
Zivannya mengerjapkan matanya menyesuaikan dengan cahaya lampu kamar yang redup, dilihatnya di dalam ruangan hanya dia sendirian. Zivannya meraih ponselnya dan melihat layar ponselnya, "jam 8 malam" gumam Zivannya, segera beranjak masuk ke bathroom dan mencuci mukanya, berganti pakaian keluar dari kamar, berjalan ke lobi hotel. "kamu udah bangun Zi" lihat Matahari, Zivannya mengangguk duduk dikursi single yang ada dipojok, "pada kemana" tanya Zivannya melihat sekeliling. "melihat kota Jakarta, mumpung ada disini, besuk juga pagi akan check out dan nginap di rumah" kata Matahari, Zivannya mengangguk.
"lha bertiga ngapain disini" tanya Zivannya menatap ketiga laki-laki itu bergantian, "malas keluar, capek dek. mending disini melihat orang-orang yang sibuk" senyum Dirgantara, Langit menatap Zivannya agar duduk disebelahnya, Zivannya malah sibuk dengan ponselnya. "pada ikut semua" tanya Zivannya menatap Dirgantara. "semuanya, ngikut termasuk kakek dan nenek" kata Matahari mengangguk, Zivannya membuka matanya lebar mendengar ucapan Matahari. "apa nggak capek" tanya Zivannya pelan. "makanya itu, besuk pagi mereka rencananya akan ke kebun binatang" jawab Dirgantara, Zivannya melebarkan matanya kembali mendengarnya. "baiklah" angguk Zivannya merasa lemas, Langit beranjak untuk menarik tubuh Zivannya agar duduk disampingnya.
"kenapa" kerut Zivannya, Dirgantara dan Matahari tertawa pelan. "mode bucinnya udah on, jadi jangan jauh-jauh dulu" ledek Dirgantara, "he em.... jika nggak nanti nggak bisa keluar dari kamar" kata Matahari menambahkan. Zivannya menatap Langit yang tersenyum lebar. "ngopi keluar yuk, kak, bang. daripada gini aja" pandang Zivannya beranjak. "didepan ada tempat nongkrong sih dek" angguk Dirgantara melangkah lebih dulu, Langit meraih bahu Zivannya untuk merapat. "kenapa lama sekali tidurnya" tanya Langit.
"terlalu letih kak. badanku benar-benar lelah, apa karena pikiran yang tegang ya kak selama seminggu ini" pandang Zivannya, "mungkin, yang. aku juga merasakan hal yang sama, besuk ibu pulang untuk mempersiapkan acara dirumah. kita seminggu lagi akan pulang kesana" kata Langit, Zivannya menyandarkan kepalanya di bahu Langit. "bisakah kita skip aja bulan ini kak" hembus nafas Zivannya, Langit tersenyum mengusap kepala Zivannya, mengecupnya berulang kali. mereka menyeberang bersamaan.
"3 kopi hitam dan 1 coklat hot" pesan Zivannya. "cuti berapa hari bang" topang dagu Zivannya. "besuk sore pulang dek" pandang Matahari, "sama" angguk Dirgantara. "lha..... rumah sepi dong" kata Zivannya, "dia senang kalo sepi. kalo ramai susah" tawa Dirgantara, mereka tertawa. "Raka dan Riki ditinggal aja" kata Zivannya. "tidak, bisa-bisa dia yang kesal nanti, besuk kita ketemu dirumah ibu Langit" geleng Dirgantara. "aku belum pasti bisa pulang atau nggak dek, tapi kalo Mentari kemungkinan bisa, semoga abang bisa kesana" kata Matahari, Zivannya mengangguk pelan. "apa dulu abang dan kakak juga ribet gini" tanya Zivannya, matahari tertawa pelan. "sama, Mentari lebih ribet lagi dari ini. trus berpisah dalam waktu yang tidak sebentar, untung Langit tidak bertemu jodohnya saat masih menjaga perdamaian" senyum Matahari mengangguk, pesanan mereka datang.
