
"kenapa, apa kamu takut aku memiliki sesuatu" sarkas Langit. Zivannya mengangguk.
"ciihhh.... kamu pegang tangan Yuda aja nggak takut apapun" kesal Langit, Zivannya menoleh. "apa maksudnya kak" kerut Zivannya tidak mengerti dengan sikap Langit.
"kamu tau jelas dengan maksud ku" kata Langit cepat. Zivannya menghela nafasnya panjang dan menyandarkan kepalanya kebelakang dan memejamkan matanya mencoba untuk tidur tanpa menghiraukan Langit yang sedang kesal menatapnya.
"aku tidak bisa melihatmu lebih dari dua bulan lagi Zi" kata Langit pelan, Zivannya terdiam tidak menanggapi ucapan Langit.
"jaga dirimu baik-baik, jangan dekat dengan laki-laki lain" kata Langit bisik Langit didekat telinga kiri Zivannya, Zivannya membuka matanya dengan cepat.
"apa yang kamu lakukan, menjauh dariku" kata Zivannya geram.
"kenapa, kamu dekat dengan Yuda aja bisa. kenapa aku tidak" kata Langit tak bergeming.
"Lang Lang" desis Zivannya.
"kamu manggil aku Lang Lang, saat kesal. kamu manggil aku by saat panik, tapi jika tidak ada apa-apa kamu bahkan tidak melihatku sekalipun. apa kamu begitu menginginkanku Zivannya Fritscha" kata Langit menyudutkan Zhivannya. Zivannya terkejut, menoleh dengan cepat, Langit mengecup bibir Zivannya yang terlihat menggoda.
"apa yang kamu lakukan Lang" kilat mata Zivannya memerah karena perlakuan Langit yang sangat kurang ajar.
"turunkan nada suaramu, kasihan bunda sedang istirahat" peringatkan Langit tidak menggubris protes Zivannya. Zivannya beranjak dari duduknya dan berjalan tergesa keluar, duduk dikursi depan kamar inap pasien. mengatur suhu dan detak jantungnya yang menderu. Zivannya menekan dadanya dengan memukul pelan agar tidak menyiksanya. muka Zivannya memerah saking kesalnya. Langit menumpu kedua kakinya didepan Zivannya.
"aku bukan lelaki yang pandai merayu perempuan, aku bukan laki-laki yang bisa dengan mudah jatuh cinta kepada seorang gadis, aku juga bukan laki-laki romantis yang selalu bisa menemani dan memberimu dengan banyak hadiah" pandang Langit, Zivannya menatap Langit kesal.
"aku tahu kamu baru saja kehilangan orang yang menemanimu, aku tahu betapa sakitnya itu, hingga rasa itu membuatmu ingin mengakhiri hidupmu" hembus nafas Langit berat. Zivannya menghapus airmatanya yang turun tiba-tiba.
"apakah kamu tau Zi, hidup jauh lebih berarti jika kita bisa melepaskan semua yang memang harus dilepaskan. sesakit apapun itu" usap pipi Langit.
"bunda juga merasakan apa yang kamu rasakan. jauh lebih sakit darimu, jika kamu mau melihatnya dengan hatimu. dia yang dari kecil bersama Aga, merawatnya, membesarkannya dan melepasnya untuk seorang gadis pilihannya saat dia dewasa, melihatnya bahagia bersama dengan gadis yang dicintainya, itu sungguh berat Zi, untuk seorang ibu" pandang Langit, Zivannya memejamkan matanya semakin deras menangis merasa semakin nyeri dadanya. langit menepuk pelan punggung Zivannya. "kamu menyelesaikan masalah hatimu harus melibatkan banyak orang, keluarga Aga menyayangimu seperti anak mereka sendiri, selalu ada dan selalu bersamamu setelah kepergian Aga. bisakah kamu lebih ber empati kepada bunda dan Ayah" peluk Langit. Zivannya menangis sesenggukan didada Langit. Langit mengelus punggung dan rambut Zivannya lembut.
__ADS_1
"setelah ini jangan ada lagi kesedihan yang kamu bawa kedalam dirimu, Aga juga tidak mau meninggalkanmu. takdir Tuhan yang harus kamu lalui Zi, semua manusia mempunyai takdirnya, kita hanya menjalani" bisik Langit.
