
Dirgantara masuk menyalami kedua orang tuanya dan memeluk mereka erat. "sehat kan yah, bund" senyum Dirgantara. "terimakasih atas karunia Tuhan kak, kamu tambah ganteng aja kak" elus punggung bunda.
"itu turunan dari ayah kan, bund. masak nggak kliatan sih" kata ayah melihat dirinya, mereka tertawa. "iya, bunda tau. kalo yang baik punya ayah. kalo yang jelek itu hanya khilaf aja" senyum bunda, ayah tertawa memeluk istrinya dan mengecup keningnya. "bunda yang melahirkan dan mengasuh mereka sejak kecil, jadi apalah mereka tanpa bunda, ayah hanya penyumbang biar mereka ada" kata ayah. bunda memukul bahu ayah pelan. "Ujung-ujungnya tetap membanggakan diri sendiri" senyum bunda. mereka tertawa lebar bersama.
mentari memeluk kakak laki-laki satu-satunya. "sehat kak" senyum Mentari. "sehat dek" senyum Dirgantara mengusap punggung Mentari. Zivannya duduk mengambil minum, Valerie datang menaruh minuman dimeja untuk Dirgantara dan meletakkan sepatu dirgantara ke tempatnya.
"kembali ke Surabaya lagi. rutenya Jogja, Surabaya, Jakarta" Hela nafas Mentari. "kak Val, kapan kita akan memulai perawatan" tanya mentari menatap Valerie, "bisakah jika dua hari lagi kak, I'm still on my period" senyum Zivannya, "it's Ok dek" angguk Valerie. "nanti aku bicarakan dulu dengan bang Matahari jika bisa menambah jadwal liburan lagi" senyum Mentari.
"abang kesini sehabis jaga sekitar jam 6 sore, sehabis itu baru kesini. jadi sekitar jam 8 sampai sini" kata Mentari. dirgantara mengangguk, "bukannya Arka tadi kesini ya, jemput kalian pulang" tanya Dirgantara sebelum masuk kedalam. "pamit keluar sebentar menggunakan motor yang biasa Zi pake, tadi Zi keluar mau lihat motor itu" kata Valerie.
Langit menoleh, "yang, mau bersih-bersih dulu" kata langit pelan, Zivannya mengangguk dan membawa Langit menuju kedalam. membuka kopernya dan mengeluarkan joger dan t-shirt milik Langit. "ini kak, terimakasih sudah meminjamkannya kemarin saat Zivannya hanya tidur saja" serahkan Zivannya, "kamu nggak mau make lagi" tanya Langit mengambil dari tangan Zivannya.
"masih kak, kemarin masih aku pake, nanti kita beli yang baru aja" kata Zivannya. Langit tersenyum mengangguk. meraih ranselnya mengeluarkan handuknya, menuju kamar mandi. Zivannya melihat Raka yang tertidur karena kelelahan bersama Riki disampingnya. Zivannya mengelus kepala kedua keponakan Aga dan mencium ubun-ubun kepala keduanya sebelum keluar dari kamar mereka pelan-pelan. Valerie yang melihatnya tersenyum lebar. "makasih dek, selalu perhatian pada mereka" kata Valerie. "ishhh.... apaan sih kak. mereka selalu manis dan menggemaskan, jadi selalu kangen kalo jauh" senyum Zivannya, Valerie tertawa.
"hubungi Arka kak, jangan-jangan nanti dia beli makan malam lagi, alamat nggak bisa makan diluar nih" kata Zivannya, Valerie mengangguk.
"mau keluar kemana dek" berhenti bunda didekat mereka, Zivannya nyengir melihat bundanya, "rendevous malam bund, menikmati malam" jawab Zivannya. "kamu nggak capek apa dek, baru pulang dari magang kan" tanya bunda.
"nggak bund, masih semangat kalo buat riding mah" perlihatkan otot tangan Zivannya. bunda memukul bahu Zivannya pelan. "aishh... mana ada otot ditubuh kerempeng gini" pencet lengan bunda, Zivannya tertawa memeluk bundanya.
"nyari cowok buat diseleksi ayah bund, jadi harus keluar cari pemandangan" kata Zivannya tepat saat Langit keluar kamar mandi. "mau apa" tanya Langit tanpa ekspresi, Zivannya nyengir dan berdiri dibelakang bunda. "mau nyari angin dan cowok buat diseleksi ayah" kata Zivannya menyembunyikan mukanya dipunggung bunda.
