambut Baskara. "baik, Zi" angguk Baskara.


"kalian berdua ngapain berdiri lama-lama ditepi jalan begitu, kok kayak sepasang kekasih ketemu dipinggir jalan untuk janjian ketemu" buka kaca mobil Langit, mereka berdua menoleh dan tersenyum. "maaf, ndan. apa mau pake mobil ini apa mobil dinas, ndan" tanya Baskara menunduk hormat.


"pake apa, yang" lihat Langit kearah Zivannya balik melontarkan pertanyaan. "mobil ini aja kak, biar mobil dinas berada dibelakang" kata Zivannya masuk ke belakang kemudi kembali.


"Zi, biar aku yang mengemudi" terkejut Baskara melihat Zivannya yang membawa mobil, "tidak kak Bas, biarkan aku yang membawa. komandanmu beberapa hari kedepan tidak bisa melakukan apapun di pagi hari, jadi mulai besuk jemput dan antar kak Langit dari rumah bunda karena sementara waktu kita tinggal disana" tatap Zivannya, Baskara terdiam meminta persetujuan Langit yang berada disebelah Zivannya.


"masuk Bas, beritahu dia agar mengikuti kita dari sini" kata Langit, Baskara mengangguk menuju mobil dinas yang tadi membawanya dan kembali lagi masuk kedalam mobil Langit, Zivannya melajukan mobilnya pelan dan teratur.


"nggak usah bertanya-tanya kenapa dan apa" kata Langit menyesap kopi hitamnya yang selalu berada ditangannya.


"hariku dengan kak Langit sekarang sedikit berbeda kak, ia akan merasa lemas jika pagi hari sedangkan aku akan merasakan hal yang sama jika beranjak terlalu siang hingga malam hari. makanya aku meminta kak Baskara mengatur jadwalku jauh-jauh hari agar aku bisa mengkondisikan tubuhku biar tidak kenapa-napa" tatap Zivannya sekilas dari reflektor kaca depan.


"aku sudah jauh-jauh hari memintanya untuk mengatur jadwal mu agar kamu merasa nyaman, yang" senyum Langit mengusap perut Zivannya membuat Baskara menatap interaksi keduanya lama menunggu penjelasan lebih lanjut.


"apa aku harus memberitahu Rara sekarang" tanya Baskara setelah sekian detik, Zivannya tertawa pelan melihat Baskara yang selalu cepat tanggap.


"nggak usah kak, kita mastiin ke dokter dulu, hasil testpack kemarin memang garis dua yang artinya positif tapi tidak menutup kemungkinan itu diagnosa yang salah" kata Zivannya tenang, Baskara membulatkan matanya lebar-lebar mendengar perkataan Zivannya yang terkesan santai tanpa beban.


"aku baik-baik saja kak Bas, yang agak mengkhawatirkan adalah keadaan komandan mu yang mengalami morning sick" toleh Zivannya menatap Langit yang menghembuskan nafasnya panjang.


"Yap dan itu membuatku benar-benar merasakan tubuh yang tidak nyaman" angguk Langit pada akhirnya. Baskara membuka mulutnya lebar dan segera menutupnya dengan tangan kirinya.


Langit menatap istrinya lembut, "tapi itu tidak sebanding dengan perjuangan Zivannya mengurusku dan membawa anak-anak ku didalam sini selama 24 penuh dan perubahan tubuh yang tentu juga membuatnya tidak nyaman" usap perut Langit. Zivannya tersenyum dan memberi ciuman jarak jauh dan ditangkap oleh Langit kemudian memasukkannya didalam kantong.

__ADS_1


Baskara memutar bola matanya jengah melihat kelakuan kedua orang yang sekarang selalu bersamanya. "aku jadi tau bagaimana Rara dulu menemani kalian" kata Baskara. Zivannya tersenyum, "dan hal itu takkan terlupakan" kata Zivannya mengangguk.


"apa jadwalku hari ini Bas" tanya Langit mengalihkan perhatian Zivannya. Baskara kembali tersadar dan segera mengulang catatan yang sudah ada kepada Langit, "berarti nanti siang kita ada koordinasi dengan semua kesatuan. kalau begitu kita nanti makan siang dirumah aja" kata Langit bersemangat karena kegiatannya berlangsung siang hari dimana badannya sudah jauh lebih segar.


Zivannya melajukan mobil sedikit lebih cepat dari biasanya. "yang" lihat Langit merasakan perubahan Zivannya dalam mengemudi.


"hhmmm" dehem Zivannya melihat pergerakan lalu lintas yang lancar teratur. Zivannya dengan cepat menstabilkan kemudi dan melaju dengan mulus, ia menyalakan musik dan mengikuti irama seraya mengemudikan mobil dengan kecepatan diatas rata-rata, kedua laki-laki itu hanya bisa saling berpandangan tanpa kata yang terucap.


