
Zivannya sesekali mengerang kesakitan saat merasakan pinggangnya yang terasa panas, ia mengusap perutnya dan sesekali menghembuskan nafas untuk meredakan nyeri yang teramat sangat.
para petugas klinik segera membantu Zivannya untuk proses melahirkan kedua baby nya, "yang, aku disini. kamu pasti bisa" kecup kening Langit memberi kekuatan kepada istrinya.
Zivannya menatap suaminya mengangguk perlahan sembari mengatur nafas melalui mulut, semakin lama rasa panas yang menjalar di pinggang semakin sering, ia mengerang sambil mencengkeram bahu langit yang mengusap punggungnya untuk meredakan rasa panas.
"yang, kamu adalah perempuan hebat yang mau membawa baby kita dan merasakan rasa sakit yang belum tentu aku sanggup untuk menahannya" bisik Langit ditelinga Zivannya pelan, Zivannya semakin mencengkeram kedua lengan Langit seakan-akan tangan Langit adalah samsak untuk bertinju, Langit meringis pelan menahan cengkeraman tangan istrinya yang terlalu erat.
petugas medis segera mengecek keadaan Zivannya apakah segera akan mengeluarkan babynya.
Petugas medis memberikan instruksi dan aba-aba agar Zivannya mengikuti arahannya, Zivannya mengangguk pelan setelahnya namun tidak melepaskan cengkeraman tangannya.
"tarik nafas bu, hembuskan lewat mulut, saya beri aba-aba untuk mengejan ya bu" senyum dokter Annisa yang menangani persalinannya ini, Zivannya memandang dokter dan segera mengikuti arahan dari nya tanpa kata, tidak lama terdengar suara tangisan yang kencang saat baby pertamanya lahir, dokter segera menyerahkan kepada perawat yang berada didekatnya untuk segera dilakukan penanganan dan ia kembali melakukan pertolongan untuk membantu persalinan Zivannya yang kedua. selang beberapa menit baby Zivannya dan Langit menyusul saudaranya untuk menghirup udara luar, ia juga menangis sangat kencang tanda mereka sangat senang telah keluar menatap dunia luar. Zivannya mengatur nafasnya yang tersengal-sengal setelah kedua baby nya terlihat baik-baik saja, Langit mengecup kening istrinya berulang kali membisikkan kata-kata yang menenangkan Zivannya, para perawat meletakkan kedua bayinya didada Zivannya untuk mencari sumber air minum pertamanya. Zivannya tertawa dan menangis melihat kedua baby nya bergerak mencari asupan minum. Langit menitikkan air mata melihat ketiga orang yang dicintainya berkumpul lengkap.
"terimakasih Tuhan telah memberi hamba anugerah terindah yang tiada terkira. terimakasih, yang. sudah memberi kebahagian didalam keluarga kita" tatap Langit mengusap air yang jatuh dari sudut matanya, Zivannya tersenyum lebar menatap Langit.
"terimakasih, by. selalu menjadi imam yang baik dan tidak tergantikan" kata Zivannya, Langit tersenyum mengecup kening Zivannya lama.
dokter Annisa terlihat sibuk membersihkan dan merawat bagian bawah tubuh Zivannya dibantu oleh para perawat yang sedang bertugas.
Zivannya dibawa kedalam ruangan rawat setelah proses melahirkan selesai, kedua baby masih dalam perawatan sebelum dibawa kedalam ruang inap pasien tempat Zivannya sekarang berada.
"by, tidak berangkat" tanya Zivannya menatap Langit yang menemaninya dari tadi.
"nanti, yang. aku ijin untuk menemanimu disini" kata Langit menyodorkan air mineral ke mulut istrinya, Zivannya segera menyeruput hingga hampir habis. Langit memberikan potongan buah segar kepada Zivannya yang terlihat kelaparan.
"apa mau makan berat, yang" tatap Langit mengusap kepala Zivannya, istrinya itu menggeleng dan memejamkan matanya karena terlalu lelah setelah berjuang membiarkan kedua babynya menghirup udara diluar setelah membawanya lebih dari 8 bulan.
