Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 121


__ADS_3

Matahari dan Langit segera melanjutkan pekerjaan yang sudah mereka lakukan tadi malam, beberapa kali mereka melakukan berbagai cara dan langkah yang berbeda untuk mendapatkan hasil yang maksimal, Zivannya sarapan sendirian setelah koki menyuruhnya untuk sarapan tidak usah menunggu mereka yang sedang asyik mengerjakan pekerjaan mereka. "Zi, sarapan bareng" duduk Suprapto. Zivannya tersenyum. "laper kak" pandang Zivannya, Suprapto mengangguk. "kenapa kalo kerja pada nggak sarapan" toleh Zivannya melihat Langit dan yang lain. Suprapto menoleh kearah teman-temannya, "nggak selera mungkin Zi, buru-buru mau pada ikut jalan-jalan mumpung ada yang nemenin" kata Suprapto. "lha kakak ikut nggak" tanya Zivannya, Suprapto manggut-manggut. "kenapa nggak ikutan disana biar cepat selesai" tanya Zivannya heran. "bidang kerjaan kami berbeda Zi " kata Suprapto. Zivannya membulatkan bibirnya tanda mengerti.


"udah lama disini kak" tanya Zivannya menopang dagu. "3 tahunan" jawab Suprapto. berarti kayak om Baskara dong" kata Zivannya, Suprapto tersedak dan buru-buru meminum air putih nya. "om... sejak kapan dia sama Tante mu" tanya Suprapto menatap Zivannya tertawa. Zivannya tersenyum. "aku sungkan memanggilnya dengan sebutan kakak, karena usianya terlalu jauh. selisihnya 10 tahun dariku" kata Zivannya. Suprapto tertawa lebar menganggukkan kepalanya. "baiklah, bu komandan. aku menurut padamu" manggut-manggut Suprapto. "apanya yang menurut sama istriku" hempas tubuh Langit disamping kekasihnya, Zivannya menoleh dan menyodorkan kopi hitamnya. "kamu minum ini lagi, yang" pandang Langit, Zivannya mengangguk. Langit segera menyesap kopi hitam Zivannya. "mau makan sesuatu nggak" pandang Zivannya, Langit menggeleng. Zivannya menyuapi Langit dengan roti, Langit segera melahapnya tersenyum senang. "cih.... bilang aja mau disuapi, biar kita iri" gerutu Suprapto. "emang, masalah" toleh Langit, Suprapto nyengir. "nggak berani ndan, tadi udah bilang mau nurut bu komandan aja" geleng-geleng kepala Suprapto, Langit memandang Zivannya yang mengangkat bahunya tidak mengerti kenapa.


"kamu apain istriku, Suprapto" pandang Langit datar. "nggak diapa-apain Ndan, Zi aja masih utuh gitu lho, nggak lecet sama sekali ndan. aku tadi bilang nurut aja waktu dia manggil Baskara dengan panggilan om" jelaskan Suprapto. Langit tertawa lebar, "dia dari tadi ngedumel aja. kenapa Zi sampai manggil dia om, apa tampang nya tua banget, apa dia udah kayak om-om banget" kata Langit. "nggak, biasa aja seperti laki-laki yang usianya sudah sangat matang untuk berumah tangga" kata Zivannya, Langit dan Suprapto tertawa lebar. "aku berarti masih muda kan, yang" naik turunkan alis Langit. Zivannya menggeleng "nggak juga kak, bentar lagi kamu juga masuk usia diatas 25 kan" kata Zivannya menatap Langit.


Suprapto tertawa terbahak-bahak merasa senang mendengar statement Zivannya mengenai Langit. "denger tuh, ndan. udah mau memasuki usia menjelang tua" senang Suprapto bisa mengejek Langit. "emang kak Suprapto berapa" tatap Zivannya, "28" jawab Suprapto. Langit berdecih sebal "aku awet muda karena punya istri yang muda soalnya" kata Langit menyombongkan diri. Zivannya segera menyuapi Langit agar nggak banyak bicara, Langit memeluk Zivannya membuat Suprapto berdecih sebal. Langit tertawa dan kembali kerekan-rekan nya yang masih berkutat masalah dalam kapal. "emang udah resmi, istri apaan" gerutu Suprapto dibelakang Langit, "aku dengar to" gelegar Langit, Suprapto tertawa lebar. "siap ndan, ditunggu perintahnya" seru Suprapto.


