
ia segera membuka pagar saat terdengar panggilan kewajiban sore hari. dilihatnya sebagian tetangga kanan dan kiri juga melangkah menuju tempat ibadah, Zivannya tersenyum lebar mengangguk menundukkan kepala sedikit ketika bertegur sapa dengan tetangga. mereka mengobrol sepanjang jalan menuju tempat ibadah, Langit melihat dari belakang punggung badan istrinya. tidak akan mengira menemukannya kembali setelah sekian lama terpisah dan sama sekali tidak mengetahui satu sama lain, ternyata misteri Tuhan tetaplah sebuah misteri yang tidak akan bisa dijangkau oleh pikirannya. sehebat apapun dirinya tidak akan pernah tahu jalan Tuhan mempertemukan jodohnya.
Zivannya menanti Langit keluar dari tempat ibadah dan mencium punggung tangan suaminya itu setelah dekat ditempatnya berdiri. Langit meraih jemari tangan Zivannya untuk dibawa kearah depan kompleks mencari makanan.
"yang, makan itu ya" toleh Langit memberi isyarat ke arah penjual makanan kecil dipinggir lapangan, Zivannya mengikuti langkah suaminya ke arah deretan para penjual. "bawa uang nggak" toleh Zivannya, Langit mengangguk menyerahkan dompetnya kepada istrinya.
"satu" pesan Zivannya duduk di bangku bakso disebelah mamang penjual bakwan kawi. Langit menerima mangkuk pesanan dan segera mencobanya. "cobain, yang" sodor Langit ke mulut istrinya, Zivannya segera menerima suapan Langit.
"abis ini kesitu, kak. pingin yang itu" kata Zivannya melihat penjual kebab. Langit mengangguk sambil mengunyah bakwan kawi nya. Zivannya segera memberi uang untuk membayar pesanan Langit, mereka beranjak menuju penjual kebab yang sedang ramai pembeli. "aku kesana sebentar, yang. ada penjual coklat dingin" tunjuk Langit. Zivannya mengangguk memberikan uang untuk membelinya, Langit segera menuju seberang membeli minuman kesukaannya. Zivannya mengantri untuk membeli kebab yang membuatnya tertarik dari kejauhan tadi.
"masih antri" datang Langit, Zivannya menoleh dan mengangguk menyeruput coklat dingin Langit, "mau makanan itu nggak" tunjuk Langit disebelah kiri mereka, Zivannya menoleh dan mengangguk. Langit menyerahkan cup coklat dingin agar Zivannya dapat meminumnya sambil menunggu giliran dan segera membeli makanan yang diinginkan istrinya.
"mau beli apalagi, yang" datang Langit memperlihatkan makanan yang dibelinya, Zivannya tertawa pelan melihat Langit yang antusias melihat makanan yang dijual disepanjang lapangan.
"aku selesaikan ini dulu, baru kita melihat yang lain lagi" toleh Zivannya, Langit mengangguk mengambil alih cup coklat dingin dari tangan istrinya. beberapa pasangan sesekali melirik interaksi yang mereka lakukan.
"sudah banyak kak. nggak ada yang ngabisin nanti" lihat Zivannya, Langit memperhatikan tentengan makanan yang berada ditangannya untuk dibawa pulang. "baiklah. nanti kita bisa pergi kapan aja untuk membeli makanan" angguk Langit, Zivannya mengangguk dan berjalan menuju sisi seberang ke arah kompleks perumahan mereka.
"yang, kamu terlihat tambah cantik saat tertutup begini" senyum Langit, Zivannya tergelak. "benarkah, aku kira aku sudah menutup dengan pakaian yang tidak menarik perhatian, walau tanpa penutup rambut" kata Zivannya, Langit tersenyum. "kamu terlihat cantik" ulang Langit, Zivannya mengangguk "terimakasih kak" kata Zivannya membuka pagar untuk Langit masuk terlebih karena kedua tangannya penuh membawa bungkusan makanan, Zivannya membuka peralatan kewajibannya dengan rapi dan meletakkannya ditempatnya.
"yang" panggil Langit dari pantry, Zivannya mendekati suaminya "ada apa, by" tanya Zivannya, Langit menyodorkan kebab yang Zivannya beli tadi.
