
Zivannya membuka matanya saat tiba di rumah dinas. Langit sedang membuka seat belt Zivannya yang selalu kesusahan saat berada dikursi penumpang. Zivannya membuka pintu mobil untuk masuk kedalam rumah,
"kalian tidur aja di kamar, aku akan tidur di ruang tengah" lalu Langit menuju kebelakang. "nggak nyangka, rapi juga komandan Langit" kata Rara. "lha kemarin kan udah kesini Ra" tanya Zivannya, "udah tapi kan nggak detail banget, masak kita liat kamarnya juga lagian kita lagi banyak orang jadi nggak enak kalo main liat-liat rumah orang kan" pandang Rara meletakkan tas jinjing kecilnya.
Zivannya meletakkan ranselnya disudut ruangan, membuka almari pakaian yang ada didalam ruang tidur mengeluarkan pakaian rumahan Langit dan dirinya. "baju rumahan Ra" toleh Zivannya. Rara mengangguk, Zivannya mengeluarkan pakaiannya untuk dipake Rara. "kayaknya udah sering kesini, bu" kata Rara memperhatikan Zivannya melakukan aktivitas. "seringnya gini, nggak langsung bisa pulang. jadi kebanyakan pakaian yang dibawa kesini" ganti pakaian Zivannya.
"bener kan sebelas dua belas dengan kak Aga" senyum Rara juga berganti pakaian, Zivannya terdiam sesaat dan menganggukkan kepalanya. "makanya aku beruntung dapat dia kan" masukkan pakaian kotor Zivannya kedalam box laundry. "Dan anehnya aku selalu merasa kesusahan saat melepas seat belt jika ada mereka berdua, kalo lagi pergi dengan yang lain tidak ada masalah" hembus nafas Zivannya rebahan diranjang Langit. Rara menoleh tersenyum, "berarti mobilmu juga memilih majikannya sendiri" kata Rara, Zivannya menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"yang, pakaian ganti" kata Langit mengetuk pintu kamarnya, Zivannya tersentak dan segera meraih pakaian ganti Langit dan beranjak membuka pintu. "lama" sentil kening Langit, "tadi keasyikan ngobrol sama Rara jadi lupa untuk menaruhnya diluar" usap kening Zivannya. Langit beranjak menuju kamar satunya, menarik tangan Zivannya agar ikut bersamanya masuk. Langit mencium bibir kekasihnya dengan lembut sesaat setelah masuk kedalam kamar, dibalik pintu Langit merapatkan tubuh mereka, Langit menatap Zivannya sambil mengelus bibir bawahnya. "aku benar-benar tidak kuat, yang. jika kamu jauh" pandang Langit sendu.
"kita akan bersama nggak lebih dari tiga minggu lagi" usap kepala Zivannya. Langit kembali mencium dan mengabsen setiap lekuk tubuh Zivannya, "kak" remas rambut Zivannya menahan tubuhnya yang terasa tidak kuat berdiri. Langit mendongak menatap kekasihnya yang terlihat lemas, kembali berdiri untuk menahan tubuh kekasihnya seperti koala. "yang" tatap Langit, Zivannya membuka matanya melingkarkan tangannya dileher kekasihnya.
"kamu akan lama pergi" tatap Langit tidak rela, Zivannya terdiam. "kita bertemu 5 hari lagi kan kak, nanti kita bersama kekota kelahiran ku" usap kepala Zivannya, Langit mengangguk. "aku juga tidak bisa untuk tidak pergi kan" pandang Zivannya dan memeluk Langit. "disini aja bersamaku" kata Langit mempererat pelukan kekasihnya. "tentu, tapi belum waktunya, aku tidak ingin ada apa-apa dikemudian hari" kata Zivannya, Langit menghela nafasnya panjang.
"kita tidur kak, besuk kamu harus dinas dulu kan, baru mengantar kami pulang" senyum Zivannya, Langit menggigit bibir bawah Zivannya. "aku tidak bisa memeluk mu kan kali ini" tatap Langit. Zivannya tertawa mendengar perkataan Langit yang merajuk, "ini juga udah berpelukan kan. jangan begini, ada orang lain disini" usap punggung Zivannya.
Zivannya masuk kedalam kamar, Rara udah terlelap dalam tidurnya. "udah tidur Rara" pandang Langit, Zivannya menoleh mengangguk. "aku tidur dulu kak" kata Zivannya tersenyum menutup pintu. Langit menghela nafasnya menatap pintu kamarnya sekali lagi berharap Zivannya keluar dan tidur bersamanya diruang tengah.
