Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 80


__ADS_3

Langit menatap Zivannya yang mendorongnya menjauh, "kenapa" kerut Langit tidak mengerti akan sikap Zivannya yang selalu ingin jauh darinya. "apa keluargamu tahu statusku kak" tanya Zivannya. Langit tertawa, "kenapa. apa kamu takut tidak direstui keluargaku karena statusmu, apa dengan itu kamu hanya berharap mendapat pasangan yang juga berstatus sama denganmu karena ketakutanmu" tanya Langit serius.


Zivannya menghela nafasnya panjang "kenapa kamu keras kepala kak, jangan terlalu berharap lebih padaku"kata Zivannya.


"kenapa kamu nggak ngerti juga Zi, aku mengharapkanmu lebih dari siapapun. buang semua pikiran yang membuatmu insecure. jika aku bisa memilih, aku ingin mengenalmu sebelum Aga, aku ingin menikah denganmu sebelum Aga, tapi takdirku bertemu denganmu setelah itu" kata Langit pelan.


"aku tidak berharap kamu menerimaku saat ini Zi, aku tidak berharap kamu melupakan Aga saat ini. aku ingin kita mulai lembaran baru kita berdua, buka hatimu untuk mengenalku dan mencintaiku" lihat Langit menatap kedepan.


"Bagaskara adalah bagian dari masa lalumu yang tidak akan kembali, cukup kamu kenang. Langit adalah bagian dari masa depanmu yang akan melanjutkan hidup denganmu dan memiliki keluarga" hembus nafas Langit. Zivannya terdiam lama, hanya keheningan malam yang menemani mereka.


"aku masih punya tiga bulan lagi lho kak untuk menetapkan hatiku" kata Zivannya tiba-tiba. Langit tersenyum dan mengangguk. "tentu, aku tepati kata-kata ku itu, setelah kamu kembali dari sana, aku akan menagih jawabanmu" usap rambut Langit.


"kenapa tanganmu jail banget sih selalu mengacak-acak rambutku" halau Zivannya, Langit tersenyum semakin mengacak-acak rambut Zivannya. "Langit" seru Zivannya tidak terima menghalau tangan langit yang membuat rambutnya berantakan. Langit terdorong kebelakang dan menarik tangan Zivannya, tubuh Zivannya menimpa Langit. "isshhh, kak rambutku" kerucut mulut Zivannya, Langit melingkarkan tangannya dipinggang Zivannya.


"Zi" panggil Langit. Zivannya memandang langit. "kamu adalah gadis yang unik buat ku dan Aga, tau kenapa" tanya Langit. Zivannya menggeleng. "karena kami adalah lelaki yang tepat untuk membuatmu merasa aman" senyum Langit. Zivannya berusaha bangkit dari atas tubuh Langit.


"kak" pandang Zivannya, Langit menggeleng dan meraih kepala Zivannya agar mendekat padanya, Langit mencium bibir Zivannya lembut, memaksa Zivannya untuk membuka mulutnya agar dia dapat mengabsen setiap detailnya. Zivannya mencoba menjauh dari tubuh Langit, namun kekuatannya kalah besar dari Langit.


Langit menatap Zivannya yang terlihat kehabisan nafas, "nafas Zi" bisik Langit lembut, Zivannya bergeser kesamping menekan dadanya menghirup udara dengan cepat. Langit mengusap bibir Zivannya yang penuh dengan jejak mereka. Langit kembali mencium bibir Zivannya dengan lebih intens, menautkan jemari tangan Zivannya dengannya. Zivannya memejamkan matanya menitikkan air mata disudut matanya. langit melihatnya dan menghentikannya segera. menghapus air mata Zivannya, "don't cry Zi" satukan kening Langit, Zivannya membuka matanya.


"jangan kak" sayu mata Zivannya memandang Langit yang menghela nafasnya berat.


"Ok, done" geser tubuh Langit kesamping Zivannya, mereka menatap langit yang bertabur bintang.


"berangkat jam berapa besuk" tanya Langit, " 2 siang" jawab Zivannya menutup matanya. langit menoleh, menyentuh leher Zivannya. "aku antar besuk. tunggu aku dirumah" kata Langit, Zivannya menoleh dan mengangguk. langit menarik tubuh Zivannya agar merapat padanya. "gadisku yang keras kepala" kecup kening Langit. Zivannya menyelusupkan kepalanya ke dada Langit yang segera merengkuh tubuh Zivannya kedalam pelukannya.


