Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 46


__ADS_3

Aga keluar dari apartementnya, Zivannya menyerahkan kunci motor.


"pake ini by" tanya Zivannya sebelum Aga keluar, Aga mengangguk, "jangan kemana-mana yang. dirumah aja" kata Aga. Zivannya tersenyum melambaikan tangannya. Zivannya kembali tidur setelah Aga berangkat.


sore menjelang


Aga memarkirkan motornya dilantai basement, menyapa petugas keamanan yang sedang bertugas dan memberitahu jika istrinya ada disini. Aga bergegas membuka pintu, takut Zivannya pergi apalagi ponselnya tidak bisa dihubungi. Aga melihat pintu kamarnya terbuka dan Zivannya masih bergelung didalam cover bednya. Aga menaruh kunci motor ditempatnya, menuju kamar dan membersihkan dirinya.


"jam berapa by" kata Zivannya mengerjapkan matanya karena pelukan Aga mengganggu tidurnya. "jam 7" kata Aga meraih tubuh Zivannya.


"ahhh...." pegang lengan tangan Zivannya terkejut takut jatuh, Aga menciumi ubun-ubun Zivannya. "hmmm" geram Aga, Zivannya mengurai pelukan Aga. "by, cari makan yuk perutku sudah protes." duduk Zivannya mengikat rambutnya model bun.


"biarkan aku melakukannya sekali aja" pinta Aga mengelus punggung Zivannya yang tidak memakai apa-apa di balik t-shirt nya, Zivannya menahan nafasnya sejenak.


"by makan" pandang Zivannya, Aga menghela nafasnya, badannya terasa berat untuk menuruti keinginan istrinya yang kelaperan. Zivannya menapakkan kaki kebawah, meringis merasakan ketidak nyamanan bagian sensitifnya saat dia berjalan.


"yang" angkat tubuh Aga tahu jika Zivannya masih merasakan sakit. Zivannya melingkarkan lengan tangannya ke leher Aga.


"kamu mau ke bathroom dulu or change clothes" kecup bibir Aga, Zivannya menunjuk kekamar mandi, Aga membawa istrinya masuk kedalam dan mendudukkan tubuhnya dicloset. Zivannya meringis tertahan saat membuang air kecil. "yang" bantu Aga menyemprot air kebagian sensitif Zivannya. Zivannya menahan nyeri saat air membasuh bagian sensitifnya.


"besuk nggak usah kedinas aja jika begini, aku nggak mau kamu kenapa-kenapa" kata Aga membantu Zivannya berdiri, Zivannya memeluk Aga untuk berdiri dan berjalan pelan. "siapa yang membuatku seperti ini" pandang Zivannya lekat. Aga tertawa menatap Zivannya, mencium rambutnya berulangkali. "kalo itu nggak bisa ditunda yang... aku sudah menahannya sejak lama, hanya denganmu aku beraksi" senyum Aga, Zivannya dibantu Aga menuju walk closet mengambil baju ganti, Aga melepas t-shirt Zivannya.


"wow..." pandang Aga menatap istrinya yang duduk dibawah pakaian dinasnya yang tergantung rapi, hanya memakai underwear pantsnya. "by" geleng Zivannya lemah. Aga tersenyum kecut membelai rambut Zivannya.


"ambilkan baju terusan itu" kata Zivannya menunjuk baju yang berjejer rapi dibelakang Aga, Aga menoleh sesaat kearah yang ditunjuk oleh tangan Zivannya dan menatap Zivannya sayu.


"yang" kata Aga mendekatkan wajahnya mengelus pipinya, Zivannya mencium bibir Aga dan melingkarkan lengannya dipundak Aga yang membalasnya dengan antusias. mereka berhenti dengan nafas yang memburu saling menyatukan kening.


"aku menginginkanmu" serak Aga menangkup pipi Zivannya melepas celana dan t-shirt nya kelantai. Aga mencium kembali bibir dan tubuh Zivannya. Zivannya mendesah panjang. "kenapa aku tidak bertemu denganmu dulu, kenapa kamu sembunyi begitu lama" cumbu Aga, Zivannya mengerang.


