Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 50


__ADS_3

tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama, mobil telah sampai di bandara, Aga dan Zivannya segera menukar tiket dan menunggu keberangkatan. "kak mentari dan bang matahari juga sedang perjalanan pulang kerumah" sandar Aga dibahu Zivannya. "kak Valerie dan kak dirgantara" tanya Zivannya.


"iya juga, kayaknya bunda mau ada acara nih... mau foto lengkap kali ya" lingkarkan tangan agar dipinggang Zivannya,


"hmmmm... bisa juga by. kalo tebakannya nggak salah" jawab Zivannya.


"hallo Raka Riki" senyum Zivannya melihat layar ponsel Aga.


"onty kerumah Uti juga nggak" tanya Raka, Zivannya mengangguk.


"sama om Aga" tanya Raka, Aga memperlihatkan wajahnya dilayar, "onty mentari juga mau kerumah uti" kata Raka.


"ketemu disana ya gantengnya onty" senyum Zivannya.


"jangan lama-lama ya onty, ini papa sama Mama juga udah berangkat baru nunggu pesawat naik" kata Raka, Zivannya tersenyum, "tentu saja gantengnya onty. nanti kalo malam tidur sama onty ya, biar onty anget" cengir Zivannya. Raka manggut-manggut.


"nanti biar om Aga tidur Ama Uti aja, biasanya juga gitu" kata Raka, Zivannya tertawa pelan.


"ok, nanti kita bisa tidur bertiga" kata Zivannya, Aga tertawa.


"om dan onty pergi dulu, pesawatnya mau naik duluan dari punya kak Raka" kata Aga, Raka menatap Aga kesal.


"papa, pesawatnya om Aga udah naik, kapan kita naiknya" seru Raka kepada papa dirgantara yang sedang bermain dengan adiknya.


"bentar lagi, langitnya gantian sama om Aga dan onty Zi, pesawatnya antri satu-satu untuk naik keatas" senyum Dirgantara, Raka manggut-manggut.


Aga tertawa kecil, Zivannya menyentuh bahu Aga pelan.


"belum gantengnya onty, masih lama pesawatnya om Aga naik. ini aja onty masih duduk nunggu kayak kak Raka" geleng Zivannya memajukan bibirnya, Raka mengikuti gerakan Zivannya.


Aga mencium pipi Zivannya, "om Aga, jangan sentuh-sentuh onty Zi" pandang Raka tidak suka, Aga menjulurkan lidahnya mengejek Raka. "ma, bilangin om Aga jangan suka usil. nanti pipinya onty habis kayak punya Raka" rajuk Raka menarik tangan mommynya.


Valerie tersenyum dan mengusap kepala Raka, "kan om Aga yang jaga onty Zi, kayak papa yang jaga mama, om matahari yang jaga onty mentari. kan nanti pada ketempatnya Uti dan Kakung" kata Valerie. Raka manggut-manggut. Zivannya tersenyum melihat Raka yang lucu.


"yang, kita dipanggil tuh" duduk Aga tegak, Zivannya mematikan ponselnya, Aga meraih jemari Zivannya, mereka berjalan menuju lorong untuk masuk ke pesawat, mereka duduk dengan tenang, Aga melihat Zivannya yang memejamkan matanya, mengistirahatkan tubuhnya, Aga meraih kepala Zivannya untuk bersandar dibahunya. "kapan periodemu selesai yang" bisik Aga, Zivannya tertawa.


"kenapa, seminggu lebih biasanya. 10 hari kurang lebih" jawab Zivannya, Aga menghembuskan nafasnya berat. "lama" gumam Aga. Zivannya mencium pipi Aga dan memindahkan kepalanya kesisi yang lain. Aga menoleh, meraih kepala Zivannya lagi.


"tidurlah"kecup Aga menyandarkan kepalanya kebelakang. pesawat segera terbang menuju Jakarta.


tiba di bandara, Aga menautkan jemarinya membawa Zivannya menjauh dari keramaian. menuju taksi yang berjejer rapi dipintu keluar. Aga mengatakan tujuannya, Zivannya melihat Jakarta siang hari.


"sangat sibuk bukan" senyum Aga, Zivannya mengangguk.


"hallo bang" salam Aga, "dimana" tanya Matahari.


"perjalanan pulang naik taksi" kata Aga.


"aku baru keluar tol, bentar lagi sampai" kata matahari.


"siap, ketemu dirumah. tadi kak dirgantara sudah dibandara dan nunggu pesawatnya" kata Aga


"baik, ketemu dirumah sebentar lagi" kata matahari.


"Abang dan kakak udah keluar tol. kurang dari sejam udah sampai" toleh Aga, Zivannya mengangguk.

__ADS_1


sampai didepan rumah. Zivannya membayar biaya taksi.


"inilah rumah terakhir yang kami tinggali sebelum kami menunaikan tugas" senyum Aga melihat Zivannya yang membuka pintu gerbang melangkah masuk.


"bunda" teriak Aga, Zivannya menoleh memukul bahu Aga pelan. "ihhhh yang, nggak papa, bunda pasti ada dibelakang" cengir Aga, Zivannya memencet bel rumah. tak lama seseorang datang membukakan pintu.


