Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 169


__ADS_3

kendaraan tidak terasa sudah memasuki pos penjagaan. Langit meminta ijin untuk masuk kerumah dinas. petugas jaga segera memberi hormat dan memberi ijin untuk mereka berdua lewat, Zivannya menyerahkan paperbag berisi makanan ringan dan air mineral untuk mereka yang berjaga. "makasih bu" salamnya segera, Zivannya mengangguk. motor melaju menuju rumah dinas Langit.


"yang, mau mandi duluan atau aku" tanya Langit melepas sepatu dan menaruhnya di box sepatu. Zivannya menunjuk Langit agar duluan saja. Langit menyalakan lampu agar rumah terlihat terang. Zivannya menutup pintu setelah dia masuk kedalam rumah.


"Zi" seru Langit dari kamar mandi. "ada apa" datang Zivannya mendengar panggilan suaminya.


"aku lupa bawa bathrobe" buka pintu kamar mandi Langit, Zivannya menghela nafasnya panjang dan meraih gantungan bathrobe hitam milik suaminya. Langit mencekal pergelangan tangan Zivannya agar ikut masuk kedalam kamar mandi. "by" seru Zivannya tidak mau. Langit tertawa mengguyur baju Zivannya menggunakan shower.


"mandi sekalian" tatap Langit, Zivannya menghela nafasnya dan segera melepas pakaiannya yang telah basah.


Langit membantu istrinya membersihkan badannya agar cepat selesai karena hari sudah sangat malam.


"minum jahe, yang" sodor gelas Langit, Zivannya segera meminumnya. Zivannya naik ke atas ranjang untuk merebahkan tubuhnya, Langit memeluk tubuh istri tersayangnya.


"besuk aku hanya sampai siang dikesatuan, yang. jadi jangan kemana-mana tunggu aku dirumah" kecup Langit. "hhmm" gumam Zivannya memejamkan matanya. "kamu nggak lupa kan, yang. malam ini kita mau ngapain" ucap Langit lirih.


Zivannya menyusupkan kepalanya semakin dalam. Langit tertawa memeluk Zivannya erat, ikut tidur saking lelahnya.


"by, bangun" goyang kaki Zivannya pelan. Langit berdehem, Zivannya menyiapkan keperluan Langit. "packing sekarang, yang" lihat Langit. Zivannya mengangguk.


"yang untuk dinas aku bawain pake tas jinjing besar aja ya by, lebih fleksibel untuk ditaruh" minum Zivannya. Langit mengangguk memakai baju dinasnya.


"baju dinas aku tempatkan di tas jinjing satunya biar tidak susah nyarinya" kata Zivannya. Langit mengangguk, Zivannya menyiapkan sarapan untuk Langit.


"yang" panggil Langit. Zivannya menoleh menghentikan pekerjaannya. "sarapan dulu" isyarat kepala Langit menginginkan Zivannya mendekat, Zivannya mengangguk beranjak dari menata baju Langit untuk dimasukkan ke dalam tas jinjing.


"nanti malam kita berangkat ke Surabaya" kata Langit, Zivannya mengangguk mengunyah roti selai.


"mau langsung kerumah kak Dirgantara atau ke hotel aja" tanya Langit. "hotel aja by, paginya biar dijemput kak Valerie selepas mengantar anak-anak sekolah. jika kita tidak memberi kabar malah akan di kasih petuah bijak" senyum Zivannya, Langit tertawa mengangguk.


"karena dia terlalu sayang kepadamu Zi" kata Langit, Zivannya mengangguk.


"selesai dinas, kita pulang ketempat ayah untuk berpamitan" tatap Langit, "sekalian jika kita beli kekurangan bawaan" kata Langit. Zivannya mengangguk.


"aku berangkat dulu, nanti jemput aku" kata Langit, Zivannya tersenyum. Langit memeluk istrinya mengecup ubun-ubun rambut nya beberapa kali. "aku sudah merindukan mu walau belum berangkat dinas, ternyata memang benar apa yang dikatakan bang Matahari jika berat meninggalkan seseorang yang membuatmu kangen tetapi panggilan jiwa membuatmu harus bisa kuat" hela nafas Langit berat.


