Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 54


__ADS_3

pagi harinya mereka sudah dibuat sibuk dengan permintaan dari bunda yang menginginkan setiap moments yang berharga untuk diabadikan. dari pagi hari sampai petang mereka menuruti keinginan bunda untuk melakukan pemotretan dibawah arahan Rio sang fotografer andalan bunda, mereka melakukan beberapa sesi pemotretan, dengan beberapa tema dan beberapa tempat yang menurut bunda indah.


"bund, besuk matahari harus lapor ke kesatuan, jadi besuk nggak bisa ngikut" pandang matahari dengan muka bantal.


"besuk kalian harus kerja kan. hari ini sudah cukup untuk mewakili keinginan bunda, terimakasih anak-anakku, untung cucu-cucuku asik aja waktu pemotretan" senyum bunda senang dan bahagia walau letih seharian kesana kemari membuat beberapa moments yang berharga, Aga merebahkan kepalanya dipangkuan Zivannya sambil menonton TV. "besuk pagi-pagi kita semua berangkat kekota masing-masing, jadi pagi-pagi harus bangun" kata dirgantara lelah.


"anak-anak jadi ditinggal kan kak" toleh Zivannya mengusap dada Aga.


"anak-anak bilangnya mau disini aja dek, tapi besuk kalo berubah lagi nggak tau tuh" kata Valerie. Zivannya tersenyum, "semoga nggak ya kak. biar rame aja rumah" kata Zivannya.


"lha rumah jadi sepi dong disana dek" minum kopi dirgantara.


"nggak papa kak, cuman tiga hari doang. kan bisa jalan berdua lagi tanpa krucil" goda Zivannya.


"iya sih, gas buat anak cewek aja" tawa dirgantara.


"nggak bisa, aku dapat periode tadi barusan" kata Valerie pelan.


"aduh... puasa dong aku" lesu dirgantara nggak bisa ngapa-ngapain, mereka tertawa lebar.


"rasain tuh anaknya nggak ada nggak bisa ngapa-ngapain mamanya" ledek Aga. dirgantara melempar bantalan sofa kearah muka Aga.


"emangnya kamu bisa sekarang nggak kan, sama kita dek" kata dirgantara. Aga menjulurkan lidah.


"Zi pulang nanti, aku akan kejar setoran" tutup muka Aga dengan bantalan sofa. "ishh, emang angkot pake kejar setoran" tepuk Zivannya pelan.

__ADS_1


"kakak dan abang masih disini kan" tanya bunda. "iya, lapor dulu abis cuti dua Minggu, abis itu nunggu perintah mau tetap disini atau nanti dipindahkan didaerah konflik lain" angguk matahari.


"yaahhh.... nanti jauh dong bang" celutuk Zivannya, matahari tersenyum.


"resiko jadi istri tentara ya gitu dek. kamu juga nanti akan merasakan pindah dari satu daerah kedaerah lain" kata Mentari. Zivannya menghela nafas panjang.


"bentar lagi Aga akan dipindah tugaskan kedaerah lain juga, Zi masih kuliah' jawab Aga, Zivannya membuka bantalan sofa, "serius by"tanya Zivannya, Aga mengangguk.


"semoga tetap selalu sehat aja dimanapun kalian ditempatkan" kata bunda memandang anak-anaknya, mereka mengamini doa bundanya.


Zivannya merebahkan badannya menatap suaminya, "by, beneran mau pindah tugas" tanya Zivannya, Aga membuka mata menatap istrinya yang masih terbuka lebar matanya, Aga meraih Zivannya dalam pelukannya dan mengusap rambutnya, "kenapa kamu merasa tidak rela meninggalkan temanmu" tanya Aga, Zivannya menggeleng. "kamu merasa kesepian tanpaku" tanya Aga, Zivannya menggeleng. "kamu merasa tidak mau meninggalkan kota itu" tatap Aga, Zivannya menggeleng dan menghela nafasnya. "aku nggak tau by, aku merasa kosong aja" kata Zivannya. Aga mengecup kening Zivannya, "tidur yang, besuk pagi aku harus pulang" kata Aga memeluk tubuh Zivannya dalam dekapannya.


