
"bentar lagi, nggak disuruh juga udah mau mandi" kata Zivannya mengerucutkan mulutnya.
"ishh... anak ini lama-lama aku makan itu bibir" geram Aga. Zivannya menjulurkan lidahnya seraya berlari dari duduknya menuju kamar.
"Zivannya" seru Aga, Zivannya tertawa mengejek, membuat Aga semakin kesal. Zivannya segera membersihkan badan yang lengket karena keringat saat berlari tadi. membungkus badan dan rambut dengan bathrobe yang ada didalam kamar mandi, keluar menuju walk closet Aga untuk mengambil baju yang sudah disiapkan Aga sebelumnya.
"aishhh... laki-laki satu itu memang niat banget, sepatu baju semuanya udah lengkap" dengus Zivannya menatap beberapa pakaian untuknya. Zivannya mengambil rok tutu panjang berwarna hitam dan kemeja kuning soft yang sedikit digulung.
"kenapa kamu tambah cantik gitu sih Zi, pake pakaian cewek semakin mempesona tau nggak" pandang Aga bersandar dipintu sambil melipat kedua tangan didepan dadanya.
"yang ada didalam kebanyakan pakaian cewek kak, jika boleh sih lebih nyaman pake kemeja, t-shirt dan jeans aja" jalan Zivannya mendekati Aga.
"kenapa, kan kakak juga yang beli, menyesal melihatku seperti ini. lebih nyaman melihatku dengan pakaian biasa atau harus seperti wanita lainnya" goda Zivannya mengusap pipi Aga. Aga tersenyum mengecup tangan Zivannya yang berada di pipinya.
"aku mencintai apapun dirimu Zi, senyaman dirimu aja mau pake apapun. kamu selalu terlihat cantik dimataku" jawab Aga. Zivannya tersenyum berlalu keluar dari kamar.
"cepetan kak, aku sangat lapar" kata Zivannya. Aga segera melesat masuk kamar mandi. Zivannya membuka ponselnya untuk mengecek pesan yang masuk selama dimatikan dari tadi malam.
"dah Zi, yuk kita sarapan" kata Aga. Zivannya menoleh dan segera memakai sneakers nya untuk keluar rumah.
"makan dekat sini aja kak, keburu laper" jalan Zivannya mendahului Aga.
"iya, sekalian keluar aja daripada bolak balik. kamu udah bawa ponselmu kan" tanya Aga mengingatkan. Zivannya memperlihatkan ponsel yang sedang dipakainya.
"chat sama siapa" tanya Aga melihat Zivannya yang terlihat serius mengetik sesuatu diponselnya.
"mama" jawab Zivannya tanpa mengalihkan pandangannya pada layar ponselnya. Aga mengangguk, meraih pundak Zivannya untuk menuntunnya pergi.
"ya ma..." sapa Zivannya.
"lagi dimana kak" sapa mama Zivannya.
"lagi mau keluar ma, cari makan" jawab Zivannya.
"oohhh... ok, kak bisa nggak pulang segera, tiga hari lagi sampai rumah. ada acara penting dirumah" tanya mama hati-hati.
"acara apa ma. kenapa dari kemarin nggak bilang sih. kok mendadak gini, nanti malam Zi usahain berangkat naik travel biar turun didepan rumah" kata Zivannya kaget.
"waktunya masih keburu kak, masih ada tiga hari juga, nggak papa. kamu udah ngajuin cuti kan" tanya mama Zivannya.
"he em. dari kemarin udah libur. tapi seharian nggak bisa bangun ma, terlalu capek" angguk Zivannya tanpa sadar. Aga tersenyum melihat tingkah Zhivannya yang menggemaskan.
"acaranya sore hari, nenek papa datang juga. udah sampai rumah berarti Zivannya yang terakhir pulang" tanya Zivannya tanpa memperdulikan Aga.
"nggak, masih ada yang lain juga belum sampai. mama tunggu kamu pulang ya kak. nanti akan mama ceritakan semua" kata mama Zivannya.
"isshhh kenapa nggak cerita sekarang aja sih ma. ada acara apa, kenapa semua disuruh pulang. apa mungkin acara pernikahan kak Aisya yang tahun kemarin sudah dibicarakan dengan keluarga" tanya Zivannya.
"udah ah kak, kamu bikin pusing mama dengan pertanyaan mu yang nggak ada abisnya, mama tunggu besuk" tutup mama Zivannya.
"main tutup aja si mama, nggak bisa liat anak satu-satunya gosip dikit" gerutu Zivannya menatap layar ponselnya yang sudah redup. Aga segera menarik jemari Zivannya naik ke dalam mobil.
__ADS_1
"pakaikan kak, aku kesusahan" hembus nafas Zivannya tidak sanggup untuk lebih lama lagi memakai seat beltnya.