__ADS_1
Langit berdiri didepan bunda setelah secara diam-diam bunda bergeser kesamping dan pergi dengan senyuman. "katakan dengan jelas" ketuk kening Langit, Zivannya membuka kedua tangannya dan nyengir melihat Langit berdiri dengan tegak didepannya. "kamu ikutan nyari juga kak, mau barengan aku nyarinya" ancang-ancang Zivannya untuk lari dari hadapan Langit. Langit segera memegang kedua bahu Zivannya. "ngomong sekali lagi dengan benar" kata Langit. "nggak, hanya ingin menikmati malam aja, sudah lama tidak menghirup udara malam dikota lain" geleng Zivannya, Langit mengusap kepala Zivannya. "kamu udah janji padaku, yang. nggak akan melirik cowok lain. kasih Arka penjelasan sebelum dia memiliki harapannya" kata Langit lembut. Zhivannya mengangguk, "tentu, aku sadar diri jika aku seorang yang pernah menikah dan ditinggal pergi selamanya. jadi siapapun yang mendekatiku pasti harus tahu statusku" senyum Zivannya. Langit menghela nafasnya, "bukan itu maksudku, kamu tau apa yang aku maksud bukan" gelengkan kepala Langit kekanan dan kekiri. Zivannya tertawa, "tentu kak, aku tau" kata Zivannya.
terdengar suara motor masuk kedalam garasi, mereka keluar menuju teras.
"waahhh... ada martabak nih, hangat-hangat pasti enak" senyum ayah. "kayaknya udah ada yang gerak cepat nih yah, bawain martabak calon mertua" goda mentari, Arka tersenyum lebar. Zivannya tertawa mengambil martabak asin yang masih hangat. "tau gitu tadi aku ikut ka, biar bisa pilih lainnya" senyum Zivannya.
"aahhh.... besuk kita keluar lagi kalo gitu" kata Arka, mereka senyum-senyum melirik Langit yang terlihat biasa saja. "ok" angguk Zhivannya tersenyum.
"nanti malam berapa motor yang keluar" tanya Dirgantara tiba-tiba dari dalam dan duduk disamping bunda. "aku pasti kak" angkat tangan Zivannya. "pertanyaaannya kamu sama siapa" makan martabak asin Dirgantara. "sendiri lah kak, motornya kan buat single aja. enakan sendiri, daripada berdua saling menyakiti" kata Zhivannya, Dirgantara ber hi-five dengan Zivannya tertawa.
"ma, mau ikut nggak" tanya Dirgantara. Valerie memberi tanda iya dengan jarinya. "ishhh kamu mah, nggak mungkin nggak ikut. sebelas dua belas dengan adek" senyum Dirgantara mengelus kepala istrinya.
"adek pake motor biasanya" kata Mentari.
"jika butuh motor, bisa pinjam dengan bang Doni, ndan" kata Arka. "aahhh iya, dia punya dua trail kan" kata Dirgantara, Arka mengangguk.
"aku pake motor biasa aja" kata Langit menutup ponselnya. Zivannya menoleh, "ikut juga kak" tanya Zivannya. Langit mengangguk. "Arka kamu ikut juga nggak" tanya Dirgantara.
"tidak Ndan. ijin besuk jaga" kata Arka. dirgantara mengangguk.
"baiklah, berarti hanya pinjam satu kendaraan dari Doni. untuk Abang dan Mentari" kata Dirgantara. "yah, kita nggak usah malam ini keluarnya, kan masih lama disini. biar anak muda aja yang keluar menikmati Sabtu malam" elus punggung bunda. ayah menghela nafasnya berat. "baiklah, biar mentari yang pake motor nya" angguk ayah meraih martabak manis, "kita nunggu abang datang" angguk Mentari. Zivannya menyandarkan kepalanya kebahu kursi. "kenapa" tanya Langit pelan. "pingin tidur sebentar" pejam mata Zivannya. "tidur diruang tengah aja, yang. aku temenin sambil liat TV" Langit beranjak dari duduknya, meraih bahu Zivannya mendorongnya jalan. "Zi mau tidur sebentar bund, aku temenin diruang tengah" pamit Langit. bunda mengangguk. "langsung tidur nanti kalo ketemu bantal" celutuk mentari. "iya, kakak penasaran kemarin dia magang. tidur terus nggak ya, kan pejam mata bentar udah ke alam mimpi" senyum Valerie mengangguk "kalian lupa, dia berhari hari tidak bisa memejamkan mata dengan benar sejak kepergian adek" hembus nafas bunda.
