
Baskara masuk dengan seorang abdi negara perempuan, segera memberi hormat ketika bertemu dengan Langit. tak lama Zivannya muncul dari kamar mandi yang ada diruangan itu, abdi negara itu melihat paras Zivannya yang seperti anak kuliahan sedikit terkejut dan menatapnya lama. Zivannya tersenyum melambaikan tangannya melihat abdi negara perempuan yang terus memandanginya tanpa berkedip hingga Baskara berdehem pelan membuatnya tersadar kembali dan memberi salam kepada Zivannya. Langit menatapnya sekilas untuk mengetahui siapa yang akan mendampingi istrinya selama dia dinas.
"perkenalkan bu, nama saya Indira" salam Indira, "hai kak, aku Zivannya" senyum Zivannya, Baskara menyerahkan profil Indira kepada Langit. "yang" serahkan Langit ke tangan Zivannya. Indira kembali dibuat terkejut dengan sikap Langit yang sangat lembut terhadap istrinya, berbanding terbalik dengan sikapnya yang dingin dan mengerikan dihadapan anak buahnya.
"aaahhh..... berarti bisakah aku memanggilmu mbak Indira karena usiamu lebih dariku maka aku merasa tidak enak jika hanya memanggil namamu" senyum Zivannya, "baik bu, tidak apa-apa. karena saya juga sudah mempunyai putri satu yang masih kecil" angguk Indira mengerti. "waahhh.... bagus kalo begitu, jika kita ada kunjungan kemana saja, bawalah putri kecilmu ikut, akan sangat menyenangkan nantinya" senyum Zivannya mengerti.
"cepetan, yang" pandang Langit, Zivannya menghela nafasnya panjang. "kalau begitu mari mbak Indira, om Bas. kita duduk dulu dan membahas untuk acara besuk. karena ini pertemuan pertama kalinya bagiku dengan ibu-ibu lainnya" angguk Zivannya mempersilahkan keduanya untuk duduk mengobrol disofa, Langit menghela nafasnya panjang menatap istrinya yang akan bakal lama melakukan koordinasi. ia lebih memilih memeriksa berkas-berkas yang masuk di mejanya.
"hallo bund, Zi baru ada dikesatuan kak Langit, he em... besuk ada pertemuan dengan ibu-ibu yang lain. ya.... oke bund, dibantu sama mbak Indira dan om Bas. ya... bilang sendiri sama kak Langit aja bund, aku nggak digubris dari tadi protes" kata Zivannya.
"by, bunda mau ngomong" pandang Zivannya, Langit menghela nafasnya panjang. "pulang pasti" pandang Langit nelangsa mendekati Zivannya yang tersenyum manis.
"hallo bund, siap.... siap... bentar lagi pulang. siap..." kata Langit menutup ponsel istrinya.
"1 jam lagi harus selesai, buat rangkaian kata untuk istriku jika harus melakukan sambutan, Indira nanti akan berada disampingnya kemanapun dia pergi, jika ada aku disisinya maka aku yang akan menjaganya, mengerti" pandang Langit. mereka bertiga mengangguk mengerti.
"kita pulang sejam lagi, yang" pandang Langit, Zivannya mengangguk. Indira memberikan semua informasi mengenai beberapa acara besuk.
__ADS_1
"kita pulang" bangkit Langit menyelesaikan tugas nya. "ini masih kurang 10 menit" lihat Zivannya, Langit menggelengkan kepalanya. "baiklah, kita besuk bertemu lagi mbak, om. semoga besuk kita bisa" senyum Zivannya bangkit dari duduknya, Indira dan Baskara segera mengundurkan diri, Langit meraih jemari tangan istrinya dan segera berlalu pergi.
"om... chat kalo ada apa-apa" kata Zivannya saat berpapasan dengan Baskara, Langit menatap Baskara sesaat. "jangan coba-coba, yang" tatap Langit. Zivannya mengelus dada Langit lembut, "aku hanya koordinasi aja, by dengan mbak Indira juga. hanya dengan mereka berdua" senyum Zivannya, Langit menarik tangan Zivannya agar melangkah lebih cepat. Zivannya setengah berlari mengikuti langkah kaki suaminya yang lebar. gaun panjangnya sampai berkibar karena berlari kecil. Zivannya meraih air mineral botol yang ada didalam mobil Langit segera melajukan mobilnya dengan cepat. Langit segera membuka pintu rumah dinasnya, Zivannya mengikuti langkah suaminya yang tergesa-gesa.
