
Zivannya mengeluarkan gula merahnya dan menggigit kepingan kecil, membagikannya kepada teman-teman yang lain. secara beranting gula merah habis hingga barisan paling depan, selama pendakian Zivannya menyaksikan sabana lavender yang ukurannya setinggi orang dewasa pemandangan yang sangat menakjubkan, memanjakan mata melihat bunga edelweis bunga abadi yang hanya tumbuh didataran tinggi pegunungan. hanya cukup untuk melihatnya tidak untuk memilikinya, keindahan itu bukan hanya milik perorangan tapi untuk dilihat semua orang. setiap orang berhak menikmati keindahan gunung beserta apa yang ada di sana. sampah harus dibawa pulang agar gunung tetap bersih dan lestari.
Zhivannya menghirup udara dingin yang menusuk tulang, kaki yang semakin berat untuk melangkah, karena perjalanan yang semakin menanjak. air minum yang mereka bawa saat mengisi di Ranu Kumbolo menjadi bekal yang berarti selama perjalanan. banyaknya pendaki yang menaiki setiap titik di gunung Semeru membuatnya semakin bersemangat untuk menuju puncak. tidak hanya didominasi oleh laki-laki, perempuan juga banyak melakukan pendakian. perjalanan yang panjang terbayarkan dengan keindahan titik awal di Ranupani dimana semua orang harus mengantri untuk mendaftar lebih dulu dan kemudian memulai pendakian hingga melihat Ranu Kumbolo, berlanjut ke Oro ombo yang tentu saja harus melewati jembatan cinta yang penuh dengan filosofi, disinilah Zivannya bertemu dengan lahan yang sangat luas ditumbuhi lavender berwarna ungu setinggi orang dewasa dengan jalan setapak yang membelah sabana lavender yang menakjubkan. perjalanan sedikit lebih datar saat memasuki Cemoro kandang. para pendaki diberi kelonggaran dengan jalan yang tidak menanjak, hingga tiba di pos jambangan yang sudah tampak terlihat puncak gunung dan menawarkan keindahan pemandangan bunga edelweis, bunga gunung yang tumbuh diantara cadasnya bebatuan. bunga yang menawarkan keindahan abadi yang tumbuh diantara kerasnya batu gunung. setiap sesuatu yang dipandang indah pada dasarnya harus melalui perjuangan panjang dan memerlukan kerja keras yang tidak sedikit menimbulkan sakit dan terluka.
dari Jambangan mereka menuju Kalimati, yang mempunyai mata air Sumber Mani yang berada disekitar Kalimati, disini kedua team mendirikan tenda kembali sebelum meneruskan perjalanan saat menjelang dini hari. Zivannya mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah dan tersenyum ketika melihat teman-teman terlelap di dinginnya siang hari menjelang sore. Zivannya ikut memejamkan mata untuk memulihkan kondisi fisiknya yang terkuras saat berjalan. jam 11 malam mereka kembali bersiap siap untuk melanjutkan pendakian yang terbilang paling berat, melewati Kelik yang kanan kirinya terdapat jurang dalam sehingga harus berhati-hati, Kelik merupakan daerah perbatasan menuju jalan berpasir puncak Semeru juga terdapat black 75 yang membuat para pendaki harus tetap fokus dan tidak boleh sendirian agar tidak tersesat. Zivannya berdoa dalam hati dan selalu melafalkan nama Tuhannya, disetiap helaan nafas tidak lupa selalu memohon ampunan, tidak dapat dipungkiri bahwa setiap perjalanan pendakian selalu diselimuti hawa mistis yang percaya atau tidak, Zivannya memang mempercayai hal itu ada, hawa dingin semakin menjadi. jalan menuju puncak lumayan rame oleh para pendaki, Zivannya sesekali Zivannya menengok kebelakang untuk melihat keadaan Silvia, "kak" panggil Zivannya. "oke Zi" jawab Silvia pelan. Santi menoleh kebelakang mencolek pelan, Zivannya memberi tanda dengan ibu jarinya. Zivannya mengeluarkan coklat batangan dan memakannya satu bar kecil, membaginya menjadi dua bagian dan diberikan kepada Silvia dan Santi yang berada dibelakang dan depan dirinya, mereka saling menguatkan satu dan lainnya. team berjalan pelan menuju Arcopodo, terus bergerak menuju Cemoro tunggal. perjalanan yang sangat menantang jika tidak boleh dibilang berat. Zivannya sesekali mengatur nafasnya bersama dengan Silvia yang seperti akan terkena hipotermia. beberapa lapis baju tidak mampu menahan dinginnya malam di Semeru. Dita berada di team satunya bersama dengan Soni, Aji yang berada dibelakang team Zhivannya.
