Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 91


__ADS_3

mereka bersiap-siap untuk perjalanan pulang kerumah Dirgantara, Langit membantu Zivannya memakai sepatu boots nya karena tangan Zivannya yang luka lecet. "makasih kak" angguk Zivannya.


mereka segera berpamitan kepada ibu Danti, ibunya Langit yang sendirian tinggal dirumah. Langit memeluk ibunya erat dan akan pulang setelah bisa libur kembali, ibu mengerti dan mengusap baju anaknya berulangkali. Zivannya mengobrol dengan Mentari yang menunjuk pemandangan alam yang masih alami di desa tempat tinggal Langit.


sebuah motor memasuki halaman rumah Langit, gadis itu turun dan segera menemui langit dan ibunya, gadis itu Santi yang kemarin ketemu dengan mereka di tukang soto bersama dengan ibunya, Santi mengobrol agak lama dengan Langit sebelum berpamitan karena Langit akan segera pergi. sesekali Langit menatap Zivannya yang memunggunginya berada dihalaman dengan kedua kakaknya mengobrol dan tertawa membicarakan sesuatu. Langit segera menghampiri Zivannya seraya memakaikan helmet Zivannya. "kamu naik dulu, yang" kata Langit, Santi mengerutkan keningnya mendengar sebutan Langit untuk Zivannya.


"aku pulang dulu mas, semoga selamat sampai kembali bertugas" kata Santi, Langit mengangguk.


"aku nggak tebar pesona yang, dia selalu mengejarku. semenjak aku pendidikan dulu. tapi aku nggak pernah memberi harapan kepadanya" pandang Langit menjelaskan. Zivannya tersenyum dan berusaha naik kemotor duluan. Langit melajukan motornya sedikit lebih cepat. mereka turun untuk melaksanakan kewajiban sore sekalian beristirahat dan makan.


"yang, mau makanan itu nggak" tanya Matahari, mentari mengangguk. "mau bang" cengir Zivannya, "aku belikan" angguk Langit beranjak mengikuti langkah Matahari. Mentari mengobrol dengan Zivannya dibawah pohon dekat tempat ibadah yang didepannya taman yang banyak dikunjungi keluarga kalo sore hari.


"mau beli ponsel baru kan dek" pandang Mentari, Zivannya mengangguk pelan. "Zi nggak begitu butuh kak, jadi nggak usah buru-buru belinya" jawab Zivannya. "bunda dan ayah kan dekat jadi nggak usah beli dulu" kata Zivannya. Mentari mengendikkan bahu.


"hallo" salam seseorang, Zivannya dan Mentari mendongak menatap kedua pemuda yang berada didepannya, "boleh kenalan nggak" tanyanya kemudian. Mentari tersenyum dan mengatakan bahwa dia bersama suaminya. mereka mengangguk, meminta maaf dan berlalu pergi.


"kenapa mereka, yang" datang Matahari menyerahkan makanan yang dibelinya kepada istrinya. "pingin kenalan, tapi aku bilang bersama suami ku baru beli makanan" senyum Mentari, "dikira kalian berdua sendirian gitu" duduk matahari.


"mungkin, tadi kan kita cuman berdua" jawab mentari memakan makanan yang dibeli matahari. Langit menyuapi Zivannya dan dirinya sendiri, "mau beli ponsel kapan" tanya Langit.


"ntar aja dipikirin kak, sambil jalan. nggak penting-penting banget. yang penting kartu chipnya masih ada" jawab Zivannya minum, Langit menatap Zivannya lama.


"jika akan menghubungimu gimana, yang" tanya Langit pelan. "kan keseringan ketemu kak" jawab Zivannya, Langit menyuapi Zivannya. "nggak gitu juga kali, yang. aku nggak bisa kalo nggak liat kamu" kata Langit, "ishh... nggak usah lebay deh kak" pandang Zivannya, Langit menghela nafasnya panjang.


beberapa kali mereka berhenti untuk melaksanakan kewajiban dan menikmati senja dibeberapa tempat yang mereka lewati.


tiba dirumah Dirgantara.

__ADS_1


bunda tersenyum melihat kedatangan anak-anaknya. "gimana dek, touringnya" senyum bunda mengelus bahu Zivannya, Zivannya tersenyum meringis. "baik bund" angguk Zivannya duduk di teras.


"onty, kan udah dibilangin jangan kemana-mana" duduk Raka dipangkuan Zivannya memegang kedua bahu Zivannya erat. "auuu.... "ringis Zivannya merasa sakit.


"kenapa dek" kerut bunda. Langit segera menghampiri Zivannya dan menurunkan Raka pelan, "bentar ya kak, om buka dulu jaketnya onty" senyum Langit mengusap rambut Raka, Langit melepas pelan Hoodie Zivannya.


"ya ampun dek..... banyak banget lukanya" seru bunda spontan. Langit melepas boots Zivannya dan meletakkan disamping nya. ayah segera keluar dan menatap Zivannya yang lengan kanannya banyak luka lecet.


"kenapa" datang Dirgantara tergesa-gesa dari dalam bersama Valerie mendengar seruan bunda, memandang Zivannya bergantian dengan Langit, mentari keluar bersama Matahari.


