Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 145


__ADS_3

"malam kek, nek" salam Zivannya mencium punggung tangan kedua orangtua papanya tersebut saat melihat mereka berada di ruang tengah. "aahh.... Zivannya bukan, lama tidak melihatmu cucuku, bagaimana keadaanmu selama ini" peluk nenek mengusap punggung Zivannya. "baik, Nek, atas restu dan doa nenek dan kakek selama ini, Zivannya tidak kekurangan apapun" senyum Zivannya. Langit melakukan hal yang sama seperti Zivannya. kakek menatap Langit penuh tanya, siapa dia, kenapa bisa bersama Zivannya cucunya dan berbagai pertanyaan lainnya yang ada dibenak mereka, om Hadi dan istrinya keluar dari kamar. "ayah dan bunda titip salam hormat untuk kakek dan nenek serta kepada om Hadi dan keluarga. minta maaf karena tidak bisa ikut datang kesini karena suami kak Mentari, kakak perempuan kak Aga, kemarin pindah tugas ke luar Jawa, jadi ayah dan bunda menemani mereka untuk sementara waktu" kata Zivannya, Langit segera meletakkan barang-barang pemberian ayah dan bunda dimeja.


"Zivannya, lama tidak melihatmu nak, apa kamu baik-baik saja disana" senyum om Hadi dan istrinya menyalami Zivannya dan Langit. "baik om, tante, terimakasih atas doa dan restu nya selama ini. Zivannya baik-baik saja" senyum Zivannya. om Hadi tertawa pelan, "ayo duduk, kita akan ngobrol lama. kalian langsung kesini atau pulang dulu kerumah" duduk om Hadi disamping Zivannya. "langsung kesini om, nanti kerumah, karena kami hanya sampai besuk disini, sebelum pulang akan menengok papa, mama dan adek dulu" angguk Zivannya. "apa kalian langsung dari Jakarta Zi, jauh banget kan" tanya om Hadi, "dari tempat teman kak Langit dulu om, mampir rumah saat kuliah untuk menemui kak Aga, baru lanjut kesini" senyum Zivannya menggeleng. om Hadi tersenyum kecil mengangguk menatap Langit. Langit menatap Zivannya sesaat sebelum akan menyampaikan tujuan mereka kesini.


"siapa yang datang, pa" tanya Aisya dari lantai atas, ia melihat Zivannya dan seorang pemuda yang terlihat tampan dan gagah datang bersama, Aisya segera turun untuk menemui mereka. Zivannya menyalami Aisya "apa kabar kak" senyum Zivannya. "baik, bagaimana denganmu" angguk Aisya. "baik kak" angguk Zhivannya, tersenyum. Aisya kemudian duduk didekat mamanya, Langit segera menatap kakek dan om Hadi untuk meminta waktu dirinya berbicara sebentar. Langit memperkenalkan dirinya dan mengutarakan maksud serta niat mereka berdua datang kemari. kakek dan nenek saling berpandangan, om Hadi dan keluarganya terkejut saat Langit meminta ijin untuk meminang Zivannya, segala keperluan dan tata cara telah mereka lakukan jadi hanya tinggal menunggu prosesi pernikahan yang akan diadakan kurang dari sebulan lagi. om Hadi terdiam cukup lama mendengar penjelasan dari Langit, kakek menatap Langit penuh dengan tanya.


"apa kamu sudah mengetahui segala hal mengenai Zivannya" tanya om Hadi hati-hati, Langit tersenyum menganggukkan kepalanya. "dari dirinya kehilangan mama Ranti, lalu kehilangan suaminya Aga saat bertugas, keterpurukan dia pasca ditinggalkan Aga, statusnya dia dalam keluarga Bagaskara, betapa sulitnya saya untuk menyakinkan dia mau menikah dengan saya, sebagian jalan hidupnya sudah saya ketahui, ibu saya juga sudah mengenalnya belum lama dan dia juga menyetujui pilihan hidup saya om, kek..." jelas Langit. Om Hadi mengangguk pelan, "bagaimana pendapat ayah dan ibu Aga mengenai hal ini" tanya om Hadi sedikit mencondongkan badannya kedepan.


