
Zivannya berguling kesana-kemari menatap langit-langit kamarnya. menghembuskan nafasnya panjang. membuka pintu kamarnya pelan dan berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum, duduk dikursi makan sambil menatap Aga yang juga menatapnya. Zivannya meraih roti basah dari dalam box pendingin dan menghampiri Aga yang menatap setiap gerak-geriknya.
sambil memakan roti Zivannya mendekat kearah Aga dan memeluk tubuh Aga dengan membenamkan mukanya ke dada Aga sebentar, mulai menangis tanpa suara. Aga terkejut namun diam untuk memberi kesempatan Zivannya meluapkan perasaannya kepadanya, selama 15 menit Zivannya tidak berhenti sesenggukan.
"kenapa harus mama kak, aku nggak ngerti lagi Tuhan mau memberiku kebaikan apalagi setelah papaku nggak ada, sepanjang hidup kita harus kuat berdua, menahan cacian, hinaaan, kekejaman, kejahatan..." cerita Zivannya tidak berhenti tertawa dan menangis secara bersamaan.
Zivannya hanya meneteskan air mata tanpa suara, Aga mengusap-usap rambut Zivannya memberikan kekuatan. mama yang tak sengaja mau keluar kamar diam-diam melihat Zivannya yang menangis pilu, Aga tersenyum dan menganggukkan kepala tanda Zivannya sudah tau semuanya. mama hanya bisa menatap Zivannya dan segera mengambil air minum untuk memberi ruang kedua anaknya menyatukan rasa.
mama Ranti tak kuasa menahan airmatanya begitu menutup pintu kamarnya, namun dia sudah ikhlas menerima semua takdir yang Tuhan berikan, hanya kebaikan dunia dan akhirat yang dia minta untuknya dan keluarganya. diluar Zivannya masih tidak bisa menahan airmatanya yang terus turun.
hingga akhirnya Zivannya menjauhkan kepalanya dari dada Aga, memandang Aga lekat menangkup kedua pipinya, "jika kakak juga mau meninggalkanku sekarang juga nggak papa, aku sudah ikhlas, jadi aku juga tidak menyalahkan kamu jika sekarang tidak bersamaku lagi. aku nggak papa, sudah terbiasa untuk berdiri sendiri" kata Zivannya berlinangan airmata tanpa henti. Aga hanya menatap Zivannya dengan bola mata yang sedikit membesar.
"aku tidak akan menyalahkanmu atau memintamu untuk menemaniku saat ini. kamu bisa memilih untuk pergi" kata Zivannya mencoba untuk melepaskan semua beban dihatinya dengan ikhlas.
Zivannya memukuli dadanya dengan keras, Aga segera merengkuh tubuh Zivannya dengan tenang. Zivannya menangis meraung-raung, mama Ranti mendengar suara tangisan Zivannya semakin menahan tangisannya agar jangan sampai Zivannya semakin terpuruk. hal yang paling ditakutkannya selama ini, karena sejak Kematian papanya, Zivannya menjadi anak yang benar-benar menyembunyikan semua perasaan sakit dengan senyuman. sepahit apapun rasa itu, akan dibalas dengan senyuman. terkadang ia merasa senyuman Zivannya seperti mengintai musuh dan melakukan pembalasan dengan menusuk dari depan dengan tangan dingin, seringai yang memandang lawannya sangat tajam namun tersamar dengan lebarnya senyuman.
Zivannya memeluk kedua kakinya memejamkan mata sambil sesekali mengagungkan nama Tuhan, memohon maaf pada Tuhan, melepaskan beban dihati atas nama Tuhan. Aga memeluk Zivannya dari belakang menyandarkan kepalanya dipunggung Zivannya setelah mengikat rambut Zivannya keatas.
Zivannya melakukannya hingga tanpa sadar dia tertidur, Aga meletakkan Zivannya ketempatnya tidur yang hanya beralaskan cover bed, mematikan lampu ruang tengah agar tidak terlalu terang dan silau apabila Zivannya terjaga nanti.
Aga melangkahkan kaki menuju pintu kamar mama Ranti, mengetuk pintu kamar dengan pelan. agak lama mama Ranti membuka pintu kamar, Aga segera memeluk mama Ranti mengusap punggung mama Ranti dengan lembut.
"sepertinya Zi mendengar penyakit mama dari dokter langsung, Zi menyalahkan dirinya sendiri. kenapa bukan dia yang mempunyai penyakit itu, kenapa setelah papanya sekarang Tuhan akan mengambil mamanya" ucap Aga pelan. mama Ranti hanya menghela nafas panjang berusaha kuat.
