Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 56


__ADS_3

Zivannya hanya bisa menghela nafas dalam-dalam, setidaknya itu memang kewajibannya sebagai istri untuk melayani suaminya. jadi tidak ada yang harus dia tunda-tunda, toh pada akhirnya mereka akan melakukannya lagi dan lagi nantinya.


pesanan mereka datang, Zivannya segera memakan dengan lahap, Aga memandang Zivannya yang terlihat kelaparan. "apa kamu nggak dikasih makan bunda yang" tanya Aga. Zivannya tersenyum, "terlalu banyak malah, tapi nggak senikmat saat bersamamu by" gombal Zivannya, Aga tertawa mendengar rayuan receh Zivannya, "by Jumat sore acara mama akan diadakan, seperti yang kemarin aku bilang ditempatnya om Hadi, rencananya Jumat pagi aku pulang, bolos kuliah satu hari itu. jadi kita cuma bisa bersama hari Kamis besuk itu" kata Zivannya, aga menghela nafasnya. "kayak main sinetron aja yang, kejar tayang banget kesannya, Jumat siang aja kita berangkat bareng. naik mobil aja ya, kita bisa gantian untuk membawanya, dan kita tidak harus ngrepotin orang ketika disana nanti, saat harus kemana-mana, lagian juga kita bisa berhenti saat menunaikan kewajiban" kata Aga, Zivannya mengangguk. "baiklah, aku ngikut aja. emang dah ijin" tanya Zivannya.


"itu sudah bukan jam kerja yang, kita memang taat aturan" sentil kening Aga, Zivannya mengelus keningnya sesaat. "kebiasaan sih by, nggak liat kalo merah nih" kata Zivannya mengerucutkan bibirnya.


"yang, aku makan tuh mulut" tatap Aga gemas melihatnya. Zivannya segera mengunyah makannya. "nggak hanya mulut yang dimakan, tapi semuanya pasti dimakan juga" gumam Zivannya, Aga tertawa lebar. "lha itu kamu sudah tau, jadi siap-siap untuk nanti malam" goda Aga menaik turunkan alisnya. Zivannya memberi tanda Ok dengan jarinya. mereka tertawa lebar melihat kekonyolan yang mereka buat setelah tiga hari nggak ketemu. "yang kita pindah apartement atau rumah aja gimana, aku merasa nggak nyaman. keluarga punya rumah yang lebih dekat dengan kampusmu tapi aku nggak tau kamu mau apa tidak. dulu aku merasa praktis tinggal diapartement dari pada dirumah, nggak enak kalo keluar malam terus kalo dirumah. padahal nggak setiap saat keluar malam, tapi karena pekerjaan jadi mengharuskan keluar" tanya Aga mengunyah makanannya.


Zivannya menatap Aga. "kenapa by, apa kamu merasa terganggu dengan Stevia yang sering secara kebetulan berpapasan denganmu disana atau uler keket yang selalu nempel terus" senyum Zivannya, Aga mengangguk.


"itu juga salah satunya yang, kamu tau aku nggak bisa bersikap kurang ajar kepada wanita kan, lama-lama mereka mengganggu kehidupan pribadi kita" jawab Aga.


"kalo begitu kita hadapi saja dulu, toh sidang sudah selesai, secara agama, negara dan kedinasanmu kita sudah sah suami istri kan. kemarin-kemarin aku memang menahan diri untuk menyelesaikan prosedur dalam kedinasanmu agar tidak menimbulkan fitnah atau kejadian buruk yang dapat membuatmu kesusahan dalam kesatuan. nah sekarang semua sudah selesai, jadi nggak ada lagi rasa sungkan untuk memberitahu mereka yang sebenarnya. jika mereka menerimanya dengan baik maka kita akan bersikap baik pula, tapi jika tidak maka jangan harap punya peluang untuk memilikimu" kata Zivannya tegas.


"tapi sebenarnya aku lebih suka dirumah sih by, ada orang-orang yang menjadi tetangga. karena mereka adalah orang terdekat kita saat ini, jika kita diapartement kan kita hanya sendiri, jika ada apa-apa dengan kita maka nggak akan ada yang membantu kalo kita nggak menghubungi security dulu" kata Zivannya menatap Aga.


Aga senyum-senyum dan manggut-manggut mendengar penjelasan Zivannya yang panjang kali lebar.


"kenapa by, nggak pantes ya ngomong serius" kerut Zivannya menghabiskan sisa makannya. Aga menggeleng, "kamu terlalu sempurna yang, beruntung aku mendapatkanmu dengan perjuangan yang panjang dan berat" pandang Aga. Zivannya meraih jemari Aga, "kita berdua memang berjodoh by, jika tidak bersamamu aku pasti tidak akan sekuat ini. jika bukan karena mu aku tidak akan bisa tersenyum apalagi tertawa setelah mama nggak ada. jadi dimataku kamu adalah pahlawan kuda putihku. kau yang terlalu sempurna untukku" senyum Zivannya tulus.