"sejauh ini semuanya baik-baik saja om, kek dan bahkan sudah memberi restu dari awal saya mendekati Zivannya, kedua kakak Aga juga memberikan dukungan saat saya meminta ijin untuk mendekati Zivannya. dari awal kedua orangtua Aga menekankan bahwa jika saya mau mendekati Zivannya maka harus dengan persetujuan orang tua saya terlebih dahulu, baru saya boleh mendekati Zi" angguk Langit. "kedua orang tua Aga juga telah mengetahui latar belakang saya dan menceritakan semua mengenai Zivannya tanpa ada yang ditutupi. makanya saya semakin mantap untuk menjadikan Zivannya sebagai istri saya, bukan kemauan dia untuk menjadi seseorang dengan statusnya yang sekarang karena memang takdir Tuhan yang membawa nya harus ditinggalkan Aga untuk selamanya, dia juga perempuan baik-baik yang menjaga etika dan tindak-tanduk nya selama dengan orang lain" jawab Langit.


"terus terang, bukan hanya saya saja yang mendekati Zivannya selama ini, awalnya saya juga merasa takut jika dia tidak melihat keberadaan saya karena saya juga abdi negara seperti Aga, tapi pada akhirnya Zivannya mau menerima saya dengan kekurangan yang saya miliki" jelaskan Langit. "apa tidak ada lagi ganjalan diantara kalian ataupun dari keluarga" tanya om Hadi memastikan segala sesuatu yang nanti akan terjadi.


Langit menggeleng, "sampai tahap ini semuanya dimudahkan dan dilancarkan, ibu saya menerima Zivannya dengan baik dan keluarga Triastomo juga menerima saya dengan baik. jadi hanya doa dan restu dari keluarga papanya Zivannya yang saya harapkan" jawab Langit tegas. om Hadi menyandarkan tubuhnya kebelakang menatap kakek dan nenek. "gimana pak, bu. kalo saya menyetujui lamaran nak Langit untuk Zivannya, mereka juga sudah menyempatkan diri untuk kemari meminta doa restu, sudah mengetahui masa lalu Zivannya dengan lapang dada. jadi tidak ada alasan untuk menolaknya bukan" senyum om Hadi menatap kedua orangtuanya, kakek mengangguk mengiyakan. "terimakasih banyak atas kedatangannya kesini dan maksud baik nak Langit kami terima dengan senang hati" angguk kakek akhirnya, Langit mengangguk tersenyum.


"ayo lho... diminum teh panasnya, biar anget badannya" kata Tante. Zivannya mengangguk dan meraih cangkir teh yang ada didepannya, menyerahkannya kepada Langit kemudian dirinya sendiri. "apa kalian intens bertemu setelah Aga pergi" tanya Aisya pingin tahu. "tidak, karena Zivannya tidak bisa mengenali orang lain apalagi laki-laki selain keluarga Triastomo selama beberapa bulan dan saya juga mempunyai tanggung jawab di kesatuan yang tidak bisa sering meninggalkan tugas, tapi kalo untuk memantau keadaannya, saya memang intens" jawab Langit cepat. "apa kamu mengalami trauma yang mendalam, nduk" sentuh punggung tangan nenek, Zivannya tersenyum menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"hingga harus berkonsultasi dengan psikolog, sampai kemarin sebelum kami kesini, kami harus menghadiri penghormatan terakhir teman baik dikesatuan yang gugur saat bertugas, membuat Zivannya kembali teringat tentang Aga dan saya harus menjaga nya lebih baik lagi kemarin" angguk Langit, nenek menepuk-nepuk punggung tangan Zivannya pelan, "kapan kalian akan melakukan pernikahan" tanya kakek menatap Zivannya dan Langit bergantian. "perkiraannya dua minggu lagi kek, nanti akan kami beri tanggal pastinya, karena bunda dan ibu yang lebih tahu detailnya, jika sudah mendekati hari pelaksanaan nya maka kami akan segera memberitahukan segera dan mengurus segala akomodasi keluarga sini untuk ke Jakarta" angguk Langit.


"bukan maksud kami untuk tidak menghargai keluarga Zivannya disini, tapi karena saya kebetulan mendapatkan tempat dinas di sana dan keluarga Triastomo menginginkan yang terbaik untuk Zivannya, maka kami kemudian memilih untuk melakukan semua acara disana" jelaskan Langit, om Hadi mengangguk mengerti.