"kenapa sih, by...." seru Zivannya, "kebelet" seru Langit kebelakang. Zivannya tertawa kecil menuju kamar, merebahkan dirinya menunggu Langit hingga tertidur, "yang" dusel-dusel kepala Langit di leher Zivannya, "hhmmm..... kak" gumam Zivannya menjauhkan kepala Langit dari wajahnya. "bunda nungguin, kita harus balik sebelum tambah malam" ciumi pipi Langit membangunkan Zivannya. "jam berapa sekarang" tanya Zivannya, "jam 5" jawab Langit, Zivannya bangun dengan cepat. "kewajibanku kak" kata Zivannya saat Langit tidak mau melepaskannya, "aaahhh......" seru Langit kesal, Zivannya segera berlari untuk mengambil air suci, melaksanakan kewajiban sorenya. "kakak udah belum" tanya Zivannya setelah selesai melaksanakan kewajibannya. "sudah" angguk Langit meraih jemari Zivannya untuk menemaninya tidur. "belum dibenerin alat ibadahnya, kak" protes Zivannya menahan ajakan Langit. Langit mengangkat tubuh istrinya dan merebahkan nya di ranjang, menyibakkan gaun panjang istrinya. "kita lakukan dengan cepat dan segera pulang" usap pipi Langit melepas kemeja dan t-shirt nya, ia membantu Zivannya untuk melepas gaun panjangnya, "by.... kan tadi udah, nggak capek apa" pandang Zivannya, Langit mencium dengan penuh tuntutan, ia mengabsen setiap inci tubuh istrinya yang sudah tidak memakai sehelai benang pun, Zhivannya melingkarkan kedua tangannya dipunggung suaminya saat dibuai oleh sentuhan Langit, Langit mengangkat salah satu kaki Zivannya hingga terdengar erangan dari mulut istrinya, Langit segera melakukan pertempurannya, ia menatap paras istrinya yang terlihat menggoda, ia menautkan kedua tangan mereka. Zivannya membuka matanya melihat Langit yang sedang menatapnya dengan pandangan yang berkabut asmara.
"malam bund" salam Zivannya saat mereka memasuki kediaman Triastomo. "udah pulang dek" toleh ayah, Zivannya mencium punggung tangan ayah diikuti oleh Langit yang berada dibelakangnya. "ketiduran dirumah kak Langit" duduk Zivannya disamping ayahnya. "pada kemana bund, kok nggak kelihatan" tanya Zivannya. "pada jalan dari kita keluar hotel tadi pagi, pingin puas-puasin ke Jakarta katanya,karena nggak setiap saat bisa kesini" kata bunda Zivannya tersenyum. bik Sum datang membawa minuman jahe hangat dan coklat panas untuk Langit. "makasih bik" senyum Zivannya meminum jahe hangatnya segera.
"dek, berangkat ke Surabaya 3 hari lagi, biar Langit menyusul karena masih tugas, kamu harus fitting baju sebelum acara dan kamu juga harus istirahat" pandang bunda, Langit menoleh cepat kearah bunda bergantian dengan Zivannya yang tersenyum lebar, Langit menghela nafasnya pelan. "lama banget bund" protes Langit pelan. ayah tertawa terbahak-bahak, "rasain Lang, belum lagi besuk kalo dia hamil dan melahirkan tambah lama kamu puasa" ledek ayah, Langit nyengir mendengar ledekan ayah mertuanya.
"dek, tinggal disini aja ya" pandang bunda menatap keduanya. Zivannya menatap bunda kemudian Langit. "iya bund" angguk Langit cepat. "kalian juga anak bunda, jadi nggak usah punya pikiran macem-macem. jika memang baru padat jadwalnya kalian bisa dirumah dinas, tapi kalau tidak ada apa-apa kalian pulang kesini. bunda dan ayah hanya berdua, dua yang lain ada diluar kota. jika kalian juga dinas diluar maka bunda ikhlas melepas kalian tapi selama belum dinas dilain daerah kalian harus tinggal sama bunda dan ayah. bisakan nak" pinta bunda, Zivannya mengangguk meneteskan airmata tanpa suara.