"yang, kamu nggak ngasih aku penambah semangat untuk pulang" bisik Aga, Zivannya membekap mulut Aga agar tidak bicara yang tidak-tidak, membalikkan tubuhnya agar tidak membuat Aga melakukan hal-hal yang lebih lagi, Aga tersenyum dan melingkarkan satu tangannya keperut Zivannya erat dari belakang. Zivannya tertidur saking lelahnya. Aga menatap istrinya yang sudah tidur dengan pulas, duduk dan meraih ponselnya untuk mengecek sesuatu. Zivannya berbalik dan melingkarkan tangannya keperut Aga, Aga menatap istrinya yang terlihat cantik walau tertutup oleh rambutnya yang berantakan, mengambil moment Zivannya.


jam menunjukkan pukul 4 pagi, keadaan rumah sudah terlihat ribut dan ramai, mereka akan berangkat pagi-pagi, Aga dan Dirgantara akan berangkat setelah kewajiban paginya, bersama dengan matahari yang akan mengantar mereka dulu. anak-anak ingin ikut dengan kedua orang tuanya. bunda tampak sibuk untuk kepulangan dua anak lelakinya, Ayah menemani cucu-cucunya menunggu persiapan kedua orangtuanya. Zivannya dan mentari membantu persiapan kedua kakaknya untuk pulang. "bawa satu bag aja kak, sisanya nanti kak mentari dan Zi yang kirim ke ekspedisi" kata Zivannya. Valerie mengangguk cepat dan membawa pakaian anak-anak saja. "kalo begitu kita siap berangkat" senyum Valerie. "pergi bawa satu bag, pulangnya mesti banyak" pandang dirgantara, mentari memukul bahu kakaknya pelan.


"lihat nanti kalo Zi pulang, lama-lama jeans dan t-shirtnya pada ngilang dari lemari saking banyaknya gaun yang dibeli bunda" senyum mentari, Zivannya tertawa kecil."iya ya kak. jadi kebanyakan gaun sekarang" angguk Zivannya membenarkan. mereka menuju meja makan untuk sarapan, mbak Marni telah menyiapkan sarapan yang tidak terlalu berat. "ini dibawa untuk makan siang nanti. biar nggak usah keluar" tunjuk bunda pada dua paperbag. "punya adek yang kecil, kakak yang besar" kata bunda. Zivannya mengangguk.


kedua cucu bunda makan disuapi oleh kakung dan utinya, "nanti langsung ke kesatuan" tanya bunda, Aga mengangguk sambil memakan sarapannya. "pulang kapan" tanya Aga menatap Zivannya.


"rabu sore" sodor minuman Zivannya, "kenapa nggak pagi aja" tanya Aga, Zivannya menggeleng dan tersenyum, "cuman sebentar aja perjalanannya, jadi pingin keliling aja dulu sama kak mentari dan bang matahari" kata Zivannya, Aga menyentil kening Zivannya pelan. udah hampir jam 6 nih, waktunya berangkat" pandang Ayah, mereka bergegas merapikan bawaan dan melangkah keluar rumah, berpamitan dengan semuanya. matahari melajukan mobil dengan kecepatan tinggi karena jalanan masih lengang untuk segera menuju bandara, tiba dibandara, menurunkan bawaan dan penumpang, matahari memarkirkan mobil, dengan seragam lengkap mereka masuk dan menunggu pemberangkatan. Aga melakukan penggantian tiket, Zivannya berjalan-jalan dengan Raka dan Riki mengitari bandara yang masih terlihat sepi, Raka dan Riki berlari mengejar Zivannya yang menjauh setiap kali ponakannya sudah mendekat, Raka dan Riki tertawa setiap kali Zivannya menghindar saat mereka mencoba menyentuhnya.


bruk.... suara Zivannya menabrak seseorang yang berada dibelakangnya, tangan Aga segera menyeimbangkan tubuh Zivannya.


"duduk yang, biarkan anak-anak tenang" senyum Aga. Zivannya meraih jemari Raka dan Riki untuk duduk menunggu.

__ADS_1


"yang jangan lama-lama pulangnya" pandang Aga, Zivannya memperlihatkan tiket onlinenya untuk penerbangan hari Rabu petang, Aga menghela nafasnya panjang, mentari mengobrol dengan Valerie dan dirgantara.


matahari sedang melakukan panggilan di ponselnya. Zivannya tersenyum mengusap rambut Raka.


"onty, kapan kerumah Raka" tanya Raka menatap Zivannya, "kalo onty sudah longgar waktunya ya kak. pasti onty main, kan onty juga sekolah sama dengan kakak" jawab Zivannya.


"onty warna seragamnya apa" tanya Raka.