"berarti kamu harus lebih kuat lagi kak, kan itu sudah panggilan jiwamu" tepuk punggung Zivannya lembut, Langit tertawa pelan.

__ADS_1


"kamu mengejekku, yang" tanya Langit menatap Zivannya, ia menggeleng pelan. "tidak, aku sudah memantapkan hati dan ikhlas menjadi pendamping abdi negara. Jadi kamu juga harus kuat seperti aku yang berusaha tegar menghadapi mu" jawab Zivannya, Langit memeluk kembali istrinya.


"hallo bund" tutup pintu rumah Zivannya sesaat setelah Langit keluar dinas.


"agak sorean bund, nunggu kak Langit pulang siang katanya. Terus nanti mau pulang kerumah bunda sama ayah" jawab Zivannya.


"iya, mau pamit dinas keluar" jawab Zivannya menata kembali bawaan Langit yang akan dibawa.


Zivannya menghembuskan nafas berkali-kali saat menatap bawaan Langit, duduk tergugu sambil meneteskan air mata yang turun dengan sendirinya.


"aahh" tenggelam Zivannya diatas ranjang tidurnya, menangis sesenggukan sendirian tidak kuat menahan rasa sesak didalam dadanya seperti mempunyai beban yang sangat besar. Setenang apapun sikap yang diperlihatkan dihadapan suaminya tidak bisa membuatnya membuang rasa pedih akan ditinggal lagi oleh suaminya. Perasaan berat dan kepedihan yang teramat sangat kembali menghantui dirinya seperti dulu ketika melepas kepergian Aga suaminya yang telah pergi meninggalkan nya lebih dulu selamanya.


Ponsel Zivannya berdering beberapa kali dengan getaran yang pelan namun Zivannya tidak bergerak sama sekali dalam tidurnya karena kelelahan menangis sendirian. Langit memperhatikan panggilan yang ditujukan kepada istrinya namun tidak ada jawaban sama sekali. dilihatnya posisi Zivannya yang masih ada di dalam rumah belum bergerak sama sekali, Langit segera beranjak dari ruangannya menuju ke luar.


"Bas, aku pulang dulu. Zi dari tadi aku hubungi tidak diangkat, mungkin dia ketiduran atau baru keluar tapi aku kuatir dia merasa sendirian dan belum bisa melepas aku pergi" kata Langit pelan, Baskara mengangguk dan memberi hormat pada Langit sebelum Langit keluar dari ruangan para staff.


Langit melajukan motor dinasnya kembali menuju rumah dinasnya. Ia membuka pintu perlahan dan mencari sosok istrinya yang tidak terlihat keberadaannya


Ia tersenyum lebar mendapati Zivannya meringkuk dibawah cover bed setelah menyelesaikan bawaan di tas jinjing yang sudah rapi tertata disamping pintu kamar. Dengan pelan ia menghampiri keberadaan istrinya, dirapikan helaian rambutnya dan mendapati buliran airmata yang masih tampak dikedua kelopak matanya, Langit menghela nafasnya berat menatap paras istrinya. Ia segera berganti pakaian dan ikut merebahkan diri disamping istrinya, memeluknya erat seperti seekor harimau yang kehilangan kegarangannya.


Zivannya bergerak pelan karena seperti ada yang terasa berat di sekujur tubuhnya dari belakang, ia membuka matanya perlahan merasakan bahwa suaminya sudah berada dan memeluk nya seperti alas tidur.


"jam berapa pulang, kenapa nggak memberitahuku lewat ponsel" raih ponsel Zivannya dari atas nakas, ia melihat beberapa panggilan di ponselnya. "aahh, berarti aku yang ketiduran" senyum Zivannya meletakkan ponselnya kembali. Langit meraih pinggang Zivannya untuk kembali ke sampingnya.