Aga menatap Zivannya lama dan menarik jemarinya untuk segera pergi dari situ. "bayar yang, segera pulang. aku sudah nggak kuat" bisik Aga, Zivannya bergegas menuju kasir untuk membayar makanan mereka. Aga sudah menunggu didalam mobil saat Zivannya selesai membayar, Zivannya segera masuk, Aga melajukan mobil dengan kecepatan cepat.


"by, pelan sedikit. jalanan lumayan padat, nggak usah ugal-ugalan, kalo kenapa-kenapa dijalan kita malah nggak sampai rumah" seru Zivannya, Aga segera melambatkan laju kendaraan. Zivannya menekan dadanya kencang. "by, aku benar-benar trauma saat terjadi kerusuhan kemarin. pikiranku kemana-mana. memikirkan dirimu jika terjadi apa-apa, memikirkan ayah dan bunda yang ada didalam. jadi biarkan aku tenang dulu Ok" gemetar Zivannya, Aga menoleh cepat dan menggenggam tangan Zivannya. "maaf yang, aku lupa karena terlalu bersemangat untuk memakanmu" kuatir aga melihat Zivannya yang pucat.


"nggak papa by, hanya aku yang belum stabil. jika sudah semua akan baik-baik saja" angguk Zivannya menatap keluar jendela. tiba diparkiran basement apartement Aga membantu Zivannya melepas seat belt, meraih tas jinjing Zivannya dan beranjak keluar dari mobil. Zivannya menunggu Aga dan menautkan jemari untuk melangkah menuju box ajaib yang membawa mereka kelantai dua apartement mereka. Zivannya menekan tombol buka setelah sampai dilantai dua. berpapasan dengan pemuda bertubuh tegap yang tadi duduk disebelah Zivannya dalam pesawat. Zivannya mengerutkan keningnya sejenak dan segera berlalu tanpa kata, menekan password pintu apartementnya.


Aga segera menutup pintu sesaat mereka masuk, meletakkan tas Zivannya didekat pintu kamar agar Zivannya bisa segera membongkarnya.


"by mau mandi bersama nggak" senyum Zivannya, Aga memandang Zivannya yang sudah tidak memakai apapun dan bersiap masuk bathroom. tanpa banyak kata Aga segera melepaskan baju dinasnya dan menaruhnya dibox laundry, menyusul Zivannya yang telah lebih dulu masuk. Aga memeluk tubuh Zivannya dari belakang dibawah guyuran shower, Zivannya mendesah pelan merasakan sentuhan Aga yang memabukkan, mereka bercumbu dibawah guyuran air, saling membasuh badan dengan foam. Zivannya memberi sentuhan yang membuat Aga sering menggeram karena kenikmatan yang diberikan Zivannya, hingga mengeluarkan kenikmatan yang lama dipendamnya. Zivannya membasuh dengan lembut membuat Aga menatap Zivannya dalam kabut asmara. "yang, basuh badanmu kita keluar, nanti kamu kedinginan" desah Aga meraih bathroom dan membalut tubuh Zivannya, membawanya ke tempat mereka tidur. Aga meraih handuk kecil dan membungkus rambut Zivannya yang basah oleh air.

__ADS_1


"by"dongak Zivannya, Aga menunduk menatap Zivannya sambil mengusap rambut Zivannya agar air tidak menetes, "jangan tinggalin aku ya" kata Zivannya, Aga menggeleng, menangkup kedua pipi Zivannya dan mencium bibirnya intens. Zivannya membalas ciuman Aga yang membara, tubuh mereka saling memuja, mendamba satu sama lain, saling memberikan rangsangan, sentuhan yang memabukkan, ******* dan erangan terdengar dari mulut mereka berdua, sepanjang malam mereka melampiaskan kerinduan, kebahagiaan yang mereka pendam selama ini.


"by, capek" pejam mata Zivannya, setelah energinya terkuras banyak sejak tadi. Aga melihat jam diponselnya, yang telah menunjukkan waktu 1.30 pagi.


"tidur yang"usap pipi Aga, memeluk Zivannya dan ikut tertidur.


jam 6.40 pagi


Zivannya bergerak pelan menarik cover bed yang melorot kebawah perutnya. menoleh kesamping dan melihat suaminya yang belum bangun juga. "by" goyang bahu Zivannya pelan. Aga membuka matanya pelan dan menoleh menatap Zivannya.


"hmmm" gumamnya memeluk tubuh Zivannya yang tidak memakai baju dan secara refleks memainkan benda kenyal yang menjadi candunya setelah mengenal Zivannya.


"berangkat kerja nggak by" elus kepala Zivannya, Aga membuka matanya lebar dan duduk tegak meraih ponsel dan melihat jam yang ada disana.


