Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 130


__ADS_3

Zivannya berjalan perlahan menuju rumah disaat semua orang sedang berkumpul di halaman depan dengan menenteng heelsnya dan tidak memakai alas kaki, Zivannya menyandarkan kepalanya di bahu sofa, meluruskan kakinya. "lho non dek, kenapa disini, dicariin yang lain nanti" kata Marni saat masuk kedalam rumah mendapati Zivannya sedang rebahan disofa panjang yang ada diruang tengah. "bentar, mbak, mau ambil alas kaki rumah, capek pake itu" tunjuk Zivannya kebawah sambil memejamkan matanya. "bentar non dek, saya ambilkan dibelakang sekalian mau ambil sesuatu" angguk Marni menuju kedalam, "nggak usah mbak, biar aku ambil sendiri.... "buka mata Zivannya namun sudah tidak mendapati Marni disitu.


Zivannya menghela nafasnya, kembali memejamkan matanya yang terasa berat, tiba-tiba terasa ada tangan yang menangkup pipinya mengusapnya lembut. Zivannya membuka matanya perlahan dan melihat Langit yang tersenyum menatapnya. "acaranya belum selesai, yang. kita harus kesana" kecup kening Langit, Zivannya menutup mulut Langit dengan tangan kanannya menghalau agar Langit menjauh darinya. "belum ada 10 menit kak" duduk Zivannya memakai alas yang diambilkan oleh Marni tadi tanpa dia tahu kapan menaruhnya disitu.


Langit membantu Zivannya untuk berdiri dengan benar karena memakai kebaya yang melekat sempurna ditubuhnya, "kamu terlihat menawan, yang" bisik Langit ditelinga Zivannya dan menggigit cupingnya lembut. "aaahhh, Langit" kerucut mulut Zivannya kesal atas perlakuannya. Langit mengecup mulut Zivannya yang maju beberapa centi. "manggil aku yang bener kenapa, yang" tanya Langit datar. Zivannya berjalan menjauh tanpa menggubris Langit yang berjalan mengikutinya. "dari mana sih Zi, dicariin juga" toleh Rara, Zivannya nyengir memperlihatkan alas kakinya yang sudah berganti. "hmmm... emang kamu Zi, bener-bener deh" geleng kepala Rara, mereka tertawa pelan. Zivannya dan Langit menghampiri para tamu yang hadir, mereka tertawa dan bercanda bersama-sama, membahas banyak hal yang tidak penting.


"kalo tau bang Matahari punya adik ipar yang cantik kayak Zi gini, udah dari dulu aku pepet" kata Suprapto, "isshh... pede banget kamu to... emang adekku mau sama kamu" pandang Matahari, "ya pasti mau lah bang, secara aku orangnya kan ganteng abis gini" lagak Suprapto, mereka meledek Suprapto habis-habisan. Langit membisikkan sesuatu kepada Zivannya yang segera dibalas dengan anggukan oleh Zivannya. "mau kemana ndan, nanti Zi dibawa pergi yang lain baru tau rasa" seru Sapta, "langkahi dua kakak laki-lakinya dulu noh" toleh Langit berjalan menjauh, Sapta menatap Dirgantara dan Matahari bergantian menggaruk pipinya tersenyum lebar.


"ada stok lagi nggak Zi yang bisa kamu kenalin" tanya Suprapto, Zivannya mengangguk. "banyak, kak. ada yang udah jadi, baru aja finishing atau yang udah out of stock" tanya Zivannya santai, "buset Zi... kamu nawarin apaan" kaget Suprapto. "kakak nanya apaan" tanya Zivannya balik. "cewek Zi, temenmu kali aja ada yang bisa dikenalin" kata Suprapto. Zivannya tersenyum "oohhh... aku kira kak Suprapto nanyain stok material bangunan yang baru trend atau yang udah out of stock" topang dagu Zivannya, mereka tertawa. "nyarinya sama om Baskara aja kak" isyarat dagu Zivannya. "ogah Zi, kebanting gua kalo nyari ama dia" tatap Suprapto. mereka tergelak mendengar jawaban Suprapto yang menohok dirinya sendiri.

