
Senja semakin tampak keemasan, Zivannya menghentikan mobilnya di sebuah bangunan tempat ibadah untuk melakukan kewajibannya. Dilepaskannya sneakers hitam yang biasa menemani langkahnya kemana saja, ia segera mengambil air suci untuk melaksanakan kewajibannya.
Perjalanan kali ini membawanya kembali kerumah mamanya di kota kelahirannya, setelah seminggu lebih berada di Malang menemani ibu mertuanya.
Zivannya menghembuskan nafasnya panjang setelah selesai melakukan kewajibannya, ia teringat saat menangis ketika akan berpisah dan berpamitan dengan ibu yang telah membesarkan suaminya selama ini. betapa tidak dapat tergantikan dengan apapun kasih sayang yang diberikannya selama ini, sosok Ibu yang begitu baik dan lembut memberi Langit kasih sayang dan belaian seorang ibu yang tulus tanpa pamrih, memberikan yang ia miliki selama ini.
Semakin kesini saat bertambah usia, ia merasa semakin didekatkan dengan orang-orang yang baik, dengan orang-orang yang selalu memberi tanpa balasan, tanpa ada maksud apapun dibelakangnya. Zivannya menitikkan airmatanya mendoakan semua orang yang berada didekatnya agar selalu bahagia dan dijauhkan dari segala keburukan dan kejahatan.
Ia segera merapikan peralatan kewajibannya dan melangkahkan kaki keluar dari bangunan kewajibannya, menenggak air mineral botolnya hingga habis dan membuang nafasnya banyak-banyak.
Seseorang mengetuk kaca mobilnya tiba-tiba, seketika membuatnya terkejut hingga berjenggit kaget meraba kunci dari samping bawah jok mengemudinya untuk berjaga-jaga jika ada orang yang bermaksud tidak baik. Ia menatap Yuda yang menunggunya membuka pintu mobilnya, Zivannya menekan dadanya lega setelah melihat sahabatnya itu menunduk menampakkan parasnya yang tengil.
"kelamaan Zi, ngapain aja" mundur Yuda memberi ruang agar pintu terbuka, Zivannya nyengir.
"habis minum pak, cuacanya agak panas. Masak minum kagak boleh" perlihatkan Zivannya ke botol air mineral yang dipegangnya.
"ya, ya, ya. Ikut dari belakang atau aku yang dibelakang" senyum Yuda. Zivannya menunjuk Yuda agar didepan. Yuda mengangguk memakai helmetnya naik ke motor lakinya dan segera berjalan sedang. Zivannya segera mengikuti kendaraan Yuda.
Tiba di pelataran rumah yang dari kecil ditempatinya, Zivannya memejamkan mata dan menghirup udara disekitar rumah yang dirindukannya.
"aku bantu bersihin yang ringan aja" kata Yuda, Zivannya tertawa kecil.
"tidak usah, aku sudah memberitahu yang biasa membersihkan rumah kalau aku akan pulang. Jadi dalam rumah sudah dibersihkan seperlunya" kata Zivannya menggeleng. Yuda membuka helmetnya dan duduk di teras.
"kalo gitu aku tungguin deh, kamu letakkan bawaan didalam setelah itu kita keluar. Besuk pagi kamu pasti ke peristirahatan terakhir keluargamu bukan" kata Yuda, Zivannya menghela nafasnya berat membuka pintu belakang mobil meraih tas jinjing berisi pakaian gantinya.
"kita naik motor Zi, jadi pakai jeans aja biar nggak ribet" seru Yuda, Zivannya tidak menyahuti seruan Yuda saat masuk kedalam rumah, udara ruangan yang lama tidak terbuka menguar saat pintu rumah terbuka lebar-lebar. Zivannya mengucapkan salam dan melangkah masuk kedalam kamar untuk menaruh barang, Ia melihat sekeliling yang penuh dengan kenangan indah bersama mama yang membesarkannya seorang diri saat papanya telah pergi meninggalkan mereka berdua selamanya. Zivannya membersihkan dirinya dan memakai jeans dan jaket kulit untuk menghalau angin.
"kerumah om Hadi nggak nanti dikira nggak sopan kalo nggak kesana dulu, Fauzan tahu kamu pulang tadi" dongak kepala Yuda saat Zivannya sudah berdiri didepannya.
"kalo begitu aku ambil oleh-oleh dulu buat kakek dan nenek, mereka juga ada di rumah om Hadi sekarang" angguk Zivannya mendekat ke arah bagasi mobil.
"kamu pake mobil aja kesana, aku di belakang, nanti tinggal aja kendaraan mu disana. kita motoran bareng dari sana nanti" pake helmet Yuda menaiki motornya, Zivannya segera mengunci kembali rumah dan melajukan mobilnya keluar menuju rumah om Hadi yang letaknya di desa sebelah dengan rumah papa dan mamanya.
Zivannya menghembuskan nafas sebelum membuka pintunya, mengeluarkan beberapa paperbag dari dalam bagasi titipan bunda dan ibu mertuanya untuk kakek dan neneknya jika Zivannya pulang kerumah mamanya. Om Hadi tersenyum lebar saat melihat kedatangan keponakannya yang berkunjung saat ini
Zivannya meletakkan paperbag disamping dan memberi salam kepada om nya itu.