"mobil ini akhirnya sadar dan tau kalo istri pemiliknya naik" bisik Aga. Zivannya mengerucutkan bibirnya, Aga mengecup pelan bibir Zivannya dan segera menutup pintu mobil Zivannya sambil tertawa. Aga menjalankan mobil dengan pelan, Zivannya tersenyum lebar. Aga mengunci pintu pagar rumahnya setelah mobil keluar.
"kita makan disini aja Zi" berhenti Aga diparkiran sebuah restoran besar. "ini terlalu besar lho kak, makan ditempat kecil aja" pandang Zivannya tidak enak. Aga hanya diam dan membukakan seat belt Zivannya.
"ayo turun. jadi makan tidak, tadi kan udah bilang lapar" pandang Aga. Zivannya keluar dan menunggu Aga untuk masuk kedalam. mereka melangkah menuju sebuah gazebo yang terpisah dengan pengunjung lain, Zivannya melihat sekeliling yang tertata sederhana dan klasik.
"pagi jenderal" hormat Aga tersenyum lebar. Zivannya seketika terhenyak, berdiri mematung mendengar ucapan Aga yang tidak terduga dimana didepannya beberapa orang berkumpul dan bercengkrama dengan dua anak laki-laki yang usianya masih balita. Zivannya tidak mengira akan bertemu dengan keluarga besar Bagaskara jika dilihat dari pemandangan didepannya saat ini, dua orang yang sudah agak lanjut usia, dua pasangan muda dan dua anak kecil balita. persis seperti yang digambarkan Aga tadi malam saat mereka makan mie rebus.
jenderal itu tertawa lebar mendengar salam Aga yang sembrono. "anak nakal, tidak berubah lebih baik didepan calonnya. nggak ada jaim-jaimnya" peluk jenderal itu hangat. Zivannya hany berdiri tidak jauh dari keberadaan Aga.
"ah... anak bunda udah datang. kenapa tidak menghubungi kalo udah mau sampai" datang seorang wanita yang masih terlihat cantik diusia yang tidak terlalu tua menurut Zivannya. Aga memeluk bundanya erat dan mengecup kedua pipinya.
"lho ga, Zivannya kamu anggurin aja, anak nggak sopan nih" tepuk bunda Aga dipunggung Aga. Aga menoleh seketika ingat akan Zivannya yang tidak ada disampingnya, menghampiri Zivannya yang terlihat tidak enak mengganggu kebahagiaan keluarga Aga.
"nggak usah tegang gitu. ayah sama bundaku nggak mungkin akan menelanmu bulat-bulat, paling dipotong tipis-tipis dulu biar bisa dicincang" senyum Aga menggoda Zivannya yang terlihat pucat.
"ishh.. anak ini bikin jantungan anak gadis orang aja. jangan dihiraukan omongan Aga barusan Zi, bunda nggak akan sekejam itu, nggak tau kalo ayah. mau langsung pake pistol atau pedang aja" senyum bunda memeluk Zivannya yang terlihat shock. mereka tertawa lebar mendengar gurauan bunda Aga.
"kasihan menantu ayah jika pertama kali bertemu sudah dibuat pucat seperti ini" lihat Ayah mengusap kedua bahu Zivannya lembut. Zivannya tersenyum lebar melihat keluarga Aga yang ramah.
"jangan diambil hati ucapan kami Zi, karena jarang bertemu maka sekalinya bertemu kami akan seperti ini. selamat datang dikeluarga Triastomo" senyum seorang perempuan yang terlihat imut sambil menggendong seorang bocah laki-laki berumur 3 tahun. Zivannya membalas pelukan perempuan itu sambil mengelus pipi bocah 3 tahun yang menempel erat padanya.
"terimakasih kak, sudah menyambut hangat kedatanganku yang tiba-tiba" senyum Zivannya yang tak pernah hilang dari tadi.
"lho, apa adek nggak bilang jika hari ini akan bertemu dengan kami disini" datang seseorang yang lain. Zivannya menoleh dan melihat perempuan yang terlihat elegan.
"aishhh.... kalian ini, jangan meracuni pikiran Zivannya. aku sudah susah payah mendapatkannya. jangan membuat usahaku sia-sia" gerutu Aga tidak suka melihat kedua kakak perempuannya berusaha membuat Zivannya menjauhinya.
"itu kakak laki-laki ku bernama Dirgantara Triastomo, kakak iparku Valerie Triastomo. kakak Perempuanku Mentari Triastomo, kakak ipar laki-laki ku Matahari Pranajaya" perkenalkan Aga.
"anak tidak berbakti. Ayah bundanya tidak dikenalin dulu" pandang bunda.
"kan tadi udah kenal ayah Triastomo dan bunda Triastomo" kata Aga tersenyum.
"udah lah bund, biarin aja anak bungsumu. dia lupa bagaimana kemarin seperti orang gila kehilangan Zivannya yang tidak mau bertemu dengannya, kasihan Zivannya sudah lapar" lerai Ayah tidak sabar untuk memulai makan.