"buat kedua ayah dan bunda Aga bahagia sepeninggal putra tersayang mereka. mereka adalah ayah dan bundamu juga, jangan buat mereka sedih. jaga mereka dengan kemampuanmu, saat mereka sedih maka mama dan Aga juga ikut sedih" kata Langit, Zivannya semakin tenggelam kedalam kesedihan. Langit mengangkat wajah Zivannya, mengusap wajah Zivannya yang berlinang air mata.
"bahagiakan bunda dan ayah Zi" kata Langit, Zivannya mengangguk sesenggukan.
"buat dirimu hidup bahagia" kata Langit, Zivannya mengangguk.
"kamu punya keluarga yang menyayangimu, sayangi mereka semua" kata Langit, Zivannya mengangguk.
"hmmm... mau kah kamu menjadi istriku Zivannya Fritscha" tanya Langit, Zhivannya mengangguk. mereka sama-sama terdiam lama. Zivannya segera sadar dan menatap tajam Langit yang tersenyum memandangnya.
"nggak boleh menarik kembali ucapan yang sudah terlontarkan" ingatkan Langit. Zivannya akan membuka mulutnya untuk berbicara, Langit menutup mulutnya agar diam.
"aku tidak akan memaksamu untuk segera menikah denganku, aku akan menunggumu untuk itu, jadi tidak ada alasan untukmu mengatakan tidak, bunda dan ayah sudah memberi restu, kak mentari dan kak Valerie juga memberi ijinnya. kalo bang matahari itu sedikit lebih mudah menanganinya, mengingat aku komandannya, hanya kak dirgantara yang belum memberi lampu hijau. aku juga tidak begitu mengenalnya sebelumnya, jadi tidak bisa meraba bagaimana orangnya" pandang langit lekat, Zivannya menyandarkan tubuhnya kebelakang.
"aku tidak tahu harus berkata apa-apa lagi kak" tutup muka Zivannya dengan kedua telapak tangannya. Langit memeluk Zivannya dan mengecup kedua tangan Zivannya yang menutupi wajahnya, "tidak ada yang harus kamu katakan, hanya lakukan saja apa yang aku katakan" senyum Langit, Zivannya menggeleng. "maafkan aku kak, tapi aku tidak bisa menjadi apa yang kamu inginkan. tidak denganmu, Yuda atau yang lainnya. dengarkan aku sampai selesai" lihat Zivannya saat Langit akan mengucapkan kata.
"aku mohon kak, kamu juga punya keluarga yang menyayangimu bukan. bahagiakan mereka juga, mereka tidak akan mau hidupmu menderita" kata Zivannya.
"kita akan berbicara apa yang kita rasakan setelah 6 bulan, aku beri waktu 6 bulan untuk kita saling mengerti satu sama lain" hembus nafas Langit kasar.
Zivannya menggeleng, Langit mengusap kepala Zivannya lembut.
"kita masuk, tidurlah sebentar ini sudah dinihari, besuk pagi-pagi aku akan pulang, sampai ketemu 6 bulan lagi Zi. aku harap kamu selalu menjaga dirimu dengan baik, jalani hari depan dengan senyum Langit memeluk Zivannya. mengecup ubun-ubun rambut Zivannya.
"selamat jalan kak, jaga diri baik-baik. selalu berhati-hati dalam melakukan apapun" angguk Zivannya. Langit mengangguk tersenyum. mereka masuk kedalam kamar inap bunda, Zivannya melihat bunda yang tertidur dengan nyenyak, Langit tidur dibawah beralaskan ranselnya. Zivannya tidur di sofa panjang dan tertidur dengan cepat. Langit tersenyum menatap Zivannya yang terlihat damai dalam tidurnya, Langit mengabadikan moments Zivannya dan dirinya.
pagi hari, Zivannya mengerjapkan matanya, menyesuaikan dengan ruangan rawat inap bunda yang sudah terlihat terang.
__ADS_1
"pagi dek. jam berapa begadangnya selesai" senyum ayah, Zivannya mengikat rambutnya model bun dan berjalan kekamar mandi.