beberapa jam perjalanan menuju puncak terbayar dengan melihat keindahan nan elok negeri diatas awan. langit terlihat cerah, perjalanan pendakian yang melelahkan tergantikan dengan senyum sumringah mereka yang melihat sunrise di atas puncak Semeru. Zivannya terduduk dengan bersandar di carrier nya, tas ransel yang selalu setia menemani langkahnya setiap pendakian. Zivannya merentangkan tangannya keatas dan tertawa gembira melihat pemandangan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, tidak dapat tergantikan dengan uang. Soni terkapar disamping Zivannya setelah beberapa saat mencapai puncak setelah Zivannya sampai. mereka menikmati keindahan maha pencipta alam semesta beserta isinya, puluhan orang yang berada dipuncak menikmati sunrise di puncak Semeru.
keindahan maha karya Tuhan yang tidak bisa dipungkiri keberadaannya, manusia seperti butiran debu di atas sini, tidak bisa menyombongkan diri, tidak bisa egois. Zivannya meneteskan airmata melihat betapa dirinya lalai telah diberi kesempatan hidup oleh sang pencipta untuk berbuat kebaikan, berbuat kebajikan. disini mereka adalah satu, mereka adalah sama.
setelah dirasa sedikit ringan, Zivannya memberi penghormatan ke bendera negaranya bersama dengan Soni, Silvia dan suaminya. duduk di batu, Zivannya melihat awan putih yang serasa berada dibawahnya. Soni mengulurkan rotinya dan duduk disamping Zivannya. "merasa kecil kembali son" ambil roti Zivannya kemudian menggigitnya pelan, Soni mengangguk mengunyah rotinya. "jam 10.30 kita harus turun" kata Soni, Zivannya mengangguk tanpa menoleh memandang langit yang terbentang luas dengan matahari yang mulai terlihat semakin sempurna bentuknya.
"apa kak Silvia baik-baik saja" tanya Zivannya, "baik, dia perempuan yang tangguh juga" kata Soni, Zivannya tersenyum mengangguk. mereka terdiam cukup lama menikmati pagi yang indah dengan ketenangan, waktu semakin beranjak siang.
mereka segera membereskan sebagian peralatan yang mereka pakai saat mendaki naik dan sampah yang mereka kumpulkan untuk dibawa turun kembali. Zivannya kembali membawa carriernya untuk berjalan turun. hanya beberapa moments yang dia ambil, itupun bersama dengan teman-teman pendakian kali ini. tidak mengabadikan moment sendirian, bukan lagi memikirkan aku tapi kita, jika sudah mendaki seperti ini. mereka bergerak perlahan bersama dengan para pendaki lain yang juga beranjak turun. kembali melintasi jalan yang membawa mereka naik.
namun, perjalanan turun kali ini mereka dapat dengan jelas melihat betapa terjalnya dan berbahayanya trek yang mereka tempuh tadi malam, Kanan kiri Kelik yang terdapat jurang. zona kematian yang menuntut kehati-hatian karena rawan longsor. perjalanan yang membutuhkan ekstra tenaga dan perlengkapan.
untungnya di pos-pos awal pendakian terdapat penjual makanan dan minuman sehingga mereka tertolong untuk menghemat tenaga. Zivannya tersenyum melambaikan tangan ke arah puncak karena telah mampu menaklukkan ego nya sebagai seorang manusia yang tidak berarti apa-apa. sebagai seorang Zivannya yang penuh dengan salah dan dosa.
__ADS_1
mereka berhenti kembali di Ranu Kumbolo untuk mendirikan tenda karena hari sudah beranjak malam, mereka menikmati kembali danau yang menjadi destinasi wisata di Bromo Tengger Semeru.
Zivannya meminum coklat panas dari cangkir kecil stainless yang selalu dibawanya saat mendaki. mengeluarkan cemilan yang tersisa di dalam ranselnya. mereka segera mengambil yang dikeluarkan Zivannya, duduk melingkar dengan api unggun kecil mengusir hawa dingin, Zivannya berbincang dengan Soni, Sinta dan Sean, sedangkan teman-teman yang lain ada yang berada di tenda, tidur atau berkunjung ke teman-teman sesama pendaki untuk sekedar menyapa. Zivannya benar-benar menikmati perjalanan yang menyenangkan, bertemu kembali dengan orang-orang baru dan menjalin rasa persaudaraan yang akrab, Zivannya merapatkan jaketnya untuk mengusir hawa dingin, terkadang terdengar gemerutuk gigi yang saling beradu saat dingin tidak tertahankan.
pagi hari mereka kembali bergerak turun, menuju pos awal untuk melapor jika sudah kembali turun dari pendakian. Zivannya terduduk bersama dengan Dita dan Santi yang sudah kelelahan dari kemarin. "perjalanan yang mengagumkan teman-teman" jabat tangan Zivannya, Santi dan Dita menyambut uluran tangan Zivannya, "tidak tergantikan" kata Dita mengangguk.
"kalo mau naik kemana ajak-ajak ya" pandang Dita, Zivannya mengangguk pelan,
"kak Silvia kemana" tanya Santi.