"ayah, kasihan Zi. dia tidak tahu betapa memalukannya Aga saat Zi menghilang" tawa lebar Dirgantara.
"seperti nggak ingat aja gimana dulu mendapatkan kak val, siapa yang pura-pura tersesat saat mengajak kak val" buka rahasia Aga.
Valerie menatap wajah suaminya tajam. "ooohh... jadi waktu itu kamu pura-pura pa, kamu modus juga ternyata" pandang Valerie. Aga dan Matahari tertawa ngakak melihat Dirgantara yang membujuk istrinya agar tidak ngambek.
"isshhh ketawamu paling keras bang, nggak sadar gimana dapetin kak Mentari" toleh Aga, Matahari tersedak makanannya. "cerita dek" senyum Mentari, melirik suaminya.
"nggak, yang. adek hanya bercanda, nggak ada yang aku sembunyiin" geleng Matahari cepat menatap mentari.
"dek" senyum Mentari yang terlihat mengerikan bagi Matahari, terlihat pasrah jika sudah melihat Mentari begitu. Dirgantara tersenyum lebar, "kami bertiga berkelahi dengan pacarmu yang brengsek itu" ucap dirgantara.
"apa" seru bunda, Valerie, mentari bersamaan. Zivannya hanya bisa membuka mulutnya tanpa bersuara, Aga menyentuh dagu Zivannya agar mulutnya segera menutup.
__ADS_1
"ya ampun pa, kenapa waktu itu nggak bilang sama aku sih pa, aku kira kamu abis latihan sama anak-anak lain. jadi aku nggak berani nanya macem-macem " lihat Valerie, Dirgantara tersenyum lebar memeluk istrinya.
"keren kan ma suamimu" naik turunkan alis Dirgantara. Valerie tertawa pelan mengarahkan ibu jarinya kearah suaminya.
"cool pa, keren" jawab Valerie.
"ishhh... anak ini, udah punya dua anak aja masih suka kelahi. nggak ingat punya anak apa, kalian berdua juga... kenapa nggak bilang bunda dulu sih, tau gitu Ayah juga bunda suruh ikutan kelahi. seru kan kalo tambah rame" pandang bunda. Zivannya menatap bunda Aga yang sebelas dua belas sama mamanya, suka ceplas-ceplos kalo ngomong.
"kenapa kalian sembrono sih, mereka kan ada banyak orang, jika kalian kenapa-kenapa gimana" pandang Mentari kesal melihat Matahari yang selalu bertindak sendirian.
"makanya cari pacar tuh jangan anak preman, udah tau nggak bener main pacaran aja" pandang Aga.
"iya, Mentari minta maaf udah nyusahin kalian bertiga, untungnya kalian menang dan selamat" angguk mentari.
"nggak marah kan, yang" pandang Matahari belum tenang, mentari mengangguk. "nggak yang, terimakasih sudah menjagaku sebelum aku mencintaimu" genggam tangan mentari. Matahari tersenyum ceria.
"Raka mau makan apa dulu" tanya Ayah Aga kepada bocah umur 4 tahun disampingnya. Zivannya melihat Raka yang terlihat imut seperti mamanya.
"boleh bawa pulang Raka nggak kak val" tanya Zivannya tanpa sadar. mereka memandang Zivannya yang terlihat polos dan tertawa pada akhirnya.
"kamu aja yang nginep kerumah Zi, kalo ngumpul begini rumah rame, asik" senyum Mentari, Zivannya menggeleng dan tersenyum.
"kapan-kapan aja kak, nanti malam harus pulang kerumah. mama ada acara dirumah tiga hari lagi" jawab Zivannya.
"acara apaan" senyum bunda Aga.
"belum tau tante, mama sama sekali nggak ngasih tau. mungkin acara pernikahan kakak sepupu dari pihak papa. sudah satu tahun yang lalu acara lamarannya. mungkin nikahnya bulan ini" jawab Zivannya.
"oh gitu... kita diundang nggak nanti dek" goda dirgantara. "tentu kak, jika nanti sudah fix hari H nya akan Zi kabari" angguk Zivannya. Aga tersedak oleh minumannya.
"kenapa kak" tepuk punggung Zivannya pelan. "emang dek Aga nggak diajak dek" tanya Mentari melirik Aga.
"nggak kak, belum ijin sama mama jika ada kak Aga" geleng Zivannya pelan.
"kenapa, dek Aga suka maksa kan" tanya mentari memukul bahu Aga pelan.
"iya kak, pake banget. kadang sampai nggak bisa ngomong apa-apa" angguk Zivannya, Ayah tertawa.
"padahal banyak yang naksir dia lho" kata Valerie, Zivannya mengangguk mengiyakan.
"nah, itu dia kak, Zi udah bilang untuk cari yang lain aja"kata Zivannya.
hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..
selamat menikmati cerita kedua kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.
ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...
dukung yaaa... karya kedua ku.
love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..
__ADS_1
thanks a lot pisang sekebon...😘