Zivannya segera menyesap kopinya sedikit. "Yuda dan Bima apa ikut mereka pergi" toleh Zivannya melihat Langit, "tidak, mereka segera pulang. tadi sekitar jam 7 malam" geleng Langit, Zivannya tersenyum. "Arka juga menitip salam, dia belum bisa melihatmu bersamanya" senyum Dirgantara. "hhhmmm..... kemarin dia sudah memberiku ucapan selamat lewat chat, baru jaga katanya" jawab Zivannya. "adek kesana aja ada yang tidak bisa move on" minum Matahari, Langit segera menatap Zivannya lekat, Zivannya tertawa kecil.
"oohhh.... waktu mau pulangkan bang, saat dibandara dia mengungkapkan perasaannya dengan memberikan boneka pelaut, aku hanya bisa meminta maaf karena minggu depan sudah menikah" angguk Zivannya menepuk keningnya sesaat. "berapa kali kamu ketemu orangnya" tanya Dirgantara. Zivannya menggeleng, "tidak tahu kak, aku tidak pernah pergi ke kesatuannya abang, jadi tidak tahu persis" jawab Zivannya. "dia sering keliling bareng Icha naik motor kemana-mana, ketemu dengannya namanya Figo" jawab Matahari.
"aahh.... iya.... ketemu saat keliling kompleks, dia sedang bermain bola bersama yang lain" ingat Zivannya. "kenapa kamu nggak bilang, yang" pandang Langit, "karena aku nggak pernah berbicara atau ngobrol kak. kita nggak ada komunikasi, saat aku berkeliling bersama Rara, melihat mereka main. aku hanya menonton sebentar karena Rara sedang menghubungi Dimas. kami janjian untuk bertemu setelah dia pulang kerja" pandang Zivannya. "setelah itu aku merasa tidak kenapa-kenapa" geleng Zivannya. "benar. dia mencarinya setelah itu, Figo tahu jika dia adekku saat melintas dirumah, Zivannya nggak kenal dengan intens" geleng Matahari, "noh... masih ada dosennya yang belum tahu kalo adek nikah. besuk Rara wisuda lho" goda Dirgantara, Langit menghela nafasnya.
Dirgantara dan Matahari saling berpandangan tertawa. "selamat datang di keluarga Triastomo, kita memang tampan, di gilai banyak perempuan. tapi jangan salah, perempuan di keluarga Triastomo lebih di gilai banyak laki-laki, jadi ingat jangan sekali-kali main mata dengan perempuan lain maka mereka juga bisa melakukannya lebih lagi dan kita yang akan rugi pada akhirnya" minum kopi Dirgantara, Matahari dan Langit mengangguk cepat. "aku lebih takut hukuman Mentari" hembus nafas Matahari panjang, Langit dan Dirgantara mengangguk. Zivannya mengangkat ponselnya.
"dimana dek" tanya ayah.
"di cafe depan hotel yah, kenapa memangnya" pandang Zivannya kepada tiga laki-laki yang ada didepannya duduk melingkar.
"bentar, ayah kesana" kata ayah menutup ponselnya.
__ADS_1
"ayah mau kesini kak, jemput sana" kata Zivannya, Langit beranjak dari tempat duduknya berjalan keluar. Zivannya memesan kopi susu untuk ayahnya.
"kenapa harus dijemput segala" senyum ayah menatap Langit, "perintah Zivannya, yah..." kata Langit, ayah menepuk pundak Langit dan berjalan berdua. "kenapa ayah sendirian. mana bunda" tanya Zivannya. "udah ada kak Mentari dan kak Valerie yang menemani, ayah istirahat" senyum ayah meminum kopi susunya, Langit mengganti kopi hitam Zivannya dengan coklatnya, Zivannya menatap Langit saat dia mengganti minumannya.
"kenapa tadi nggak ajak ayah ngopi dari tadi" kata ayah bersandar. "Zi tadi barusan bangun, yah. kata abang dan kakak semuanya pada ikut pergi" jawab Zivannya. ayah tertawa pelan, Zivannya melambaikan tangannya, seorang penjaga datang menghampiri. "apakah ada makanan kecil pendamping kopi" tanya Zivannya, penjaga mengangguk memberi pilihan, Zivannya mengangguk. "bisakah saya meminta untuk mengambil gambar kami" senyum Zivannya, penjaga tersenyum mengangguk mengambil ponsel Zivannya dan mengambil moments mereka berempat saat sedang berbincang-bincang.
penjaga cafe memberikan kembali ponsel Zivannya, ia segera mengucapkan terima kasih, Langit melihat moments yang diambil bersama penjaga cafe. "aku akan mengunggah ini di media sosial" pandang Zivannya, Langit mengangguk. Zivannya memperlihatkan nya kepada ketiga laki-laki keluarga Triastomo. "apa caption nya" tanya ayah. "baru nongkrong ngopi lengkap dengan 4 jagoan, siapa mau ikutan" senyum Zivannya menulisnya dan memperlihatkan kembali kepada mereka. ayah tertawa pelan, "taruhan siapa yang komentar duluan" pandang ayah menatap mereka.