"yang, kewajiban" ketuk Langit sedikit keras dipintu kamarnya, Zivannya membuka matanya dan menatap pintu kamar, "ya kak" seru Zivannya, Langit berjalan menjauh menuju bagian belakang rumah untuk mengambil air suci. Zivannya duduk dan melihat Rara yang masih tertidur dengan nyenyak, berjalan membuka pintu dan bergantian dengan Langit untuk membersihkan diri melaksanakan kewajiban pagi bersama. "tunggu nanti aku pulang, yang" kata Langit, Zivannya mengangguk menyodorkan coklat panas untuk Langit.
"Rara belum bangun" tanya Langit. Zivannya menggeleng duduk bersandar di dinding. "abis ini mau ikutan tidur lagi" tanya Langit, Zivannya menggeleng. "abis kewajiban siang. pulangnya" kata Langit, Zivannya menganggukkan kepalanya. "aku berangkat dulu" kata Langit menghabiskan minuman coklatnya, Zivannya mengangguk mengikuti langkah Langit menuju kedepan. "ati-ati kak" lambai tangan Zivannya mengantar kepergian Langit untuk dinas. Zivannya kembali tidur diruang tengah ditempat yang sama dimana Langit tidur sebelumnya setelah membereskan rumah.
Langit melihat keadaan rumah yang sepi seperti sejak tadi ditinggalkannya berdinas, dilihatnya Zivannya masih terbungkus cover bed tidur diruang tengah, ia tersenyum berjalan kebelakang untuk membersihkan badannya sebelum menyentuh kekasihnya. "yang" tepuk pipi Langit Zivannya bergerak pelan membuka matanya sesaat. "udah pulang" ujar Zivannya menutup mata kembali dan tertidur, Langit tertawa pelan melihat kelakuan Zivannya.
__ADS_1
ia segera beranjak untuk kedepan rumah, melihat kondisi mobil yang akan dipakai untuk mengantar kedua perempuan yang masih tidur itu. "udah pulang, kak" lintas Rara menuju kebelakang untuk membersihkan dirinya tanpa menunggu jawaban dari Langit. Zivannya melihat Langit sudah memeluknya erat dari belakang untuk membangunkannya kembali. jemari Langit sudah mengabsen setiap lekuk tubuh kekasihnya. "hmmm.... " gumam Zivannya meringkuk lebih dalam. "lepasin" ujar Zivannya pelan, "Rara baru membersihkan dirinya dibelakang, kenapa kamu tidur lagi" usap Langit dibenda kenyal milik Zivannya yang selalu menjadi candu bagi Langit.
"ngantuk kak" kata Zivannya menahan tangan Langit agar melepaskannya. "singkirkan tanganmu, yang" bisik Langit yang segera menelusup kedalam bed cover Zivannya untuk memberikan tanda kepemilikannya ke tubuh Zivannya kembali. Zivannya mengusap kepala Langit agar menghentikan kelakuannya. "kak" sayu Zivannya memanggil Langit agar berhenti. Langit keluar dari dalam selimut dan membungkus tubuhnya kekasihnya dengan cover bed yang masih melekat sempurna membawanya masuk kedalam kamar yang kosong, merebahkan tubuh kekasihnya diranjang dan segera mengunci pintu kamar.
Zivannya membuka bungkusan covernya karena ulah Langit tadi dan melihat t-shirt nya yang sudah tersingkap. Langit mengabsen tubuh Zivannya kembali dengan mudah karena Zivannya sudah membuka cover bednya sendiri. sesekali Zivannya mengerang pelan karena kelakuan Langit yang menggigiti bagian badannya yang tidak kelihatan oleh orang lain. "hmmmm" desah Langit sesaat setelah mengeluarkan kenikmatan duniawi nya dengan Zivannya. "aku harus mandi lagi yang" pandang Langit lekat, Zivannya mengangguk mengusap kepala Langit yang sedang berada diatasnya dengan lembut. Zivannya segera merapikan pakaian nya dan berjalan keluar mengambil pakaian ganti Langit.