"bagaimana kabarnya om, sehat dapat salam dari keluarga Jakarta, Surabaya dan Malang" kata Zivannya tersenyum, om Hadi memeluk Zivannya menepuk punggung nya pelan.
"baik, Zi. Om lihat kamu tambah berisi, sudah tidur teratur" goda om Hadi, Zivannya tersenyum mengangguk mengikuti langkah kaki om Hadi masuk kedalam. Dilihatnya keluarga papanya sedang berkumpul bersama di ruang tengah.
"sehat Zi" senyum nenek mengelus bahu Zivannya saat memberinya salam, Zivannya mengangguk tersenyum.
"baik Nek, atas restu dan doa nenek dan kakek. Zi dan keluarga semuanya sehat" jawab Zivannya.
__ADS_1
"ini ada titipan buat kakek dan nenek dari bunda dan ibu, mereka nitip salam hormat buat kakek dan nenek. Maaf tidak bisa ikut Zi pulang kesini" letakkan paperbag diatas sofa dekat dengan kakek dan nenek duduk.
"sampaikan terimakasih kepada bunda dan ibumu sudah repot-repot segala" senyum nenek, Zivannya tersenyum.
"apa nanti setelah dari sini kamu pulang ke Jogja dulu" tanya om Hadi.
"iya om, mumpung ada waktu agak lama mengunjungi keluarga semua" angguk Zivannya.
"suamimu Langit apa tidak apa-apa ditinggal sendirian" tanya kakek.
"kak Langit baru ada tugas dinas keluar kek, selama sebulan. Ini sudah berjalan hampir tiga minggu, setelah dari Jogja Zi jemput kak Langit di Surabaya" jawab Zivannya.
"lama sekali, dimana dia tugas. Kenapa kamu nggak ikut suamimu dinas" tatap kakek tidak tahu.
"kak Langit ada di negara Sakura kek, karena ada pertemuan kesatuan laut beberapa negara disana, mereka naik kapal berangkat dari Surabaya dan kembali sekitar 5 hari lagi" jawab Zivannya.
"jadi kamu hanya sebentar disini" tanya nenek, Zivannya tersenyum mengangguk.
"tiga hari Nek, Zivannya masih tiga hari disini, tiga hari lagi di Jogja. Baru nanti akan kembali ke Surabaya" jawab Zivannya.
"apa kamu akan mengendarai sendiri kendaraan mu itu Zi, kemana-mana" tanya om Hadi.
"iya om, karena jaraknya relatif lebih dekat makanya memutuskan untuk memakai kendaraan sendiri selama melakukan long trip kali ini. Ada jalan tol juga yang menyingkat waktu" angguk Zivannya pelan.
"minum Zi, kamu pasti haus kan setelah perjalanan jauh" persilahkan kakek, Zivannya tersenyum segera menyeruput teh panas yang sudah disiapkan pekerja rumah om Hadi.
Aisya hanya melihat mereka dalam diam, ia lebih banyak mengamati Zivannya dari tempat duduknya tanpa berkata apapun seperti biasanya jika Zivannya datang kerumah orang tua nya.
"barusan" duduk Fauzan, Zivannya mengangguk. "Pantesan tuh anak udah heboh aja mau ngajak keluar anak-anak yang lain motoran" senyum Fauzan, Zivannya mengerutkan keningnya sesaat dan mengerti siapa yang dimaksud oleh Fauzan barusan.
"saat mampir kewajiban tadi ketemu dijalan, aku kira ada preman siang bolong mau malak" goda Zivannya, Yuda tertawa kecil.
"ya, kali ada preman ganteng, keren dan wangi gini" kata Yuda membalas Zivannya, mereka tertawa bertiga.
"ingat, Zan. Zi itu udah menikah lho gimana kata orang kalo dia pergi dengan laki-laki lain yang bukan suaminya" pandang Tante, Zivannya hanya diam mendengarkan.
"tau, ma. Lagian perginya juga sama aku. Kita nggak hanya bertiga kalo kemana-mana tuh. Masih ada banyak anak-anak lain, kalo ngumpul gini Zi juga tau batasnya. Yang tau dia nikah kan hanya orang-orang sekitar aja, mana banyak orang yang tau" jawab Fauzan. Tante hanya menatap Fauzan lama mendengar anak laki-lakinya selalu membela Zivannya.
"apa kak Aisya juga mau ikut kita main keluar biar terbuka pikirannya" tanya Fauzan tenang. Aisya melebarkan matanya menatap adik laki-laki satu-satunya itu dengan tatapan kesal.
"kenapa nyangkutin aku, nggak ada hubungannya denganku" topang dagu Aisya. Fauzan mengendikkan bahunya tanda tidak peduli.
Ponsel Zivannya berdering karena ada panggilan dari Langit.
"hai, yang" senyum Langit saat Zivannya menerima panggilannya.
__ADS_1
"aku ada dirumah om Hadi, ada kakek nenek juga. lengkap" senyum Zivannya.
