Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 95


__ADS_3

Langit mengusap pipi Zivannya, "aku tidak akan berbuat lebih, yang" bisik Langit, "hmmm.." gumam Zivannya. "jadi,bisakah kita tidur sekarang karena pagi-pagi harus balik ke Jakarta" tanya Zivannya akan bangun.


"tidak semudah itu ferguso" geleng Langit menahan tubuh Zhivannya yang tertawa lebar. "kenapa, yang" kerut Langit tidak mengerti, Zivannya menutup mulutnya dengan punggung tangan memandang Langit yang kebingungan. "kamu tau dari mana istilah itu kak" tanya Zivannya tak bisa berhenti tertawa.


"dari media sosial yang rame" pandang Langit, Zivannya menepuk-nepuk dadanya agar berhenti tertawa. Langit menahan tangan Zivannya ke atas. "katakan" pandang Langit tidak sabar. "itu nama anjing di drama negara latin, yang sudah lama sekali tayangnya" senyum Zivannya. Langit membuka mulutnya sedikit, tidak percaya. "benarkah, yang. berarti aku memanggilmu dengan nama anjing" tanya Langit, Zivannya mengangguk. langit mengumpat pelan, "maafkan aku Zi, aku tidak tau, padahal sering liat saat dikesatuan dengan yang lain" kata Langit menyatukan keningnya. "tidak apa kak, sekarang kamu mengetahuinya kan" senyum Zivannya. "aku kedinginan" rajuk Zivannya, Langit segera memakaikan t-shirt Zivannya, memeluk Zivannya erat. "maafkan aku Zi" elus kepala Langit, Zivannya menggeleng dan meringkuk dalam dekapan Langit. "hallo" sapa Langit.


"aku sekarang baru diluar kota, besuk pagi baru kembali ke Jakarta" jawab Langit. Zivannya mengelus dada Langit yang bidang dan kotak-kotak. Langit mengelus pipi Zivannya.


"tidak, aku bersama istriku" jawab Langit. Zivannya memukul dada Langit pelan, berbalik dan akan beranjak masuk kedalam kamar. Langit menarik tangan Zivannya agar jangan beranjak.


"Selasa kan acaranya" tanya Langit.


"baik, oke" angguk Langit.


"kenapa harus bawa banyak perempuan sih bas" kesal Langit menatap Zivannya yang menutup telinganya.


"aku bilang kan bawa istriku" jawab Langit membuka tangan kekasihnya yang menutupi telinganya, mengecup tangannya.


"besuk aku kenalin, iya. siap" tutup Langit.


"aku nggak ikut" pandang Zivannya, Langit ******* bibir Zivannya yang menggodanya.


"kenapa" tanya Langit heran, Zivannya membuka matanya menatap Langit. "aku bukan barang yang dipamerkan" jawab Zivannya, Langit kembali mengabsen setiap inci mulut kekasihnya itu.


"kak" seru Zivannya tidak suka, Langit menurunkan ciumannya ke leher Zivannya dan meninggalkan beberapa jejak disana. Zivannya mencengkeram rambut Langit, "ahh... yang" desah Zivannya. Langit menyentuh mulut Zivannya dengan tangannya.


"kenapa" tanya Langit melihat Zivannya, "aku ikut" jawab Zivannya cepat.


"harus, karena kamu nanti akan selalu menemaniku" kata Langit mencium kening Zivannya. "jangan berusaha lari" pandang Langit, Zivannya mengangguk. langit mencium kedua pipi Zivannya. "temani aku sampai acara berakhir, apapun keadaannya" tatap Langit, Zivannya manggut-manggut. Langit menyesap bibir Zivannya lama.

__ADS_1


"ishhh..." geram Langit menahan gejolaknya. "jika mengalami sendiri memang beda, yang" frustasi Langit beranjak kedalam kamar mandi. Zivannya tertawa kecil mendengar teriakan Langit dari kamar mandi, berjalan menuju dapur membuatkan minuman jahe hangat untuk mereka berdua.