__ADS_1


Langit datang membawa minuman dan makanan untuk Zivannya. "belum makan dek" tanya Mentari, Zivannya menggeleng. tadi tidur sebentar di ruang tengah kak" cengir Zivannya. "aishhh... kebiasaan" hembus nafas Mentari. seorang fotografer selalu diam-diam mengabadikan moments yang tidak mereka sadari. Zivannya menerima suapan dari Langit. "duh ndan, jiwa jomblo ku meronta-ronta" aksi Mahesa. Langit tidak menggubris omongan Mahesa, "kan... udah dibilang Zivannya tadi, suruh nyari ama om Baskara" kata Suprapto meledek Baskara, Baskara tersenyum kecut. "kenapa bisa dipanggil om sama Zivannya bas" kerut Dirgantara. "karena selisih umurnya 10 tahun. dia 32, Zivannya masih 22. kalo manggil kakak kesannya nggak sopan, kata Zi lho.." jawab Suprapto. Rara tertawa ngakak, bersembunyi dibalik badan Dimas. "padahal nggak kliatan kalo umur segitu lho Baskara Zi, panggil kakak aja. biar Raka yang panggil dia om" pandang Dirgantara, Zivannya menoleh mengangguk. "baik, maaf ya om... eh... kak Bas" cengir Zhivannya melambaikan tangannya. Langit menurunkan tangan Zivannya. sepanjang siang rumah Triastomo terlihat meriah dan ceria, orang-orang terdekat merayakan kebahagiaan salah satu anggota keluarga mereka. ayah juga sekalian meminta doa perihal kepindahan tugas anak lelaki nomer dua nya yang akan dinas di luar Jawa. meminta doa agar keluarga besarnya diberi kesehatan dan kebahagiaan. hingga acara selesai dan para tamu satu persatu berpamitan untuk pulang. tinggal keluarga Triastomo, keluarga Langit dan sahabat Zivannya.


pihak wedding organizer juga segera berpamitan karena tugas mereka telah selesai. Zivannya dibantu Rara melepas kebaya yang dikenakannya dari tadi, bunda meminta Marni membersihkan ruang tamu untuk istirahat ibu Langit sementara. Zivannya selesai membersihkan diri dan berada diruang tengah dimana semua sofa sudah berada dipinggir ruangan dan alas duduk sudah terbentang lebar untuk mereka rebahan bersama-sama.


"dim, kamu balik kapan. aku tau kamu nggak bisa cuti lagi" sandar kepala Zivannya di sofa. "besuk pagi Zi, penerbangan jam 9 pagi" kata Dimas, "baiklah, besuk aku antar" angguk Zivannya, Langit datang setelah membersihkan dirinya dan duduk didekat Zivannya, "Rara disini dulu kan, daripada disana nggak ada temennya" senyum Zivannya, Rara tertawa kecil. "sepi rumah, wisudanya masih 1,5 bulan lagi" kata Rara. "udah disini aja nemenin bunda sama aku, kak Mentari dua hari lagi berangkat. kita sekeluarga mau ikutan lho" senyum-senyum Zivannya menatap Rara, "siapa aja" mainin rambut Langit, "ayah, bunda dan tentu saja aku, kak" toleh Zivannya, Langit menarik bahu Zivannya hingga kepalanya bersandar didadanya.


"kamu nganter ibu pulang, yang" kata Langit. "kapan" tanya Zivannya mendongak menatap Langit. "besuk sore" kata Langit. "ibu biar sama aku aja pulangnya Lang, nanti sampai Surabaya, biar diantar sampai kerumah" jawab Dirgantara. "kita ikut, ntar balik ke Jakarta ikut kak Mentari" usul Rara. "baiklah. semakin banyak semakin seru kalo gitu" kata Dirgantara. Langit mengangguk. "berarti pagi nganter Dimas pulang, sorenya kita berangkat ke Surabaya kan" kata Zivannya memastikan jadwalnya. "pagi biar Dimas berangkat bareng aku aja dek, aku hanya sebentar ke kesatuan mengambil berkas pindah tugas, bisa nganter Dimas sekalian kebandara. naik motor aja biar cepat" kata Matahari. "baiklah. semuanya sudah dibagi tugasnya, berarti petang nanti kita bisa riding lagi dong" kata Dirgantara, "Ok kak. siapa takut" angkat bahu Mentari, Zivannya mengambil bantalan sofa dan menaruhnya dikaki bagian atas Langit Zivannya merebahkan kepalanya. "aku tidur bentar kak, biarin ngobrol. Raka sama Riki mumpung ngobrol" kata Zivannya memejamkan matanya, Langit mengusap-usap rambut Zivannya. "udah jam 3 sore, anak ini tidur" kata bunda, "kak Mentari juga tidur bund" isyarat dagu Rara melihat Mentari yang berada dalam pelukan suaminya. "aisshhh... anak-anak ini kebanyakan begadang kalo malam. ayah mana" cari bunda melihat ayah yang sudah berada disamping Raka. bunda tertawa pelan melihat keluarga nya yang berkumpul bersama dan berada di satu tempat.


