
Matahari melambaikan tangan saat melihat Zivannya keluar dari dalam mobil saat di parkiran bandara, Zivannya tersenyum menghampiri Matahari dan teman-temannya yang lain. "kuncinya dek, makasih bilangin Dimas" kata Matahari menyerahkan kunci motor dan lembaran tanda parkir motor. Zivannya mengangguk menerimanya. "abis ini mau kemana dek" tanya Matahari berjalan bersama dengan Zivannya. "teman-teman ngajak ketemuan di kafe x, bang. abis ketemu abang" jawab Zivannya, Matahari mengangguk. "udah ijin sama Langit kan" tanya Matahari, Zivannya mengangguk. "udah, bang. tadi bikin dia marah juga kalo aku mau cari kekasih yang lebih muda" hembus nafas Zivannya, Matahari tertawa lebar. "baguslah kamu harus sering membuatnya sport jantung, biar dia merasa nggak bisa jauh darimu" kata Matahari. Zivannya nyengir mengusap tengkuknya. ponsel Zivannya berdering memperlihatkan id caller Langit. "ini baru aja nyampe dan ketemu bang Matahari" kata Zhivannya memperlihatkan sekitar dengan kamera belakangnya. Langit menatap layar ponselnya, " yang lain kemana' tanya Langit, Zivannya menoleh kebelakang. "Dimas nyari parkir, ketemu bang Matahari di parkiran tadi" jawab Zivannya. "temennya pada kemana" tanya Langit, Zivannya menatap Matahari untuk menanyakan hal itu. "udah masuk duluan, tadi pada naik taksi online ke sininya, aku minjem motor Dimas" jawab Matahari. "abang langsung pulang kerumah kan" tanya Zivannya, Matahari mengangguk. "iya, dinas dulu 3 hari habis itu nyusul Mentari ke Bali" senyum-senyum Matahari. Zivannya tersenyum, "met liburan lagi bang, semoga selalu bahagia" pandang Zivannya, Matahari tersenyum mengangguk. "makasih dek, kamu juga bisa bahagia, cari pasangan yang menyayangimu seperti kami menyayangimu" toleh Matahari, Zivannya mengangguk. "kan udah ketemu bang, aku orang yang selalu menyayangi nya dan mencintai nya dengan tulus" kata Langit. "aku tau, tapi kalo dia menemukan yang lebih darimu. kenapa tidak" goda Matahari, Langit mendengus pelan tidak suka. Matahari tertawa pelan. "dia bilang mau cari yang lebih muda. berarti teman-temanku nggak ada yang bisa deketin dia nih" kata Matahari mengompori Langit yang tersenyum masam "coba aja nyari, aku ilangin aset laki-laki itu sekali tebas" kata Langit sarkas, Matahari tertawa lebar. "berarti aku dan Dirgantara ikut olah raga dong, asyik tuh" semangati Matahari menatap Langit, Langit mengangguk. Zivannya tersenyum tipis.
"nah itu mereka" isyarat dagu Matahari, Zivannya melihat segerombolan laki-laki sedang asyik bercengkrama. "udah datang ta" salam seseorang. Matahari mengangguk. memperkenalkan Zivannya kepada mereka. "kapan kamu punya adik ta, perasaan dari dulu nggak punya adik" kerut seseorang. "dia adik istriku" jawab Matahari tersenyum. "nggak pernah ngenalin ta" tanya seseorang yang lain. "lha kita beda kota bro, dia sekolah disini. kita di Jakarta, gimana ngenalin nya" senyum Matahari.
"udah punya kekasih belum dek" goda seseorang. "udah, lebih muda dari kau" angguk Matahari. "sipil kah" tanya nya lagi. "bukan laut juga" kata Matahari cepat. "weeeiiisss..... asyik juga nih sama dengan kita" senyumnya. "siapa" tanya seseorang, "Langit" jawab Matahari tersenyum. "Satria Langit Dewantara" ulangnya memastikan nama yang disebutkan Matahari yang terlihat manggut-manggut. "aisshh.... kalah sebelum perang dong" kata nya sesaat kemudian.