"by, aku ingin tidur sebentar. lihat dulu kedua baby, mereka butuh ayahnya sekarang" usap punggung tangan Zivannya seraya menutup matanya yang terasa berat. Langit mengangguk dan segera memberikan kecupan di kening istrinya itu sebelum beranjak dari tempat duduknya untuk menemui kedua buah hati mereka yang sudah ditunggu-tunggu lebih dari 8 bulan.
bunda dan ayah serta Mentari terlihat tertawa bahagia melihat kedua anak Langit dan Zivannya dari kaca besar dimana bayi-bayi diletakkan didalam ruangan khusus bayi. Langit mendekat kearah mereka dan menepuk pundak ayah pelan.
__ADS_1
"yah, mau menemani kedalam menyuarakan kebesaran Tuhan ditelinga keduanya" senyum Langit. ayah terlihat tertegun sesaat mendengar perkataan Langit yang tiba-tiba. bunda mengusap punggung ayah pelan.
"temani anak laki-laki terakhirmu yah, dia membutuhkan ayahnya berada disampingnya menemani menemui anak-anak nya untuk pertama kali" ujar bunda, ayah terlihat bergetar pelan dan menganggukkan kepalanya sesaat kemudian.
"terimakasih nak" peluk ayah menepuk kedua bahu Langit tidak bisa berkata apa-apa lagi. Langit tersenyum lebar segera melangkah masuk setelah perawat jaga memberikan ijin kepada mereka berdua untuk melakukan kewajibannya terhadap kedua bayi mereka.
suara keduanya bergetar ketika mengumandangkan kebesaran nama Tuhan ditelinga masing-masing baby, mereka berganti baby setelah mengumandangkan kebesaran Tuhan ditelinga kanan.
"terimakasih Lang, telah membuat ayah dan bunda memiliki cucu-cucu yang kami nantikan lama setelah kakakmu Dirgantara dan Valerie memiliki Raka dan Riki" tatap ayah berkaca-kaca, Langit tersenyum lebar mengangguk memeluk ayah erat.
"terimakasih yah, selalu mencurahkan kasih sayang kepada keluarga kecil Langit. Langit akan selalu menjaga mereka" kata Langit tegas. ayah menepuk punggung badan Langit pelan.
"tentu, mereka bertiga adalah tanggung jawab mu sepenuhnya. baik dan buruk keadaan mereka adalah tangung jawabmu. bahagiakan mereka selalu" angguk ayah, Langit mencium punggung tangan ayah.
bunda memeluk Langit setelah mereka keluar dari ruangan bayi, "terimakasih telah membahagiakan kami lagi nak, terimakasih telah memberikan cucu perempuan yang lama kami nantikan" ucap bunda tersenyum bahagia. Langit memeluk perempuan yang telah memasuki usia lebih dari separuh abad itu erat, perempuan yang tidak terikat darah dengan dirinya dan juga Zivannya tapi memberikan kasih sayang yang sama seperti ibu nya, perempuan yang memberikan makna sebuah keluarga, perempuan yang tidak membedakan mana anak kandung yang dilahirkannya dengan anak menantu yang datang setelah putra mereka pergi selama-lamanya.
"terimakasih bund, telah memberi kami kasih sayang yang sama dengan kak Dirgantara dan kak Mentari. Langit dan Zivannya juga akan selalu berbakti kepada ayah dan bunda sampai akhir hayat kami" kata Langit bergetar hebat didalam pelukan bunda. bunda menangis dalam diam, mengusap dengan lembut punggung tangan putra bungsunya itu lembut.
"kamu dan adek adalah anak bunda dan ayah juga. kalian adalah keluarga Triastomo. tidak akan ada yang merubah itu sampai kapanpun" Isak bunda tidak bisa menahan kesedihan dan juga kegembiraan secara bersamaan itu.
"aish, lupa mengabari kakak" ingat Langit sesaat melihat Mentari.
"sudah, jika tidak bunda yang akan menghubunginya sendiri jika anak perempuannya ini lupa melaksanakan perintahnya" sungut Mentari, ayah dan Langit tertawa pelan melihat kelakuan Mentari jika tidak mematuhi perintah bunda.
"ya iya, jika kakak nggak dikabari yang ada malah gantian yang marah-marah sama bunda" tawa bunda melihat kedua cucunya yang masih didalam ruangan bayi.
