Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 136


__ADS_3

"dek, jam 6 sore" bangunin Valerie, Zivannya bergerak pelan, melihat kedua keponakannya yang sedang menatapnya. "onty kalo tidur, susah dibangunin" kata Raka. "benarkah kak" buka mata Zivannya sedikit. "he em. onty dari tadi sore dibangunin nggak bangun-bangun. mau main sama onty tau nggak" kata Riki kesal menatap Zivannya.


"maafin onty, dek. badan onty sedang istirahat" elus kepala Zivannya. "aunty berapa lama disini. seminggu" tiduran Riki disamping Zivannya. "no, nanti malam onty udah naik pesawat lagi, mau nemenin onty Mentari dan om Matahari pindah rumah. sama Uti dan Kakung. kan onty belum masuk sekolah lagi jadi bisa bantuin bawa barang" kata Zivannya. "Riki bisa nggak masuk sekolah, ty. jadi bisa nemenin kerumah onty Mentari yang baru" kata Riki. "adek kan mau jadi kayak papa ingin naik pesawat tempur. jadi harus sekolah terus" kata Raka, Zivannya menoleh mengelus kepala kedua jagoan kecil itu.


"nggak ada dua minggu udah ketemu onty lagi di Jakarta, nanti tidur dirumah Uti lama, nemenin onty Zi lama" kata Zivannya. "nanti onty pergi terus sama om Langit" geleng Raka, "kan kakak berdua bisa ikut onty sama om Langit. kemarin juga begitu kan" kata Zhivannya, "iya" angguk Raka. "good" senyum Zivannya. "didepan ada om Arka, onty" kata Raka, "udah datang" tanya Zivannya. "udah dari tadi. tapi onty tidur, ditemani sama onty Rara" kata Raka, Zivannya tersenyum. "tidak apa kak, kan teman onty Rara juga. jadi siapa aja bisa nemenin" kata Zivannya.


"dah lama ka" datang Zivannya dari dalam. "lumayan, udah bangun Zi" tanya Arka, Zivannya mengangguk mengikat rambutnya ekor kuda. "udah mandi" tanya Rara, Zivannya nyengir menggeleng. "hmmm... cantik-cantik kok jarang mandi" sarkas Rara. Zivannya tertawa. "yang penting ada yang punya" julurkan lidah Zivannya. "hmmm.., tau. nggak usah diperjelas lagi, bucin parah lagi. terkadang sampai susah nafas kalo liat kalian berdua" sambung Rara. "jarang liat makanya" isyarat Zivannya dengan gelengan kepala. "he em..." cengir Rara. Arka tertawa melihat keakraban mereka.


"onty, suruh makan mama" kata Riki mendekat. "ayo, sama onty Rara. onty suapin" kata Rara, Riki mengangguk masuk kedalam dengan diikuti Rara. "ayo ah ka, makan dulu. ibu negara udah ngasih titah. nggak boleh lama-lama" kata Zivannya, Arka tersenyum mengangguk. mereka kedalam dan bergabung dengan keluarga Dirgantara untuk makan bersama.


Valerie tertawa terbahak-bahak mendengar candaan Rara yang menceritakan teman-temannya dengan segala kekonyolan mereka, "senang jika bisa bersama dengan teman-teman yang sefrekuensi ya dek" kata Valerie. "terkadang nggak banget juga kak, kadang nggak habis pikir juga kalo mereka melakukan kelakuan kayak anak TK" kata Zivannya. Valerie tertawa. "yaaahhh.... terkadang saat berkumpul sering lupa kalo udah bukan anak-anak lagi" angguk Valerie. "ma.... kayak temenmu kuliah yaa...." ngerti Dirgantara. Valerie tersenyum. "nggak seperti kamu yang selalu mengisi hari-hari ku saat aku benar-benar butuh laki-laki yang selalu menjadi sandaran ku" kata Valerie. Dirgantara tersenyum penuh makna, "aaahhh.... so sweet.... jadi pingin peluk Riki" kata Rara menggoyang bahu Riki kekiri dan kekanan. Zivannya menatap Raka menggerakkan alis matanya, Raka segera beranjak memeluk Zivannya. Zivannya menciumi ubun-ubun rambut Raka. "om Arka sama siapa nih pelukannya, masak sendirian" garuk-garuk kepala Arka melihat keenam orang itu saling berpelukan. "sama om Langit aja. dia pasti sendiri juga sekarang. onty Mentari sama om Matahari, Kakung sama uty" toleh Riki menatap Arka sambil mengabsen keluarga papanya. mereka tertawa terbahak-bahak mendengar celoteh Riki yang menohok Arka. Arka hanya senyam-senyum tidak tahu harus berkata apa.


