
"kenapa mereka, bang" tanya Valerie setelah keluar dari kamar mandi. "sedang bernostalgia bersama" senyum Matahari, Valerie menatap mereka bertiga. "tidur dek, besuk pagi kita harus bangun pagi untuk bertemu dengan tetangga di acara pagi" tepuk bahu Valerie. "siap kak, gara-gara Zi nih. kebanyakan drama kalo udah ketemu gini" senyum Mentari menatap Zivannya yang tertawa menangis. "makasih kakak-kakak ku dan abang. kalian adalah yang terbaik, terimakasih selalu menemani" kata Zivannya menatap mereka sambil menghapus air mata yang terus turun, Langit kembali dari belakang dilihatnya Zivannya yang sedang tertawa menangis. Langit meraih badan Zivannya dan membawanya ke dalam kamar untuk ditenangkan.
"kenapa" elus kepala Langit menatap Zivannya, Zivannya menggeleng sambil tersenyum mengusap airmatanya yang turun tambah deras. Langit bertumpu dikedua lututnya menatap Zivannya mengusap airmatanya tanpa berkata apa-apa. Zivannya menatap Langit memeluknya erat. "terimakasih menemani saat aku sedang tidak baik-baik saja kak. terimakasih" kata Zivannya melepaskan pelukannya. Langit mengangguk, tersenyum membawa Zivannya keluar untuk tidur di ruang tengah, memeluk Zivannya agar tidak kembali teringat masa lalunya.
pagi hari, rumah sudah terlihat ramai oleh tetangga yang membantu, karena jam 8 pagi akan ada acara pengajian dirumah ibu Danti. semua orang yang mengenalnya diundang di acara pengajian, termasuk keluarga Sari dan Santi. Mentari merapikan penutup kepala Zivannya, mereka berdandan agar terlihat enak untuk dipandang dengan model pakaian penutup aurat yang sama, hanya ibu Danti yang memakai model berbeda. para tetangga dan beberapa kawan seprofesi ibu Danti tampak mulai berdatangan untuk menghadiri pengajian.
Langit dan yang lain berjejer rapi untuk menyambut para tamu, beberapa tamu tampak berbincang-bincang dengan ibu Danti dan Langit, Zivannya dan kakaknya menerima para tamu yang hadir mempersilahkan mereka untuk menempati tempat duduk yang sudah disediakan. Langit sesekali melihat Zivannya, apakah dia baik-baik saja. beberapa pemuda yang datang mengobrol dengan Zivannya lama karena mengira jika dia masih sendiri, terlihat dari parasnya yang imut walau tinggi dan badannya sama dengan kedua kakak perempuannya.
Langit melihatnya dengan sedikit rasa tidak senang hanya bisa melihatnya dari seberang karena harus menemani ibunya menyapa para tamu, Matahari dan Dirgantara yang melihatnya hanya menahan senyum, mereka tahu Langit tidak akan suka jika miliknya diganggu oleh orang lain. pembawa acara meminta ijin untuk memulai acaranya karena waktu sudah lebih dari jam 8. acara demi acara dimulai, ibu Danti diwakilkan oleh seorang yang dituakan dan dihormati mengenalkan keluarga Zivannya dan meminta doa restu untuk pernikahan Langit dan Zivannya, beberapa orang sedikit terkejut saat mendengar berita itu, Santi tampak tidak percaya memandang Langit yang berdiri dengan gagah disamping ibunya saat mengumumkan berita itu, Langit dan ibunya tersenyum mendengar pemberitaan itu. Zivannya kemudian diperkenalkan sebagai calon istri Langit dan berdiri disamping Langit.
Sari dan Santi yang melihat keduanya bersanding hanya memandang dengan tatapan sedih, mereka merasa seperti tidak mempunyai tulang, badan serasa lemas dan tidak bisa menggerakkan tubuhnya untuk pergi dan menghilang dari situ. mereka tidak menyangka Langit akan menolak mereka, tidak memilih satu diantara mereka berdua, Santi merasa pendekatannya terhadap Langit selama ini sia-sia, ia sejak dulu memang menyukai Langit. tidak hanya karena parasnya saja, setelah Langit masuk menjadi abdi negara membuat kadar sukanya menjadi bertambah. Santi berangan-angan menjadi istri Langit sejak dia melihat Langit yang berbeda dari teman-teman nya, semua harapannya pupus sudah melihat Langit memilih perempuan lain untuk menjadi istrinya, ibu dari anak-anaknya.