"Ra, ketuk Zivannya. "masuk Zi, aku baru ganti baju" kata Rara, Zivannya membuka pintu dan menuju almari pakaian Langit. "kita mau makan dulu apa langsung pulang Ra" tanya Zivannya sambil mengeluarkan pakaian ganti untuk Langit dan dirinya. "sambil jalan aja makannya" rapikan pakaian Rara. Zivannya mengangguk dan segera keluar dari kamar. "kak, pakaian gantinya" angsur Zivannya ke arah Langit. Langit segera berjalan kebelakang untuk membersihkan dirinya kembali. Zivannya segera merapikan cover bednya. menuju dapur untuk meminum air mineral.
"kak Langit nggak dinas lagi" minum Rara. Zivannya menggeleng, "katanya akan mengantar pulang, tapi sebenarnya nggak bisa jauh" jawab Zivannya lugas, Rara tertawa pelan. "aku senang jika kalian berdua bahagia, aku bahagia kamu tidak lagi sendiri" ujar Rara, Zivannya tersenyum meminum air mineral yang diambilnya. "terimakasih" pandang Zivannya, Rara mengangguk. mereka mengobrol sambil makan roti yang ada dibox pendingin dirumah Langit.
"isi rumah bertambah" lihat seksama Zivannya. "masak" tanya Rara menatap sekitar. Zivannya tersenyum, "mungkin kemarin ibu datang kesini jadi membantu Langit untuk membeli yang diperlukan" jawab Zivannya. Langit keluar dari belakang setelah membersihkan dirinya. "nggak mandi, yang" pandang Langit meraih minuman dari dalam box pendingin. "ntar aja jika sampai rumah, tadi pagi udah mandi" geleng Zivannya menyandarkan tubuhnya kedinding. Langit berjalan mendekat dan mengecek suhu tubuh Zivannya dengan menempelkan punggung tangannya di dahi kekasihnya, "kamu agak demam" pandang Langit lekat.
Zivannya mengangguk, "kita pulang sekarang" kata Langit segera beranjak dan mengambil beberapa pakaian ganti kedalam ransel dinasnya. Rara bergantian dengan Langit masuk kedalam kamar untuk mengambil pakaiannya yang berada di tas jinjing. Zivannya sudah dibawa Langit masuk kedalam mobil dan didudukkan disampingnya, Rara segera mengunci pintu rumah dan menyerahkan kuncinya kepada Langit. "apa karena kamu telat makan, yang" keluarkan mobil Langit dari garasi depan rumah dinasnya. "mungkin, dari tadi tidur terus" pejam mata Zivannya. Langit melajukan mobilnya dengan cepat, sesekali menaikkan cover bed yang membungkus tubuh kekasihnya agar tidak kedinginan.
"mbok, tolong buatin makanan berkuah untuk adek agar perutnya terisi" kata bunda, mbok mengangguk dan keluar dari kamar Zivannya. "makan dulu nak Langit, kamu pasti juga sudah lapar karena sudah jam segini, setelah makan temani adek lagi" kata bunda, "biar Langit makan disini aja bund, bersama Zivannya. angguk Langit beranjak menuju meja makan.
"makan kak" lihat Rara saat Langit sampai dimeja. Langit mengangguk dan mengambil sendiri makanan untuknya dan Zivannya. "mbok, Zi makan bareng aku aja" kata Langit, mbok mengangguk mengerti. Mentari datang dari dalam kamar, "adek kenapa" dekati Mentari, "kecapekan kak" kata Rara menelan makanannya sebelum menjawab pertanyaan Mentari.
Mentari mengikuti langkah Langit menuju kamar Zivannya, "sakit dek" sentuh kening Mentari, Zivannya mengangguk pelan. "makan" suapi Langit, Zivannya membuka mulutnya dan mengunyah dengan pelan.
"kebanyakan main nih" goda Mentari, Zivannya tersenyum. "aahhhh.... pasti dipaksa nih sama Langit sepulang dari Surabaya" senyum-senyum Mentari, bunda menepuk pantat Mentari, "isshhh bund" usap Mentari. "kebiasaan nggodain adeknya" kata bunda meraih tangan Mentari untuk keluar dari kamar Zivannya agar Langit juga bisa makan.
"maafin aku. melupakan memberimu asupan makanan tapi selalu memakanmu" pandang Langit merasa bersalah, Zivannya memukul bahu Langit pelan.