Langit keluar dari kamar mandi dengan tubuh lebih segar karena mandi. "minum kak" sodor mug Zivannya. "punyamu mana" tanya Langit. Zivannya mengangkat gelas yang dipegangnya ditangan yang lain. Langit mendekati Zivannya yang menyandar didekat kompor. "jangan lagi memberiku gelas baru, jika ada gelasmu. kita berdua" kata Langit meraih jemari Zivannya dan meminum minuman jahe hangat. "ahhh... enak sekali. badanku terasa hangat" senyum Langit mengecup rambut Zivannya.


Zivannya mencuci gelasnya meraih gelas Langit untuk dibawa keruang tengah. "kita berangkat pagi atau siang, yang" tanya Langit setelah Zivannya selesai mencuci gelas. "bisakah siang" tanya Zivannya. "bisa, tapi kamu langsung ikut aku ke kesatuan bentar untuk menungguku rapat" angguk Langit memeluk Zivannya dari belakang.


"pagi aja berarti" kata Zivannya menyesap jahe hangatnya. "berarti kita harus mengembalikan mobil temanku di apartement lama Aga" kecup Langit di pipi Zivannya. "apakah temanmu masih disana" toleh Zivannya terkejut. Langit mengangguk, "kenapa, kamu tidak mau kesana lagi" kerut Langit. "tidak juga" geleng Zivannya pelan. Langit memeluk erat tubuh Zivannya. "aku tidak akan memaksamu, yang. bagaimanapun kami adalah orang yang dekat denganmu dimasa yang berbeda, aku menghargai Aga sebagai lelaki yang bertanggung jawab terhadap istrinya dan aku juga akan bertanggung jawab terhadap istriku" bisik Langit. Zivannya mengangguk tersenyum mengelus rambut cepak langit.


"jadi berangkat siang atau pagi" tanya Langit. "penerbangan pagi aja kak, biar lebih enak jalannya pulang" kata Zivannya.


"berarti kita berangkat sebelum kewajiban pagi untuk ke apartement temanku dulu, langsung kebandara" angguk Langit, Zivannya mengangguk.


"aku packing baju dikit" anjak Zivannya meletakkan mug disampingnya. "aku boleh ikut masuk nggak, yang" tanya Langit menahan jemari Zivannya. "Ok" angguk Zivannya, Langit mengikuti langkah Zivannya.


Zivannya membuka pintu lebar, Langit mengucapkan salam Zivannya membalas salam itu. Langit mengamati kamar yang menjadi kamar Zivannya dan Aga dulu. "kemana semua momen yang kalian alami" tanya Langit duduk ditepi ranjang, mengelus alas ranjang Zivannya pelan. "kami sah secara militer, agama dan negara kak. tapi kami belum melakukan pesta pernikahan. rencananya setelah aku wisuda baru akan mengadakan acaranya" senyum Zivannya.


"aku yang memintanya, karena kepergian mama belum lama" jawab Zivannya keluar dari walk closet, langit berjalan berkeliling ruangan hingga kebagian walk closet. "kenapa sebagian kosong Zi" toleh Langit. "karena pakaian kak Aga sudah aku kosongkan kak, ada yang lebih membutuhkan daripada aku" kata Zivannya. Langit menoleh, "kamu tidak menyimpan beberapa" tatap Langit. "tidak, hanya satu Hoodie yang kemarin aku pake saat terjadi kecelakaan di rumahmu" senyum Zivannya, "celana joger yang selalu menemani tidurku saat malam" jawab Zivannya, Langit memandang Zivannya.


"terkadang aku merasa tidak berguna Zi, karena orangtua ku tega membuang ku dan mementingkan ego mereka sendiri. terkadang aku merasa bersyukur Tuhan memberikan diriku kebaikan ibu yang sesungguhnya walau beliau tidak melahirkan ku" pandang Langit lekat, Zivannya tersenyum.