Langit tersenyum menatap Zivannya yang berada disampingnya, dia merasa beruntung dapat bertemu dengan perempuan yang mampu menjaga hatinya dengan baik hanya untuk satu laki-laki dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk membuat Zivannya mau melihatnya setelah kepergian Aga. Zivannya tersenyum tipis membalas Langit yang terlihat berbeda hari itu, entah karena apa, Langit terlihat sangat tampan, mereka kembali duduk untuk mendengarkan nasehat dan petuah dari imam besar yang biasanya diminta untuk mengisi petuah dan kata-kata bijak.
ibu telah mempersiapkan segalanya dengan baik, jamuan makan dan minum diberikan yang terbaik untuk para tamunya dengan mendatangkan para pedagang dan gerobaknya agar dapat memilih hidangan yang telah disediakan. ibu selalu tersenyum memandang dan melihat para tamu undangan yang menikmati acara pagi ini, Langit mengambilkan makanan dan minuman untuk ibunya, Zivannya membawa makanan dan minuman untuk Langit, kedua kakaknya sedang berkeliling untuk menyicipi makanan yang ada.
"ibu merasa senang, hari ini banyak yang mendoakan kalian, semoga sampai nanti acara kalian berdua diberi kelancaran" senyum ibu, Langit dan Zivannya mengamini doa ibunya. Langit menyuapi Zivannya seperti biasanya terlihat cuek walau dilihat oleh orang yang ada disana sambil mengobrol dengan ibunya. acara berakhir sekitar jam 11 siang namun beberapa orang masih tampak bercengkrama dengan mereka. Sari mendekat dan memberikan selamat kepada mereka berdua seraya meminta ijin untuk pulang. Langit mengangguk dan berterimakasih atas kehadirannya dalam acara pagi ini, meminta maaf jika selama ini sikapnya banyak salah dan khilaf.
__ADS_1
setelah kepergian Sari, terlihat Santi mendekati ibu Danti, memberikan hormat dan menyampaikan rasa ikut senang melihat kebahagiaan Langit dan meminta maaf karena kebetulan kedua orangtuanya sedang berada di luar kota sejak dua hari lalu. ibu Danti tersenyum mengerti akan kesibukan kedua orang tua Santi, Santi menyalami Langit mengucapkan selamat untuk pernikahannya nanti. Langit mengangguk dan meminta maaf jika selama ini berbuat salah dan khilaf kepada Santi dan meminta doa agar diberi kelancaran hingga acaranya nanti, Santi melihat Langit sekali lagi dengan tatapan yang seakan tidak rela untuk melepas Langit kepada gadis lain, memang Langit tidak pernah menjanjikan apa-apa padanya selama ini, sikapnya juga tidak berubah sampai sekarang kepadanya selalu dingin dan tidak banyak berbicara jika tidak perlu. jika ia tidak memulai sebuah percakapan maka Langit akan diam seribu bahasa, tapi dengan gadis itu Langit terlihat berbeda, selalu berbicara membuatnya tertawa sangat berbeda dengan Langit yang dia kenal selama ini. Santi menghela nafasnya berat, hatinya serasa sakit saat rasa bertepuk sebelah tangan butuh waktu yang lama bagi dirinya untuk menyembuhkan rasa sakitnya.
Zivannya akan beranjak menemui keempat saudaranya yang sedang asyik mengobrol sambil menyantap makanan, Langit yang tidak mau melepas jemarinya menoleh saat tangannya ikut tertarik. "mau kemana, yang" pandang Langit lekat, Zivannya menunjuk ke tempat saudaranya berada. Langit mengangguk dan melepas pegangannya, Zivannya segera berjalan kearah mereka berempat.