"kak, kenapa kamu menyebut anak-anak ku. darimana kamu tau ada lebih dari satu" kerut kening Zivannya. "aku dari tadi bertanya-tanya" toleh Zivannya sekilas, "aku mempunyai keyakinan ada dua didalam sini" kata Langit mengusap perut Zivannya yang masih rata. Zivannya mengangguk berbelok dengan tenang tanpa kesulitan berarti.


"kayaknya aku mau ujian mengemudi kendaraan yang lebih besar daripada ini" kata Zivannya tiba-tiba, Langit menatap tajam istrinya sedang Baskara tersedak dan batuk-batuk mendengar perkataan istri komandannya.


"serius, yang. jiwaku sedang dalam kondisi penuh dengan adrenalin. aku akan memastikan semua aktivitas yang dapat aku lakukan setelah periksa ke dokter kandungan nantinya" toleh Zivannya, Langit mengangguk mengusap rambut Zivannya.


"aku akan meminta seseorang melatih mu agar kamu dapat mengemudikan mobil dengan lebih baik lagi" kata Langit pelan, Zivannya menghela nafasnya panjang.


"aku hanya ingin ujian aja" ulang Zivannya, "baik" jawab Langit cepat. "kapan" tanya Zivannya tenang. "jika aku sudah menemukan orang yang berkompeten untuk mu saat ujian" kata Langit, Zivannya mengangguk.


Baskara menghela nafasnya merasakan ketegangan yang tidak terlihat diantara kedua orang terdekatnya itu sekarang. Langit pasti tidak akan mengijinkan Zivannya melakukan hal-hal yang di anggap membahayakan keselamatannya karena saat ini dia sedang berbadan dua.


"apa yang dia suka maka sebisa mungkin akan aku berikan" tatap Langit, Zivannya tersenyum melihat suaminya.


"thank you, aku sangat menghargainya" angguk-angguk Zivannya menambah kecepatan kendaraan nya.


mobil sudah terparkir di garasi keluarga Triastomo. Zivannya keluar dari belakang kemudi dan meraih jemari Langit yang sudah menunggunya. Baskara menghirup udara yang segar dari halaman yang ditumbuhi pohon-pohon yang rindang sembari menunggu mobil dinas memasuki halaman.


"pagi mbak Marni" sapa Zivannya saat Marni membuka pintu rumah untuknya, "ibu dan bapak masih didalam kamar non, mau dibikinin coklat panas sekarang non" tanya Marni mengangguk. Zivannya berhenti menoleh, "kak Langit beberapa bulan ini bikinin kopi item aja mbak, coklat panasnya disimpan dulu. jika ada rujak atau yang asem-asem kak Langit mau" senyum Zivannya, Marni mengangguk.


"di depan ada dua orang teman kak Langit. tolong bikin minum" ketuk kening Zivannya beberapa kali. "baik non, non dek dibikinin apa" tanya Marni sebelum melangkah. "nggak usah mbak, nanti aku ambil air putih sendiri aja" geleng kepala Zivannya masuk kedalam kamar.


"aku sudah nggak kuat" masuk Langit cepat kedalam bathroom kemudian memuntahkan kembali apa yang masuk kedalam perutnya, Zivannya mengusap mulut Langit menggunakan tissue basah.


"apa kakak kuat" tanya Zivannya memeluk Langit dari samping, Langit beranjak dengan bantuan istri. "bisa, yang" jawab Langit berjalan pelan untuk merebahkan dirinya, Zivannya memberi minyak aromaterapi untuk meredam rasa mualnya Marni mengetuk pintu untuk memberikan kopi hitam, Zivannya membantu Langit untuk meminum kopi hitamnya. "sedikit lebih baik" tutup mata Langit bersandar di dinding. Zivannya mengganti bajunya dengan joger dan t-shirt. Langit memperhatikan pergerakan istrinya yang sedang membereskan segalanya, "aku pulang jam berapa, yang" tanya Langit melihat Zivannya. "bisakah sebelum petang. jika tidak ada acara yang benar-benar membutuhkanmu. bisakah pulang" toleh Zivannya mengikat rambutnya model ekor kuda. "baik" angguk Langit menyeruput kopinya. "mungkin seharian aku akan tidur, jika nanti tidak memberi kabar. aku baik-baik saja kak" kata Zivannya, Langit mengangguk.

__ADS_1


"yang, bantu aku. aku akan menemui Baskara" ujar Langit. Zivannya berjalan mendekat dan memeluk Langit agar berdiri. Langit mencium bibir istrinya pelan, Zivannya tersenyum lebar melihat kelakuan suaminya yang mencuri kesempatan.