"ketemu bentar lagi dirumah uty ya kak" lambai Zivannya sekali lagi menoleh kebelakang memastikan Raka dan Riki mendengar ucapan Zivannya sedangkan Raka mengangguk mengerti, Riki hanya menatap kepergian Zivannya dan Rara yang diantar oleh Arka.


"nggak nyari abdi negara kayak Zivannya, Ra" tanya Arka iseng. "nggak, yang jadi abdi negara malah nggak mau nglirik aku" geleng Rara cepat. "hmmm.... siapa. nanti aku bilangin kalo kamu suka" kata Arka. "dihhh..... nggak usah. orangnya juga kagak peka kalo ada yang suka. jadi milih yang udah pasti aja" geleng Rara melihat keluar dimana rumah-rumah dinas abdi negara tersusun rapi dan berwarna biru langit.


"yaaa.... ini otewe ke bandara" lihat ponsel Zivannya.


"sama siapa, Arka" tanya Langit, Zivannya berdehem.


"tadi ketemu pas di jalan mau pulang ke rumah kakak" jawab Zivannya.


"penerbangan jam berapa" tanya Langit. "jam 9 kurang dikit" jawab Zivannya.

__ADS_1


"nanti aku jemput" kata Langit.


"hmmm" dehem Zivannya.


"jangan dekat-dekat dengan Arka duduknya" kata Langit. Zivannya tertawa, "siap ndan, copy" jawab Zivannya mematikan panggilan dari Langit.


"apa dia kuatir jika kamu berpaling kepadaku" tanya Arka, Zivannya menatap Arka segera dan tersenyum. "tidak, dia tahu jika kamu tidak akan mengabaikan permintaan kedua orang tuamu" kata Zivannya pelan. Arka menatap reflektor mirror yang memperlihatkan senyuman Zivannya yang menusuk ulu hatinya. keputusan yang sangat berat untuk Arka pilih, satu sisi kedua orangtuanya dan disisi lain adalah perempuan yang membuatnya jatuh hati dengan status yang berbeda dari gadis lain.


"apa orangtuamu sudah pernah bertemu dengan Zivannya, Ka" tanya Rara menoleh, "belum. tapi mereka tidak bisa menerima status Zivannya yang sudah pernah menikah sebelumnya" geleng Arka berujung pelan. Zivannya tersenyum. "it's oke Ka, kita akan selalu menjadi teman kapanpun itu. suatu saat kamu juga pasti akan bertemu dengan seseorang yang jauh lebih baik dariku. aku mendoakan kebaikan akan datang padamu segera dan kalian akan dapat menuju ke arah yang lebih baik" doakan Zivannya tulus, Rara dan Arka mengamini permintaan Zivannya.


"jika kamu ingin segera pulang dan tidak menemani kami di dalam nggak papa Ka. kita tahu kamu butuh istirahat. tidak mudah meladeni perempuan yang yang banyak gaya seperti kita" pandang Zivannya, Arka tersenyum lebar, "benar. kalian duo perempuan yang banyak dilirik laki-laki dimana-mana" kata Arka. "makasih banyak sudah mengingatkan kita kalo banyak yang suka. emang susah jadi perempuan diatas rata-rata" gumam Rara menatap keluar kaca mobil, Arka tersenyum.


"aku tinggal nggak papa kan Zi" pandang Arka. Zivannya memberi isyarat dengan mengangguk. "makasih banyak Ka, malah selalu ngrepotin kamu" kata Zivannya, Arka menggeleng "sudah menjadi kewajibanku untuk mengantar teman baikku" lambai tangan Arka menatap Zivannya yang berjalan menjauh menuju kedalam.