"by" desah Zivannya meremas rambut Aga menahan gejolak, Aga menatap istrinya yang terlihat menggairahkan dengan pose yang menggodanya. mengangkatnya seperti koala membawanya ke ranjang mereka. "kamu sangat indah yang" senyum Aga menyingkirkan rambut Zivannya yang menutupi wajahnya. Zivannya membuka matanya. "aku akan pelan-pelan" senyum Aga menautkan kedua tangan mereka, Zivannya menggigit bibirnya, Aga ******* bibir Zivannya agar tidak menggigit bibirnya, Zivannya berteriak sesaat saat Aga menyatu dengan dirinya, Aga menggeram pelan. berguling kesisi Zivannya setelah agak lama.


"kita cari makan, aku akan memakanmu terus-terusan jika masih disini" toleh Aga frustasi, Zivannya mengelus pipi Aga, "luv U by" ucap Zivannya, Aga menoleh cepat dan tersenyum senang. mengusap bibir Zivannya yang terlihat menggoda.


"aku lebih mencintaimu Zivannya Fritscha Triastomo. terimakasih mau menerimaku" tatap Aga, Zivannya menatap Aga lama. perut Zivannya berbunyi pelan. Aga tertawa terbahak-bahak mengangkat tubuh istrinya ke bathroom.

__ADS_1


"kita makan dimana yang" pandang Aga memakaikan helmet Zivannya. "yang pedas dan berkuah" naik Zivannya pelan. "masih sakitkah" toleh Aga. "tidak begitu, hanya serasa seperti berdenyut" bisik Zivannya memeluk Aga. Aga tertawa terbahak-bahak, menganggukkan kepala. "berarti nanti malam nggak usah tidur ya, kita lembur" goda Aga melajukan motornya. Zivannya seketika menjauhkan diri dari badan Aga. "yang, pegang" toleh Aga menepi dijalan, Zivannya menggeleng.


"kita nggak akan jalan dan cari makan kalo kamu nggak pegang" raih tangan Aga agar Zivannya memeluknya kembali. motor melaju pelan, Zivannya melihat kedai makan yang tidak terlalu ramai. mereka berhenti didepan dan melihat sekeliling. Aga meraih jemari Zivannya masuk kedalam. "pesan double atau mau berbeda" tanya Zivannya. "beda aja" kata Aga. Zivannya memesan makanan berbeda, mereka menunggu pesanan.


"Zi" teriak Rara, mereka menoleh cepat. Dimas dan Rara berjalan mendekat, "ahhh... Miss U Zi. kenapa nggak ngomong kalo udah pulang" peluk Rara bergoyang kekanan dan kekiri, perut Zivannya berbunyi, Zivannya nyengir. Rara tertawa. makanan pesanan Zivannya datang, memandang mereka bertiga untuk meminta ijin makan duluan. Zivannya segera memakannya. "kemarin malam baru sampai, tidur seharian" jawab Zivannya disela-sela makannya, Aga memandang Zivannya yang makan dengan cepat tanpa peduli dengan sekitarnya yang memandangnya, beberapa cowok yang sedang berkumpul melihat Zivannya dan tersenyum lebar melihat Zivannya yang imut dan cantik.


"dah normal nih porsi makanmu Zi" lihat Rara, Zivannya menoleh. "masa, belum seberapa nih" kata Zivannya. Rara mengangguk, "ya... ya.... Zivannya makan banyak dengan setengah porsi" manyun Rara, Zivannya tersenyum sambil menggembung pipinya karena mengunyah.


"beneran pulang sendirian Zi" tanya Rara memastikan perkataan Zivannya, Zivannya manggut-manggut, "nggak kenapa-kenapa kan" tanya Rara melihat badan Zivannya, Zivannya menggeleng. "biarkan aku makan dulu" pandang Zivannya, Rara mengangguk mengerti saat Zivannya makan itu adalah me time nya untuk recharge energi.