"oh ya, Lang. apakah kalian berdua sudah memberi nama mereka berdua si ganteng dan si cantik" tanya Mentari. Langit menganggukkan kepalanya.
"sudah kak, nanti jika kita akan memotong rambut kedua baby itu, Langit akan mengatakan namanya. Zivannya saja belum tahu nama mereka berdua, karena kemarin kami belum menemukan nama yang sesuai dengan mereka berdua" angguk Langit tersenyum lebar.
"ealah, main rahasia segala tho Lang, ngomong-ngomong ibu di Malang sudah diberitahu belum. jangan kelupaan" ingatkan bunda menatap Langit, Langit kembali menepuk keningnya yang terlupa soal itu.
__ADS_1
"iya bund, Langit benar-benar lupa" jawab Langit sedikit menjauh dari mereka bertiga. ayah tertawa pelan berjalan sambil meraih kedua bahu perempuan yang disayanginya itu.
"kita lihat keadaan adek setelah berjuang mengeluarkan dua krucil kecil tadi. dia pasti kelaparan sekarang" kata ayah.
"iya, yah. tadi Mentari sudah membelikan beberapa makanan dan buah untuk adek di ruangannya. pasti dia lapar setelah terkuras tenaganya tadi" jawab Mentari memeluk pinggang ayahnya dari samping. bunda tersenyum melihat kebahagiaan keluarganya yang terlihat sederhana.
"berarti ayah dan bunda lama nggak bisa keluar jalan-jalan nih karena ada si kembar sekarang" senyum-senyum Mentari menggoda ayah dan bunda nya itu.
"dirumah dulu aja sambil istirahat ya yah, ngumpul bareng Raka dan Riki juga. pasti mereka merengek segera minta kesini" senyum lebar bunda membayangkan ekspresi kedua cucunya yang sudah bersekolah itu, Mentari tertawa kecil.
"pasti si cantik akan menjadi rebutan banyak orang dirumah nanti" kata Mentari, ayah dan bunda tertawa pelan mendengarnya.
Zivannya masih tidur ketika ketiga keluarganya itu masuk.
"yah, adek malah tidur" buka pintu Mentari pelan takut mengganggu istirahat Zivannya yang pastinya kelelahan.
bunda menyentuh dahi Zivannya pelan, "nggak papa. dia kecapekan jadi biarkan dia istirahat dulu" angguk bunda. Mentari duduk di sofa sambil membuka makanan yang tadi di belinya, "abang bentar lagi sampai sini yah" kata Mentari melihat notifikasi dari ponselnya.
"iya, ingatkan untuk hati-hati dijalan" angguk ayah mengusap rambut Mentari. "siap" ketik Mentari di ponselnya.
tak berapa lama Langit masuk kedalam rawat inap Zivannya, "pasti dia akan lama bund, tidurnya" kata Langit duduk disisi bed pasien milik Zivannya.
"biar saja, nanti dia juga akan sulit untuk memejamkan mata jika kedua baby nya membutuhkan dirinya" senyum bunda. Langit menatap Zivannya lekat. "apa kita sewa seseorang untuk membantu keperluan kedua baby, bund" tanya Langit beralih menatap bunda.
"kita tunggu beberapa minggu, jika memang membutuhkan jasa mereka bunda yang akan mencarikan, takut terjadi apa-apa jika kita tidak mengetahui latar belakang mereka sebelum bekerja" angguk bunda.
"baiklah bund, Langit tidak mau nanti bunda dan Zi kelelahan mengurus mereka seharian jika tidak ada yang membantu. mbok dan mbak Marni sudah terlalu repot mengurus rumah, kak Mentari juga harus mengurus abang jika pergi dinas keluar" senyum Langit. ayah mengangguk membenarkan perkataan putranya itu.
"baiklah, nanti sembari menjaga mereka bunda akan mencari rekomendasi yang baik untuk penjaga mereka agar tidak ada kejadian buruk dibelakang" senyum bunda mengerti. Langit mengangguk mengusap rambut Zivannya yang tertidur dengan lelap.
hai.... hai.... hai... all readers. terimakasih telah berkunjung ke karyaku ini.
__ADS_1
Luv.... Luv... luv... U all readers sekebon pisang goreng.
stay healthy all