"bajunya udah ditata sama kak mentari tadi" kata ayah, Zivannya mengambil tas jinjing kecil dan membawa perlengkapan mandinya. Zivannya keluar dengan keadaan lebih segar.
"Langit titip salam jika kamu udah bangun dek, pagi tadi dia sudah berangkat kembali" kata bunda, Zivannya tersenyum melihat bundanya. "maafkan Zi bunda, yah tidak menjaga kalian dengan baik" kata Zivannya duduk disofa.
"nggak papa dek, bunda maklum kamu juga melalui hari-hari yang berat sejak kepergian Aga" geleng bunda, Zivannya tersenyum, mencium tangan bundanya Aga. "tidak lebih sakit dari bunda yang melahirkan dan membesarkan kak Aga sampai dia menjadi laki-laki yang hebat bund, Zivannya berterimakasih sama ayah dan bunda yang membuat kak Aga ada untuk Zi" geleng Zivannya. bunda menghapus airmatanya dan mengusap kepala Zivannya.
"kamu sudah menjadi putri kami yang ditinggalkan Aga untuk menemani hari-hari tua kami dek. jadi hiduplah bahagia, jangan merasa bersalah, semua adalah takdir Tuhan. tidak ada yang dapat lari menjauh dari takdirnya" usap punggung tangan bunda, Zivannya mengangguk tersenyum.
"Zivannya mengerti bund, Zivannya akan mencoba untuk melangkah maju kedepan. tentu saja dengan restu ayah dan bunda" angguk Zivannya, ayah tersenyum.
"kamu sarapan dulu sana dek, dikantin. Ayah nggak beli apa-apa, bunda mau nitip apa" toleh Ayah, "apa aja deh dek, yang penting enak" kata bunda, "yah bund, kalo enak mah banyak" kata Zivannya melangkah keluar. Yuda berjalan mendekati Zivannya, "hai yud, tadi malam kelupaan" cengir Zivannya, Yuda tersenyum. "langsung tidurkah" tanya Yuda, Zivannya menggeleng, "ngobrol lama dengan kak Langit, hari ini dia pulang nggak tau jam berapa, aku masih tidur saking ngantuknya" jawab Zivannya berjalan menyusuri koridor klinik.
"mau kemana Zi" tanya Yuda, "makan, bunda nitip makanan enak katanya" senyum Zivannya. "kita ke seberang Rumkit aja, disana ada kedai soto" kata Yuda, "hmmmm, jadi pingin makan soto mang soto disana" bayangin Zivannya.
"ato siomay aja Zi, tuh ada, pempek, ato nasi uduk" goda Yuda, Zivannya tertawa. "kayaknya enak tuh semuanya, bisa... bisa... nanti aku makan semuanya" tepuk perut Zivannya. Yuda melangkah dengan tersenyum lebar. "nah kita makan apa dulu nih gadis gembul" pandang Yuda, Zivannya memperhatikan sekeliling, "siomay dulu aja pak bos, kayaknya menggoda untuk dicoba" isyarat dagu Zivannya.
"baiklah, apa kata yang bayar aja" angguk-angguk Yuda, mereka tertawa bersama.
"pilih sendiri aja yud, sepiring buat berdua aja, kita lanjut ke kedai lain nanti" pandang Zivannya, Yuda mengangguk tersenyum.
"setelah ini mau kemana Zi" tanya Yuda. Zivannya mengerutkan keningnya.
"nungguin bunda lah yud, mau kemana lagi" kata Zivannya, Yuda menggeleng. "aku akan kerumah mama dulu da, setelah itu cari kerja untuk menghidupi diri sendiri" senyum Zivannya. "kamu yang menolak untuk dihidupi orang lain" kata Yuda. Zivannya tertawa.
"jika aku dihidupi orang lain, nanti orang yang menghidupiku akan pergi selamanya" geleng Zivannya.
"aissshhh... ya harus pergilah, orang nyari duit. kalo dirumah bikin anak dong" kata Yuda, Zivannya tertawa.
__ADS_1
hai....hai....hai..... all readers.... terimakasih atas dukungan dan like nya agar selalu update...
luv...luv...luv.... U all.... terimakasih banyak all readers...