"baik bund, kami mengerti" angguk Langit. bunda tersenyum "bunda tau kamu anak yang baik, bunda kehilangan anak tapi Tuhan juga memberikan pengganti yang jauh lebih baik menurutnya" kata bunda, Zivannya menutup wajahnya dengan kedua tangan meredam tangis yang semakin deras mengalir, Langit memeluk tubuh istrinya agar tidak larut dalam perasaan. "adek, bunda nggak papa. bunda malah sudah lama belajar ikhlas darimu, saat melihatmu dengan tegar menerima segala rasa sakit dan pahit dalam perjalanan hidupmu dan bunda ingin menghabiskan waktu tua bunda bersamamu dan kedua kakakmu" hembus nafas bunda. Zivannya mengangguk menghapus airmatanya, "jadi jangan pernah menganggap bunda dan ayah bukan orang tua kalian, bisa kan" senyum bunda. Langit dan Zivannya mengangguk.
"maafkan bunda ngajak ngomong saat kalian makan dan bikin adek menangis. tapi adek mah gampang mewek, jadi susah kalo ngajak ngomong yang pake perasaan. nangisnya tambah kejer" ledek bunda. Zivannya tertawa kecil sambil menghapus air matanya. "jika bunda dan ayah ada dirumah, usahakan selalu bersama kami" pandang bunda, Zivannya manggut-manggut. "makan lagi, yang. biar kuat" sodor makanan Langit, "iihhh.... by" geleng Zivannya, bunda tertawa mendengar gombalan Langit kepada Zivannya. mereka tertawa bersama, "seru banget sampai kedengeran sama tetangga. ada apa nih" datang ayah mengelus bahu bunda. "ini adek pingin riding, yah" senyum bunda menggoda mereka. "awwhhh.... Ok aja ayah mah, nunggu Dirgantara pulang" naik turunkan alis mata ayah menatap Langit yang sudah menghela nafasnya pias. bunda dan ayah tertawa lebar.
"hati-hati dijalan kek, nek. jika ada waktu, Zi akan menengok" salam Zivannya mengantar keluarga papanya pulang. "maaf jika ada banyak kekurangan saat di Jakarta kek, nek" senyum Langit, "terimakasih banyak telah memperlakukan kami dengan baik, jika sempat berkunjung kerumah, kalian juga punya keluarga disana" senyum om Hadi menepuk pelan bahu Zivannya, "tentu saja om" senyum Zivannya. "makasih banyak Zi, bang. semoga kalian tidak lupa dengan kami"senyum Farhan, Langit tersenyum mengangguk.
__ADS_1
"yang, kita ke kesatuan sekarang" raih jemari Langit, Zivannya mengangguk melangkah bersama dengan Langit. "aku deg-degan, by" tatap Zivannya, Langit tersenyum mengusap pipi Zivannya. "ada suami mu yang tampan. jadi jangan kuatir" kata Langit, Zivannya memutar bola matanya jengah, "dibilangin ngeyel.... suamimu itu sangat tampan lho, yang" kata Langit, "iya.... tau kalo kakak tampan" senyum Zivannya masam, Langit tergelak melihat paras istrinya yang terlihat cantik meskipun sedang marah.
mereka tiba dikesatuan, Baskara dan Indira segera mengikuti mereka menuju ke tempat pertemuan, mereka segera memulai pertemuan, Indira selalu disisi Zivannya, memberikan apa yang dibutuhkan oleh istri dari komandannya. "mbak, bisakah memakai flat shoes aja" bisik Zivannya, Indira menganggukkan kepalanya. "by, dimobil ada flatshoes hitam, bisakah aku mengambilnya dulu. kakiku tegang karena memakai sepatu ber hak rendah" dekat Zivannya. "aku aja yang ngambil, kamu disini aja, yang" angguk Langit bergegas bangkit dari duduknya dan melangkah pergi. Zivannya menghela nafasnya panjang melihat suaminya yang cepat sekali menghilang. "bapak kemana bu" bisik Indira, "dia ngambilin sepatu ku mbak, udah dibilang biar aku aja tapi malah segera menghilang" kata Zivannya pelan. Indira segera berbisik pada Baskara yang segera menyusul Langit.
"bu, habis ini kita mau ke X, bersama bapak untuk menghadiri pertemuan kembali" kata Indira, Zivannya mengangguk. "yang" datang Langit duduk disamping Zivannya kembali, Baskara meletakkan kotak sepatu dalam paperbag dibawah meja, Indira segera membuka kotak. "mbak, jangan. tugasmu hanya mendampingi ku melakukan tugasku sebagai istri komandanmu, biar aku aja" geleng Zivannya pelan, Indira mengangguk dan segera melangkah mundur agak menjauh dari mereka berdua. Langit segera mengambil flatshoes istrinya dan meletakkan dibawah Zivannya, "makasih, by" senyum Zivannya memberi finger heart kearah suaminya, Langit menangkapnya dan memasukkannya ke hatinya tanpa ekspresi.
