
Zivannya bergerak pelan karena ada beban yang terasa berat berada ditubuhnya, ia mengerjapkan matanya melihat apa yang membuatnya susah bergerak. "ughhhh.... "geser tubuh Zivannya agar segera terbebas dari tubuh Langit yang memeluknya erat. ia duduk ditepi ranjangnya menatap Langit yang terlihat lelah, berjalan pelan keluar dari kamar yang terbuka lebar pintunya. menuangkan air mineral kedalam gelas dan meneguknya dengan pelan, mengulanginya kembali sambil melihat apa yang ada didalam box pendingin. ada beberapa makanan kecil yang dapat dimakannya, Zivannya mengeluarkan beberapa potong cake lembut yang tadi dicicipinya terlebih dahulu. membawanya ke meja makan dan memakannya dengan pelan.
"laper dek" senyum Matahari melihat Zivannya saat akan mengambil air mineral, Zivannya mengangguk meneruskan memotong cake lembut nya. "cobain bang" ambilkan sendok kecil dan piring kedepan Matahari oleh Zivannya. Matahari duduk didepan Zivannya sambil mengambil potongan kecil cake moist tersebut.
"ini jam 3 bang, kenapa tidak istirahat" pandang Zivannya, Matahari tersenyum. "beberapa jam bisa tidur dengan nyenyak sudah mewakili dek" makan Matahari. Zivannya manggut-manggut.
"kenapa bangun, bukankah tadi demam" makan Matahari. Zivannya menatap Matahari "sudah mendingan bang" jawab Zivannya. "besuk aku menyusul berangkat ke sana" kata Zivannya, Matahari tersenyum mengangguk. mereka mengobrol hingga kewajiban pagi sudah tiba, rumah sudah mulai beraktifitas kembali namun dengan sedikit lebih tenang karena tidak banyak yang akan mereka persiapkan karena hari ini hanya tinggal Zivannya yang ada dirumah, semua akan pergi meninggalkan rumah untuk mengantar Mentari dan Matahari.
mereka sarapan bersama-sama pagi itu. Dirgantara dan Valerie juga ikut bergabung dengan panggilan video dari Surabaya. "adek demam. pantesan sampai rumah langsung tidur hingga jam 6 sore" minum Valerie. "masa, katanya kemarin ngobrol sama Arka" tanya bunda. "iya bund, ketemu dijalan pas udah sampai dekat rumah kak Dirgantara dan kak Valerie, pas kak Dirgantara melakukan panggilan video menyampaikan pesan ayah, Zi udah sampai belum dirumah kakak. saat itu Zi sama Rara ditraktir makan siang sama Arka dan temannya Yuda namanya" kata Zivannya menatap ayah yang sedang mengunyah nasi uduknya.
"lha masa nggak ada kabar berangkat jam berapa sampai jam berapa" jawab ayah kalem. Zivannya menghela nafasnya membuka ponselnya dan memperlihatkan chat nya dengan ayah jam 5 pagi. "yah, Zi sama Rara nanti berangkat jam 8 an pagi setelah mengantar ibu kak Langit kesekolah untuk mengajar. ibu nggak mau istirahat dulu dirumah, karena banyak yang akan menemaninya kalo disekolah" baca chat Zivannya agar ayah mendengarkan nya kembali. ayah nyengir mendengar perkataan Zivannya.
"aishhh.... ayah.... ternyata adek aja udah ngirim kabar" pandang Dirgantara. "lupa kak, terlalu pagi. mbok ngirim kabar lagi kalo mau berangkat, takut kenapa-kenapa" minum kopi ayah. "alesan" tatap bunda, ayah tertawa mengelus bahu tangan istrinya yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah lebih dari setengah abad.
"Arka sehabis dinas langsung kerumah, yang ditemui malah tidur lama alhasil yang ngajak ngobrol Rara" kata Valerie menyiapkan sarapan Dirgantara. "asik dong Ra, siapa tau jodoh" goda Mentari melahap nasi uduk yang kedua. Matahari mengambil setengah nasi Mentari, "yang" sembunyikan nasi Mentari dari tangan Matahari. "bagi" senyum Matahari, "itu masih banyak. mbok membelinya banyak" tunjuk Mentari nggak mau kalah. "bagi" Rajuk Matahari. "nggak" geleng Mentari tersenyum. Matahari menampakkan muka sedihnya, "bund" pandang Matahari, bunda menatap keduanya menghela nafas. Mentari nyengir menatap bundanya dan memberikan nasi uduknya separuh kepada suaminya, "beraninya ngadu ama bunda, coba sama ayah" pandang Mentari, "kakak" tatap ayah sesaat, "hmmm" senyum lebar Mentari.