"aku melihatmu penuh dengan bekas air mata" kecup pipi Langit, "tidak sadar jika menangis tadi, bayangan masa lalu selalu menghantuiku jika kamu pergi bertugas" kata Zivannya pelan memeluk Langit.


"ikhlas kan, berserah diri kepada Tuhan. Hanya itu yang dapat kita lakukan" buka mata Langit, Zivannya mengangguk. "aku juga berpikir begitu jika kamu pergi jauh dariku walau hanya satu hari, perasaan memang tidak bisa dibohongi, yang. Aku juga merasa takut kehilanganmu" tatap Langit, Zivannya menatap suaminya lama mengerti dengan sikap posesif nya yang terkadang membuatnya tidak bisa bernafas.


"apa kamu juga mengerti perjalanan kali ini sungguh sangat berat aku lakukan karena sekarang ada kamu yang ada di hatiku dan disini" tatap Langit, Zivannya tersenyum mengangguk. Ia mencium sekilas bibir suaminya meredakan petuah bijak yang pasti akan sangat lama dia dengarkan. Langit tersenyum lebar mendapat perlakuan dari istrinya yang sangat manis.


Ia mulai menggelitiki perut istrinya yang tertawa terbahak-bahak tidak kuat dengan rasa geli akibat perlakuan Langit. "rasakan pembalasan ku karena memotong perkataan ku yang sudah romantis, yang" serang Langit, Zivannya tertawa berguling menghindari tangan Langit yang jahil.


"ampun kak, nggak lagi-lagi. Udah nggak kuat" cengir Zivannya menahan tangan Langit. Langit mengukung tubuh istrinya agar jangan bergerak. "jika kamu ingin kemana pun selama aku tidak ada di sampingmu, hati-hati jangan membuatku kuatir, jaga diri baik-baik" kata Langit, Zivannya meraba kedua pipi suaminya tersenyum.


"aku akan selalu mengabari sebisa waktumu kak. Kabari jika waktumu sudah longgar maka aku akan tenang" tatap Zivannya, Langit bergerak turun mencium mulut Zivannya dengan lembut, mereka saling memberi dan menerima setiap sentuhan yang saling mereka berikan. "yang, kenapa kamu begitu mempesona" sentuh bahu Langit, Zivannya tersenyum "karena suamiku begitu mempesona juga" kata Zivannya. Langit tersenyum, "keluarnya nanti aja ya, aku ingin dirumah aja" dekap Langit, Zivannya tertawa lebar karena tangan Langit sudah menyusup ke balik t-shirt nya.


Nafas keduanya memburu seperti berlari puluhan kilo, Langit membiarkan Zivannya menggila menyelami semua yang bisa dia rasakan, Langit menatap istrinya yang terlihat lelah, "gantian aku, yang" balik badan Langit mengambil alih tempo permainan dengan cepat. Zivannya menjerit pelan saat Langit menaikkan tempo permainan mereka. "aahh, pelan kak" gigit bibir bawah Zivannya saat menikmati sentuhan Langit yang sangat cepat. "aku mau keluar, yang" seru Langit, Zivannya terkapar tak berdaya setelah permainan mereka yang terbilang lebih ganas.

__ADS_1


"apa kamu suka, yang" kecup bibir Langit, Zivannya menoleh dan mengangguk, "sensasinya beda" pejam mata Zivannya, Langit tertawa merapikan anak rambut Zivannya yang terlihat berantakan. "kamu sungguh mengagumkan, yang" elus pipi Langit. "hhmm" angguk Zivannya lemas.


Langit memeluk Zivannya, "apa kamu menginginkannya lagi Zi" bisik Langit, Zivannya tersenyum, "apa kakak ingin lagi juga" tanya Zivannya, Langit mengangguk.


"aku selalu menginginkan lebih jika dekat denganmu, yang. Sepertinya memang kamu membuatku tidak bisa berpaling lagi" elus rambut Langit, Zivannya terdiam mendengar detakan jantung Langit.