"pasti Zivannya besuk pagi terlihat biasa saja, dia anggap mama belum tahu kalau dia tahu semuanya, jadi biarkan dia berpikir demikian. mama juga harus membiarkan dia berpikir seperti itu agar dirinya tidak merasa terlalu bersalah dan menderita, walau dia pasti seperti itu" kata mama Ranti menatap Aga yang mengangguk pelan.
"jadi mama minta besuk kamu temui ayahnya Aris, minta dia untuk mencari penghulu untuk menikahkan kalian ketika mama dirawat dirumah sakit besuk. mama ingin menyaksikan Zivannya memiliki pelindungnya sebelum mama melepaskan beban yang mengganjal dihati mama selama ini" tepuk bahu mama Ranti, Aga tertegun sesaat dan segera mengangguk.
"semoga mama bisa sembuh ga, mama tetap optimis. tapi jikapun Tuhan berkehendak lain. mama minta tolong jagalah Zivannya. dia tulang rusukmu yang patah, baik-buruk dirinya itu cerminan baik burukmu juga, saling menghargai dan saling percaya" senyum mama Zivannya sesaat sebelum menutup pintu kamarnya, Aga segera beralih kekamar Zivannya yang berada disebelah, untuk mengambil bantal dan selimut.
Aga menyelimuti Zivannya dan tertidur disebelahnya. memejamkan matanya yang terasa berat hingga akhirnya ikut tertidur.
pagi hari
mereka tidur dengan saling berhadapan, Aga memeluk Zivannya yang juga melingkarkan kakinya dipinggang Aga seperti memeluk guling yang rasanya sangat hangat.
waktu menunjukkan pukul 7 pagi saat sayup-sayup terdengar suara burung yang saling bersahutan dan teriknya matahari menyinari kisi-kisi jendela rumah yang dibuka lebar oleh mama.
__ADS_1
Zivannya mengerjapkan matanya beberapa kali hingga akhirnya dia sadar kalo disebelahnya adalah Aga, Zivannya melihat sekeliling menyadari dirinya tidur dimana. dilihatnya Aga sesaat sebelum dengan pelan menurunkan kakinya. duduk sesaat sebelum dirinya beranjak dari tempatnya tidur tadi malam.
Zivannya bergegas kekamar mandi untuk membersihkan dirinya, dimeja makan sudah tersedia tiga bungkus nasi uduk dan beberapa kue tradisional yang dibeli mama Ranti. Zivannya segera keluar dari rumah dan mendapati mamanya sedang mengobrol dengan beberapa tetangga yang sudah mulai beraktifitas.
"pagi nak Zivannya" salam tetangga, Zivannya tersenyum membalas sapaan pagi para tetangganya dengan sopan, terlihat beberapa anak sedang berangkat sekolah.
"jam berapa, kenapa baru berangkat sekolah" lihat Zivannya heran.
"mereka masuk jam 9 pagi Zi, anak-anak ada persiapan khusus untuk menghadapi ujian nasional. jadi jadwalnya ada yang masuk siang" jawab mama. Zivannya mengangguk nyengir.
"udah lama nggak pake seragam ma, jadinya lupa" senyum Zivannya, mama menepuk bahu Zivannya pelan.
"seseorang menghentikan motornya didepan rumah Zivannya, mereka menoleh seketika, orang itu membuka helmetnya dan menghampiri Zivannya dengan tersenyum. Zivannya membalas dengan senyuman dan berjalan mendekatinya, mereka berdua mengobrol sebentar dengan tawa dan canda, Aga yang melihatnya dari kejauhan hanya duduk diam mengamati, karena laki-laki yang menemui Zivannya adalah teman sekolahnya yang mempunyai studios pemotretan kemarin.
Zivannya tampak menerima amplop coklat besar darinya yang berisi moment ketika mereka melakukan pemotretan kemarin.
Aga melihat sambil melakukan beberapa panggilan. tidak berapa lama pemuda itu pamit dan Zivannya mengantar kepergiannya, Zivannya segera mendekat ke arah mamanya dan para tetangga yang sedang ngobrol santai.
Zivannya membuka amplop coklat besar dan memperlihatkan beberapa moment yang kemarin mereka abadikan.
"wah, cantik ya nak Zi, kayak prewedding aja" lihat seorang tetangga yang disamping mama Zivannya.
"biasanya gitu mama Zi, anak-anak kalo pulang mesti pada gemuk-gemuk, coba kalo balik keperantauan wah... pasti jadi kembali kurus" timbrung seseorang. Zivannya nyengir salah tingkah.