"Rara kayaknya emang naksir sama Arka deh kak" minum coklat panas Zivannya. Langit tersedak saat Zivannya mengatakan hal itu, Zivannya menepuk punggung Langit pelan dan menyodorkan air mineralnya. Rara tertawa pelan. "sedikit sih kak, Arka juga ganteng. jadi nggak ada salahnya melirik pria lain jika belum ada kepastian kan" kata Rara. Mentari memberi acungan tanda bagus dengan jemarinya. "benar Ra, nggak ada salahnya. mencari yang pas kan harus mengenal siapa saja" kata Mentari.
"lah kalo nggak cocok kan bisa mencari yang lain" angguk Rara. "sepakat" lanjut Zivannya, Langit menatap paras kekasihnya lekat. "nggak berperasaan" pandang Matahari. "bukannya gitu, yang. jika kita memang cocok ya sudah kita akan berhenti di dia. tapi jika tidak bukankah kita berhak untuk mendapatkan yang baik menurut kita" tanya Mentari, Matahari mengangguk menatap istrinya. "jika aku tidak membuka mataku untuk melihat kejelekan dia waktu itu, maka aku tidak akan menemukan mu disaat yang tepat kan" senyum Mentari. Matahari tersenyum mendengar perkataan istrinya itu.
"aaahhh.... so sweet nih. pingin berpelukan sama siapa kalo gini" majukan bibir Rara menatap mereka yang berpasangan. Zivannya tertawa, kecil "sama dengan Arka waktu itu kan Ra" ingatkan Zivannya, Rara tertawa dan mengangguk mendengar Zivannya, "bener dan jawaban Riki membuat Arka mati kutu" tawa Rara. "oh iya, waktu kita makan malam kemarin disini" tawa Dirgantara.
"jadi, pas saat kita makan malam, ngobrol juga kan ngobrolin teman-teman kuliah mereka berdua yang sering bertingkah konyol, tau-tau kita saling berpelukan, hanya Arka yang nggak ada pasangannya. nah.... Arka diminta untuk memeluk Langit karena dia yang sendirian sama Riki, Mentari sama abang, Uti sama Kakung, Raka sama adek, Riki sama Rara. Riki mengabsen setiap orang dan dipikirannya saat itu Langit tidak ada pasangannya, makanya dia meminta Arka untuk memeluk Langit saja" kata Valerie tersenyum, mereka tertawa lebar mendengar penjelasan Valerie yang lucu mengenai Riki.
"mentang-mentang saat itu Raka yang meluk adek, dikira Langit nggak punya pasangan" tawa Mentari ngakak. Valerie mengangguk tertawa, "aduh, bisa pecah perang kalo mereka saling berpelukan" celutuk Matahari, mereka tertawa lebih kencang karena membayangkan gimana paras mereka berdua jika berpelukan. "aaahhh.... terkadang Riki terlalu cerdas untuk ngerjain orang" kata ayah, bunda mengangguk. "dia lebih out of the box dibanding Raka yang terarah langkahnya" kata Dirgantara.
"bener kak, dia sense of life nya bagus banget, membuat semua orang disekitarnya merasa nyaman" kata Zivannya, Dirgantara mengangguk. Langit menatap Zivannya lekat, "mau nambah nasi uduknya" toleh Zivannya, "kamu nggak makan" tanya Langit membiarkan Zivannya mengambil kembali nasi uduk yang masih ada, membuka bungkusannya kedalam piring Langit. "belum lapar kak, tadi jam 3 pagian sama bang Matahari ngobrol disini sambil makan kue moist dari box pendingin" pandang Zivannya.
__ADS_1
"kamu bangun, yang" pandang Langit, Zivannya mengangguk dan meminum coklat panas Langit menghabiskannya. "biar saya aja non dek, sekalian kebelakang" ambil gelas mbok dari tangan Zivannya ketika melihat Zivannya akan beranjak dari duduknya, "makasih mbok" senyum Zivannya. "aku nggak bisa tidur lagi, pas laper makan bang Matahari keluar kamar" kata Zivannya, "mau ikut nganter ke bandara nggak dek nanti Langit yang akan membawa kendaraan pulang" pandang ayah, "nggak usah ya" toleh Zivannya menatap Langit. "lha nanti dia sendirian dong dek, di ambil perempuan lain baru tau rasa" pandang Mentari, "tinggal tiduran jika pusing dia yang njalanin yang penting ada temennya" kata bunda. Langit tersenyum menang menatap Zivannya. "mandi dulu berarti" kata Zivannya. "lha dari tadi belum mandi dek" tutup hidung Matahari. Zivannya tersenyum "nggak mungkin mandi pagi kalo nggak pergi" kata Rara. "isshhh.... hemat air" cengir Zivannya. Rara tersenyum, "iya. orang ngambil airnya di ujung desa" angguk Rara, mereka berdua tertawa.