Matahari tertawa melihat Langit dilayar ponsel Zivannya, "tuh orangnya, dari tadi hubungin adek ku" perlihatkan Matahari di layar ponsel Zivannya. mereka segera memberi salam hormat kepada Langit. "malam ndan" salam mereka, "malam, bang" datar Langit membalas salam mereka. "maaf ndan, hanya bercanda" senyum seseorang. Langit mengangguk. "aku duduk disana bang sambil nunggu Dimas dan Rara" isyarat Zivannya, Matahari mengangguk.
Zivannya berjalan pelan menuju tempat duduk yang kosong. "nunggu bang Matahari masuk" tanya Langit, Zivannya mengangguk menopang dagunya bertumpu di kaki bagian atas. "kakak udah makan belum" tanya Zivannya. Langit menggeleng, "aku ingin tidur aja, yang. nggak ada kamu disini" peluk alas tidur Langit. Zivannya terlihat tersenyum dari balik tangannya. "kalo pun aku disitu juga kita jauh rumahnya" kata Zivannya menatap Langit. "setidaknya aku bisa cepat kerumahmu jika aku ingin bertemu, kalo gini kan jauh banget, yang" kata Langit, Zivannya menatap kedepan melihat sekelompok anak muda yang terlihat seru. "kenapa" pandang Langit, "nggak kenapa-kenapa cuman ada anak muda yang mau pada liburan" jawab Zivannya. "hari biasa gini, ambil cuti paling" kata Langit. "mungkin" angguk Zivannya pelan, "badanku capek banget kak, kayaknya aku mau dapat periode" hembus nafas Zivannya. "kamu tidur terus dong, yang" kata Langit, Zivannya terdiam. "nggak juga sih kak, hanya harus istirahat dengan tenang" sayu Zivannya, "abis ini aku minta ijin pulang aja sama Dimas dan Rara, badanku serasa tidak ada tulang, lemas" sayu Zivannya menutup mata. "yang" panggil Langit, "hmmm.... aku masih disini" kata Zivannya, "apa aku harus benar-benar kesana dan menemanimu" tanya Langit duduk bersandar di dinding . "hmmmm... tidak usah. nanti aku minta Regan atau Yuda yang bisa menemaniku setiap saat, Arka nggak mungkin juga" kata Zivannya pelan. "nggak lucu, yang. kamu baik--baik aja kan" tanya Langit menatap Zivannya yang sudah setengah sadar. "hmmm... kata Zivannya. "dek" panggil Matahari, Zivannya membuka matanya melihat Matahari yang mendekat kearahnya. "mau berangkat bang" berdiri Zivannya, Matahari menganggukkan kepalanya dan mengelus bahu Zivannya pelan. "abang berangkat dulu, jaga diri. ayah dan ibu belum datang" pesan Matahari. "copy bang, ijin segera pulang. badan nggak enak" pandang Zivannya, "kamu sakit dek, aku tungguin ya..." cemas Matahari, Zivannya menggeleng. "aku harus tidur bang. mau ketemu tamu periodeku" senyum Zivannya. Matahari membuka mulutnya sedikit mengangguk mengerti "baiklah, hati-hati sampai rumah. abang berangkat dulu" angguk Matahari mengusap kepala Zivannya. "hati-hati, bang. sampaikan salamku untuk kak Mentari. selalu sehat" kata Zivannya melambaikan tangan. Matahari memberi tanda Ok dengan jemarinya melangkah menjauh dari Zivannya menuju kedalam bersama teman-temannya.
__ADS_1
"bentar kak, aku hubungi Rara dulu, mau pake motornya Dimas aja pulang, biar mereka bisa langsung ketemu dengan teman-teman. aku ijin nggak ketemu mereka" kata Zivannya melangkah meninggalkan bangunan umum tersebut. "baik, hati-hati naik motornya nanti. jika sudah sampai hubungi aku lagi. biar aku menemanimu tidur" kata Langit, Zivannya mengangguk dan mematikan sambungan ponselnya dengan Langit. Zivannya menghubungi Dimas meminta ijin untuk tidak ikut dan pinjam motornya untuk langsung pulang karena ingin segera istirahat. Dimas mengerti dan akan memberitahu Rara nanti.