"apa ingin minum jahe" tanya Langit, Zivannya menggeleng. "ntar aja kalo beli diluar, suasana akan sangat mendukung" geleng kepala Zivannya menggigit pelan kebab yang dibelinya. Langit menyodorkan air mineral didalam gelas. Zivannya segera meminumnya sampai habis.
Langit kembali mengisinya dan memperhatikan Zivannya yang terlihat menikmati makanannya. "apakah enak, yang" tatap Langit, Zivannya mengangguk dan menyodorkan kebab yang sudah tinggal separuh. Langit mendekat kearah Zivannya mengambil alih makanan yang berada didalam mulutnya, "sweet" senyum Langit mengecup bibir Zivannya sambil mengunyah kebab, Zivannya menatap Langit datar.
__ADS_1
"kenapa, kamu halal untukku" senyum Langit, Zivannya meraih air mineral gelas dan meneguknya hingga setengah. "kan masih ada ini kak" perlihatkan tangan Zivannya, Langit mengangkat bahunya sedikit menanggapi perkataan Zivannya. ia segera mengambil makanan yang berada diatas meja pantry.
"hhmmm, moments makan berdua denganmu seperti ini membuatku kangen saat di negeri orang kemarin" duduk Langit disamping Zivannya.
"karena semuanya laki-laki" toleh Zivannya. Langit menggeleng, "bukan, karena aku merindukan aroma tubuhmu yang membuatku candu" senyum Langit memakan makanan kecil, Zivannya menopang kepalanya menatap Langit.
"kita akan lama bertugas di ibukota negara, yang. aku berharap kamu akan betah disana karena sebentar lagi akan ada pergantian pimpinan tertinggi abdi negara dan kebetulan sekarang dari kesatuan laut" usap pipi Langit, Zivannya mengangguk. Langit menarik paras Zivannya agar mendekat dan mencium bibirnya lembut. "aku mencintaimu dengan segenap hatiku, Zivannya Dewantara. jadi jika nanti ada omongan atau hembusan seseorang mengenai perempuan lain, jangan percaya begitu saja. kita berdua harus saling menguatkan karena semakin tinggi kedudukan kita nanti maka akan semakin banyak godaan yang akan menerpa. yakinlah bahwa aku adalah lelakimu dan kamu adalah gadisku satu-satunya, ingat jika kita berdua harus melalui berbagai cobaan sebelum bisa bersama dan menikah sekarang" usap bibir Langit, Zivannya mengangguk.
"jika nanti memang harus ada ajudan yang menemani kita kemana saja, anggap mereka teman yang menemani kita. sebisa mungkin aku akan menolaknya, karena pasti kamu merasa tidak nyaman nantinya" senyum Langit. Zivannya mengangguk mengunyah makanannya, Langit mendekatkan kursi pantry istrinya kearahnya.
"aku dan kamu adalah kita, kita adalah satu" satukan kening Langit, Zivannya mengangguk mengerti, Langit mengecup kening turun ke ujung hidung dan berakhir di bibir ranum milik Zivannya yang selalu terlihat menggemaskan. Langit menyesap bibir bawah Zivannya lembut, nafasnya menderu menahan kenikmatan. "apakah bisa, yang" hela nafas Langit menahan pergerakan istrinya.
"pelan, asal tidak berlebihan" jawab Zivannya parau, Langit menarik tubuh istrinya agar berada di pangkuannya, mereka saling mengecap rasa, Zivannya melingkarkan tangan nya dileher Langit hingga tidak sadar dirinya sudah berada didalam kungkungan tubuh langit di atas ranjang.
"aku akan melakukannya dengan pelan" bisik Langit ditelinga kiri istrinya, Zivannya memberi kenikmatan di bibir Langit yang segera membalasnya tanpa memperdulikan apapun lagi.
"akan aku antar kemana aja untuk hangout malam ini" kata Langit, Zivannya tertawa menggigit pelan dada Langit karena menggodanya. Langit mempererat pelukannya mengecupi ubun-ubun kepala istrinya.
"semoga saat kita diberi kepercayaan untuk memiliki baby, kita masih punya waktu untuk mereka, yang" gumam Langit, "semoga kak, aku tidak ingin anak-anak tidak dekat dengan papa mereka saat mereka butuh sosok papa" jawab Zivannya menciumi dada Langit yang terlihat menggoda.
"hhmm" gumam Langit memejamkan matanya tersenyum merasakan sentuhan istrinya yang selalu dirindukannya.