"aiiishh.... ntar aku nyari prajurit single aja yang murah senyum" desis Zivannya menatap kearah para istri abdi negara dikesatuan Langit yang sedang menatap mereka, Langit meraih jemari Zivannya dan menekannya lembut. Zivannya menoleh nyengir. Baskara dan Indira yang berada dibelakang mereka tersenyum kecil melihat Langit yang tidak berkutik jika bersama istrinya. beberapa saat kemudian acara telah selesai, Indira mengatur posisi Zivannya untuk menerima ucapan selamat dari para istri abdi negara lainnya. Zivannya sedikit berbincang dengan istri-istri abdi negara yang lain saat menerima salam mereka. Langit selalu berada tidak jauh dari Zivannya berada. "Bas, habis ini kita kemana" tanya Langit. "ke X, Ndan udah ditunggu oleh jenderal beserta ibu nanti jam 2 siang bersama" kata Baskara, "hhmmm..... berarti kita makan siang di mobil" pandang Langit, Baskara menganggukkan kepalanya.
"bu, kita harus ke X sekarang" ambil paperbag Indira dari bawah meja. "ooohhh..... sekarang mbak" pandang Zivannya. Indira mengangguk pelan, Zivannya berjalan pelan mendekati suaminya yang sudah menunggunya didepan pintu ruangan, "kita makan siang di mobil nanti, yang" tautkan jemari Langit, Zivannya mengangguk. Baskara segera berlari menjauh saat Indira bersama mereka. "kita naik mobil ini, mbak" toleh Zivannya menunjuk mobil kesatuan, "iya bu" angguk Indira berdiri disamping pintu, seorang abdi negara lain berada disamping pintu, "ini Tio yang akan menemani ibu kemanapun perginya" kata Indira memperkenalkan pengemudi mobil, Tio memberi hormat kepada Langit dan Zivannya, Baskara setengah berlari kembali dari membeli minuman dan makanan kecil untuk mereka berdua.
Langit memberikan coklat dingin untuk Zivannya, "aahhh.... bikin deg-deg an lagi nih" pandang Zivannya, Langit tertawa pelan mendengar perkataan istrinya. "Tio, Baskara dan Indira yang akan membantu kita selama dikesatuan, yang" kata Langit. Zivannya mengangguk. "mengerti, by. jika begitu aku akan memanggil, mbak Indira, mas Tio dan om Baskara. begitu aja ya" topang dagu Zivannya, Langit mengangguk mengusap bahu istrinya, "siap bu" salam mereka, "dan satu lagi, aku nggak mau kalian memperlakukanku berlebihan, bilang padaku apa yang harus aku lakukan saja. jangan membuatku merasa tidak nyaman, bisa kah" tanya Zivannya. "baik bu" angguk mereka mengerti. "mereka akan belajar bersama-sama kita, yang. jadi nggak usah kuatir. mereka akan cepat menyesuaikan diri dengan kita" senyum Langit. "tentu by, hanya aku yang harus belajar banyak" kata Zivannya, Langit tertawa pelan. "seiring berjalannya waktu, yang. kamu akan belajar dan mengerti banyak hal nantinya" tatap Langit, Zivannya tersenyum mengangguk. "kita makan, kalian makan. kita akan bagi tugas sesuai dengan porsinya, nggak mungkin Tio makan saat sedang membawa kita di mobil" kata Langit, "baik ndan" angguk Baskara yang berada didepan bersama Tio, Indira membicarakan pertemuan yang nanti akan mungkin dibicarakan selama bertemu dengan ibu jenderal nanti, Zivannya mendengarkan dengan seksama. "nervous, yang" toleh Langit, "sedikit by, tapi ada kamu yang tampan di sisiku jadi tidak begitu" canda Zivannya yang membuat Langit tersenyum kecil mendengar ucapan istrinya.
hai.... hai.... hai.... all readers terimakasih telah berkunjung ke karyaku. terimakasih banyak atas dukungannya terhadap karyaku.
luv..... luv..... luv...... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya
stay healthy all
__ADS_1