"ahhh den Aga, silahkan masuk ibu ada dibelakang bersama bapak. baru ngobrol sama temannya" katanya sopan, Aga mengangguk.


"ini mbak Marni yang, ikut ibunya yang udah lama bantu bunda ngurus rumah" kata Aga, "hallo, saya Zivannya" senyum Zivannya.


"saya Marni mbak, silahkan masuk" senyum mbak marni. Aga meraih jemari Zivannya untuk mengikutinya.


"santai jenderal" salam Aga, ayah dan bunda menoleh dengan cepat.


"aaahhh... kalian cepat sekali datangnya, bikin bunda seneng banget" senyum lebar bunda memeluk Aga bergantian dengan Zivannya.


"aduh... anak bunda yang bontot paling cantik" tangkup pipi bunda, Zivannya memberi salam hormat kepada bunda sebelum memeluk erat mertuanya yang masih terlihat cantik diusianya yang sudah setengah abad.


"ini pertama kalinya Aga pulang setelah sekian lama dan ini pertama kalinya dia datang lebih awal" elus punggung bunda, Zivannya tertawa pelan. mencium punggung tangan Ayah mertuanya sebelum dipeluk hangat oleh ayahnya.


"sehat kan dek, Aga memberimu makan kan" pandang Ayah, Zivannya tertawa kecil mengangguk.


"ishh Ayah, kalo itu nggak usah ditanya. pasti Aga penuhi" senyum Aga duduk disamping Zivannya. marni datang membawakan kudapan dan jeruk dingin. Zivannya meraih gelas jeruk dingin dan menyerahkannya ke Aga, yang segera meminumnya sampai habis.


"haus banget dek" tepuk bunda di paha Aga. Aga nyengir. "tadi habis sidang trus langsung ke bandara dan kesini" angguk Aga.


"sidangnya udah selesai dek" antusias bunda, Aga mengangguk, bunda berseru girang.


"berarti tinggal resepsi pernikahannya dong dek, kita adakan disini aja ya.. kita undang keluarga Zivannya. biar sekalian liburan kesini" rancang bunda.


"maklum ya nak Roy, ibu kalo udah ketemu anaknya bawaannya heboh aja" senyum Ayah. Roy tersenyum dan mengangguk.


"ini Roy yang diminta tolong bunda untuk mengambil gambar kita dua hari ini" kata Ayah, Aga menyalami Roy.


"kalo begitu saya pamit sebentar untuk membersihkan diri" senyum Aga, Roy mempersilahkan. Aga segera beranjak dari sofa menuju kamarnya. Zivannya membawa setumpuk pakaian yang diberikan bunda padanya.


"Bun ini terlalu banyak" lihat Zivannya tidak bisa berkata apa-apa lagi. bunda menggeleng, "pake aja, sekarang lebih harus membawa diri. kamu cantik jadi jangan sembunyikan kecantikanmu" senyum bunda, Zivannya menatap bunda lama. bunda tertawa lebar.


"udah ah dek, bunda ge er kalo kamu liatin gitu. tepuk pantat bunda saat Zivannya beranjak dari tempat duduknya menuju kamar yang ditunjuk bunda.


"hallo dek" seru Mentari, Zivannya tersenyum lebar, meletakkan baju dikursi dan qqn jjk memeluk mentari erat.


"barusan sampai juga kak, dikasih bunda baju buat ganti" kata Zivannya menunjuk tumpukan baju, mentari tergelak, "nggak usah kaget dek, bunda emang gitu" kata Mentari.


"abang mana kak" tanya Zivannya, tuh ketemu ayah dulu" isyarat dagu Mentari.


"Zi kekamar dulu kalo gitu, mau mandi, baru ada tamu bulanan" kata Zivannya pelan, mentari tertawa lebar, "berarti adek belum nge gol in dong" ledek mentari, Zivannya mengangguk kikuk. mentari kembali tertawa. Zivannya segera berlalu pergi agar tidak berlarut-larut, Zivannya masuk kedalam kamar Aga yang bernuansa hitam putih, ranjang yang sudah dibersihkan karena lama tidak dipakai, kamar yang simple, tidak terlalu banyak hiasan atau ornamen kamar. cenderung laki, jika boleh Zivannya katakan. walk closet yang tidak terlalu lebar. kamarnya juga tidak terlalu luas. cukup untuk seorang anak laki-laki.


"mandi nggak yang" keluar Aga dari kamar mandi, Zivannya menoleh dan mengangguk. Aga menerima t-shirt dan celana pendek rumah yang diletakkan Zivannya disisi tepi ranjang.


"abang dan kak mentari sudah sampai. mereka baru ketemu ayah dan bunda" beritahu Zivannya, Aga mengangguk, memakai sarung untuk menunaikan kewajibannya. Zivannya segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Zivannya memakai pakaian yang tadi diberikan bunda, menggelengkan kepalanya karena kebanyakan yang dipakainya adalah gaun untuk anak sekolah yang sedang digandrungi.