"coklat muda" jawab Zivannya tertawa, Raka tersenyum mengangguk. "temannya banyak nggak, sama seperti Raka" tanya nya lagi, Zivannya mengangguk menggerakkan jarinya. "sekolahnya gede nggak" tanya Raka lagi. Zivannya membentangkan tangannya hingga menyentuh muka Raka, Raka tergelak senang. Aga menautkan jemarinya. Zivannya menoleh, "kenapa by" tanya Zivannya menatap Aga, Aga menggeleng dan tersenyum. Raka berjalan menghampiri mamanya. Aga mengobrol dengan matahari, tak berapa lama penerbangan Aga sudah akan berangkat, terlebih dahulu, Zivannya beranjak dari tempat duduknya dan mencium punggung tangan Aga. Aga memeluk tubuh Zivannya erat, mencium wajahnya berulang-ulang. melambaikan tangannya sesaat sebelum masuk kelorong panjang menuju pesawat. Zivannya kembali duduk untuk menunggu keberangkatan dirgantara dan Valerie, selang 20 menit, pesawat yang akan membawa kedua kakaknya akan take off, Raka dan Riki melambaikan tangan kepada kedua onty dan om nya. "kita langsung ke kesatuan dulu. kalian bisa menunggu disana. aku hanya akan melapor" pandang matahari, mentari dan Zivannya mengangguk.


"kita mau kemana hari ini dek" tanya mentari. "mau kemana gimana kak, orang bunda udah ngasih jadwal buat pemotretan" hembus nafas Zivannya, mentari dan matahari tertawa. "nikmati waktumu dek untuk bunda" tawa mentari, Zivannya tersenyum lebar mendengar ucapan mentari. "tentu kak, bunda hampir sama dengan mama, selalu punya rencana kalo aku pulang" sandar kepala Zivannya menatap keluar mengamati lalu-lalang kendaraan yang telah ramai.


"kak travelling itu menyenangkan nggak sih" tanya Zivannya, mentari menoleh kebelakang menatap Zivannya. "kamu mau merasakan travelling" tanya mentari, Zivannya menatap mentari, "hanya bertanya, jika suatu saat ingin menikmati alam dalam bentuk lain. apakah persiapannya sama dengan naik gunung" tanya Zivannya. mentari terdiam sejenak, "sebenarnya sama dek, hanya perbedaan lama dan tidaknya waktu melakukannya" jawab mentari, "jika naik gunung kita memerlukan waktu kurang lebih seminggu untuk keseluruhan waktunya. perjalanan untuk pulang pergi, perkiraan waktu untuk naik gunung sekitar 3 hari" kata Zivannya.


"kalo traveling kita bisa spend waktu untuk waktu yang tidak bisa diprediksi sih dek, terkadang kemacetan, cuaca didaerah yang kita datangi tiba-tiba berubah, keterlambatan jadwal keberangkatan atau kepulangan" jawab mentari. Zivannya mengangguk mengerti.


"jika kak Aga mengijinkan, aku ingin traveling kak. tapi tidak dalam satu tahun ini, karena waktunya yang tidak luang banyak" hembus nafas Zivannya.


"kamu mau kemana dek" tanya Matahari. "Lombok, destinasi traveling yang paling aku inginkan" senyum Zivannya, matahari mengangguk.


"Minggu depan peringatan 40 hari mama kak, dan satu bulan kemudian kak Aisya anak perempuan om Hadi akan melangsungkan pernikahan, setelah setahun bertunangan" kata Zivannya, "mama udah 40 hari, nanti Kakak lihat jadwal Abang jika bisa kesana" kaget mentari. Zivannya tersenyum menggelengkan kepalanya, "tidak usah kak, hanya memanjatkan doa biasa, itu juga ditempat om Hadi, nenek yang memintanya kemarin saat Zivannya masih disana" kata Zivannya, mentari mengangguk, "2 bulan kemudian Zi berangkat KKN dijawa tengah, jadi waktunya sedikit untuk traveling atau naik gunung" tambah Zivannya. mereka sampai ditempat kesatuan matahari, diijinkan masuk dan parkir ditempat yang telah ditentukan, mentari dan Zivannya menunggu ditempat yang ditunjuk oleh matahari. Zivannya dan mentari mengobrol banyak hal yang berkaitan dengan kedinasan dan tugas seorang istri prajurit.


dukung terus karya ku ya readers...


luv... luv... sekebon pisang.... biar bisa bikin pisang goreng yang banyak buat cemilan saat membaca karyaku.... 😁😁

__ADS_1


__ADS_2