Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 117


__ADS_3

Langit melihat sekelilingnya dimana banyak orang yang sudah bersiap-siap, ia meraih ranselnya dan Zivannya, sebentar lagi mereka akan turun di stasiun kereta tujuan mereka. Langit meraih jemari kekasihnya, menunggu kereta berhenti dengan sempurna berada dibarisan mereka yang akan turun, Zivannya dan Langit bergerak pelan turun dari gerbong kereta, berjalan keluar stasiun dari sisi sebelah timur, jalanan tampak masih ramai walau waktu sudah hampir tengah malam.


"mau jalan-jalan dulu, yang" tanya Langit menatap kedepan melihat keramaian yang belum berakhir walau sudah tengah malam, Zivannya mengangguk dengan cepat mereka melangkah ke sisi kanan menuju pusat keramaian kota.


"mau minum kopi nggak" kata Zivannya menunjuk barisan kedai di sisi kanan jalan, Langit mengikuti langkah Zivannya yang membawanya masuk kedalam kedai memesan kopi hitam dan coklat panas. Zivannya menatap sekitar dengan antusias terlihat bahwa dia sangat merindukan kota ini.


"setelah kota kelahiran ku, ini adalah kota kedua ku dimana aku belajar dan hidup sendiri. banyak kenangan disetiap sudutnya. bekerja, kuliah, mencari apa-apa sendiri, mempunyai sahabat yang benar-benar peduli, hingga memiliki keluarga baru" topang dagu Zivannya melihat lalu lalang orang yang mengisi malam dengan perasaan yang tidak bisa dikatakan.


Langit mengusap pipi Zivannya "aku jadi tidak ingin meninggalkanmu sendiri disini, yang" pandang Langit, Zivannya menatap Langit lekat. "kenapa, kakak kan punya tugas negara yang tidak bisa ditinggalkan, aku sudah biasa untuk mengurus semuanya sendiri" kata Zivannya, Langit menggenggam jemari tangan kekasih hati nya. "itu yang membuatku tidak bisa jauh darimu membuatku selalu kangen" kata Langit, Zivannya tersenyum tipis. "kenapa" tanya Langit menatap Zivannya. "tidak, kamu adalah laki-laki yang mendekati sempurna untukku" kata Zivannya menatap Langit, Langit mengangkat kedua bahunya merasa penting bagi Zivannya. Zivannya tersenyum menyesap kopi hitamnya. "sering nongkrong gini, yang" tanya Langit, Zivannya tertawa pelan.


"aku tidak se senggang itu untuk sering nongki gini kak, hanya karena punya sahabat Rara makanya jadi lebih mengerti suasana malam. jika boleh memilih mending dirumah dan tidur agar saat sepertiga malam dapat bangun" geleng Zivannya, Langit mengangguk meminum sedikit coklat panas nya.


"kamu tidak menghubunginya, aku yakin dia belum tidur malam ini. apalagi ada Dimas" kata Langit, Zivannya mengeluarkan ponsel dari dalam ranselnya. menghubungi Rara.


"dimana Ra" tanya Zivannya, Rara tertawa, "pake nanya nih bocah. yaaa dirumah lah, udah tengah malam gini mau kemana" putar bola mata Rara kesal. "Dimas dimana" tanya Zivannya memperlihatkan suasana kedai dan jalanan yang ramai.


"tuh ada didapur mau bikin mie rebus, lapar katanya" jawab Rara memperlihatkan Dimas yang sedang sibuk.


"kesini gih Ra, aku traktir makan sepuasnya" senyum Zivannya menatap layar ponselnya. Rara menurunkan kakinya terkejut. "kayaknya aku sering liat suasana kedai tempat kamu sekarang sih Zi" ingat-ingat Rara.


"Dim..." seru Rara antusias. Dimas menoleh cepat dan berlari melihat Rara, "ada apa. kamu sakit" pegang bahu Dimas menatap Rara, "lebay banget sih Dim" kata Zivannya tiba-tiba, Dimas menoleh cepat menatap layar ponsel Rara, melihat Zivannya yang tersenyum melambaikan tangannya, "makan mie dibuatin orang mau nggak" tawar Zivannya, Dimas mengerutkan keningnya sesaat dan akhirnya tersenyum lebar. Rara sudah berhamburan kedalam kamar untuk berganti baju. "share lokasinya, jangan kemana-mana" tatap Dimas sambil berjalan menuju dapur untuk mematikan kompor. Zivannya tertawa kecil melihat mereka yang kayak menang undian berhadiah.

__ADS_1


"aku tunggu nggak pake lama, keburu jalan lagi kamu yang repot nanti" pandang Zivannya. "ishhh... anak ini, udah malam tau anak kecil kok keluyuran" sahut Rara sarkas, Zivannya tersenyum menyesap kopinya. "anak kecil yang mau menikah kedua kalinya" balas Zivannya, Rara tertawa ngakak. "udah malam Ra, jangan bangunin kunti" kata Dimas. Rara merapat ke tubuh Dimas seketika, "nggak lucu lho Dim" pukul bahu Rara pelan, Dimas segera melajukan mobil Rara membelah malam.