"mau berangkat sekarang" tanya Zivannya. "pingin berdua aja" dekap Langit erat.


"kita selalu berdua kak, bisa selalu bersama tanpa kamu ada tugas keluar itu sangat berharga buatku" elus punggung Zivannya, Langit berdehem pelan menyandarkan kepalanya di bahu istrinya. "yang, seperti nya bang Matahari akan ditugaskan kembali dipusat" bisik Langit. Zivannya sedikit menegakkan badannya, "benarkah, bagus dong abang dan kakak pulang" jawab Zivannya tenang. Langit merenggangkan badannya melihat sikap istrinya yang sangat tenang, "aku akan lebih berat menjagamu, yang. pasti kedua orang itu akan membuatmu sibuk dan tidak memperhatikanku" hela nafas Langit, Zivannya tertawa mendengar keluhan Langit.


"tidak, yang. kamu akan sgtelalu aku perhatikan, setelah mereka semua" kata Zivannya menggoda Langit melepaskan pelukannya menatap tajam istrinya, Zivannya tertawa semakin lebar mengecup bibir Langit sekilas.


"to the moon and back, yang. nggak usah lebay gitu, kita akan punya baby dan dia nanti yang akan kita prioritaskan" elus pipi Zivannya, Langit mengangguk.


"non dek, jahe hangat" kata mbok saat mereka keluar dari ruangan pribadinya. Zivannya tersenyum memberi tanda Ok dengan jemarinya dan segera meraih gelas berisi jahe.


"dek" lihat bunda bergegas menghampiri Zivannya dan memeluknya.


"kenapa nggak bilang kalo udah sampai sini, kamu baik-baik aja kan" tatap bunda memutar tubuh Zivannya untuk dilihatnya secara menyeluruh.


"bund, Zi baik-baik saja, sehat. kak Langit yang tidak enak badannya" pegang kedua bahu Zivannya, bunda menatap Zivannya sesaat dan segera paham. "ah, iya. Langit, apa kamu lemas nak, biar bunda minta mbok bikinin jahe ya" tatap bunda menyadari bahwa Langit sedang tidak baik-baik saja. "kak Langit minum kopi item bund, dia bisa bergerak jika ada kopi item" senyum Zivannya, Langit mengangguk. bunda menghela nafasnya pelan, "udah dibikinin belum" elus bahu bunda, Langit mengangguk.


"ada anggota kesatuan kak Langit bund, didepan sedang menunggu kak Langit. sudah dibuatin minum sama mbok" kata Zivannya, bunda mengangguk mengikuti langkah kedua anak bungsunya itu.


"pagi, bu" berdiri mereka berdua saat melihat bunda datang bersama komandan mereka.


"pagi, nak. silahkan lho, tidak usah sungkan. malah seneng bunda kalo banyak yang datang kerumah, bikin rumah rame" senyum bunda menepuk bahu Baskara pelan, Baskara tersenyum mengangguk hormat.


"bunda mau ngeteh dulu. silahkan menikmati kopi kalian" senyum bunda beranjak masuk kedalam. Zivannya mengekori langkah bundanya. "jangan berangkat kalo belum sarapan" ingatkan bunda. "ya, bu" jawab mereka. Zivannya menoleh, "kak Langit belum bisa menelan sesuatu kalo pagi bund, hanya kopi item aja" kata Zivannya, bunda mengangguk. "nanti kita ke pasar yuk, dek. beli buah-buahan yang banyak sama sayuran. bunda senang kalo rumah kliatan ramai dan hidup" senyum bunda melihat Langit dan teman-temannya. Zivannya tersenyum mengikuti langkah bundanya kembali.


"dek" panggil ayah, Zivannya membuka matanya melihat ayah sudah berada di pintu kamarnya. "apa kamu akan tiduran aja" dekat ayah memeriksa suhu tubuh Zivannya yang hanya bisa mengangguk pelan.


"ayah kira kamu akan selalu bersemangat untuk melakukan banyak hal bersama ayah" pandang ayah lesu, Zivannya tersenyum kecil. "yah, biarkan adek tidur, badannya sangat lemas" lihat bunda saat melintas didepan kamar Zivannya dan melihat suaminya sedang mengobrol. "tapi bund, adek hanya tidur saja. pasti badannya nggak enak kan" tanya ayah, bunda menghela nafasnya panjang. "bawaan baby nya memang ingin dia tidur yah, biarkan dia istirahat sebentar lagi, nanti sore biarin kita jalan-jalan" pandang bunda, ayah beranjak dari tepi tempat tidur Zivannya.


Hai.... Hai.... Hai all readers terimakasih telah berkunjung ke karyaku ini.


Luv.... Luv... Luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.

__ADS_1


stay healthy all


__ADS_2