"mandi yang, barengan" angkat tubuh Aga, Zivannya menjerit pelan saat Aga tiba-tiba mengangkatnya menuju bathroom, mengatur suhu air agar menjadi hangat.


"nggak pake jeans" peluk Aga, Zivannya tersenyum mengecup bibir Aga sekilas. "pengaruh bunda dan yang lain" jawab Zivannya tersenyum.


"bunda nggak membiarkan aku memakai bajuku yang aku bawa" Hela nafas Zivannya, Aga tertawa lebar mencium bibir Zivannya lembut.


"ketemu sore nanti yang" satukan kening Aga, Zivannya mendesah pelan.


"bisakah kita tenang dan berdua aja by" peluk Zivannya erat. Aga mengecup rambut Zivannya. "tentu, pada saatnya nanti kita akan hidup tenang" ujar Aga pelan. mereka keluar dari walkcloset, memakan sarapan.


"dah jam 8 lebih yang" selesai sarapan Aga, Zivannya meminum air mineral dan meraih ranselnya,


"by, mau pake kendaraan apa" tanya Zivannya,


"motor aja biar cepet" minum kopi Aga, Zivannya menyerahkan kunci motor laki Aga. "kamu mau pake mobil yang mana" tanya Aga memakai sepatu. Zivannya memperlihatkan kunci mobil kecil yang sering dipakai Zivannya sekarang, memakai sneakers hitam kesayangannya.

__ADS_1


mereka keluar dari box ajaib, Zivannya mencium punggung tangan dan kedua pipi Aga, "hati-hati dijalan by, kabari sering-sering" senyum Zivannya pamit. Aga mengangguk mengecup kening Zivannya dan memakai helmetnya, Zivannya masuk kedalam mobil. Aga memberi tanda karena akan segera berangkat, Zivannya mengangguk dan tersenyum. ketika akan keluar, pemuda itu terlihat melintas dengan cepat, Zivannya tidak memperdulikan keadaan sekitar dan segera melesat menuju kampusnya.


bertemu dengan Rara dan Dimas yang sedang berjalan menuju kelas. bersama-sama selama seharian membuat Zivannya terlihat lebih bahagia.


"Jum'at besuk aku pulang Ra, acara mama 40 hari ditempat om Hadi" kata Zivannya saat mereka dikantin.


"haa... pergi lagi Zi, baru aja pulang dari yang satu, ke satunya lagi" pandang Rara nggak rela. Zivannya tertawa pelan, "ishh... apaan sih Ra, kayak cewek operan aja aku" jawab Zivannya. Dimas datang membawa jeruk dingin dan teh dingin.


"makasih dim, jadi kangen ngerjain tugas berdua lagi" senyum Zivannya. Rara tertawa ngakak, "iya tau, kalo bertiga aku sering ketiduran dan hanya kalian yang mengerjakan" manggut-manggut Rara, Zivannya menggeleng. "nggak juga, lebih sering kita cuman berdua karena kamu lebih senang kelayapan malam dan kami jadi penunggu setiamu" hembus nafas Zivannya dimuka Rara, Rara tertawa lebar.


"ishhh... Zi, bau bakso" jauh Rara. Zivannya malah mendekati Rara lagi mereka tertawa. Dimas memandang mereka tersenyum.


"aku pulang duluan ya, besuk nggak masuk. jadi minta tolong absenin" Rajuk Zivannya memeluk Rara.


"iya udah tau, jangan lama-lama pulangnya kesini. kita masih harus sering pergi berdua" peluk Rara balik. Zivannya mengangguk.


"jagain Rara ya dim, jaga sampai halal" anjak Zivannya, Dimas tertawa dan memberi tanda Ok.


Zivannya melangkah meninggalkan pelataran kampus dan berlalu pergi.


dilampu merah dia melihat Aga yang sedang mengendarai motor lakinya. Zivannya mendekat dan membuka kaca jendelanya, "cowok mau kemana" tanya Zivannya, Aga diam tidak peduli, Zivannya menyentuh lengan Aga, Aga terkejut dan menoleh cepat, membuka visor helmetnya, Zivannya tertawa pelan. Aga mengelus rambut Zivannya.


"pulang yang" kata Aga, Zivannya mengangguk.


lampu kembali hijau, mereka bergerak pelan, Aga bergerak lebih cepat dari Zivannya, Zivannya tersenyum melihat tingkah suaminya yang mengejek bahwa dia yang bisa sampai rumah duluan, Zivannya memasuki basement parkir apartement.


more fun yaa... dengan kisah mereka readers... doain ya mereka baik-baik aja...


luv.... luv... luv all readers. beri dukungan yang banyak banyak untuk karya ku ini... terimakasih banyak... ☺️☺️

__ADS_1


__ADS_2