"maka kita yang akan membentuk keluarga kecil kita menjadi keluarga yang tahu menempatkan diri dan bersyukur atas segala sesuatu kak" kata Zivannya. Langit tersenyum lebar mendengar ucapan Zivannya.


"aku tau kita memiliki banyak kekurangan, yang. tapi setidaknya kita bisa saling melengkapi untuk menutupi kekurangan kita masing-masing, bisakah kita menjadi orangtua terbaik yang bisa kita lakukan untuk anak-anak kita" kata Langit. "tentu, kita akan berusaha sebaik orang tua yang menemani kita saat ini" senyum Zivannya. Langit menatap Zivannya. "tidur kak, nanti kamu akan mandi lagi jika begini" kata Zivannya, Langit berjalan menjauh dan mengumpat. Zivannya tertawa pelan melihat Langit yang menjauh.


"yang, jam 3 pagi" usap kepala Langit, Zivannya menggeliat, "hmmm..." dehem Zivannya memejamkan mata lagi. "aku tinggal ya" bisik Langit, "ya" jawab Zivannya cepat. Langit menepuk pantat Zivannya, "bangun, yang. apa berangkat siang aja trus nanti ikut aku dikesatuan nungguin rapat" kata Langit, Zivannya segera terbangun. "aku bangun" jawab Zivannya. Langit membawa Zivannya masuk kekamar mandi. "berangkat, yang" elus kepala Langit. Zivannya mengambil tas jinjingnya, menutup pintu rumah, pagar. mobil melaju ke apartement teman Langit.


Zivannya turun didepan bangunan, membawa ransel Langit dan tas jinjing kecilnya. Langit memberikan kunci kepada petugas keamanan dengan menghubungi temannya terlebih dahulu. Zivannya memesan taksi online, sampai dibandara segera melakukan prosedur pemberangkatan. Langit mengajak Zivannya untuk melakukan kewajiban paginya. "aku beli minum panas dulu, yang" usap kepala Langit, Zivannya mengangguk pelan mengecek ponselnya membalas pesan yang datang dari keluarganya.


Langit datang dan duduk disamping Zivannya, menyodorkan minuman hangatnya, Zivannya meminumnya, Langit menggigit roti dan menyerahkannya kepada Zivannya. "kan masih ada satu kak" pandang Zivannya. Langit menggigit roti satunya, Zivannya mengambil salah satu roti memakannya dengan cepat. "laper, yang" senyum Langit. Zivannya mengangguk menghabiskan rotinya. "sampai disana kita sarapan" kata Langit, "makan dirumah aja kak, mbok pasti masak" jawab Zhivannya. "kan nggak ada orang dirumah. masak buat siapa" tanya Langit, Zivannya nyengir.

__ADS_1


pemberitahuan pesawat telah terlihat. Langit meraih jemari Zivannya untuk masuk kedalam pemeriksaan dan lorong menuju pesawat. "kali ini hanya kita berdua aja" lihat sekeliling Zivannya. Langit menoleh. "biasanya rame-rame kak. nggak sunyi sepi. seringnya sendirian sih kalo melakukan apapun" senyum Zivannya, didalam pesawat Langit mencari tempat duduk dan segera mendudukkan tubuhnya dengan benar. "yang, kamu sebelah sini aja" bisik Langit, Zivannya menoleh, dilihatnya wanita sebaya dengan Langit yang duduk disebelahnya dan segera bertukar posisi dengan Langit. perempuan itu melihat Zivannya dengan tatapan kesal, Langit menggenggam jemari Zhivannya dan memejamkan matanya.


sesampainya dibandara Jakarta, Langit memesan taksi online, "mau makan dulu nggak, yang" tanya Langit. "nggak. nanti aja setelah sampai rumah" pejam mata Zivannya mengistirahatkan tubuhnya sesaat setelah masuk mobil. Langit mengusap kepala Zivannya setelah sampai tujuan. Zivannya turun, melihat sekitarnya. "dimana ini kak" tanya Zivannya, Langit membawa Zhivannya masuk kerumah dinasnya. "welcome home honey" buka pintu Langit, Zivannya masuk mengikuti Langit, " kamarku, sebentar lagi kamar kita" senyum langit membuka pintu, Zivannya masuk menaruh tas jinjing dibawah ranjang Langit. "jangan tidur dulu, yang. kita keliling dulu" kata Langit.