Zivannya melajukan motornya sedikit cepat agar segera sampai dirumah dan tidur. motor memasuki halaman rumah, Zivannya turun membuka pagar dan pintu garasi agar motor bisa segera masuk, menghubungi Langit, membereskan rumah. "dah sampai, yang" lihat Langit, Zivannya masih berada didapur saat Langit menerima panggilan videonya. "aku ada didapur tadi" sahut Zivannya meraih ponselnya untuk dibawa kedalam kamarnya, meletakkan didekat tempat tidurnya, melepas Hoodie dan pakaiannya satu persatu untuk membersihkan dirinya, Langit memperhatikan Zivannya melakukan semuanya, menghela nafasnya panjang melihat tingkah Zhivannya jika sendirian didalam kamar. "aduh, yang. untung sayang, kalo nggak udah aku beri pelajaran kamu" desis Langit merutuki Zivannya yang selalu menggodanya. Zivannya keluar dari kamar mandi menuju walk closet mengambil pakaian ganti. "udah selesai membersihkan dirimu, yang" kata Langit. Zivannya membungkus rambutnya dengan handuk kecil. "udah, kak. aku mau tidur" angguk Zivannya naik keatas ranjangnya. "yang, kenapa kamu selalu menggodaku saat kita jauh" kata Langit, "hmmmm...." gumam Zivannya menaikkan cover bed nya sepinggang. "tidurlah, aku akan berbicara agar kamu tertidur" kata Langit. "hmmm..." dehem Zivannya. "jika kamu begini terlihat cantik, yang. tenang dan damai. nggak menjawab dengan pertanyaan jika aku bertanya dan satu lagi, kenapa kamu selalu membuatku ingin mengurungmu saat kamu jauh jika setiap kali mau kekamar mandi kamu selalu polos begitu" kesal Langit, Zivannya sudah tertidur dengan lelap dan membiarkan Langit berbicara seorang diri disambungan video mereka. Langit tertawa masam melihat kekasihnya sudah tidak bergerak lagi. "aissshhh... anak ini, kalo udah periodenya selalu hibernasi. nggak tau apa kekasihnya nggak bisa tidur kalo lihat dia begitu tadi" usap rambut Langit kesal.
"udah tau jauh, pasti berbuat begitu, kalo pas dekat nggak ada adegan kayak gitu. kebiasaan anak ini kalo sendirian selalu berbuat seenaknya" kesal Langit menatap Zivannya dan ikutan tidur.
seminggu lebih berlalu
"udah ada yang ngambil bund, Langit sudah siap sedia untuk mengambil dan mengantar berkasnya" minum ayah. "lha anak itu nggak dinas apa" kata bunda. "dinas bund, tapi kalo untuk urusan ini dia gerak cepat" kata ayah, bunda tersenyum menatap ayah. "kak Mentari mau pindahan lho yah, kita nggak ikut kesana" tanya Zivannya menatap bunda. "ikut lah dek, makanya ayah nih kita pulang siang nanti aja mumpung ini masih pagi" kata bunda. Zivannya berhenti bermain game dan menyerahkan ponsel ayah kembali, "Zi, pesenin tiketnya ya bund" ambil ponsel Zivannya. "eits... bentar dek" tahan bunda. "kenapa bund" kerut Zivannya menatap bundanya. "pake ponsel ayah, biar ayah yang mengeluarkan uang. depositnya banyak. nggak berkurang" isyarat bunda. "sama aja bund" geleng Zivannya, bunda menggeleng. Zivannya meletakkan ponselnya kembali dan meraih ponsel ayahnya.