"kamu memiliki hati pad Arka, Ra" toleh Zivannya, "sedikit" cengir Rara. Zivannya tersenyum mengangguk. "aku mendukungmu jika memang dia jodohmu maka akan jadi milikmu, begitu juga aku jika Langit memang jodohku untuk meneruskan hidupku maka aku akan menjadi miliknya" pandang Zivannya. "he em... karena Tuhan yang mampu membolak-balik kan hati manusia, bukan begitu Zi" toleh Rara, Zivannya memberikan tanda Ok dengan jemarinya, mereka tersenyum lebar.


Zivannya menoleh mendengarkan keluh kesah Rara yang selalu berbeda pendapat dengan kedua orang tuanya. "apa kamu pernah mencoba membicarakannya dengan Dimas" tanya Zivannya, Rara mengangguk. "sering Zi, makanya aku tidak pernah mengiyakan permintaan Dimas jika dia mau melamarku. tapi tidak ada salahnya untuk mencoba katanya" senyum tipis Rara yang coba diperlihatkan kepada Zivannya. "benar, tidak ada salahnya untuk mencoba selangkah lebih maju. kamu juga tau sendiri perjalanan hidup kita tidak semudah kata orang lain saat melihat kita sempurna di penglihatan mereka kan" senyum Zivannya saling menguatkan.


Rara menatap Zivannya mengangguk. "terkadang hanya melihat mereka diantar kedua orangtuanya saat sekolah atau kekampus saja membuatku merasa nyeri dihati" kata Rara, Zivannya mengangguk. "terkadang malah mereka menganggap hal itu bikin malu atau biasa karena mereka setiap hari begitu" senyum Zivannya tidak habis pikir.


"padahal itu berharga banget untuk kita kan Zi, mereka tidak tau jika itu berarti bagi orang lain" kata Rara sambil melakukan penukaran tiket di tempat.


"banget Ra, terkadang kita tidak menghargai sebelum orang lain itu pergi meninggalkan kita selamanya. baru kita sadar keberadaan orang yang menyayangi kita dengan tulus" kata Zivannya, Rara mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


pesawat sudah terbang untuk membawa mereka berdua kembali ke kediaman keluarga Triastomo, Langit menatap pintu kedatangan dan melihat sosok tubuh kekasih hatinya sedang berbicara dengan Rara sahabatnya. Zivannya seperti sudah tahu keberadaan Langit diantara orang-orang yang masih sangat banyak dibandara, Zivannya berjalan pelan menuju ke arah Langit yang berdiri dengan menyilangkan kedua tangannya didada. "nggak delay, jadinya tepat sampai waktunya" salam Zivannya mencium punggung tangan Langit yang tersenyum menatapnya.


"nginep dirumah dinas aja, lebih dekat. besuk pagi aku antar sekalian nganter kalian kesini lagi" tautkan jemari Langit. "emang besuk berangkatnya kak" toleh Rara.


"nggak, besuk pagi nya, kan Sabtu jadi agak padat pasti bandara" kata Langit, "kita belum packing barang lho, kak. Rara habis dari rumah kak Mentari langsung pulang" kata Zivannya. "kan cuman sekoper, yang. besuk pagi juga masih bisa kan" pandang Langit, Rara mengangguk. Zivannya menghela nafasnya panjang.


"udah ijin sama ayah" tanya Zivannya, Langit mengangguk. "jika tidak maka akan bagaimana hukuman yang akan menungguku, yang" pandang Langit. Zivannya nyengir. "semangat kak" kata Zivannya, Langit mengacak rambut kekasihnya. "don't do that" kesal Zivannya. "melakukan apa" senyum Langit menanggapi kekesalan Zivannya yang sering kali membuatnya terlihat menggemaskan.


"ckckck.... kalian ini tidak mengerti jilka aku jomblo sekarang kah, kan aku nggak bisa memeluk Dimas" gerutu Rara. "padahal kalo ada di anggurin ya Ra" tanya Zivannya cepat. "iya" angguk Rara tanpa sadar dan menoleh cepat mendengar ledekan Zivannya. "aaahhhh... kan Zi, jadi aku lagi yang selalu kena" tawa Rara, Zivannya nyengir.