"nekat kamu Zi, malam gini pulang sendirian, aku bilangin komandanmu baru tau rasa" kata Rara, "masa, emang kamu berani ngomong ama dia begitu" tantang Zivannya, Rara berdecih sebal. "siapa takut, komandan Langit kan baik hati dan bucin abis. buktinya dia selalu mengekori kemana kamu pergi" kata Rara, Zivannya mengangguk "betul" jawab Zivannya, Langit tertawa pelan.


"eehhh.... bentar deh, kamu dengan siapa, kenalan dengan laki-laki lain lagi. aduh Zi.... ampun deh anak ini, udah malam gini masih aja ada yang nyangkut" kesal Rara tanpa melihat layar ponselnya memberi petunjuk kepada Dimas tempat Zivannya berada.


"aku barusan turun dari stasiun kereta besar pingin nongki biar kayak anak kuliahan" senyum Zivannya menggoda Rara, Rara berdehem.


"ya... ya... ya... jangan macam-macam disana Zi, tunggu kita datang" kata Rara, Zivannya mengangguk menutup ponselnya. "usil kamu, yang" usap kepala Langit, Zivannya tersenyum lebar menikmati kopi hitamnya yang sedikit pahit. "kamu suka kopi hitam" pandang Langit melihat Zivannya yang menyesap kopinya dengan nikmat, Zivannya mengangguk pelan. "karena keseringan begadang saat kuliah dan kerja di kedai minuman jadi lama-lama suka" angguk Zivannya, Langit melihat sekeliling.


"pusat kota tidak ada sepinya" kata Langit melihat jam diponsel Zivannya, Zivannya merentangkan tangannya keatas. "pulang penerbangan pagi kak" tanya Zivannya. Langit menggelengkan kepalanya, "aku ingin menghabiskan waktu denganmu" kata Langit, Zivannya tersenyum lebar.


"kamu selalu menemani kak, disaat kamu sibuk pun masih video call denganku" kata Zivannya, Langit mengendikkan bahu. "aku ingin bersamamu sehari lagi" jawab Langit. Zivannya mengangguk, memberi ciuman jarak jauh. langit tertawa sarkas "apa... beraninya cuma jauh doang, giliran dideketin dikit udah kabur" silang tangan Langit didada. Zivannya tergelak dan memberi puppies eyes, langit menyunggingkan senyum tipis menatap Zivannya lekat. "aku bikin biru-biru tubuhmu, Zi" kata Langit, Zivannya melebarkan matanya menatap Langit, "sini, kalo berani" tantang Zivannya, Langit menggeram pelan, Zivannya tertawa.


"makan dulu, aku laper" duduk Dimas disamping Langit, Rara menyuruh Zivannya geser agar duduk didepan Langit. Zivannya segera bergeser, "hallo kak, maaf yaa..." salam Rara nyengir, Langit tersenyum. Rara melambaikan tangan memesan mie rebus dua dan dua teh panas. "jam berapa dari sana, naik apa. aku kira besuk pagi kesininya" kata Rara semangat. Zivannya menatap Rara kemudian menghela nafas. "jam 5 lebih, kereta, nggak keburu" jawab Zivannya singkat. Rara tertawa lebar, "nginep tempatku aja ya, lebih dekat dari sini. kita bisa ngobrol panjang" kata Rara, "besuk aja, komandanku mau istirahat dirumah. nanti malam dia pulang, aku nginep tempatmu sebelum bunda datang" kata Zivannya. Rara mengangguk setuju.


"jangan lupa" kata Rara mengingatkan, Zivannya menganggukkan kepalanya meminum kopinya. pesanan Rara datang. "buat kak Langit dan Dimas" sodor mangkuk Rara, Langit menatap Zhivannya yang tersenyum mengangguk. kedua lelaki itu segera memakan mie rebus yang menggugah selera. Langit menyuapi Zivannya, "aahhh.... sweet banget sih kak" goda Rara, Dimas menyodorkan sendok berisi mie kuahnya. "aku kenyang Dim. tadi jam 8 barusan makan sama kamu, mana porsinya banyak" geleng Rara merasa kenyang. "lha Dimas makan lagi" kata Zivannya. "kan tau sendiri Dimas" kata Rara menatap Dimas yang terlihat lahap memakan mie nya.


"kak Langit bukannya besuk kerja" pandang Rara, Zivannya mengangguk. "terlalu bucin, nggak mau ninggalin istrinya" kata Zivannya menatap Langit yang tersenyum lebar. Rara tersedak dan buru-buru meminum teh panas nya.


"aku sudah memulai prosedur untuk sidang pra nikah secara militer" kata Zivannya, "apa" sahut Rara cepat. "masih jalan Ra, waktunya masih panjang" kata Zivannya. "baru dua minggu ngurusnya setelah naik Semeru kemarin, bang Matahari dan kak Mentari akan pindah tugas keluar Jawa. sebulan lagi" kata Zivannya. "berarti jarang ngumpul dong nanti" tatap Rara, Zivannya mengangguk.