"kami mengerti nak Langit, karena memang kedua orangtua Aga dari awal sudah meminta Zivannya untuk bersama mereka saja dan sekarang Zivannya menemukan pilihan hatinya kembali maka mereka pasti menginginkan yang terbaik untuk Zi" kata om Hadi, Langit mengangguk.


"apa kamu langsung menerima laki-laki lain setelah kepergian Aga yang belum begitu lama" sarkas Aisya menatap Zivannya, om Hadi menatap Aisya terkejut. "tidak, selama berbulan-bulan Zivannya menghindari pertemuan dengan laki-laki lain terutama yang menyukainya, selama masa awal dia tidak pernah keluar rumah sama sekali, hanya karena dia harus menghadiri acara wisuda kelulusan di kampus baru dia dengan terpaksa keluar, bisa dihitung dengan jari kapan dia berinteraksi dengan orang lain" kata Langit menatap Zivannya tersenyum, "kenapa kamu memilihnya padahal masih banyak perempuan lain yang lebih darinya" pandang Aisya, "yang lebih darinya" kerut Langit menatap Aisya yang seperti membenci Zivannya, terlihat dari kata-kata yang diucapkan selalu memojokkan kekasihnya.


"saya tidak melihat perempuan yang lebih dari calon istri saya selama ini, memang banyak perempuan yang menyukai dan menginginkan untuk menjadi kekasih ataupun istri saya, Zivannya pun tahu berapa banyak yang mengejar-ngejar perhatian saya tapi hati saya menjatuhkan pilihannya sendiri, melihat Zivannya membuat saya tidak bisa berpaling. apakah saya tidak bisa mencari perempuan dengan status yang masih sendiri, begitu bukan menurut kak Aisya. tentu saja saya bisa dengan cepat menemukan gadis itu dengan jentikan jari, tapi ibu saya mengajarkan saya untuk melihat perempuan dengan rasa hormat dan menghargainya" senyum Langit menatap Aisya tajam, sekarang dia mengerti bagaimana perlakuan keluarga papanya terhadap Zivannya dan mamanya dulu, pasti Aga juga melakukan hal yang sama seperti dirinya saat ini.


"kalo begitu kami akan menanti kepastian kapan kalian akan menikah nanti nak Langit, maafkan kami jika membuatmu merasa tidak nyaman" kata kakek mengerti. Langit menggeleng, "tidak kek. saya tidak apa-apa, justru kami yang meminta maaf jika kedatangan kami benar-benar membuat keluarga merasa tidak nyaman karena kami datang tiba-tiba dan tidak memberitahu sebelum nya" jawab Langit tersenyum lebar. "ah, tidak... kapanpun kalian datang kami akan selalu menerima dengan tangan terbuka" senyum kakek meminum teh panasnya.


"apakah sepupu Zivannya yang lain pergi, kenapa tidak terlihat" tanya Langit mengerutkan keningnya, "bentar lagi juga akan pulang, sepertinya sedang keluar bersama temannya" jawab om Hadi, Langit menganggukkan kepalanya mengerti, segera meminum teh panasnya sedikit, Zivannya melihat Langit yang sedikit kesal terhadap kakak sepupunya. "aku baik-baik saja" isyarat Langit menatap Zivannya. Farhan datang bersama Yuda tidak lama kemudian.


"Zi" senyum Farhan melambaikan tangannya dari pintu masuk, mereka menoleh melihat kedatangan dua orang laki-laki muda menuju kearah mereka. "bagaimana kabarmu, apa kamu baik-baik saja" tanya Farhan menyalami Zivannya, "baik Han, kamu tambah hitam" senyum Zivannya, Farhan tertawa "belajar bisnis kecil-kecilan dengan Yuda" jawab Farhan, Zivannya tersenyum mengangguk. Farhan menyalami Langit memperkenalkan dirinya, "bang Langit kan, Farhan" senyum Farhan menatap Langit, Langit menerima uluran tangan Farhan tersenyum. "apa kabar bang, kelihatan tambah bahagia kayaknya" salam Yuda tersenyum, Langit tertawa pelan mengangguk " karena ada Zivannya disisiku. kalo dia pergi-pergi lagi bikin selalu kepikiran" jawab Langit.