__ADS_1
"aku ingin minum lagi" kata Zivannya Langit meraih gelas jahe hangat Zivannya yang segera meminumnya sampai habis dan kembali menyuapi Zivannya hingga beberapa suapan. Langit membawa piring dan gelas kosong kedapur, mbok membuatkan jahe panas kembali untuk Zivannya, Langit membawanya kedalam kamar untuk diberikan kepada Zivannya. "aku temani, yang. tidurlah" pandang Langit, Zivannya mengangguk menatap balik Langit. "tidur disampingku kak, kamu juga pasti lelah" pejam mata Zivannya, Langit tersenyum setelah melihat Zivannya yang terlihat tenang. "udah tidur" tanya bunda melihat Langit keluar dari kamar dan melihat Zivannya yang sudah terlelap. Langit mengangguk untuk minum coklat panasnya.
"bunda tetap berangkat besuk pagi, biar adek menyusul kalo sudah agak mendingan badannya" pandang bunda, Langit mengangguk. "jadi jagain adek disini selama ayah dan bunda pergi mengurus abang dan kakaknya. Rara tetap mau ikut atau nggak" tanya bunda. "tetep bund, abis dari sana Rara langsung pulang. nggak mampir kesini lagi" angguk Rara, bunda menganggukkan kepalanya mengerti.
"rencana adek kemarin ngomong sama bunda, sehabis pulang dari sana akan ke rumah keluarga dari papanya untuk meminta ijin dan mengundang mereka diacara pernikahan kalian nanti serta ke peristirahatan Aga" kata bunda menatap Langit, "iya bund, Langit akan menemaninya nanti" kata Langit tegas. bunda mengangguk "tentu kamu harus menemaninya nak, jangan biarkan dia sendiri" senyum bunda menepuk punggung tangan Langit yang ada diatas meja.
"besuk kita berangkat penerbangan pagi, jadi kita istirahat dulu agar badan lebih fit untuk besuk, tiket pesawat adek akan diganti dengan jadwal untuk 3 hari kedepan dan masih bisa dilakukan" kata bunda, Langit mengangguk. "biarkan pintunya tetap terbuka, kamu boleh menemaninya disana" kata bunda, Langit mengangguk patuh.
"anak itu jika sudah keluar rumah selalu lupa untuk berisitirahat dengan seimbang" pandang bunda kearah kamar Zivannya, Langit mengangguk membenarkan ucapan bunda. bunda beranjak dari tempatnya duduk menuju kedepan. "temani Zi kak, terkadang saat dia demam akan mengigau" kata Rara pelan. Langit mengangguk sudah mengerti dengan kelakuan Zivannya.
Langit merebahkan diri disamping Zivannya dan mengambil moment kekasihnya yang sedang terlelap. mengunggahnya di laman media sosial miliknya dengan memberi caption cepat sembuh, aku akan selalu menjagamu dan menemanimu sampai nanti.
belum beberapa lama di unggah sudah banyak komentar mendoakan Zivannya segera sembuh dari sakitnya. Langit menyunggingkan senyum ketika orang-orang yang berada di dekatnya mengomentari sakitnya Zivannya.
Langit lebih sering mengunggah moments Zivannya dengan menyamarkan paras kekasihnya atau mengambil siluet tubuh Zivannya dari sudut yang tidak memperlihatkan dengan jelas parasnya sehingga Zivannya tidak merasa terganggu di kehidupannya selama ini.
Langit ikut tertidur dengan sendirinya disamping Zivannya. ayah yang pulang dari luar segera melihat Zivannya yang sedang tertidur setelah diberitahu bunda bahwa Zivannya sedang demam dan besuk tidak akan bersama mereka kerumah dinas Matahari dan akan menyusul selang beberapa hari kemudian. dilihatnya kedua anak itu sedang tidur karena kelelahan, Langit sama sekali tidak menyadari keberadaan ayah Zivannya karena terlihat lelah dengan menyilangkan kedua tangannya dia tertidur dengan nyenyak disamping Zivannya yang terlihat damai. ayah tersenyum dan melangkah keluar kamar anak menantu yang dulu menikah dengan putra bungsunya, namun sebentar lagi dia akan menikahkannya dengan laki-laki lain yang menyayangi nya seperti anaknya yang dulu mencintainya. ditatapnya sekali lagi paras kedua anaknya sebelum benar-benar meninggalkan ruangan tidur yang dulu adalah kamar puteranya.
hai..... hai.... hai...... all readers terimakasih telah mengunjungi karyaku ini. terimakasih banyak atas dukungannya.
luv..... luv...... luv..... U all readers sekebon pisang. terimakasih banyak semuanya.
stay healthy all
__ADS_1