"tadi pagi, waktu sarapan pagi soto didepan sekolah ibunya Langit, Zivannya ditabrak motor yang dikendarai anak-anak yang tiba-tiba keluar dari gang, bund. Zi udah nyebrang bund saat kejadian, aku juga duluan nyebrangnya karena adek bayar makanannya. mereka berdua masih asik makan dan ngobrol" terang Mentari, bunda menggelengkan kepalanya sembari duduk disamping Zivannya.


"dokter bilang apa" tanya bunda. "tidak ada luka dalam bund, hanya lecet luar. karena terpental beberapa meter" jawab Mentari pelan, bunda membuka mulutnya mendengar perkataan mentari. "terpental beberapa meter" ulang bunda menatap pias Zivannya.


Ayah berdehem, Dirgantara menoleh cepat, memandang matahari dan Langit memberi isyarat untuk kehalaman. Langit dan matahari segera turun kehalaman depan. "mau berapa kali" tatap Dirgantara tajam. "siap ndan, 30 kali" jawab mereka serempak. "bagus, laksanakan" angguk dirgantara tegas.


Valerie, mentari dan Zivannya berjalan mendekati mereka. duduk diatas punggung mereka, "apa anak itu baik-baik saja dek" tanya Valerie, Zivannya mengangguk. "untungnya kak, jika tidak kasihan dia masih remaja, aku nggak bisa bayangin gimana nanti kedua orangtuanya" jawab Zivannya. "mereka datang dengan ibu langit kak" kata Mentari. "kalian kerumah Langit" tanya Valerie tidak percaya.


"iya kak, Zi aja baru tau saat sampai disana" kata Zivannya. "tau gitu, aku ikut aja. kan seneng menikmati udara luar" kata Valerie.


"udah, yang" kata Matahari terengah-engah. mentari segera berdiri, diikuti Valerie dan Zivannya. mereka berdiri. "jagain adek satu perempuan aja nggak becus" tatap ayah tajam. "siap ndan" salam mereka. ayah menghela nafasnya panjang, bunda membawa minuman diletakkan diteras. "minum sana, bundamu udah buatin" kata ayah akhirnya. mereka memberi hormat dan segera menuju teras.


Zivannya masuk kedalam rumah menuju kamar mandi, "yang" ketuk Langit. "apa" seru Zivannya. "aku tunggu diluar" kata Langit. Zivannya menyelesaikan mandinya. "kenapa" usap rambut Zivannya mengeringkan menggunakan handuk. "kenapa apanya" kerut Langit. "kakak kenapa didepan kamar mandi" tanya Zivannya melangkah, "nungguin kamu mandi, kira-kira khilaf nggak bawa baju" cengir Langit, Zivannya memutar bola matanya jengah. menjauh dari Langit yang mengikuti dari belakang. Zivannya duduk dikursi Langit mengambil obat oles luka lecet Zivannya. "aku bisa kak" ambil Zivannya. "hari ini aku yang melakukan, besuk kamu sendiri. karena aku akan jauh" jawab Langit. Zivannya melepaskan tangannya dari wadah obat oles yang dipegang Langit.


"yang" panggil Langit pelan, Zivannya memandang Langit. "bisakah kamu memanggilku dengan sebutan lain" tanya Langit sambil mengoleskan obat diluka Zivannya. "apa yang kamu mau" tanya Zivannya. "selain sebutan kakak, mas, abang" jawab Langit. "lebih spesifik" tanya Zivannya. "sebutan yang hanya untukku" jawab Langit.


"lang-lang, ayang, cinta, lovely..." sebut Zivannya menyebutkan beberapa sebutan. "hubby" jawab Langit.

__ADS_1


"tidak" geleng Zivannya. Langit menatap Zivannya cepat. "kenapa" tanya Langit pelan.


"sebutan itu aku berikan ketika kak Aga sudah resmi menjadi suamiku. pada saatnya nanti jika kamu memang serius kepadaku maka sebutan itu akan melekat kepadamu" hembus nafas Zivannya. "itu panggilan sayangku kepada imamku" kata Zivannya lirih, Langit terdiam lama.


"sudah, yang" selesai Langit. Zivannya mengangguk dan beranjak dari tempat duduknya. "kamu nggak mandi kak, badan bau keringat abis olahraga gitu. setelah mandi nanti tidurlah dulu jika sudah waktunya makan akan aku bangunin" kata Zivannya, Langit menggeleng. "nanti aja" jawab Langit. "ishhh... merajuk, kayak anak TK yang pingin mainan" usap kepala Zivannya, Langit menoleh menatap kearah lain. "mandi gih kak, nggak baik buat badan, tampan-tampan kok bau. nggak jadi deket tuh Santi sama Sari kalo tau cowok idamannya bau gini" goda Zhivannya. "aku tidak peduli dengan gadis lain, yang" hembus nafas Langit. "tapi aku peduli padamu lho, yang" elus pipi Zivannya tersenyum. Langit menoleh menatap Zivannya, tersenyum lebar mendengar ucapan Zivannya dan bergegas membersihkan dirinya, setelah Zivannya mengatakan hal itu.