"tadi bareng suaminya mau makan katanya, dia sudah sangat kedinginan" jawab Zivannya mengatur nafasnya.
"Zi, kita mau beristirahat disini dulu, jika masih ada tenaga kita pulang. jika tidak maka kita akan bermalam disini" duduk Soni.
"sini aja, lebih nyaman. kakiku sudah lemas" ringis Zivannya, Soni melepas carriernya dan berjalan pelan menuju warung terdekat. mereka duduk melingkar menunggu mie datang, selama itu mereka ada yang hanya diam dan merebahkan dirinya, berbincang sekedarnya satu dengan yang lain karena kelelahan, Zivannya bersandar dengan ransel gunungnya yang berada di punggungnya Zhivannya melepaskan dan mengangkat tangannya keatas melepaskan penat yang menggelayuti pundaknya.
penjaga warung segera memberikan satu persatu pesanan mereka, dengan cepat dan semangat 45 mereka segera menghabiskan mie yang masih sangat panas ditandai dengan asap mengepul yang terlihat diatas mangkuk. mereka sama sekali tidak merasakan panasnya mie, tangan yang kedinginan dan kondisi tubuh yang lelah membuat mereka dengan lahap menghabiskan nya dalam hitungan menit.
"kita disini dulu berarti" pandang Aji, "jika kamu mau langsung pulang nggak papa. kondisi tubuh kita berbeda-beda, jika ada yang masih kuat untuk langsung pulang maka boleh pulang" kata Soni, Aji mengangguk mengerti. Zivannya memejamkan matanya dan mulai tertidur menyusul beberapa rekannya yang sudah terlelap dari tadi sehabis makan.
__ADS_1
"Zi" goyang kaki Soni, Zivannya membuka matanya berat dan menatap Soni, "hari sudah sore, kita mau pulang, anak-anak kebanyakan ngajak pulang" kata Soni, Zivannya duduk sebentar melihat satu persatu teman-teman yang juga sudah mulai dibangunkan, meraih ranselnya dan membawanya kembali ke punggungnya. Soni membantu Zivannya untuk berdiri tegak, mengikuti langkah yang lain untuk menuju kendaraan yang membawa mereka ke terminal Arjosari Malang. Zivannya masuk dan duduk bersebelahan dengan Aji dan Santi. Zivannya mengeluarkan ponsel yang sudah berhari-hari berada didalam ranselnya. belum lama dinyalakan sebuah panggilan sudah masuk.
"hallo" serak Zivannya.
"kamu dimana, sudah turun" tanya Langit cepat.
"barusan turun, ini perjalanan ke terminal Arjosari bersama yang lain" jawab Zivannya pelan. Langit terdiam sesaat.
"nanti tunggu di terminal jika aku belum datang jangan kemana-mana" kata Langit menutup panggilannya. Zivannya memandang ponselnya lama, tidak mampu berkata apa-apa. "kakakmu" tanya Aji, Zivannya mengangguk pelan dan menyandarkan tubuhnya kebelakang.
"aku belum memberi bagian ku" buka mata Zivannya teringat belum membayar bagiannya. Zivannya menyerahkan beberapa lembar uang ke Soni, beberapa orang juga menyerahkan bagiannya setelah Zivannya. "aku nanti tidak bisa ikut bersama kalian setelah sampai terminal. sudah dijemput disana" kata Zivannya lesu, Soni mengangguk. sedikit mengerti dengan keadaan Zivannya yang sekarang, dia bukan lagi seorang gadis yang sendiri seperti dulu, ada keluarga yang kuat dibelakangnya.
perjalanan yang lumayan lama membuat mereka kembali tidur hingga sampai di terminal tumpang. mereka bangun dan segera keluar dari kendaraan yang mengangkut mereka. Zivannya paling belakang keluar dari kendaraan.
Langit melihat dengan jelas Zivannya yang sedang berpamitan dengan teman-teman yang lain. "makasih son, hati-hati dijalan, ketemu lagi lain waktu" kata Zivannya memberi salam khasnya dengan Soni. "kamu juga, hati-hati Zi, ketemu lain waktu. jangan lupa kita masih tinggal disana" angguk Soni, Zivannya mengangguk. Santi, Dita dan Silvia bergantian menjabat tangan Zivannya, "makasih semua, ketemu lagi di pendakian selanjutnya. jika Tuhan mengijinkan" salam Zivannya, mereka mengangguk dan melambaikan tangan. Langit segera mendekat, Zhivannya menoleh cepat dan mundur seketika, "membuat kaget kak" terkejut Zivannya melihat sosok Langit yang berada disampingnya.
Langit meraih carrier Zivannya. "keadaanmu kurang tidur, yang" senyum Langit melihat Zivannya yang selamat dan tidak kurang apa-apa.
hai....hai...hai... all readers terus dukung karyaku ya.. terimakasih banyak sebelumnya atas dukungannya.
__ADS_1
luv... luv...luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak dukungannya terhadap karyaku.
stay healthy all...