Zivannya tersenyum menopang dagu melihat Langit yang sedang bekerja, "kak, aku kekamar dulu" ujar Zivannya beranjak dari duduknya dan berjalan pelan meninggalkan Suprapto yang sedang sarapan, Zivannya merebahkan diri dialas tidur yang efisien. tak butuh waktu lama Zivannya sudah terlelap dalam tidur hingga sebuah tangan melingkar dengan sempurna diperutnya, Zivannya menggumam pelan merasakan perutnya yang terasa berat. "yang, jauhin tangannya" serak Zivannya memegang tangan Langit. Langit tersenyum dan mengecupi tengkuk Zivannya. "darimana tau kalo aku" bisik Langit pelan ditelinga Zivannya. "nggak ada yang berani selain kamu kak" jawab Zivannya masih memejamkan matanya. Langit menggigit pelan kuping Zivannya sambil menyusupkan tangannya dibalik t-shirt Zivannya. "nggak jadi jalan-jalan, yang" tanya Langit mengusap perut Zivannya yang kembali terlelap. Langit tersenyum mengusap pipi kekasihnya yang terlihat lebih tirus.


"Zivannya tidur lagi, kayaknya nggak jadi jalan" kata Langit. "yaaahh... Bu komandan tidur, kita udah sesegera mungkin menyelesaikan pekerjaan hanya untuk menemani bu komandan jalan nih" seru Sapta, Zivannya membuka pintu kabin. "ayo, bang berangkat. kunci mobilnya" serah Zivannya kepada Matahari. mereka bergegas keluar dari kapal. motor boat merapat untuk membawa mereka ke pinggir dermaga. Zivannya duduk disamping Matahari yang membawa mobil melaju menuju jalan utama, "kemana kita, dek" toleh Matahari. "dek, apanya abang" tanya Sapta dan Suprapto heran. "adekku" jawab Matahari. "yaelah..... nggak jauh juga nyarinya, kenapa kita nggak tau kalo abang punya adek seperti Zi" kata Sapta. "lha kamu nggak pernah nanya, dia juga kuliah di kota pelajar, jadi jarang pulang dan ada pawangnya" kata Matahari lugas. "kalo nggak dikenalin mana kita berani bang, Zi juga nggak pernah kliatan. cuman Mentari doang" kata Suprapto. "dia adeknya Mentari" kata Matahari menatap dari kaca reflektor depan.

__ADS_1


"isshhh....udah tau punya adek bening, cakep nggak dari dulu ngenalin. biar dia bisa milih siapa yang terbaik" sungut Sapta. "pede amat kamu sapemang dia mau sama kamu kalo aku kenalin, tanya noh sama komandan Langit mu, berapa lama dia dekatin dan akhirnya Zivannya mau" kata Matahari. "setahun lebih, dengan satu pesaing berat teman baiknya, dua orang luar yaitu dosennya dan anak buah kakak laki-lakinya di udara yang sampai sekarang masih sering ketemuan dan serigala macam kalian" jawab Langit datar. mereka tertawa terbahak-bahak, "nggak ngira banyak juga yang suka" kata Baskara. "makasih om" kata Langit tenang, mereka tertawa kembali. "nggak ngira kalo baskara dipanggil om" kata Matahari.


"tau nggak dek, daerah sini" tanya Matahari, "nggak begitu, bang. sesekali aja kesini sama kak....." berhenti Zivannya seketika membeku. Matahari menoleh cepat dan membelokkan mobil sesuai arah peta digital. "pake mobil siapa" tanya Matahari, "beli oleh-oleh buat Rara nggak, yang" kata Langit dan Matahari bersamaan mengerti perubahan sikap Zivannya. "haa.... mobil Rara, jika kita pulang hari ini kita beli oleh-oleh. juga nggak papa" kata Zivannya tersadar, Langit memijit bahu Zivannya dari belakang, Zivannya menggigit kuku jari kirinya tidak sadar.


"Mentari sekarang ada di Bali" kata Matahari, "kenapa kakak nggak bilang, bunda sama ayah mau ke Jogja" kerut Zivannya. "kan kamu bilang mau nemeni Rara sidang tugas akhir nya, jadi dia berangkat sendiri. nanti jika kamu mau nyusul katanya langsung kesana aja. seminggu dia disana mulai dari hari ini" jawab Matahari, Zivannya mengangguk mengerti. "seminggu lagi abang dan kakak akan segera pindah" toleh Matahari, katanya sebulan lagi" tatap Zivannya lekat, "kan udah berjalan seminggu waktu kamu ngurus surat-surat legalitas untuk sidang pra nikah sama ayah, minggu ini masuk minggu kedua, besuk udah minggu ketiga. nah habis itu kita sudah kemas-kemas pakaian kesana" kata Matahari.