"ngapain dek" kata Dirgantara. "makan kak" kata Zivannya nyengir. "bilang aja nggak pingin jadi obat nyamuk kan" kata Mentari, Zivannya tersenyum lebar. "nggak mau ngliat gadis itu merasa sakit" jawab Zivannya mengambil makanan. Matahari mengambil makanan Zivannya, "ambil lagi dek" senyum lebar Matahari, Zivannya mengerucutkan bibirnya. "kebiasaan kalo Zivannya makan selalu diambil" suap Mentari. "kan sekalian, yang. mumpung dia dekat" kata Matahari, Mentari memutar bola matanya malas.
Zivannya akan memakan makanannya saat Langit berjalan mendekat dan duduk disampingnya sambil meraih mangkuk makanan Zivannya. "aku suapi" senyum Langit. "udah pulang barisan sakit hatinya dek" tanya Dirgantara, Langit tertawa mengangguk.
"nggak usah heran dari mana taunya, tuh duo gembul yang baru makan" kata Dirgantara melihat Mentari adiknya dengan suaminya. Langit mulai makan bersama Zivannya, "Arka nitip salam buat kalian berdua, selalu bahagia dan rukun" kata Dirgantara. "waahhh... barisan sakit hati kalian bener-bener tipikal ya.. udah tau nggak akan bisa nyelip masih aja ada tikungan" cerocos Matahari. "namanya usaha bang, kalo gitu kagak bisa move on" jawab Dirgantara, mereka tertawa bersama.
"ambil ponsel ma, liatin bunda" kata Dirgantara memandang istrinya, Valerie mengangguk dan memberikan ponselnya kepada suaminya. Dirgantara menghubungi bundanya. "nggak diangkat ma" kata Dirgantara meletakkan ponselnya di bagian atas kaki istrinya. "mungkin baru pergi sama anak-anak, pa" jawab Valerie. Dirgantara mengangguk dan makan kembali.
"bunda juga udah bilang begitu kak, nggak mau terulang lagi menunggu lama" jawab Zivannya. "bunda terlalu baik untuk Zivannya, kak. nggak tau lagi hatinya terbuat dari apa sampai sekarang karena terlalu baiknya" hembus nafas Zivannya. "awas kalo nangis, luntur riasannya nanti" pandang Mentari, Zivannya tertawa kecil memberi hormat.
acara sudah benar-benar selesai, para pedagang sedang membereskan gerobaknya untuk segera pulang, kursi yang dipakai oleh para tamu segera dibereskan oleh pemilik tenda. mereka membereskan sampah yang terlihat berserakan di halaman sedangkan ibu Danti ada didalam rumah sedang beristirahat. Langit menyediakan kantong sampah dipojok halaman agar mudah membuangnya nanti.
"kakak pulang abis kewajiban sore agar tidak kemalaman sampai rumah" pandang Dirgantara sesaat setelah mereka beristirahat di ruang tengah, Langit mengangguk, Zivannya sudah membersihkan dirinya dan duduk disamping Dirgantara yang lebih dekat jaraknya, Langit menatap Zivannya lama. "nggak gitu juga kak, cuman mau ngobrol sama kakak aja" kata Zivannya. Langit menggeleng, "dari sini kan bisa" kata Langit, Zivannya menghela nafas dan berpindah duduk disamping Langit.
__ADS_1
"bucin banget sih" gerutu Dirgantara, "emang papa nggak" tanya Valerie menepuk bahu suaminya, Dirgantara tersenyum lebar memeluk istrinya. "abang sama Mentari mau keliling dulu biar puas. setelah itu baru pulang. tugas di kesatuan udah banyak di alihkan ke perwira yang baru bertugas dan itu membuat Langit uring-uringan selama seminggu ini karena nggak melhatmu dek" tawa Matahari mengejek Langit yang tertawa kecil mendengar ledekan abangnya. "terimakasih lho bang, udah ngasih kerjaan banyak" angguk Langit, Matahari tertawa memberi tanda Ok dengan jarinya.