Langit dibangunkan ibunya untuk melaksanakan kewajiban petangnya, Langit mengangguk dan mengusap punggung Zivannya lembut, Zivannya bergerak pelan melihat jam yang sudah petang. dimeja makan sudah berjejer minuman hangat berbagai varian, mbok dan Marni menyiapkan berbagai macam minuman. Zivannya mengambil gelas dan mengisinya dengan air mineral sebelum masuk kekamar mengambil air suci, "yang" panggil Langit, Zivannya menoleh menyerahkan gelas air mineral kepada Langit terlebih dulu, langit menghabiskan nya dalam sekali teguk, Zivannya kemudian minum untuk dirinya sendiri setelah mengisi kembali, membawa kedapur untuk dicuci. kita diruang tengah aja bareng" kata ayah, mereka segera bergegas untuk mengambil air suci dan berjejer rapi sesuai dengan tuntunan.

__ADS_1


selesai kewajiban mereka menyalami ayah, bunda dan ibu Langit bergantian. Zivannya mencium punggung tangan Langit. "kita makan dibelakang aja ya sekalian healing" kata bunda sebelum mereka beranjak merapikan peralatan kewajibannya. "siap bund, udah mau nanya kapan kita makan, udah lapar" angguk Dirgantara. mereka segera menuju taman belakang yang kecil tapi terawat. "onty" panggil Riki, "apa ganteng" lihat Zivannya sejajar dengan tubuh Riki, "mau makan ice cream" kata Riki, "siap.... ada di box pendingin. nanti kita ambil kalo ganteng udah makan nasi, biar nggak sakit perut karena dingin perutnya" usap perut Zivannya. Riki mengangguk tersenyum dan berlari menuju mamanya. Langit meraih bahu Zivannya membawanya ke meja makan yang dipasang ditaman belakang. "kak, makan sendiri ya, janji nggak sisa" kata Zivannya, Langit menggeleng. "sama aku aja, yang nanti malah aku yang nyisa" kata Langit merajuk. "aishhh... " hembus nafas Zivannya tidak mendengar rengekan Langit. "ganteng onty, mau makan pake apa" dekati Zivannya. Raka menunjuk dua item makanan, Zivannya mengambilkan dan memberikannya pada Raka untuk dibawa kedekat Uti nya. Zivannya melihat Raka sebelum dirinya mengambil makanan untuk Langit dan dirinya.


Zivannya sedang bersiap memakai pakaian ridingnya kembali, "ayah ikut nggak" tanya Dirgantara, gimana mau ikut, motornya dipake kamu kan" pandang ayah, Dirgantara nyengir. "mau pake apa kak" tanya Zivannya menatap Langit, Zivannya segera mengambil jeans hitam dan t-shirt putih dengan jaket kulit hitamnya. "kita pake motor kecil kak, motor klasik dipake kak Dirgantara" rapikan Zivannya. Langit mengangguk, Dimas dan Rara" pandang Langit. mereka pake motor lama ayah" senyum Zivannya melingkarkan tangannya ke leher Langit dan mencium lembut bibir Langit. "kamu menggodaku yang" pandang Langit menyatukan keningnya memeluk Zivannya erat, Zivannya tersenyum mengendikkan bahunya Langit kembali mencium bibir kekasihnya dan mengabsen setiap detailnya. "udah, nanti ditungguin yang lain" usap bibir Zivannya. Langit tersenyum menyentuh bibir Zivannya. "the taste more sweet" kecup Langit, Zivannya tersenyum melangkah keluar walk closet, "Rara pake denim Zivannya atau punya kakak. kita seukuran" kata Mentari. "sama aja kak, ini juga nggak papa" angguk Rara. Mentari mengangguk. "kenapa ikut semua" pandang bunda melihat anak-anaknya beranjak meninggalkan rumah. "mumpung ada yang njagain Raka dan Riki bund..." senyum Dirgantara, bunda tersenyum melambaikan tangan. "jangan ngebut-ngebut" ingatkan bunda.


"yaaa, bund. namanya bukan riding dong, jalan sehat" celutuk Matahari, bunda tertawa pelan. " jagain istri kalian baik-baik" kata bunda . "siap bund" jawab para lelaki.


hai..... hai.... hai.... all readers terimakasih telah berkunjung ke karyaku. terimakasih banyak atas dukungannya.


luv....luv....luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih atas semuanya.

__ADS_1


stay healthy all


__ADS_2