"cepat pulang Zi, jangan lama-lama" kata Langit, Zivannya berdehem. "jangan dekat dengan cowok lain" kata Langit. "hmmm" dehem Zivannya. "jangan keseringan sama Yuda dan Dimas" hembus nafas Langit, Zivannya bergerak menjauh dari langit. Langit segera meletakkan kepala Zivannya kembali kedadanya. "team yang berangkat hanya aku doang yang cewek, Dimas dan Yuda adalah sahabat saat suka dan duka. mereka juga sudah punya seseorang yang menemani mereka dan jika ada laki-laki lain yang menyukaiku itu diluar keinginanku" kata Zivannya asal. Langit mendengus pelan.


"kapan kamu akan dirumah aja, nggak rela kalo kamu diliat laki-laki lain" kata Langit. "trus kalo laki-laki boleh keluar rumah dan dilihat oleh perempuan lain" kata Zivannya menatap Langit, "bukan itu maksudku" geleng Langit, Zivannya mengangguk. "terkadang laki-laki tidak rela jika miliknya diganggu" kata Langit, "perempuan juga, tapi laki-laki terkadang lebih menyukai hal yang baru daripada mempertahankan miliknya yang lama" kata Zivannya. "isshhh kebiasaan debat mlulu" kata Langit. "kebiasaan nglarang mlulu" jawab Zivannya. mereka saling berpandangan dan tertawa bersama. "luv U Zivannya Fritscha" kata Langit, Zivannya berdehem.


pagi hari


"dek, bawa jahe buatan mbok" kata bunda meletakkan diatas koper. "bund, Zi itu cuman tiga bulan lho perginya. bentar doang, barangnya terlalu banyak" lihat Zivannya lesu, bunda melambaikan tangannya.

__ADS_1


"abang udah berangkat kak" tanya Zivannya." udah dari tadi dek, ini jam berapa kata mentari. Zivannya nyengir. dek, bawa minyak kayu putih udah belum" tanya bunda, Zivannya mengangguk. "apalagi yang kurang" berhenti bunda didepan mereka berdua. "bund, duduk aja. kita nikmati pagi ini" kata mentari meraih kedua bahu bundanya untuk duduk bersama mereka berdua. "udah lama nggak nyiapin keperluan kalo pada keluar rumah lama" hembus nafas bunda. "Zi nggak papa bund, udah biasa juga kalo naik gunung harus prepare jauh hari sebelumnya" usap punggung tangan Zivannya. bunda menepuk punggung tangan Zivannya.


"pulang selamat ya dek, jangan ada apa-apa, restu bunda menyertaimu" senyum bunda. Zivannya tersenyum memeluk bundanya.


"boleh nggak dek, kalo kita kesana" tanya Mentari, Zivannya mengangguk. "tentu saja kak, masak Zi harus kerja terus-terusan. nggak ada istirahatnya. mainlah sesekali, menikmati hutan yang ada auman singa" tawa Zivannya mentari tertawa ngakak, "udah pamit sama kak Dirgantara belum" minum bunda. "udah bund, tadi malam" angguk Zivannya.


"pagi" salam Langit masuk kedalam rumah, menyalami bunda.


"udah datang nak, sarapan" tanya bunda, sudah bund. tadi ke kesatuan dulu, setelah selesai semua urusan baru kesini" kata Langit. "ini baru jam 11 lho" liat jam mentari, Langit tersenyum lebar.


"aku mandi dulu kalo begitu" kata Zivannya beranjak dari duduknya.


"adek, malu-maluin aja belum mandi" kaget bunda, Zivannya berlari masuk kedalam kamarnya.


"Zivannya bawa koper ini aja" lihat Langit. "he em, itu udah dibilang gede dan kebanyakan barang" kata mentari mengangguk.


"anak itu nggak terlalu ribet kalo bawa barang. nggak kayak kakaknya dua-duanya malah" kata bunda. mentari tertawa mengangguk, mbok datang membawa coklat panas. "makasih mbok" senyum Langit.


"nanti nganter Zi kan nak" tanya bunda, Langit mengangguk.


"aahhh.... syukurlah, bunda jadi tenang nih lepas adek disana. jadi bisa tau gimana disana nantinya, kalo bunda ikut pasti Zi merasa nggak enak kan, untung ada Langit" lega bunda, Langit mengangguk.