"harus ya bang pindah" kata Zivannya menatap Matahari menyandarkan kepalanya ke head rest, Matahari mengangguk pelan. "sepi rumah bang" kata Zivannya. "kewajiban dek, besuk jika Langit pindah tugas juga kamu akan ngrasain. kalo kamu nikah tambah sepi lagi kayak biasanya, saat kamu di Jogja juga rumah sepi, ayah dan bunda sering pergi" kata Matahari tersenyum.


mereka keluar dan berjalan pelan melihat kearah mana mereka akan berjalan terlebih dahulu, Langit meraih jemari Zivannya agar tidak usah buru-buru jalannya. "kenapa kak, kita mau ketempat yang banyak pintu dan menjadi ikon kota ini lho" Zivannya merapat ketubuh Langit karena tangannya ditarik sehingga mendekat, Langit menahan pinggang Zivannya. "biarkan mereka didepan, kamu hanya menemaniku" pandang Langit, Zivannya mengangguk. mereka berjalan menuju tempat yang mereka ingin kunjungi. beberapa lama mereka berkeliling diantar oleh guide yang menemani dan menerangkan tempat yang mereka kunjungi.


"yang" pandang Langit, Zivannya menoleh menatap Langit sesaat. "kita tunggu disini aja. biar mereka menikmati bersama, kita berkencan berdua" kata Langit menaik turunkan alis, "iya" angguk Zivannya berdiri disamping Langit untuk menunggu mereka yang berjalan-jalan mengitari bangunan. Zivannya membeli beberapa makanan dipinggir jalan sambil menunggu abang dan teman-teman yang lain.

__ADS_1


"kenapa jadi mojok berdua dan kulineran gini sih Zi" datang Baskara dan yang lain, "kita jalan lagi yuk. mumpung kita keluar sama-sama" kata Matahari, Zivannya mengikuti abangnya berjalan menyusuri kota tua. Zivannya mengamati beberapa bangunan yang sudah lama didirikan namun masih tetap kokoh. "kamu tertarik dengan bangunan tua Zi" tanya Sapta, Zivannya tersenyum, "karena dia kuliah di tehnik" jawab Langit, "waaaw.... kenapa tidak ada nilai minus sih di dirimu Zi" kata Sapta. "karena dia memiliki laki-laki yang punya nilai plus makanya tidak ada jeleknya" datar Langit, Matahari tertawa mendengar perkataan Langit. "benar, perempuan di keluarga Triastomo punya 4 orang laki-laki hebat yang akan menjaganya jika terjadi apa-apa, ayah, Dirgantara, Matahari dan Langit" tambah Matahari, Zivannya tersenyum tipis mendengar nya. dirinya tahu jika Bagaskara Triastomo yang membawanya kedalam keluarga Triastomo, dirinya terkadang merasa tidak pantas untuk terus berada di dalam keluarga itu namun keluarga itu tidak mau dia pergi dan menjauh, kebaikan keluarga Aga terkadang jauh dari pemikirannya. Zivannya menghela nafasnya berat. "bang, kita kesana aja" isyarat dagu Zivannya tanpa menoleh, Matahari menatap sesaat Zivannya yang berkata sedikit bergetar karena pasti teringat dengan Aga. Matahari mengusap bahu Zivannya lembut. "it's oke, dek" kata Matahari mengerti, Zivannya mengangguk tersenyum samar berjalan disisi Matahari, Langit menatap kekasihnya, dia menyadari Zivannya sedang tidak baik-baik saja, bahunya terlihat bergetar menahan diri untuk tidak menangis.


"kalian pulang pake taksi, aku harus langsung pulang agar besuk Zivannya bisa menemani temannya sidang" kata Langit, mereka mengangguk dan mengerti memberi salam hormat kepada Langit dan Matahari sebelum ketiga orang itu masuk mobil, Zivannya menyalami rekan-rekan satu teamnya Langit dan Matahari.


"sampai jumpa kak Sapta, kak Mahesa, kak Suprapto dan om Baskara. senang bisa mengenal orang-orang baik lagi diperjalanan hidupku, ketemu lagi di Jakarta" senyum Zivannya, mereka tersenyum menyambut uluran tangan Zivannya. Langit menatap mereka tajam. "iya, ndan. nggak lama" ngerti Suprapto. Zivannya tertawa pelan, mobil melaju meninggalkan mereka berempat. Zivannya duduk dibelakang dan memejamkan matanya menahan air mata yang sudah turun dengan cepat tanpa bisa dicegah lagi. Langit menoleh ke belakang, melihat Zivannya yang menutup mukanya dengan jaket agar tidak terlihat oleh kedua laki-laki yang ada dan dekat dengannya.


hai....hai...hai.... all readers, terimakasih telah menyempatkan untuk membaca karyaku. terimakasih sudah mau mampir.


luv.... luv.... luv.... U all readers sekebon pisang goreng, terimakasih banyak semuanya.


stay healthy all.

__ADS_1


__ADS_2