"oh, ya. Udah sampai. Apa sekarang kalian sedang berkumpul" senyum Langit. Zivannya memperlihatkan keluarga papanya yang sekarang bersamanya.
"selamat sore kakek, nenek, om, Tante. Mohon maaf kali ini Zivannya pulang sendirian. Lain kali Langit akan menemani berkunjung kembali" senyum Langit menyapa keluarga papa istrinya.
"tidak apa nak Langit, kami mengerti jika tugasmu tidak bisa ditinggalkan. Kami maklum, Zivannya sudah bercerita jika kamu sedang dinas keluar makanya dia berkunjung kesini sendirian" angguk-angguk kakek, Langit menunduk hormat mendengar ucapan kakek Zivannya.
"terimakasih atas pengertiannya kek, mohon maaf belum benar-benar bisa meluangkan waktu untuk mengobrol bersama. nanti jika ada cuti agak lama, Langit dan Zivannya akan berkunjung kembali menemui kakek dan om sekeluarga" senyum Langit.
"tentu nak Langit kami tunggu kehadirannya. Bagaimana keadaan disana, apakah baik-baik saja" tanya om Hadi.
"baik om, semua dapat terkondisikan dengan baik disini. Saling berbagi suka dan duka bersama karena kita adalah satu keluarga besar, jika bisa setiap hari saya memberi kabar kepada Zivannya agar kami tidak saling kuatir satu sama lain namun terkadang waktu yang menyita perhatian membuat tidak bisa saling melihat hanya saling bertukar tulisan" senyum Langit, Zivannya menopang dagunya mendengar ucapan suaminya yang memang begitu adanya. Karena tugas negara adalah panggilan jiwa Langit membuat waktu terasa lama jika Langit masih dalam tugasnya sehingga tidak dapat menghubungi Zivannya.
"apa kamu mau pergi, yang" tanya Langit.
"iya, tadi selesai kewajiban di jalan, ada orang ketuk-ketuk kaca samping depan. Aku kira ada yang mau malak, ternyata laki-laki yang ngaku ganteng tapi selalu jomblo" perlihatkan sekitar Zivannya, Langit tertawa lebar mendengar candaan istrinya.
"hai, Yuda, Fauzan. Nitip Zi selama disana, lapor kalo nggak mau istirahat karena kebanyakan main" tawa Langit. Mereka tertawa bersama.
"siap bang, laksanakan. biasanya susah kalo suruh diem" kata Fauzan.
"benar, karena itu aku langsung jatuh hati padanya saat pertama kali melihatnya memberi tempat kepada seorang ibu yang lebih membutuhkan tempat duduk disaat yang lain mengabaikannya" pandang Langit.
"hhmm, kita mau ketemu anak-anak yang lain, ini bagian dari healing trip sambil nunggu pulang sang pemilik hati dan menemani tugas negara kedepannya" angguk Zivannya, Langit tertawa kecil.
"tenang, yang. Tinggal hitungan hari, kayaknya ada kesempatan cuti lumayan" senyum-senyum Langit. Zivannya memutar bola matanya jengah.
"nggak yakin, belum selesai cuti udah suruh menghadap atasan aja. Ada tugas baru" geleng Zivannya, Langit tersenyum lebar.
"baiklah, aku akan koordinasi dengan yang lain sebentar lagi karena besuk pagi kita akan berpisah dengan yang lain maka akan ada acara saat itu. Jaga diri, yang. Jangan terlalu lelah" senyum Langit mengusap layarnya, Zivannya tersenyum mengangguk.
"hati-hati, aku menunggumu pulang" lambai Zivannya, Langit mengangguk.
"ciee.... Sekarang ada yang ditunggu pulang" goda Fauzan. Zivannya tersenyum. "karena menunggu seseorang yang tidak pernah kembali dengan selamat sangat menyakitkan" tatap Zivannya lekat. Fauzan terdiam karena ia telah melupakan penderitaan yang dialami oleh sepupunya sebelum bertemu dengan Langit saat ini.
"maafkan aku Zi, aku tidak bermaksud untuk itu. Aku minta maaf" kata Fauzan merasa bersalah. Zivannya tersenyum lebar.
"hey, aku baik-baik saja Zan. maafkan aku membuatmu merasa tidak nyaman. Aku tidak bermaksud kearah manapun tentang itu, hanya mengatakan apa yang melintas di kepalaku" senyum Zivannya menepuk bahu Fauzan pelan.
"benar, kamu tidak apa-apa" yakinkan Fauzan merasa tidak enak hati. Zivannya mengangguk pelan memberi tanda Ok dengan jemarinya.
"nggak usah lebay deh Zan, Zi bukan satu-satunya orang yang menderita akan suatu masalah" tatap Aisya tajam. Zivannya tersenyum mengangguk meminum teh panasnya pelan. Yuda hanya menatap Zivannya sesaat setelah perkataan sarkastik Aisya.
Hai ..... Hai ..... Hai .... All readers. Terimakasih banyak selalu setia menanti chapter baru novel ini.
__ADS_1
Luv .... Luv .... Luv .... U all readers sekebon pisang goreng.
Terimakasih banyak semuanya. Stay healthy all