"ishh...ish.... memang cinta rasa coklat manis melulu" celutuk mentari, Langit tertawa pelan.


"nggak hanya coklat kak, rasa asem nya banyak banget. ditolak melulu, dideketin dikit aja udah menjauh 5 meter" kata Langit, mentari ngakak mendengar Langit menggerutu. "sabar dek, Zivannya masih tidak bisa begitu saja melupakan dek Aga, tapi setidaknya dia sudah mau melihatmu dalam satu ruangan" kata Mentari, Langit tersenyum mengangguk. Zivannya keluar dari kamar sudah kembali rapi.


"oh ya bund, ijin jika besuk Zivannya potong rambut jika cuaca panas disana" kata Zivannya. Langit tersedak minumannya, "sama kayak waktu KKN dulu dan Aga nggak suka" ingat bunda, Zivannya mengangguk "rambut akan rontok dan jika tidak ada air akan susah merawatnya, jika dipotong pun tidak akan banyak, setelah pulang biasanya akan seperti semula" jawab Zivannya, bunda mengangguk.


"kalo naik gunung apakah dipotong juga dek" tanya mentari ingin tahu.


"he em, jika jaraknya naik hanya dua atau tiga bulan nggak sih kak, setidaknya 6 bulan lebih baru aku rapiin" angguk Zivannya.


"kemarin sempat mau potong pendek banget, sehabis kak Aga nggak ada. tapi Ayah nggak ngijinin, kak Valerie dan kak Mentari aja pendek gitu, Ayah ingin ada yang lebih panjang satu" kata Zivannya.

__ADS_1


"lha kenapa, sayang kan rambut udah panjang gini" kata bunda.


"kalo gitu ijin mewarnai rambut aja ya bund, besuk kalo pulang magang" senyum-senyum Zivannya. "kalo itu mah masih oke aja" kata bunda, Zivannya memberi tanda Ok sambil tersenyum. Langit berdehem.


"mau berangkat sekarang kak, Jakarta macet" lihat Zivannya, Langit mengangguk. Zivannya memeluk bundanya erat, bergantian dengan Mentari.


"jaga kesehatan dek, sering-sering ngasih kabar" kata bunda, Zivannya memberi tanda Ok dengan jarinya.


"pamitin Ayah bund" salam Zivannya, bunda mengangguk. mobil Langit meninggalkan halaman rumah Triastomo.


"kakak nggak papa nganter aku" tanya Zivannya menatap Langit yang masih memakai seragam dinas, langit mengangguk. "mau beli makanan apal Zi, lumayan nunggu lama nanti" kata Langit.


"perjalanannya kan juga lama kak, kayak nggak tau aja" kata Zivannya, Langit mengangguk.


"bang matahari masih tugas kak" tanya Zivannya, masih kayaknya" angguk Langit. "ini pertama kalinya kita pergi berdua Zi" senyum Langit, Zivannya terdiam.


"hallo" salam Zivannya melihat id caller diponselnya.


"makasih" kata Zivannya.


"kabari aja nanti gimana baiknya" angguk Zhivannya.


"Ok, siap. he em... "tutup Zivannya.


"siapa" tanya Langit.


"Regan" kata Zivannya, Langit menoleh. "kenapa dia" tanya Langit cepat, Zivannya menatap jalanan yang sedikit lengang.


"mengucapkan selamat berangkat aja kak, jika ada projects apa aku mau bergabung nggak" kata Zivannya, Langit terlihat kesal. "emangnya kamu mau ikutan" tanya Langit. "aku bilang kabari aja, jika memang ada waktu dan tenaga, why not" tatap Zivannya. "ishh... "kata Langit, Zivannya menyentuh bahu Langit.


"aku tidak apa-apa" senyum Langit, Zivannya mengangguk. setiba dibandara Langit mengatakan akan parkir inap, mereka melaju ke arah dalam. Langit menurunkan koper Zivannya, dia memakai ranselnya dan menarik koper Zivannya. "biar aku aja kak" pandang Zivannya, Langit meraih jemari Zivannya dan melangkah masuk kedalam.


hai...hai..hai... all readers, dukung terus karyaku. dukung terus ya... agar selalu update.

__ADS_1


luv....luv...luv... U all readers terimakasih banyak atas dukungannya.


__ADS_2