"abang sama kakak yakin besuk bisa pulang saat Zi nikah" tanya Zivannya menatap kedua kakaknya, "tentu dek, bisa tapi nggak bisa lama" angguk Mentari, Zivannya tersenyum menyandarkan kepalanya ke bahu Langit yang mencium kepalanya cepat.
"Zi langsung ke Jogja, Rara mau sidang akhir. jadi Zivannya menemaninya" kata Zivannya. "bunda masih di Jakarta sekarang" kata Dirgantara, "ketemu disana kak" kata Zivannya. "anak-anak diantar dulu nggak" tanya Dirgantara menatap istrinya. "kemungkinan pa, soalnya sekolah kan. kemarin udah seminggu nggak masuk" kata Valerie. "berarti nggak hangout sama dua ganteng dong" manyun Zivannya. Valerie tersenyum, Langit mencapit bibir Zivannya dengan tangannya. "paling ntar bunda abis dari Jogja mampir Surabaya, pergi dengan teman-teman ayah soalnya" kata Mentari. "pantesan semangat" senyum Zivannya.
Dirgantara berdehem, "Lang, karena kita sekarang akan menjadi satu keluarga. maka kakak berharap apapun yang terjadi kita adalah keluarga" pandang Dirgantara, Langit menegakkan duduknya. "siap kak" jawab Langit cepat. "dulu juga waktu abang menikahi Mentari dan Aga menikahi Zivannya, kakak juga berpesan seperti ini. walau kita bukan sedarah tapi kita adalah saudara, anaknya ayah dan bunda, jadi kita harus membuat ayah dan bunda tenang di hari tuanya melihat kita berenam rukun dan saling menyayangi" kata Dirgantara. "siap kak" angguk Langit.
"bagaimanapun Zivannya adalah adek kami, dia tetap bagian dari keluarga Triastomo sampai kapanpun. jadi sebagai kakak dan abang yang adeknya sudah memilih calon suaminya maka kami menitipkan adek kami untuk kamu jaga dengan baik, dia mungkin banyak kekurangannya maka tugasmu lah yang harus melengkapinya" kata Dirgantara. "siap kak" jawab Langit.
"jika ada apapun itu kita harus saling memberitahu dan mengabari satu sama lain, tidak ada rasa sungkan dan ras tidak enak. baik sedih maupun senang kita harus saling mensupport satu dengan yang lain" pandang Dirgantara. "siap kak" jawab Matahari dan Langit bersamaan. "buat ayah dan bunda bangga dan tenang melihat kita" kata Dirgantara. "siap kak" kata Langit dan Matahari.
"aku nggak mau mendengar terjadi sesuatu dengan Mentari dan Zivannya seperti yang terjadi kemarin saat Zi disini" pandang Dirgantara tajam. Langit mengangguk disusul Matahari.
"ishhh.... kecelakaan itu pa, adek juga nggak meminta, kemarin mama juga jatuh karena ditabrak dari belakang juga karena ketidak hati-hatian. terkadang kita sudah berhati-hati tapi mereka yang memulai" kata Valerie. "kenapa mama nggak bilang pada papa" tanya Dirgantara cepat menatap istrinya dan memegang badannya. "mama nggak kenapa-kenapa ibu itu nggak melihat kedepan, jadi nggak pakem nge remnya" tangkup pipi Valerie. "terkadang aku lupa kamu suka balapan ma" kata Dirgantara nyengir. Valerie tersenyum memeluk suaminya erat. "luv U Dirgantara Triastomo" pandang Valerie. "luv U too Valerie Triastomo" pandang Dirgantara lembut. "ishhh bucin juga" kata Mentari. "biarin... sudah sah" julurkan lidah Dirgantara mengejek Langit, mereka tertawa bersama.
hai..... hai..... hai..., all readers dukung terus karyaku, terimakasih banyak atas dukungannya selama ini.
__ADS_1
luv.... luv.... luv.... U all readers sekebon pisang goreng, terimakasih dan terimakasih atas dukungannya terhadap karyaku.
stay healthy all