"barisan para pemuja adek" tawa Dirgantara,
"perempuan Triastomo" sahut Matahari.
"apa taruhannya, yah" pandang Langit.
"hmmm.... ke Lombok rame-rame, harus cuti semua seminggu" jawab ayah menantang ketiganya.
"ayah nebak siapa" tanya Zivannya.
"barisan pemuja Langit" naik turunkan alis ayah.
"masa sih yah..." lihat Matahari diponselnya dan melihat media sosial milik Zivannya.
"hahahaha....." tawa Matahari memperlihatkan pada ayah, Zivannya melihat media sosial miliknya bersama Langit, "bolehkah aku kesana dan meminta ijin kepada 4 bodyguard mu itu untuk membawamu pergi" kata Figo.
__ADS_1
"siapa ini" tanya ayah memandang Matahari.
"anak buah di kesatuan sekarang, yah... kemarin yang nembak adek pas dibandara saat pulang" kata Matahari, ayah geleng-geleng kepala melihat Zivannya yang nyengir.
"bener-bener kamu dek, sebelas dua belas sama kedua kakak perempuan mu itu, udah nikah masih aja banyak yang ngejar, untung bundamu dulu ayah sembunyi in" cerita ayah, Dirgantara, Matahari dan Langit segera merapat, ayah yang melihatnya hanya tertawa lebar. "apa kalian mau tinggal jauh dari kota, maka akan ayah beri memo untuk atasan kalian segera" pandang ayah, mereka menegakkan badannya kebelakang. "jamannya udah beda, mereka dengan mudah menjalin komunikasi walau saat dirumah atau jauh dari kita, saling percaya satu sama lain itu kuncinya" pandang ayah.
jangan lupa tiga bulan lagi kita pergi berlibur" pandang ayah, "saat itu tidak ada event besar menanti kalian" pandang ayah, mereka bertiga menganggukkan kepalanya mengerti.
"udah jam 11 malam, mereka pasti sudah pulang" kata ayah. Zivannya beranjak dan membayarnya di kasir, seorang penjaga cafe mendekatinya setelah melakukan pembayaran, Zivannya mengangguk dan tersenyum lebar meminta Langit untuk mendekat. "ada apa, yang" tanya Langit meraih pinggang Zivannya. "dia ingin mengambil gambar dengan mu, by" pandang Zivannya, Langit menatap Zivannya. "aku disini" tawa Zivannya, Langit menghela nafasnya berat dan berdiri dengan tegak saat melakukan pengambilan gambar bersama dua penjaga cafe, Zivannya menyerahkan ponselnya kembali, penjaga cafe mengucapkan terimakasih karena diberi kesempatan untuk mengambil gambar dengan Langit, Zivannya meraih jemari Langit segera menyusul tiga laki-laki yang sudah berjalan duluan.
tampak di lobi hotel rombongan keluarga baru tiba dan akan menuju kamar, ayah memeluk bunda yang terlihat gembira karena berkumpul dengan keluarga. mereka tertawa lebar melontarkan candaan yang membuat kehangatan keluarga terjalin, Zivannya tersenyum lebar melihat keakraban yang terjalin diantara tiga keluarga. Langit memeluk Zivannya dari belakang dan menaruh dagunya dikepala Zivannya saat mereka bercerita panjang mengenai perjalanan mereka kali ini, Raka terlihat mulai lelah dan sudah berada dibahu Dirgantara, Riki berada di bahu ayah.