"mau kemana kak" tanya Zivannya melihat dirgantara dan Valerie. "kencan lah" mumpung ada yang jagain anak-anak" acak rambut Dirgantara.


Zivannya nyengir, "ikut" kata Zivannya, Dirgantara menggoyangkan telunjuk jarinya kekiri dan kekanan menolak permintaan Zivannya, "lihat dirimu dek, babak belur seperti habis digebuki orang. nggak malu diliat gitu. ini urusan orang dewasa lho dek. yang udah punya anak dua" kata Dirgantara. "ishhh... pa" tepuk bahu Valerie. dirgantara tertawa dan memeluk istrinya. "kan aku juga pingin berduaan kayak mereka berempat ma" kata Dirgantara. "yuk berenam kita triple date kayak biasanya" senyum mentari menampakkan kepalanya dari balik jendela. "aishhh... anak satu ini lagi... ayok ahh... naik motor aja. biar bunda dan ayah njagain Raka dan Riki" lihat Dirgantara, Valerie tertawa. "jadi anak laki-laki sendiri memang beda ya pa... "kecup pipi Valerie. dirgantara tertawa senang memeluk ketiga perempuan yang menjadi bagian hidupnya. "eitss... apaan sih kak, main peluk-peluk istri orang aja" tarik matahari memeluk Mentari. Langit diam-diam menarik tangan Zivannya dan memeluknya dari belakang.


"waa... waa.... ngajak berantem nih kalian berdua" kata Dirgantara menyingsingkan lengan t-shirtnya. "mau berangkat apa nggak" tanya Valerie. "jadi ma" cengir dirgantara meraih jemari istrinya menuju motor. "pake jaket kulit aja, yang" kata Langit memakaikan jaket kebadan Zivannya.


"ish... pamer" pandang Dirgantara melihat Langit dan Zivannya, matahari dan mentari sudah siap dengan motor sportnya. Langit merapikan helmet Zivannya. "jangan cantik-cantik kenapa sih Zi. kebanyakan digoda cowok lain" lihat Langit, Zivannya menutup visornya agar tidak melihat Langit. motor melaju meninggalkan halaman rumah. Valerie membawa mereka ketempat nongkrong anak muda yang baru nge-hits. "sini aja ya dek" toleh Valerie, Zivannya tersenyum mengangguk, "tempatnya nyaman kak. makin malam makin rame pasti" jalan Zivannya pelan, Valerie mengangguk dan menunjuk tempat yang masih kosong. "masih jam 9 jadi tidak terlalu rame" duduk mentari. seorang penjaga menghampiri mereka dan memberikan menu book agar memudahkan mereka memesan.


"pulang jam berapa besuk dek" tanya Valerie. "penerbangan paling pagi kak, biar nggak buru-buru banget" jawab Mentari, Valerie mengangguk. Zivannya melihat penampilan band lokal menyanyikan lagu, "mau mendekat dek" tanya Valerie, Zivannya menggeleng. "inget dulu saat kerja dicafe kak, hiburan satu-satunya liat anak-anak band main" senyum Zivannya.


"Langit kemana" tanya Dirgantara. "lho aku kira sama kakak dan abang" tanya mentari. "tadi nyari parkir, dia berada dibelakang sendiri. tau-tau udah nggak ada" kata matahari.


"ntar juga balik, biarin aja" kata Zivannya menatap penampilan band lokal. "nyanyi yuk dek, raih tangan mentari, Zivannya mengikuti langkah Mentari. "duh, anak dua itu kelewatan kompaknya. dikira nggak punya suami lagi nih" usap rahang Matahari. Dirgantara dan Valerie tertawa. "perjalanan kesini ada beberapa pemuda mendatangi mereka ngajak kenalan" pandang matahari dari kejauhan. dirgantara tertawa lebar. beberapa pesanan mereka datang. Langit tampak memasuki cafe setelah 30 menit menghilang. dilihatnya mentari, Valerie dan Zivannya sedang menyanyikan sebuah lagu, lebih tepatnya Zivannya bermain gitar. Langit duduk menemani kedua laki-laki yang sedang melihat istrinya disana. "ngapain mereka" duduk Langit.


"kamu nggak lihat apa" sungut dirgantara, Langit menggeleng tidak paham. "awalnya Zi dan mentari hanya ingin ndengerin musik aja, lama-lama ikut main deh disana, kak Val ikutan" kata Matahari menatap istrinya.


"belum udahan" makan pisang bakar Langit, matahari menggeleng.


tampak seorang pemuda mendekati mereka, ketiganya segera berdiri tegak melihat hal itu, "aku aja bang, kak yang menyuruh mereka turun" pandang Langit kesal melihat Zivannya yang terlihat mengobrol bersamanya.


hai....hai...hai.... all readers, terimakasih atas dukungannya terhadap karyaku ini. tidak lupa untuk selalu mengingatkan untuk terus mendukung karyaku ini agar selalu bisa mengupdate chapter terbaru.

__ADS_1


jangan lupa dukungannya all readers. terimakasih...


__ADS_2