"sama kan kak, dengan rumah dinas kak dirgantara" kata Zhivannya. "ishhh" kata Langit. "dapur, kamar mandi, halaman belakang, area service" kata Langit. Zivannya memejamkan matanya. "ini udah jam 8 kak, nggak masuk" tanya Zivannya. Langit mengangguk. "kamu mau tidur, yang" pandang Langit, Zivannya mengangguk. "aku pulang sorean" paling Langit, Zivannya mengangguk. Langit membersihkan dirinya, masuk kamar untuk berganti baju, dilihatnya Zivannya sudah tertidur dengan pulas. Langit mengusap rambut Zivannya, mengecup keningnya pelan, mengunci pintu, memakai motor dinas untuk mengantarnya ke kesatuan.


Zivannya bergerak pelan, melihat sekitarnya, "ahhh... aku dirumah dinas kak Langit" ingat Zivannya setelah ingat. Zivannya meraih ponselnya yang diletakkan Langit disampingnya. "jam 3, aku telat kewajiban siang" bangun Zivannya buru-buru mencari kamar mandi, Zivannya segera menunaikan kewajiban siangnya dan menunggu waktu kewajiban sorenya.


"hallo kak" salam Zivannya.


"udah bangun" tanya Langit.


"he em, aku lapar. aku nggak tau alamatnya dimana ini mau pesen makan online aja, boleh masuk nggak nanti ojolnya" tanya Zivannya, Langit tertawa.


"kamu mau makan apa. sekalian aku bawain" kata Langit. Zivannya menyebutkan sebuah masakan.


"tunggu, bentar lagi aku pulang" tutup Langit. Zivannya menatap ponselnya, "aku yang menghubungi kenapa dia yang nutup sih, biasanya aku lho yang kayak gitu" gumam Zivannya beranjak untuk melihat ruangan tidur Langit saat ini, bersih dan tidak berlebihan, melihat semua ruangan dirumah dinas Langit.


terdengar motor berhenti disamping rumah, Zivannya membuka pintu dengan kunci yang ada dibawah pintu.


"udah pulang kak" pandang Zivannya mencium punggung tangan Langit. "he em" senyum Langit melepas sepatunya. Zivannya meraih paper bag berisi makanan yang dibeli Langit, mengambilkan air minum mineral untuk Langit. "mandi dulu atau makan dulu kak" tanya Zivannya meletakkan piring diruang tengah. "kamu udah mandi yang" tanya Langit. "udah. barusan" angguk Zivannya minum air mineral. "mandi dulu aja. jika lapar, makan duluan" kata Langit masuk kamar, Zivannya melihat media sosialnya, melihat beberapa moments yang dibagikan teman-temannya, tersenyum melihat Dimas yang membagikan moments dengan teman kerjanya.


Langit selesai membersihkan dirinya ketika melintas melihat Zivannya yang serius membaca sesuatu, "ada apa, yang" tanya Langit, Zivannya mendongak.


"tidak ada apa-apa kak, kita makan" kata Zivannya. Langit meraih ponsel Zivannya dan melihat postingan seseorang. "hmmm... " pandang Langit tersenyum. Zhivannya membuka pembungkus nasi mereka berdua.


hai....hai... hai.... all readers. terus dukung karyaku ya. tanpa dukungan kalian semua maka karya ini tidak akan pernah ada.


terimakasih banyak atas dukungannya selama ini.

__ADS_1


"luv.... luv.... luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih atas dukungannya selama ini.


stay healthy all readers...


__ADS_2