"padahal aku juga sama lho, di anggurin juga kalo cuma berdua, kalo banyak orang pasti mancing-mancing untuk menggodaku" kata Langit datar. Zivannya tertawa, "karena aku sadar kak, makanya berani disaat banyak orang. kalo cuman berdua nggak digoda pun kamu akan membuat semua bagian tubuhku akan biru-biru pada akhirnya" kata Zivannya spontan, Rara tertawa ngakak mendengar pernyataan Zivannya yang tidak ada filternya.


Langit tertawa pelan menatap kekasih hatinya "tanya pada Rara, apakah mereka juga melakukan hal yang sama jika mereka berdua" kata Langit. "aku tidak dengar" jauh Rara setengah berlari mendahului sepasang kekasih itu. Zivannya ingin berlari mengejar langkah Rara namun tangan kekar milik Langit menahan laju tubuhnya untuk berlari meninggalkan dirinya sendiri, "nggak usah berpikir untuk meninggalkan ku berjalan sendirian, yang. lihat tuh banyak wanita lapar mata" kata Langit menatap Zivannya.


"karena aku percaya kamu nggak akan membalas tatapan maut mereka, yang. makanya aku nggak pernah meragukanmu" kata Zivannya tersenyum mengelus pipi Langit. "justru aku yang merasa tidak nyaman jika kamu dilihat banyak orang" kata Langit, Zivannya tersenyum menepuk-nepuk bahu Langit. "kita saling memiliki, kak. jadi nggak ada orang lain diantara kita" jawab Zivannya lugas. "aku tau, tapi godaan itu tetap ada kan, yang. gimana kalo kamu detik-detik terakhir melarikan diri" kata Langit merasa resah. Zivannya mengangguk. "pernah terlintas dibenak ku untuk melakukan itu" kata Zivannya, Langit menatap kekasihnya tajam.


"hmmm.... jangan menatapku seperti itu" pandang Zivannya lama. "kamu akan meninggalkanku" tanya Langit, "aku bilang pernah terlintas kan bukan aku ingin meninggalkanmu" kata Zivannya, Langit menatap kedepan. "kamu yang terbaik dari laki-laki lain yang mendekatiku kak, harusnya aku yang merasa takut jika kamu meninggalkanku karena kekuranganku" kata Zivannya, Langit tertawa. "jadi kita sama-sama takut untuk ditinggal bukan" kata Langit, Zivannya mengangguk. "hanya ada kita kan kak" kata Zivannya. Langit mengangguk "hanya ada kita" ulang Langit.


"kita mau kemana lagi" pandang Langit. "lihat Jakarta" kata Rara, "pulang, tidur" kata Zivannya bersamaan. "kalo kalian kuliah juga gini" pandang Langit, "nggak juga sih kak, aku hanya menunggu dengan Dimas ngerjain tugas setelah bekerja di kedai dan dia banyakin jingkrak-jingkrak" geleng Zivannya. "terkadang Zi pulang jam 10 malam kak, sampai kedai tutup bisa sampai 1jam an. lha nunggu lama mending sekalian nunggu malam" kata Rara. Zivannya meringkuk disamping Langit yang mengendarai mobil dengan cepat.


"ya elah Zi, kan tadi bangunnya mau berangkat. kenapa sekarang mau tidur lagi" tanya Rara, "hemat tenaga Ra, besuk kalo dirumah kak Mentari kita bisa setiap hari keluar untuk meng eksplorasi keindahan alam sana kan" kata Zivannya memejamkan matanya. "aku penasaran, nanti gimana anak kalian ya, akan terlihat seperti Zivannya atau kak Langit" kata Rara. "mirip kita berdua lah, orang kita berdua bekerja sama membuatnya" kata Zivannya cepat. Langit tersenyum mengelus rambut Zivannya. "aku harap akan seperti mommynya yang cantik" kata Langit. "hmmm" gumam Zivannya tenggelam dalam tidurnya.


hai... hai.... hai.... all readers terimakasih telah berkunjung ke karyaku. terimakasih banyak atas dukungannya.

__ADS_1


luv..... luv.... luv.... U all readers sekebon pisang goreng, terimakasih banyak semuanya


stay healthy all


__ADS_2