"jangan terlalu memaksakan dirimu untuk pergi, Zi. Kamu ada dirumah justru akan banyak hal yang akan membuatmu terkagum-kagum kenapa bisa seperti itu" kata Langit. Zivannya berdehem pelan.


"semoga cepat ada penerus kita disini" kata Langit mengusap perut istrinya, Zivannya berdehem pelan. "yang, kamu udah ngabari kak Val" tanya Langit, Zivannya berdehem. Langit menjauhkan kepala Zivannya dari dadanya, "yaah.... anak ini. Tidur lagi" kata Langit mengusap pipi Zivannya sedikit keras. "ntar aja kalo udah pamit sama ayah bunda. Lha kalo nggak sempat malah bikin kak Val senewen" buka mata Zivannya. "aku ngerasa remuk badanku kak" manyun Zivannya, Langit mencium bibir Zivannya yang mengerucut.


"pingin aku makan kalau bibirmu maju begini tau nggak" tatap Langit.


"kenapa menggemaskan begini" buka cover bed Langit memulai aktivitas mereka kembali. Zivannya tertawa menghindari setiap sentuhan Langit.


Langit memberikan sentuhan yang memabukkan bagi istrinya, sehingga lama-lama Zivannya meremas rambut suaminya menahan hasrat yang akan keluar. Langit mempercepat tempo permainan mereka setelah Zhivannya melepaskan dirinya beberapa kali dalam kenikmatan.


Langit menggeram panjang merasakan sensasi kenikmatan duniawi berdua dengan istrinya, menyeka peluh yang ada di dada Langit, "kita tidur sebentar, yang" tarik selimut Langit menutupi tubuh mereka berdua tanpa sehelai benangpun. Zivannya berada di dalam dekapan suaminya kemudian mereka tertidur setelah aktivitas yang menguras energi namun menyenangkan bagi mereka berdua.


Langit mengerjapkan matanya pelan menyesuaikan suasana rumah yang terlihat gelap gulita, ia mengambil t-shirt dan menyalakan lampu penerangan rumah, suara ketukan pintu terdengar pelan, Langit melangkah menuju pintu, "kenapa Bas" buka pintu Langit mendapati Baskara sudah berdiri dengan tegap membawa berkas.


"untuk perjalanan dinas dan beberapa keperluan di kesatuan, ndan" serahkan Baskara, Langit duduk dan melihat beberapa berkas tersebut dan kemudian menandatanganinya dengan cepat.


"tadi aku hubungi beberapa kali tapi tidak diangkat" kata Baskara, "aku ketiduran menemani Zivannya yang sedang tidak baik-baik saja" tatap Langit menyerahkan kembali beberapa berkas yang sudah ditandatangani nya.


"apakah dia masih tidak rela kamu bertugas" tanya Baskara, Langit mengangguk.


"dia memiliki ketakutan aku tidak akan kembali" angguk Langit pelan, Baskara mengangguk. "aku mengerti, sedikit banyak itu membuatnya tidak tenang" jawab Baskara, "benar" jawab Langit menghela nafasnya panjang.


"apa kalian sudah berpamitan kepada jenderal Triastomo" tanya Baskara, Langit menegakkan badannya sedikit lebih condong ke depan. "lupa aku" tatap Langit, Baskara mengangguk.


"kalo begitu, aku pergi dulu. Selamat jalan ndan, baik-baik saja disana" hormat Baskara, Langit tersenyum menjawab hormat Baskara sebelum dia meninggalkan rumah dinasnya. "om Bas, bawa motor dinasku dulu" ingat Langit, Baskara mengangguk dan mengambil motor dinas Langit. "untung aku diantar Dion tadi" kata Baskara.


Hai... Hai... Hai.... All readers. Terimakasih banyak atas dukungannya selama ini.


Maafkan agak lama update terbaru novelku karena sedang sakit. Mohon maaf atas ketidaknyamanan.🙏🏻


Luv.... Luv.... Luv U all readers sekebon.

__ADS_1


Stay healthy all


__ADS_2