"tapi calonnya Zivannya ganteng banget, cocok kalo sama Zi, serasi. mirip lagi" lihat orang yang lain. akhirnya para tetangga itu malah sibuk bergosip mengenai Zivannya dan Aga yang terlihat menjadi pasangan yang serasi.
"kapan mau diresmikannya Zi, secepatnya saja. biar mamamu cepat dapat cucu nanti, biar ada yang menemani" kata seseorang.
"doanya ibu-ibu" senyum mama Zivannya, beberapa tetangga malah menggoda Zivannya yang terlihat malu. Zivannya memeluk mamanya dari samping menyembunyikan wajahnya yang terlihat memerah.
"lho kak, udah bangun" pandang Zivannya melihat Aga yang berada diteras rumah, menghempaskan tubuhnya disamping Aga memandang halaman dan jalan depan rumah.
"sarapan dulu, mama tadi udah beli buat kalian" kata mama sebelum berlalu masuk kedalam. Zivannya mengangguk menatap mamanya.
Zivannya seketika menyandarkan kepalanya dibahu Aga yang segera mengecup anak rambut Zivannya yang menutupi keningnya.
"makasih kak, tadi malam menemani saat terburukku" hembus nafas Zivannya berat. Aga mengecup Zivannya kembali.
__ADS_1
"jangan bilang mama, kalo aku udah tau" ucap Zivannya, Aga kembali mengecup Zivannya.
"aku juga masih memberlakukan omonganku yang semalam jika kamu boleh memilih perempuan lain yang kamu mau" kata Zivannya. Aga menyentil kening Zivannya pelan yang langsung bersungut-sungut mengusap keningnya sehabis disentil Aga.
"trus kamu bisa cari laki-laki lain gitu ato balik lagi sama Bima" kata Aga datar.
"nggak, aku ingin pergi keliling menghabiskan masa mudaku sebelum menetap kembali dirumah ini" hembus nafas Zivannya berat dan cepat, Aga menciumi rambut Zivannya berulang-kali.
"aku kuat dan bisa melalui semuanya dengan ikhlas" kata Zivannya tiba-tiba duduk tegak. Aga menoleh dan menaruh kepala Zivannya kembali dibahunya, Zivannya tersenyum dikulum.
Zivannya kembali menegakkan duduknya, Aga kembali menoleh.
Zivannya menangkup wajah Aga dengan kedua tangannya menciumi wajah Aga. "itu titipan dari ibu-ibu tetangga yang bilang kamu cowok yang tampan gagah, menantu idaman ibu-ibu tetangga" pandang Zivannya sesaat sebelum melangkah masuk menyusul mamanya, Aga terkesiap sesaat sebelum sadar kembali dan segera menyusul Zivannya yang sudah ngacir duluan.
"ziii.... bisa diulang nggak yang terakhir lebih lama dikit yaa..." gegas Aga masuk kedalam mengejar Zivannya, Zivannya menjulurkan lidahnya duduk disamping mama yang sedang sarapan pagi, Aga segera duduk didepan Zivannya.
"ada apa" kerut mama Ranti melihat kelakuan mereka berdua.
"nggak ada apa-apa ma, kak Aga terkadang usil. mau berangkat jam berapa kerumkit ma" buka bungkusan nasi uduk lengkap dengan lauk pauknya, Zivannya menghirup wangi nasi uduk yang mengeluarkan aroma khas.
"sore juga nggak papa Zi, cuman rawat inap biasa aja" kata mama. Zivannya menoleh sesaat dan mengangguk sambil menyodorkan nasi uduk yang telah dibukanya tadi kehadapan Aga, membuka kembali bungkusan nasi uduk lainnya.
"kita mau kemana lagi hari ini, tanya Aga. Zivannya menatap Aga.
"kenapa kakak yang semangat, besuk kan hari Senin. nanti malam harus pulang kan" kata Zivannya.
"nggak papa kan, lebih baik kita segera bergegas agar tidak terlalu sore saat kerumkitnya" kata Aga bergegas menghabiskan sarapan paginya. Zivannya melongo menatap Aga dan kemudian mamanya bergantian.
"sabar bro.... nggak usah buru-buru nanti kesedak" pandang Zivannya yang belum sempat berhenti ngomong, Aga sudah tersedak duluan, segera meminum air putih gelas yang disodorkan Zivannya.
hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..
selamat menikmati cerita kedua kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.
ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...
dukung yaaa... karya kedua ku.
__ADS_1
love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..
thanks a lot pisang sekebon...😘