"jam berapa dia sampai kak" pandang Rara, "10 malam" jawab Aga. "benar-benar nih anak, dijalan sendirian" pandang Rara.


"ketemu Yuda nggak" naik turunkan alis Rara, Zivannya mengangguk. Aga mengkerutkan alisnya, "salam katanya" jawab Zivannya cepat. Rara tertawa terbahak-bahak, Dimas menatap tajam Rara. "kemarin terakhir ketemu belum sempat pamitan. kenapa emangnya nggak boleh, orangnya baik banget lho" pandang Rara balik. Dimas menatap kearah lain. Zivannya selesai makannya. "aahhh... kenyang" sandar Zivannya, Aga memberikan makanan yang dimakannya, Zivannya menggeleng, "jika mau nanti pesen buat malam aja" geleng Zivannya, Aga mengangguk, memakan kembali. mereka mengobrol mengenai kuliah dan sidang pernikahan Zivannya, Rara sangat antusias mendengar kegiatan Zivannya di kesatuan Aga.


"habis itu kekampuskan" toleh Rara meminta kepastian. "rencananya gitu Ra, semoga tidak terlalu lama" kata Zivannya.


"asyik nih kayaknya, boleh nggak liat saat sidang" tanya Rara, Aga menggeleng. "hmmm.... berarti kamu ada tiga pilihan lho Ra, mau punya suami seorang tentara, Yuda atau Dimas" pandang Zivannya, Rara tertawa melirik Dimas. "hmmm.... boleh juga bisa aku pikirkan nih" ketuk kening Rara, Dimas terdiam.


Zivannya menatap Dimas, "dim, mau kenalan sama teman Yuda juga nggak" topang dagu Zivannya. Dimas menatap Zivannya yang menunjuk dirinya sendiri, Dimas tertawa kecil. Aga menutup mata Zivannya dan membawanya kedalam pelukannya. "mau ngapain" tanya Aga mengecup rambut Zivannya, Dimas tertawa.


"Zi tidak pernah mau diajak untuk masuk. jadi kita menunggu diluar tempat Rara keluar malam, sambil ngopi bareng, aku lebih suka ketenangan seperti Zi. jadi kita lebih sering mbahas kerjaan kuliah" lanjut Dimas, Aga melepas tangannya dari mata Zivannya.


"itu mengapa dia lebih cepat dari Rara mengejar kuliah, jika Zi selesai di kedai, kita memang sering ngumpul bersama. kadang ada teman lain yang ikut bergabung untuk sekedar nongkrong atau mengerjakan sesuatu. Rara yang akan menjadi pelindung Zivannya jika ada yang mempunyai motif lain, Zi yang akan menjadi penengah saat kita berdua selalu berakhir dengan bertengkar" kata Dimas. Rara menatap Dimas seksama.


"kamu tau dim, itu yang bikin aku tidak bisa berpaling dari laki-laki lain. kamu lebih tau diriku dari pada aku sendiri. padahal aku selalu bersikap keras padamu" kata Rara memeluk Dimas. Zivannya tersenyum dan memberi tanda Ok yang disambut Dimas dengan melakukan hal yang sama. Aga tersenyum tipis menggelengkan kepalanya.


"nginep tempetku nggak Zi" tanya Rara, Aga menoleh menatap Rara horor. Dimas meraih dagu Rara agar menatapnya. "ada suaminya Ra, kamu mau ditodong pake senjata" tanya Dimas, Rara terkejut. "lupa.... beneran lupa" tatap Rara pias. Zivannya tertawa dan memeluk Rara. "it's oke Ra, aku mengerti" tatap Zivannya. "ihhhh.... pasti mau ngrasain malam pertama kan... udah mau buka segel nih ceritanya..." naik turunkan alis Rara, Zivannya mengendikkan bahunya. "udah Ra, jangan kuatir. aman" jawab Zivannya datar. Dimas dan Aga tersedak mendengar pembicaraan kedua gadis itu, Rara dan Zivannya tertawa lebar.