__ADS_1
"ayah juga nggak mau melihatnya seperti dulu, hanya melamun dan menatap kedepan dengan pandangan kosong, menakutkan untuk membiarkan dia sendiri. lha kalo pas riding dia begitu gimana, kan ayah jadi nggak boleh riding nanti sama bunda jika adek kenapa-kenapa" kata ayah. mentari tertawa, "ishhh ayah, ujungnya pasti balik ke kesukaan ayah lagi" sungut dirgantara.
"lha iyalah kak.... mumpung ada alasan nemenin Zi naik motor" tawa ayah.
"sepeninggal Aga, Zi adalah tanggung jawab ayah dan bunda sepenuhnya, apalagi mamanya juga sudah tidak ada, ayah nggak mau melihat Zivannya dititik itu lagi. hati ayah nggak tega lho kak lihat dia seperti itu. dimatanya hanya melihat ayah dan bunda aja, untungnya ada Dimas dan Rara bisa menjaganya saat kita nggak ada. kehilangan dua orang dalam jangka waktu yang tidak lama menimbulkan luka hati yang dalam" hembus nafas Ayah. Arka terdiam mendengar cerita barusan.
"Zivannya adalah istri dari anak bungsu kami Bagaskara Triastomo nak Arka, sebenarnya dia adalah menantu kami seperti Valerie. namun kami tidak pernah menganggap menantu kami sebagai orang lain. mereka anak kami juga, bagian dari keluarga Triastomo selamanya. Bagaskara meninggalkan Zivannya saat bertugas di perbatasan hampir setahun ini. jadi ini tahun yang berat untuk Zivannya kehilangan suaminya dan mamanya dalam jangka waktu yang lama" senyum bunda.
"kami memang ingin putri kami, Zivannya memulai kehidupan barunya dengan laki-laki yang mau menyayanginya dengan statusnya, karena itu kenyataannya. kami berusaha untuk tidak menutupi hal itu. toh itu bukan hal yang diharapkan oleh semua orang, dengan usia yang masih muda dia berhak untuk menentukan kebahagiaannya lagi" kata bunda. "siapapun yang ingin mengenal serius putri kami, pasti akan kami terima dengan terbuka. asalkan dia sudah memberitahu keluarganya mengenai keadaan Zivannya yang sebenarnya. kami tidak berharap laki-laki yang ingin mengenal anak kami tidak memberitahu keluarganya dulu, bagaimanapun keluarga adalah yang utama. bukan begitu nak Arka" senyum bunda. "siap ibu, benar" angguk Arka.
"nak Langit adalah salah satu yang menginginkan serius dengan Zivannya, dia juga sudah tahu keadaan Zivannya dan sudah memberitahu keluarganya juga mengenai kondisi Zivannya. tidak hanya dia saja sih sebenarnya, ada teman baik Zi yang juga menunggunya, teman kuliah dan kerjanya, bahkan dosen muda Zivannya juga menginginkan untuk memiliki putri kami, kami hanya minta untuk memberitahu keadaan Zivannya terlebih dahulu kepada keluarganya, ayah dan ibunya terutama. karena restu terletak didoa mereka. baru jika keluarga memberikan restu untuk maju, maka lakukanlah untuk mendekati Zivannya" senyum bunda. Arka mengangguk mengerti.
"nak Arka, beli martabaknya dimana. perasaan kalo kesini jarang dibeliin Dirgantara" tanya ayah. "siap jenderal, didepan komplek" senyum Arka. "ayah, kan kalo kesini selalu kulineran. makan apa aja saat jalan" minum Dirgantara, ayah tersenyum mengangguk. "kapan -kapan ijin mengajak Zivannya untuk keluar jalan-jalan jenderal dan komandan" ijin Arka tegas.
"tentu nak Arka, asalkan Zivannya mau" senyum ayah. Arka mengangguk dan tersenyum.
hai...hai..hai... all readers terimakasih atas dukungannya selama ini. dukung terus karyaku ya biar tambah semangat selalu update terus.
luv....luv...luv U all readers sekebon pisang goreng. tetap semangat jalani hidup dengan bahagia dan senang .
terimakasih banyak atas dukungannya selama ini....
__ADS_1