"semoga saat itu aku benar-benar bisa meluangkan waktu untuk mereka juga bersamamu" kata Langit, Zivannya mengangguk membenamkan kepalanya semakin dalam ketubuh suaminya.
"kamu sangat-sangat merindukanku, yang" gumam Langit. Zivannya mengangguk, "sangat, terkadang sampai dadaku sakit memikirkan apakah kamu disana baik-baik saja, ada waktu dimana kakak tidak menghubungiku membuatku panik dan berpikir yang tidak-tidak, jika aku hanya diam dan tidak bertemu dengan yang lain kemungkinan aku jadi seperti dulu, yang" tatap Zivannya, Langit segera menunduk menatap paras istrinya yang terlihat serius. ia mengecup ujung hidung istrinya yang lancip.
__ADS_1
"aku tau, makanya jika ada waktu aku akan menghubungimu kapanpun. Aga juga tidak ingin melihatmu sedih, yang. kami benar-benar mencintaimu sepenuh hati" kata Langit.
"tentu, kalian adalah pemilik hatiku disaat yang berbeda, terimakasih sudah memberiku rasa nyaman dengan caramu yang membuatku tidak bisa berpaling lagi" senyum Zivannya. Langit tertawa memeluk erat istrinya dan memposisikan tubuhnya diatas dirinya. "aahhh" tawa Zivannya dan Langit.
Zivannya memakai Hoodie dan celana saat mereka akan keluar mencari makan diluar. Langit memakai sweater hitamnya, Langit menaikkan jumper Hoodie istrinya agar tidak terlihat kecantikannya.
"kenapa kamu selalu memperlakukanku begini, jika aku tidak boleh terlihat jangan bawa aku keluar kalo begitu" lipat kedua tangan Zivannya didepan dadanya melihat kelakuan Langit yang segera menutup pintu gerbang agar mobil keluar dari halaman.
"karena banyak laki-laki yang tidak melihatku di sampingmu dan itu membuatku tidak suka" senyum Langit sesaat setelah menutup pintu gerbang. Zivannya memakai seat belt, "di mataku mereka juga tidak terlihat, by. sekeras apapun mereka mencoba, aku malah sama sekali tidak bisa melihatnya" hembus nafas panjang Zivannya. Langit tertawa kecil mendengar perkataan Zivannya.
"itu kenapa aku tidak bisa melepaskan pandangan darimu, yang. kamu sama sekali tidak peduli dengan laki-laki lain. saat itupun kamu juga tidak bisa melihatku bukan" toleh Langit, Zivannya mengangguk. "tidak sama sekali, entah kenapa tapi aku tidak bisa melihatnya" geleng kepala Zivannya. Langit mengelus pipi kanan istrinya itu.
"kamu memang perempuan yang dikirim Tuhan hanya untukku" senyum Langit, Zivannya mencium telapak tangan Langit yang berada di pipinya. "dan kamu juga laki-laki yang di pilih Tuhan kembali untuk menemaniku" senyum Zivannya, Langit mengangguk sumringah mendengarnya.
"yang, pesen apa" tanya Langit sebelum Zivannya duduk lesehan di pinggir jalan. "jahe dan nasi teri" jawab Zivannya, Langit mengangguk menuju gerobak yang berisi makanan khas suasana Jogja. Zivannya menerima makanan yang dibawa Langit dan meletakkannya di depan.
"jahe dan kopi susu" datang penjaga, Langit mengangguk. Zivannya segera meminum dan membuka bungkusan makanan khas suasana malam Jogja.
"habis ini mau kemana" toleh Langit, Zivannya menunjuk ke arah selatan tempat mereka sekarang.
"dah jam 10 lho" ingatkan Langit. Zivannya mengangguk. "semakin malam akan semakin banyak orang yang melepas lelah, kak. mereka akan duduk dan mengobrol di tengah sunyinya malam" jawab Zivannya, Langit menatap istrinya, "itu pasti keinginan mu sendiri" ujar Langit, Zivannya tersenyum lebar. "tidak juga, karena ada yang mengajak dan bersendau gurau kenapa tidak. melepas tawa setelah berkutat dengan tugas kuliah, itu termasuk healing time lho" kata Zivannya, Langit mengusap kepala Zivannya.
Hai ..... Hai .... Hai.... all readers, terimakasih telah mengunjungi karyaku.
Luv.... Luv.... Luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.
__ADS_1
stay healthy all