__ADS_1


"aahhh... apa masih sering naik gunung" tanya Yuda mengerti, "hampir sebulan nggak naik lagi, karena dia sudah janji, sebelumnya selama 3 bulan lebih selalu naik setiap 2-3 minggu sekali, membuat jantung deg-degan" jawab Langit. Yuda tertawa menjabat tangan Zivannya erat. "pantesan tambah kurus, sudah sembuh sakitnya" tanya Yuda, "kecapekan karena bolak-balik Jogja, Semarang, malang dan Jakarta" kata Langit, "aishhh.... kayak narik trayek aja sih Zi, duduk manis kenapa" pandang Yuda, "sepakat" angguk Langit, Zivannya nyengir menyeruput teh panasnya hingga habis.


"jadi nongkrong bareng anak lainnya nggak, mumpung Zivannya sampai sini" kata Farhan melihat Yuda dan Zivannya bergantian. "mau kemana... Zi kan baru datang, pasti capek Han" kata om Hadi, "dia janji kalo kesini akan nongkrong bareng pa, udah lama dia nggak kesini" jawab Farhan. "tunggu bentar, aku ganti baju" anjak Farhan berjalan kedalam. "aish.... anak itu..." geleng kepala om Hadi, "roman-roman nya ada acara nih di Jakarta" senyum-senyum Yuda, "tau aja" tawa Langit, Yuda tertawa. "kalo nggak gitu Zivannya nggak pulang kesini, bang. masih kesana-kesini" kata Yuda, "kata siapa, harus kesini karena ada keluargaku yang berisitirahat disini" kata Zivannya pelan. Yuda manggut-manggut.


mereka mengobrol bersama sambil menunggu Farhan selesai membersihkan dirinya, "sekalian kami pamit kepada kakek dan nenek, om Hadi sekeluarga besuk kita langsung pulang ke Jakarta kembali, karena saya hanya diberi waktu sampai besuk cutinya untuk menemani Zivannya kesini" senyum Langit berpamitan.


"kenapa terburu-buru nak Langit, tidak menginap disini saja" tanya kakek melihat Langit. "terimakasih banyak atas tawarannya kek, tapi saya minta maaf karena tidak diberi ijin negara untuk terlalu lama cuti, karena nanti saya juga mengajukan cuti kembali sebentar lagi" senyum Langit menolak secara halus, kakek tertawa mengerti. "jangan lupa untuk segera memberi tahu kami mengenai acaranya" kata kakek. "siap, nanti akan kami beritahu secepatnya, karena setelah ini saya dan Zivannya tidak bisa bertemu dulu sampai mendekati acara" kata Langit. "lho kenapa" tanya om Hadi, "hanya urusan administratif saja om, saya harus menghadap pimpinan secara prosedural" jawab Langit. om Hadi mengangguk mengerti, "kalo begitu, kami pamit sekalian om, Tante, kakek dan nenek" salam Zivannya, diikuti Langit. "kak Aisya, kami pamit dulu. semoga bisa ketemu lain waktu kembali" kata Zivannya memberi salam, Aisya mengangguk.


Langit menggenggam jemari Zivannya, melangkah meninggalkan rumah om Hadi, "Zi, pake mobilku aja" kata Yuda sebelum mereka masuk mobil. "kerumah mama dulu naruh mobilnya, jadi nanti kita bisa langsung pulang kesana" pandang Zivannya sebelum masuk, "baiklah" angguk Yuda, Zivannya melajukan mobilnya menuju rumah masa kecilnya dihabiskan bersama mama dan papanya. "seperti punya ibu Danti" pandang Langit, Zivannya tersenyum mengangguk, "selamat datang di rumah masa kecilku, kak" keluar Zivannya mengambil dompet kecilnya, mereka segera masuk kedalam mobil Yuda. "baru lagi, pak" tanya Zivannya, "nggak, lumayan lama. kamu yang tidak pernah melihat" kata Yuda, "ya... ya... ya...." hembus nafas Zivannya panjang melihat pelita lampu yang terlihat timbul tenggelam seperti hembusan angin menerpa paras Zivannya dan menerbangkan helaian rambut terurai nya.


hai.... hai..... hai.... all readers terimakasih banyak atas dukungannya selama ini.


luv..... luv..... luv.... U all readers sekebon pisang goreng, terimakasih banyak atas semua nya.


stay healthy all

__ADS_1


__ADS_2