"mandi dek, mau berangkat nih" pandang ayah, Zivannya beranjak dari duduknya menuju kamar untuk membersihkan dirinya. "yang" ketuk Langit, tidak ada sahutan dari dalam. ia meraih gagang pintu dan membukanya pelan. ruangan terlihat sepi, Langit melangkah menuju walk closet yang ada diujung ruangan, "yang" panggil Langit, Zivannya menoleh dengan cepat.
"kenapa kak" tanya Zivannya menatap kekasihnya, Langit berjalan mendekat dan membantu Zivannya mengaitkan underwear bra nya yang berada didepan. "badanmu banyak tandanya, yang" senyum Langit mengelus benda kenyal kekasihnya. "hmmm.... ada yang buas" putar bola mata Zivannya jengah, Langit tertawa lebar, Zivannya mengambil rok tutu kuning dan kemeja berwarna kuning cerah. "kamu terlihat cantik, yang" tatap Langit, Zivannya mengangguk merapikan pakaiannya. "kamu juga terlihat ganteng dan gagah kak" balik badan Zivannya melingkarkan tangannya di leher Langit dan mengecup bibir kekasihnya lembut. "jadi aku harus terlihat cantik untukmu" senyum Zivannya menatap Langit lekat.
"yang... kenapa kamu suka memancing disaat yang tidak pas. kita udah mau berangkat" hembus nafas Langit kesal. Zivannya tergelak mengecup kembali bibir Langit. "aku baru nggak enak badan kak, jadi tahan hasratmu yang ingin memakanku" tepuk Zivannya di dada Langit meraih sneakers putih nya. Langit berbalik dan melangkah keluar mengikuti Zivannya yang sudah lebih dahulu bergabung dengan keluarganya diruang tengah.
"mbok, nanti Zivannya kemungkinan nggak pulang, besuk baru pulang untuk mengambil pakaian sekalian berangkat menyusul ayah dan bunda" pamit Langit. "baik den Langit, mbok mengerti" angguk mbok, Langit tersenyum melangkah kembali keruang tengah. "berangkat sekarang Lang" pandang ayah, Langit mengangguk. mereka keluar rumah menuju kendaraan yang telah dipersiapkan sebelumnya, mereka berurutan masuk kedalam kendaraan segera melaju dengan kecepatan sedang.
"berangkat kapan dek" tanya Mentari. "besuk malam atau pagi kak. nanti aku cek penerbangannya" kata Zivannya, Mentari mengangguk. "mbak Marni, duduk sama adek dan Rara dibelakang" kata bunda. Marni mengangguk, Zivannya duduk ditengah. "ketemu dengan Dimas nanti Ra" tanya Zivannya. Rara mengangguk, "jika akan menyusul kabari, nanti biar kita jemput" kata Rara. "baik, kita liat nanti. karena aku belum melihat jadwalnya" pejam mata Zivannya. "hmmm" sandar kepala Rara.
"oh ya... dapat salam dari pak dosen" kata Rara teringat. "hmmm.... salam kembali" dehem Zivannya, "kemarin kita saling chat di grup untuk membahas wisuda" kata Rara, Zivannya membuka matanya pelan. "berarti wisuda mu setelah aku menikah kan Ra" tanya Zivannya tersadar. Rara menoleh dan mengangguk. "berarti itu perjalanan pertamaku setelah sah menjadi istri" pandang Zivannya. Rara tersenyum mengangguk. "berubah pikiran nggak tuh anak nantinya" pandang Zivannya, Rara mengangkat bahunya tidak tahu. mereka tergelak bersama.
"aaahhh.... harus siap-siap menggoda dengan kekuatan pull kamu Zi" naik turunkan alis Rara, Zivannya memejamkan matanya, "kemarin udah janji ngebolehin" pejam mata Zivannya kembali. " let's see how it goes tomorrow" hembus nafas Rara pelan. "heem, let's see" kata Zivannya. Langit sesekali melihat reflektor mirror yang memperlihatkan paras Zivannya yang lebih sering memejamkan matanya dan mengobrol dengan Rara.
"apa kamu akan mengantar Zivannya besuk, Lang" pandang Matahari. "lihat nanti bang, pinginnya sih begitu, tapi aku sudah mengajukan cuti untuk tanggal sebelum dan sesudah pernikahan nanti. ada gladi untuk acara pora juga" jawab Langit. "hmmm... memang benar dan itu semua memakan waktu yang lumayan" kata Langit. "setelah Zivannya dari sana. aku juga harus meluangkan waktu untuk menemaninya pulang menghadap kedua kakek neneknya dan Aga" lanjut Langit. "hmmm" gumam Matahari. "berarti lama nggak liat adek dong nanti" kata Matahari. "lumayan bang" senyum Langit.