__ADS_1


"jadi jika aku meminta kalian berdua ke Jakarta, langsung cuss... nggak pake lama" kata Zivannya, "86" hormat Rara, mereka tertawa berdua. "aku udah mau dua kali kamu sekali aja belum Ra" sarkas Zivannya, Dimas yang mendapat giliran batuk-batuk. "dianya yang masih menunda, aku pinginnya secepatnya" kata Dimas minum teh nya. Zivannya memandang Rara, "ya... akan aku pikirkan setelah sidang nanti" kata Rara pelan, Zivannya menghela nafas.


"aku pinjam motor dong" senyum Zivannya, "motorku ada di rumah Rara" kata Dimas. Zivannya memberi tanda Ok dengan jemarinya. "kita mau kemana" tanya Langit. "kan nanti pulang ke rumah, daripada kita naik ojol, motornya Dimas nggak pernah dipake kalo nggak pulang" kata Zivannya, Langit mengangguk.


Zivannya menghabiskan kopi dengan sekali teguk. "hampir jam 1 nih guys, jalan yuk" kata Zivannya. "ayolah, nikmati malam dengan gembira" angguk Rara. "bentar, biar mie nya turun" kata Langit. "kelamaan komandan. nanti keburu sang Surya muncul" anjak Zivannya. Rara membayar semua pesanan mereka. "kenapa jadi dia yang bayar" kata Langit. "dia ibu dapur umum" tepuk bahu Zivannya. Langit mengerutkan keningnya sesaat. "jika aku yang memaksa bayar, nanti dia akan merasa bersalah. karena aku aja nyari duit tambahan sampai kerja di kedai, kalo aku bantu kerjaan dia nggak itungan juga" jelaskan Zivannya. "gantian aja besuk" kata Zivannya lagi, Langit menganggukkan kepalanya.


mereka berjalan menyusuri jalanan legendaris kota pelajar itu, walau tidak seramai saat malam, kalangan anak muda lebih mendominasi saat menjelang tengah malam. Zivannya tertawa lebar mendengar candaan Rara. mereka berjalan hingga persimpangan kantor pos besar, mereka mengabadikan moments bersama. "aku akan mengunggah moment kita dulu" kata Rara. Zivannya menunjuk tempat duduk yang masih kosong yang ada disepanjang jalan legenda kota pelajar.


"jika kakak libur panjang, kita bisa menjelajah kota ini dengan semua keunikannya" pandang Zivannya, Langit tersenyum menatap kekasihnya. "tentu, yang. mau kemana aja bagiku sama, sama-sama punya cerita tersendiri bersamamu" kata Langit, Zivannya tertawa pelan. "kalo gitu sebelum kita sidang pra nikah, pulang kerumah mama untuk meminta ijin dan restu keluarga papa" kata Zivannya, Langit mengangguk memeluk pinggang Zivannya agar merapat ke tubuh nya.


Rara diam-diam mengambil moments sahabatnya yang sedang mengobrol.


"jam 2.45 kita pulang" kata Langit, Zivannya beranjak dari tempatnya, mereka menuju mobil Rara. Dimas membawa mobil sedikit cepat agar sampai dirumah Zivannya.


"aku langsung pulang Zi, ketemu nanti lagi. mau tidur nyenyak" kata Rara. Zivannya mengangguk, melambaikan tangan saat mobil bergerak pelan menjauh, Langit membuka pintu pagar. mereka segera masuk, Zivannya menuju bathroom yang ada di kamar Langit menuju kamar mandi yang ada dibelakang. "aku kewajiban malam dulu, yang" kata Langit. Zivannya mengangguk mengambilkan alas untuk kewajiban Langit. Zivannya melaksanakan kewajibannya didalam kamar. "yang" ketuk pintu Langit, Zivannya tidak membukanya segera. Langit membuka pelan, dilihatnya Zivannya masih sujud di sepertiga malam nya. Langit menatap kekasihnya dengan perasaan bahagia, Tuhan memberinya dan mempertemukannya dengan pasangan yang tepat untuk menghabiskan sisa hidupnya.


Zivannya menoleh sesaat setelah selesai. "kenapa kak" tanya Zivannya. "mau tidur diruang tengah sama-sama nggak" tanya Langit. "bentar, aku ambil alasnya dulu" kata Zivannya melipat peralatan kewajibannya. Langit membantu Zivannya membawa alas tidurnya. mereka merebahkan kepala dialas bantal. "Zi" gumam Langit, "hm" pejam mata Zivannya, "temani aku sampai ujung waktu" toleh Langit, Zivannya membuka matanya "kita akan bersama sampai ujung waktu kak, tetap setia dan tetap sehati" pandang langit-langit Zivannya. "iya" kata Langit.


hai...hai...hai... all readers terus dukung karyaku. terimakasih banyak


luv.... luv....luv.... U all readers sekebon pisang goreng, terimakasih banyak atas dukungannya...

__ADS_1


stay healthy all..


__ADS_2