__ADS_1
"nyari yang berangkat jam berapa bund" perlihatkan Zivannya kearah bundanya agar dapat melihat waktu keberangkatan pesawat "jam 4 ini aja dek" tunjuk bunda, Zivannya mengulang permintaan bunda yang mengangguk mengiyakan, Zivannya segera memesan tiket secara online setelah melakukan beberapa proses pembelian. "dah bund, Zi beres-beres dulu dan mandi biar nggak buru-buru. ini udah jam 10" anjak Zivannya masuk kedalam kamar. "yang mau ketemu kekasihnya, semangat" seru ayah, Zivannya tertawa dan melambaikan tangannya mendengar godaan ayahnya. "yah, berapa lama lagi mereka bisa sidang" tanya bunda, sebenarnya dua minggu lagi udah bisa sidang bund, makanya Langit segera mengurusnya. jika Zivannya pulang nanti. dia harus segera melakukan pengambilan moments resmi dengan Langit dan sidang" jawab ayah. bunda mengangguk, "berarti bunda harus memberitahu ibu Langit untuk segera meminta Zivannya kan, bunda juga harus memberi tahu EO yang akan mengurusnya, sekalian nanti bunda nanya sama kak Mentari dan kak Val buat ngosongin jadwal" atur bunda.
"oh ya yah, minggu ini acara lamarannya aja ya.. biar abang dan kakak masih di rumah, kalo kak Dirgantara biar menyesuaikan jadwal kita aja, lebih dekat jaraknya" kata bunda. ayah menganggukkan kepalanya. "ayah ngikut bunda aja gimana baiknya" kata ayah. bunda tersenyum dan memberi tanda finger heart. "jangan lupa hubungi Langit untuk jemput kita dan beritahu lamarannya minggu ini. jangan sampai adek tau dulu" ingatkan bunda sebelum beranjak kedalam, "siap" raih ponsel ayah menghubungi Langit.
"bawaannya kenapa jadi banyak gini ya bund" kata Zivannya melihat beberapa tas yang berjejer. Rara tertawa lebar "bunda mau buka butik Zi, nanti kita yang beli" kata Rara. bunda mengetuk kening Rara dengan ponselnya pelan. "oleh-oleh buat semuanya. tidak ada yang ketinggalan" kata bunda. "jangan lupa, semuanya dibawa" ingatkan bunda sebelum keluar rumah untuk masuk kedalam mobil Rara. "ibu negara kalo memberi mandat benar-benar beda ya Zi, auranya itu lho" pandang Rara, Zivannya nyengir mengangkut semua bawaan bundanya. "baju aja sampai se tas gede gini" masukin Zivannya kedalam bagasi mobil. "bund, itu nanti buat dibagiin gitu" tanya Zivannya masuk menoleh kebelakang, bunda mengangguk. Rara melajukan mobilnya dengan pelan, "ati-ati Ra, jam segini padat banget jalannya" ingatkan ayah. "siap yah" angguk Rara. "sampai ketemu lagi Ra, makasih banyak udah selalu menemaniku" peluk Zivannya erat, "sama-sama Zi, makasih sudah memberi support buatku. aku wisuda datang yaa.... jangan lupa" senyum Rara "siap" hormat Zivannya nyengir. Rara mencium punggung tangan kedua orang tua Zivannya. "Ra, minggu depan datang ke rumah Jakarta, Dimas jika bisa pulang minta ke Jakarta juga ya, ada acara dirumah" bisik bunda setelah Zivannya menjauh. Rara melebarkan matanya menatap bunda memastikan apa yang dikatakan bunda Zivannya. bunda mengangguk dan tersenyum, "adek belum tau apa-apa, jadi biarkan tetap rahasia ya" tepuk bahu bunda pelan, Rara mengangguk mantap mengerti. bunda tertawa melambaikan tangan untuk segera menyusul suaminya dan istri dari anaknya yang sudah lebih dulu pergi meninggalkan mereka. bunda menghela nafasnya menatap dua orang yang selalu menemani hari-hari nya belakangan ini, sosok gadis yang tidak pernah berkata tidak kepadanya, menghormati apapun yang diberikan dan diputuskan oleh nya dan suaminya. Zivannya menoleh dan tersenyum menanti bundanya untuk mendekat dan melambaikan tangan ke arah Rara yang masih berdiri melepas kepergian mereka bertiga. bunda mengelus punggung Zivannya saat sudah dekat berjalan bertiga untuk segera terbang pulang ke Jakarta.
hai.... hai ... hai.... all readers, terimakasih banyak sudah mendukung karyaku, terima kasih.
luv..... luv ... luv... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya
__ADS_1
stay healthy all