"aahh... Zi.... udah belah duren" peluk Rara ke Dimas. "kamu juga bisa kok Ra, sekarang mau" bisik Dimas. Zivannya dan Rara memukul bahu Dimas pelan.


"awas kalo macem-macem" beri tanda pukulan Rara dan Zivannya, Dimas mengangkat tangannya menggeleng.


"kamu perlu pistolku yang" tanya Aga menatap Dimas. mereka tertawa lebar. "sudah jam 10 yang" lihat jam Aga, Zivannya mengangguk.


"ciee... yang mau belah duren" goda Rara. Zivannya tertawa lebar. "kamu akan ngerasain nanti. pada saat itu aku akan menunggu ceritamu" kata Zivannya, Rara mengangguk tertawa memberi tanda Ok, Aga membantu Zivannya keluar dari kursinya.Rara dan dimas mengikuti mereka keluar dari kedai. "kalian naik motor juga" lihat Rara, Zivannya mengangguk memakai helmetnya. Rara menunjuk motor laki Dimas. "lebih enak kalo naik motor sama kamu Zi, bisa lirik sana-sini. nggak terikat waktu" bisik Rara, Zivannya melakukan hi five dengan Rara. "nggak terasa udah hampir tiga tahun kita selalu sama-sama ya Zi, jangan berubah ya" pandang Rara memeluk Zivannya. Dimas mendekatkan motor lakinya, memberikan helmet Rara untuk dipakai.

__ADS_1


"kita ketemu dikampus ya Zi" lambai Rara. Zivannya membalas lambaiannya.


"mereka jadian yang" tanya Aga menyalakan mesin motor, Zivannya mengangguk memeluk Aga dari belakang.


"keliling nggak yang" toleh Aga, Zivannya menggeleng. Aga melajukan motornya lebih pelan.


pagi hari


"by, pake baju apa" toleh Zivannya menatap Aga, "gaun" jawab Aga, Zivannya mengambil pakaian dinas Aga seperti yang diminta, membantu memakaikannya.


"apa aku terlihat berbeda yang" senyum Aga, Zivannya mengangguk mengecup bibir Aga pelan, Aga menahan tengkuk Zivannya agar dapat ******* bibirnya lebih lama. "tidak bisa begini nih" tahan Aga, Zivannya menjauhkan dirinya yang hanya memakai underwear diwalk closet. melihat beberapa gaun dan memilihnya satu. gaun biru muda yang menampakkan kulit putih kecilnya. mengikat rambutnya ekor kuda. "yang" panggil Aga pelan saat menunggu istrinya selesai, Zivannya menoleh.


"kenapa by, aku nanti langsung kekampus ya, pulangnya aku jemput" pake sneakers Zivannya, Aga menghela nafasnya berat melihat Zivannya.


"kamu cantik banget, aku nggak suka kamu dipandang laki-laki lain" kata Aga cemburu, Zivannya menoleh menghampiri suaminya.


"kamu ingin aku berpenampilan jelek aja dan tidak menjunjung martabatmu dihadapan orang lain" senyum Zivannya, Aga tersenyum menggeleng memeluk Zivannya.


"aku hanya tidak rela mereka melihatmu terpesona, kamu hanya milikku" kata Aga mencium kedua pipi Zivannya.


"aku hanya milikmu, kamu hanya untukku. biarkan mereka melihat hanya dari jauh, tapi tidak bisa memiliki kita" senyum Zivannya. Aga tertawa mengangguk.


mereka tiba dikesatuan Aga.


"hari ini aku mau ngurus sesuatu. jika ada apa-apa kalian hubungi Samuel, dia akan menanganinya segera" kata Aga dalam apel pagi. Zivannya menunggu ditempat duduk di teras luar kesatuan mendengar perkataan Aga pada anak buahnya, mereka sesekali melirik Zivannya yang duduk menunggu Aga.


hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..


selamat menikmati cerita kedua kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.


ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...


dukung yaaa... karya kedua ku.


love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..

__ADS_1


thanks a lot pisang sekebon...😘


__ADS_2