"jangan banyak-banyak mencetak gol nya, Lang. ingat besuk pulang pagi. kasihan adek kalo nggak bisa jalan" tepuk bahu Dirgantara. Langit hanya nyengir ketika yang lain tertawa mendengar ledekan Dirgantara. "semangat untuk malam pertama, bang" seru Farhan sebelum menghilang kekamar, mereka kembali tertawa sepanjang koridor. Langit tersenyum mendengar godaan Farhan. segera memeluk ibunya sebelum ibunya masuk kedalam kamarnya, Zivannya membuka pintu menunggu Langit selesai, ia segera menuju bathroom untuk membersihkan dirinya dan kembali memakai t-shirt gede dan joger. Langit bergantian dengan Zivannya.
"ibu besuk ikut pulang kerumah dulu apa langsung pulang kak" tanya Zivannya menatap Langit. "ibu belum bilang apa-apa, besuk kita bicarakan lagi" jawab Langit memadamkan penerangan didalam kamar agar dapat segera tidur, Langit merengkuh tubuh Zivannya dari belakang. "hhhmmm...." dehem Zivannya meringkuk dalam cover bed. Langit menyusupkan tangannya kebalik T-shirt Zivannya mengusap pelan perut istrinya yang masih datar. Zivannya menghentikan tangan Langit agar tidak bergerak kemana-mana, Langit tertawa kecil. "kamu sudah sah menjadi istriku lho, yang...." kata Langit, "hhmmmm..... dehem Zivannya memejamkan matanya, Langit mengukung tubuh Zivannya dibawahnya. "apaan sih, kak" tawa Zivannya menatap Langit yang tersenyum lebar.
"aku tidak bisa tidur, yang" tatap Langit tepat dimata istrinya. "lalu...." tanya Zivannya. "aku ingin memakanmu" senyum smirk Langit, Zivannya tertawa lebar mendengar Langit yang seperti serigala ingin memakan domba saat ini. Langit menyibak t-shirt Zivannya sedikit hingga memperlihatkan perutnya yang datar, mencium nya berulangkali, beranjak naik menuju benda kenyal candunya, Zivannya mengusap kepala Langit, menggigit bibir bawahnya menahan hasrat karena Langit memberinya kenikmatan, "yang" tatap Langit sayu, Zivannya membuka matanya perlahan menatap Langit yang sudah sah menjadi suaminya.
"aku sudah tidak tahan, yang" hela nafas Langit pelan, Zivannya mengusap pipi Langit, Zivannya tersenyum. Langit melepas t-shirt yang dipakainya, melepas T-shirt Zivannya, matanya berkabut penuh gairah melihat istrinya yang cantik, kepalanya bergerak turun mencium bibir istrinya dengan tuntutan dan gerakan yang menggebu, Zivannya melenguh menikmati sensasi yang diciptakan oleh Langit, hingga tanpa disadarinya, Langit telah meloloskan semua pakaian yang dikenakan Zivannya dan melihatnya dengan senyuman yang menggoda.
"kamu benar-benar menjadi canduku, yang" bisik Langit menggigit pelan cuping telinga Zivannya dengan kedua tangan yang bergerilya kemana-mana. Zivannya mendesah pelan, menikmati sentuhan tangan Langit, Langit memberikan tanda banyak cinta disekujur tubuh istrinya, ia menggeram pelan saat Zivannya menyentuh sensitif nya, merapatkan tubuh sesaat kemudian, Zivannya menjerit keras saat Langit memasuki dirinya, Langit tersenyum melihat ekspresi Zivannya yang membuatnya sangat bersemangat. "hhmmm....." erang Langit memejamkan matanya merasakan sensasi yang membuatnya merasakan kenikmatan duniawi, "kamu membuatku tidak bisa jauh, yang" lemas Langit berbaring disisi Zivannya dan memeluknya erat mengecupi tengkuk Zivannya berulang kali sehingga Zivannya semakin mendesah merasakan tangan Langit yang tidak berhenti menggoda tubuhnya, "by" serak Zivannya, Langit berdehem pelan semakin intens memberikan sentuhan lembut yang membuat Zivannya mengerang untuk kesekian kalinya. Langit menaikkan tubuh Zivannya menahan kedua tangan istrinya untuk bergerak sepuasnya. Zivannya membuka matanya menatap Langit yang terlihat sayu berkabut hasrat.
hai..... hai.... hai..... all readers terimakasih banyak atas dukungannya selama ini.
__ADS_1
luv..... luv..... luv..... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.
stay healthy all