"ishhh, bunda nih kayak anak sekolah aja jadinya" senyum Zivannya menatap dirinya dalam cermin yang ada di walk closet. "kenapa yang" dekat Aga, Zivannya memutar badannya menghadap Aga.

__ADS_1


"kliatan kayak anak sekolah kan by, hehehehe... bunda ini yang ngasih" senyum Zivannya. Aga melihat Zivannya yang terlihat lebih colorful.


"kamu kliatan manis yang" dekat Aga menatap Zivannya dan mencium bibirnya dengan lembut, Zivannya melingkarkan tangannya ke pinggang Aga dan mencium balik bibir Aga. "hmmmm ... " gumam Zivannya, Aga mengecup rambut Zivannya yang terurai basah.


"ayo kita keringin dulu rambutnya agar tidak pusing nanti" peluk Aga, Zivannya duduk dan membiarkan Aga mengeringkan dengan mesin pengering rambut. Zivannya keluar diikuti Aga sesaat kemudian.


"makan dek" lihat Ayah menatap Zivannya dan Aga. Zivannya meraih piring dan mengisinya dengan sedikit nasi dan menyerahkannya ke Aga. Aga segera mengambil lauk dan sayur yang ada.


"kamu nggak makan dek" lihat Mentari, Zivannya menggeleng, "tadi makan roti kak" jawab mentari. bunda mengambil piring dan mengisinya dengan sedikit nasi. "makan" letak piring bunda didepan Zivannya. Aga tersenyum menatap bunda. "makasih bund, kalo nggak dipaksa nggak makan" kata Aga, Zivannya nyengir mengambil lauk dan sayur.


"nanti sore kita udah lengkap nih berarti yaa" duduk bunda sambil memakan buah potong. "kak dirgantara bentar lagi juga sampai" angguk mentari ikut memakan buah potong bunda. "adek nanti udah bunda siapin seragam nya, jadi tinggal pake. punya kakak udah diantar kurir jauh-jauh hari" kata bunda, mentari mengangguk.


"bunda udah ingatkan untuk kak Valerie bawa seragamnya juga" kata bunda.


Zivannya segera menghabiskan makanannya. mengambil gelas air putih ada didekatnya dan meminumnya, Aga meraihnya setelah Zivannya selesai meminumnya.


"nanti sore kita ada acara diluar sekitar jam 7" kata bunda. mereka semua diam mendengarkan.


"uti" seru Raka dan Riki, mereka menoleh dan tertawa lebar menyambut kedatangan Dirgantara.


''ahh.... cucu Uti yang ganteng-ganteng. enak nggak naik pesawatnya" tanya bunda senang menciumi pipi kedua cucu laki-lakinya, Riki manggut-manggut kesenangan. bunda tertawa lebar. "Kakung nggak disapa nih" dehem Ayah. Raka memeluk Ayah erat.


"udah makan belum gantengnya uti" tanya bunda.


"belum bund, ini mau makan" kata Dirgantara duduk disamping Aga. Zivannya beranjak dari duduknya namun ditahan Aga. Zivannya kembali duduk.


"Raka sama Riki mau main sama mbak Marni, tuh uti ada mainan baru diruang tengah" senyum bunda. Raka dan Riki segera berhamburan pergi.


"aahhh.... kalian sudah lengkap berenam. hati bunda serasa mau keluar kalo begini" lihat bunda tersenyum lebar. Valerie mencium punggung tangan bunda dan memeluknya erat. "sehat terus bund" peluk Valerie.


"kamu juga kak, jangan sakit. kasihan anak-anak" elus punggung bunda. Valerie mengangguk dan melakukan hal yang sama dengan Ayah. Valerie memutar untuk melayani makan dirgantara, setelah itu duduk disamping mentari yang berada didepan dirgantara.


"nanti malam kita ada acara ramah tamah dengan keluarga x, kita semua harus hadir" kata bunda, dirgantara manggut-manggut.


bunda udah nyiapin baju untuk keluarga besar kita, karena ini acara pernikahan anak perempuan mereka" kata bunda, Ayah gantian yang mengangguk.


"besuk pagi kita akan ada pemotretan lengkap dengan pakaian dinas" kata bunda.


matahari yang kali ini menganggukkan kepalanya.


"jangan ada yang sampai telat, kita berangkat setelah kewajiban petang. dalam satu mobil aja biar nggak terlalu ribet" kata bunda. aga mengangguk memakan buah potong.


"dan kalian jangan ninggalin istri kalian terlalu lama, apalagi ngobrol sampai berbusa" pandang bunda menatap para lelaki. mereka mengangguk bersama.


"Zi, karena ini pertama kalinya menghadiri pesta di keluarga Triastomo, nggak usah tegang atau nervous. biasa aja cuma sedikit lebih lama dan harus memakai high heels" senyum smirk bunda. Zivannya melongo tanpa suara, Aga memasukkan buah potong ke mulut Zivannya yang terbuka. Zivannya menoleh kesal ke arah Aga. Aga senyam-senyum menatap Zivannya yang dongkol.


hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..


selamat menikmati cerita kedua kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.


ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...


dukung yaaa... karya kedua ku.


love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..

__ADS_1


thanks a lot pisang sekebon...😘


__ADS_2