"titip semua bang" salam Zivannya. "ketemu besuk disana Ra, salam buat Dimas" kata Zivannya memeluk sahabatnya, Rara menggoyang tubuh Zivannya ke kiri dan ke kanan. Langit menyalami semuanya dan minta undur diri segera karena harus berangkat tugas. Zivannya duduk disamping Langit dan segera meringkuk memejamkan matanya.
"yang, aku antar kerumah dinas dulu ya" toleh Langit meraba kening Zivannya. "aku antar ke dinas aja ntar aku pulang sendiri aja kerumah dinas" kata Zivannya. "no, kalo nggak nunggu aku kerja" pandang Langit. "antar aja" kata Zivannya akhirnya. "good.." senyum Langit melajukan mobilnya lebih cepat. tiba dirumah dinas Langit. Zivannya segera turun dan membuka kunci rumah yang ada di dekat pot bunga.
"aku berangkat dulu, yang" pamit Langit, Zivannya mengangguk dan akan menutup pintu. "yang" panggil Langit, Zivannya berbalik nyengir mencium punggung tangan Langit, kedua pipi dan bibir Langit sekilas. segera masuk tanpa menunggu balasan Langit. Langit hanya senyum-senyum melihat tingkah malu-malu kekasihnya yang sebentar lagi akan sah menjadi istrinya.
Zivannya melihat rumah seperti saat dirinya meninggalkannya kemarin. Zivannya merapikan keadaan rumah, mencuci semua pakaian dan alas tidur yang ada dirumah, setelah dirasa semuanya selesai, ia memesan makanan lewat aplikasi online karena merasa lapar, Zivannya menanti kedatangan kurir pembawa makanan.
"yang... kamu pesan makanan online" tanya Langit saat Zivannya mengangkat panggilannya.
__ADS_1
"iya, kak. lapar" jawab Zivannya.
"petugas jaga depan memberitahuku barusan. bentar aku suruh masuk aja ya" kata Langit.
"nggak usah, yang. aku ambil aja kedepan nggak jauh juga" kata Zivannya bergegas keluar rumah.
"nggak usah buru-buru. aku hubungi penjaganya dulu" tutup Langit. Zivannya berjalan tergesa-gesa menuju penjagaan depan perumahan.
"maaf mbak, saya hubungi komandan dulu, karena tidak tahu jika ada orang dirumah" senyum penjaga saat melihat Zivannya berjalan cepat kearah penjagaan.
"tidak apa-apa, saya yang kelupaan" senyum Zivannya membalas sapaan petugas jaga. kurir makanan online memberikan pesanan makanan Zhivannya. Zivannya menyerahkan uang pembayaran kepada sang kurir.
"ini kelebihan banyak mbak" angsurkan kembali uang yang diberikan zivannya kepada sang kurir. "ambil aja, maaf tadi kelamaan nunggu ya" senyum Zivannya. "tidak, terimakasih banyak" senyum kurir membalas Zivannya. Zivannya tersenyum dan mengucapkan terimakasih kepada penjaga yang sedang bertugas. "ini untuk cemilan" kata Zivannya menyerahkan paperbag yang berisi potongan kue kepada penjaga.
"aduh, kenapa harus repot-repot mbak" berdiri penjaga segera menerima pemberian Zivannya. "aahhh... tidak. tadi memang beli banyak, maaf jadi merepotkan tadi" kata Zivannya. "aahhh tidak mbak, kami hanya melaksanakan kewajiban. karena komandan Langit hanya sendiri jadi kami heran kenapa ada ojek yang mengirim makanan karena saat ini beliau sedang dikesatuan" jawab petugas jaga.
"iya, saya mengerti. sekali lagi saya minta maaf telah merepotkan. kalo begitu saya permisi dulu. terimakasih sebelumnya" pamit Zivannya dan segera melangkah menuju rumah dinas Langit.
"yang" panggil Langit.
"udah aku ambil kak, didekat pos jaga. aku lupa kalo harus lewat pos jaga" kata Zivannya, Langit tertawa.
"tadi aku udah membagi makanan kecil, yang. kalo pulang beli nasi bungkus gih nggak enak hati aku" masuk Zivannya kedalam rumah. Langit tertawa pelan.
"kurirnya udah aku kasih lebih tadi. untungnya beli makanan berat dan ringan" kata Zivannya. "lho di box pendingin ada makanan kecil, yang" kata Langit. Zivannya segera melihatnya. "aahhh... syukurlah. aku kelaperan" kata Zivannya lega. "mau aku belikan apa nanti kalo pulang" tanya Langit. "nggak ada, aku ingin tubuhmu" goda Zivannya. Langit terdiam sesaat menghentikan aktifitasnya. "aku pulang sekarang yaa" goda balik Langit. Zivannya tertawa lebar.
hai.... hai.... hai all readers terimakasih telah mengunjungi karyaku. terimakasih banyak atas dukungannya.
__ADS_1
luv.... luv..... luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.
stay healthy all